17 November 2009
mencari cinta
dan kepala saya menjadi cenut cenut ketika melihat ajang pencarian jodoh yang ada ditelevisi yang hampir ditanyangkan setiap waktu itu. sungguh saya seperti melihat orang orang frustasi yang seolah olah sudah tidak sabar seakan besok hari datang kiamat, dan mungkin terbesit dalam benak mereka semua apa jadinya jika saya ini belum mendapatkan pasangan hidup ?
semua berkumpul jadi satu. berlomba lomba mencari cinta sejati, itu katanya. dari usia yang masih terlihat belia sampai yang sudah tua. dari yang masih perawan sampai yang sudah janda punya anak. dari yang perjaka sampai yang baru saja menjadi duda. dari yang berwajah tampan sampai muka pas pas'an. semuanya jadi satu tumplek blek dalam acara tersebut. dari wiraswasta, guru, marketing, pengacara, dokter gigi, pengusaha, seniman, musisi, pegawai negeri dan apapun bentuk profesinya, semuanya merasa punya potensi untuk mendapatkan sebuah cinta sejati yang akan dibawanya sampai mati, itu juga katanya.
tapi ada beberapa yang sedikit jual mahal. alasan alasan seperti perbedaan agama, prinsip, fisik juga materi. seperti "saya kurang suka sama rambutnya." atau "aduh, masak pasangan saya lebih pendek dari saya ?" atau "menurut saya terlalu lebay deh." dan parahnya "plis deh, dengan pekerjaan kamu seperti itu, situ bisa menggaji saya 20juta per bulan ?" hal hal seperti itulah yang membuat saya menggeleng gelengkan kepala. tapi banyak juga yang maju terus pantang mundur. setidaknya dia tidak menuntut apa apa karena sadar diri mempunyai muka yang pas pas'an. mungkin dalam benaknya: kawin ! minggu depan aku kawin.
"apa segitu susahnya ya orang mencari pasangan hidup ? mbok ya kalau susah mencari pasangan hidup ya cari pasangan mati saja. itu di njaratan kan banyak." kata saya.
"orang kok sukanya komentar. diambil segi positifnya saja. setidaknya dengan adanya acara acara seperti itu bisa memberikan dalan padang bagi mereka meraka yang ingin punya pasangan. bisa jadi mungkin itulah jalan yang diberikan gusti allah sama mereka untuk mencari cintanya. jawab istri saya dengan diplomatis.
"bukan begitu, wong mau kawin saja kok susah. perasaan kita dulu ngga sampai segitunya deh ?" kata saya lagi
"ngga sampai bagaimana ?"
"ya pokoknya semuanya serba gampang dan ngga ribet. waktu pertama kali bertemu wajahmu, terus waktu pacaran lantas menikah sampai sekarang." jawab saya.
"yo kebetulan wae tak bikin gampang, kasihan nanti kalau tak bikin susah. ngga tega melihat tampang memelasmu itu mas." jawab aurel.
"dibikin gampang atau memang kamu juga cinta ? mbok ya ingat pas jaman pacaran dulu. setiap hari ketemu terus. ngga peduli angin ribut, hujan deras sampai hujan abu waktu gunung merapi mau meletus kamu minta ketemu. lupa ya ? kalau dulu pernah bilang ngga bisa tidur kalau belum dengar suaraku ?" jawab saya sambil cengengesan.
"mbuh..."
cinta. seolah dijaman sekarang ini, cinta terkondisikan bukan suatu hal yang utama. dulu katanya datang dari mata turun kehati. sekarang saya rasa ungkapan itu hanya untuk orang orang kuno macam saya. susah mencari cinta dijaman sekarang ini. tak hanya bermodal tampang dan baik hati saja, tapi harus bermateri. bukan hanya setia dan saling memiliki, tapi juga harus bisa memberi. hingga akhirnya banyak orang kurang beruntung seperti teman teman kita diacara televisi itu mencari sosok pasangan yang sempurna.
dan pertanyaan selanjutnya. jika memang sudah mendapatkan pasangan, (yang mungkin saya melihatnya terlalu dipaksakan untuk mendapatkan pasangan.) seyakin apakah kalau itu adalah orang yang tepat pilihannya ? seinstan itukah mereka mengenal satu sama lain lantas menjalin sebuah komitmen untuk hidup berumah tangga ? atau ini memang hanya sebuah permainan cinta yang dikemas baru dalam sebuah program acara bernama reality show ?
"saya rasa sampeyan memang kuno mas. dijaman sekarang ini memang ngga cukup modal cinta. mau dikasih makan apa kalau tak punya modal ? sementara kebutuhan hidup yang semakin membumbung tinggi, perekonomian negara yang makin semrawut, ditambah merajalelanya para kuruptor yang semakin menyengsarakan rakyat. bisa apa kita kalau ngga punya materi yang cukup ? apalagi menyangkut urusan cinta." komentar teman saya suatu hari.
lantas dengan pikiran yang cekak ini saya bertanya tanya. apa hubungannya negara yang sedang rusuh (baca: rusuhnya peekonomian negara, rusuhnya lembaga lembaga pemerintahan, rusuhnya keadilan kita, rusuhnya para wakil rakyat, rusuhnya para pejabat negara, juga tak lupa para koruptor yang selalu ikut andil jika terjadi kerusuhan ini.) dengan urusan cinta yang diumbar dalam acara televisi seperti ajang pencarian pasangan hidup.
"ya harus dihubungkan, biar semuanya terbuka. mbok sampeyan ini mikir, bukankah kita ini para masyarakat yang suka buka buka'an. apalagi soal cinta, ya harus terbuka. bukannya situ juga manusia terbuka ?" kata teman saya.
"terbuka aibnya maksud saya." lanjut teman saya lagi.

11:40 Posted in Cerita | Permalink | Comments (14) | Email this
10 November 2009
binatang
saat ini saya merasa kasihan pada para binatang binatang yang nama mereka dijadikan pelampiasan manusia untuk merendahkan manusia yang lain. saya jadi berfikir, apakah para binatang binatang itu menggunakan istilah manusia untuk membinatangkan binatang lainnya. entahlah, lha wong saya ini bukanlah binatang. tapi makhluk Tuhan paling mulia yang bernama manusia.
dosa apa para binatang itu hingga mereka menjadi sebuah tumbal untuk sebuah simbolisasi yang tersesan busuk, rendah, jorok, picik, dan entah kejelekan apa lagi yang ada dipikiran kita sebagai manusia untuk mengistilahkan binatang sebagai aib dalam kehidupan manusia. hingga nama binatang seperti anjing, monyet, babi, ular, kambing, bajing, tikus, hingga buaya. padahal tak ada hal yang mereka lakukan selain mencari makan, bertahan hidup, melindungi anak anaknya dan membuat sarang. juga tak pernah mereka mengenal kekuasaan dan mengenal yang namanya harta benda. lantas, salah apa binatang binatang itu hingga sedemikian kejinya kita menggunakan suara yang lantang, urat saraf yang tegang dan mata meradang. kita mengucapkan makhluk Tuhan yang namanya binatang.
bukannya saya tidak bersyukur menjadi manusia yang telah menerima segala nikmat Tuhan. merasakan keindahan dunia lewat mata, nikmatnya cinta lewat hati, merdunya suara lewat telinga, juga akal pikiran dan hawa nafsu yang harus kita kendalikan. tapi, sebagai manusia saya juga merasakan kekecewaan ketika melihat manusia lainnya saling caci, saling maki, saling benci. ketika melihat manusia saling menyakiti. ketika melihat manusia saling mengkhianati. penjahat yang melukai. aparat penegak hukum juga lembaga pemerintah yang entah apa bisa kita percayai. juga terlebih lagi koruptor yang membuat negara ini merugi.
jadi, layakkah kita menyebut binatang kepada manusia manusia ini ? yang sesungguhnya jika binatang binatang itu bisa mengerti apa yang sedang terjadi, mungkin mereka akan tertawa. itukah manusia ? yang bagaimanapun juga statusnya entah itu baik atau buruk tetap saja judulnya sebagai makhluk Tuhan paling mulia.
"sudahlah, mbok ya sampeyan ini bersyukur sudah diciptakan sebagai manusia. punya cinta, sehat walafiat, juga bahagia. kecewa dengan mereka mereka itu ya boleh saja, tapi ngga harus kecewa karena sudah menjadi manusia tho ? apa sampeyan mau menjadi binatang ?" tanya istri saya. belum sempat saya mengomentari istri saya ngomong lagi "memangnya sampeyan mau jadi binatang apa mas ?"
spontan saya berkata "burunggggg..."
"lha wong punya burung saja ngga bisa memelihara dengan baik kok mau jadi burung." tanya istri saya. (sebelumnya mohon komentar istri saya ini jangan disalah artikan. karena saya memang punya peliharaan burung peninggalan ayah saya. dua perkutut, dua derkuku, satu kutilang, satu murai batu, dan satu cucak ijo.)
"loh jangan salah, burung itu adalah binatang yang paling dicintai manusia. selain itu burung juga tergolong hewan peliharaan yang punya nilai jual tinggi. kamu juga sudah tau kan kalau murai batu kita sudah ditawar satu juta. kalau saja itu bukan peninggalan bapak, wes tak jual. lagian apa kamu pernah dengar ada manusia menggunakan istilah burung ? BURUNG! atau DASAR BURUNG!!! atau TITITMU KUI!!! bukannya marah, malah membuat orang ketawa." kata saya. dan istri saya geleng geleng mendengarnya.
mungkin ada benarnya juga pertanyaan istri saya. nah, kalau disuruh milih kalian mau jadi binatang apa ? hahahaha
"cicakkkkkk..." jawab teman saya serentak.

13:26 Posted in Cerita | Permalink | Comments (12) | Email this