15 December 2009

kisah cinta kala sma

lover.jpg

sebelum saya menceritakan kejadian yang mungkin bisa dikatakan kalau ini adalah sebuah kejadian yang ngga normal. maka perlu diketahui bahwa saya ini memang manusia yang ngga normal. jadi sampeyan sampeyan tak perlu lagi bertanya apakah saya ini normal atau tidak ? dan saya akan memberitahu juga kenapa saya bisa dikatakan manusia tidak normal, sebelum sampeyan sampeyan bertanya pada saya perihal ketidak normalan itu tadi.

umumnya manusia itu lahir dalam usia kandungan sembilan bulan. tapi saya tidak, diusia kandungan delapan bulan, saya sudah lahir kedunia ini. ketika bayi lain mendapatkan pelukan hangat seorang ibu, saya tidak mendapatkannya. dan hal itu tidak terjadi pada saya. karena kehangatan yang saya peroleh melalui aliran listrik dalam sebuah tabung inkubator atau apapun entah itu namanya. hal itulah awal mulanya kenapa saya menjadi manusia yang ngga normal. itu yang pertama.

lantas timbul suatu sugesti yang pasti dalam diri saya kalau saya ini manusia yang serba kurang. kurang pandai, kurang pintar, kurang sehat, kurang berkembang. hingga dalam kehidupan sosial pun saya dikatakan kurang gaul, kurang tata krama, kurang moral, dan teman saya pun dengan bangga mengatakan "kurang ajar." itu yang kedua.

sebenarnya masih ada yang ketiga, keempat, kelima dan kesekian banyaknya kenapa saya ini dikatakan manusia yang ngga normal. tapi salah satu ketidak normalan itu akan saya ceritakan secara jelas dalam postingan kali ini. dan benar, ketika saya mengatakan hal tersebut teman saya langsung berkata "sampeyan itu benar benar kelewat ngga normal mas."

padahal saya cuma mengatakan kalau saya ini pernah menjalin sebuah hubungan dengan seorang yang lebih tua 12 tahun daripada saya. setidaknya saya masih normal karena seseorang itu adalah wanita. dan teman saya yang berkata kalau saya itu kelewat ngga normal, dikarenakan seorang wanita yang saya cintai itu adalah guru saya sendiri. indahnya, cinta saya itu sepertinya terbalas. dan dari sinilah kisah cinta saya kala sma bermula.

namanya ariani. tinggi dan berat badannya ideal. rambutnya, hitam lurus sebahu. kulitnya, kuning langsat. cantik ? tentu saja. sexy ? entahlah, yang jelas terlihat feminim. bagi saya, dia adalah figur keindahan seorang wanita dewasa. entah, mungkin dipikiran saya waktu itu dia bisa meberitahu saya apa itu cinta.

ketika pertama kali berjumpa, terasa ada aura yang membuat saya terpana melihatnya. seolah olah didalam kelas itu cuma ada saya dan dia. lantas dia memperkenalkan diri. dan memberitahukan kalau dia adalah guru baru yang akan mengajarkan pendidikan moral pancasila. dalam seminggu, dua kali dia mengajar. menjelaskan hukum hukum, soal negara, juga tata krama yang ada disekitar kita. tapi bagi saya, yang ada hanya cinta. saya tidak pernah mencatat, tidak pernah menyimak, tidak pernah mengerjakan tugas yang dia berikan. saya hanya melihat wajahnya yang mungkin sekarang sudah samar samar kabur dalam ingatan. saya hanya menulis namanya dimeja, dibuku, atau ditembok sebagai pelampiasan perasaan. mungkin, jika otak saya ini bisa dikeluarkan, saya pasti akan menulis namanya dengan indah. sungguh saya sedang tergila gila padanya. makan tak enak, tidur pula tak nyenyak. saya bingung. coba, sampeyan semuanya pasti membayangkan, bagaimana seorang remaja 16 tahun sedang kasmaran ? apa yang harus saya lakukan ? tak tahu juga kepada siapa saya akan bertanya. jangankan bicara dengannya untuk ungkapkan rasa sayang, pada rumput yang bergoyangpun saya malu untuk mengatakannya. ya, saya hanya bisa memendam perasaan.

entah ada angin apa tiba tiba dia duduk disamping saya waktu itu. lantas dia bertanya pada saya, apakah saya punya seorang kakak ? saya jawab tidak. lalu saya tanya kenapa, dia hanya diam saja dengan wajah yang penuh tanda tanya. sementara semua teman saya sedang mengerjakan tugas yang dia berikan, kami terus bicara berdua. mengalir begitu saja. sesekali bercanda dengan tawa. banyak dari teman saya berkata "hati hati lho bu, dia itu kadal." ada juga yang berkata "serigala berbulu domba." dan lain sebagainya. tapi sejak itu, kedekatan kami semakin menjadi.

ya, dia tidak keberatan jika saya ajak makan berdua dikantin sekolah ketika istirahat. dia juga tak keberatan jika saya antarkan pulang berboncengan dangan tangannya yang melingkar memegang pinggang. dia juga tak keberatan kalau saya bermain dirumahnya setiap malam minggu lantas pergi mengelilingi kota kami, beberapa kali nonton film (salah satunya titanic.) juga makan diangkringan pinggir jalan sambil menikmati remang cahaya malam.

lantas ketika saya bertanya kemana arah hubungan kita ? dia tidak bisa menjawabnya. ketika saya mulai memberanikan diri untuk menyatakan cinta, dia juga tidak bisa menjawabnya. air matanya keluar dan saya hanya bisa bertanya kenapa ? tidak apa apa, jawabnya. hanya logika saya yang bicara waktu itu. perbedaan usia, status, dan entah apa lagi yang mungkin menghalangi cinta ini. dia hanya berkata kalau saya boleh mencintainya dan saya boleh menganggapnya seorang kekasih hati. asalkan saya bahagia, kenapa tidak ? tapi ketika saya bertanya bagaimana dengan perasaanya ? dia hanya berkata terserah mau kamu apa.

bebulan bulan hubungan ngga normal ini berjalan. banyak orang berkata kalau kami ini tidak waras. tapi begitulah cinta, seolah dunia milik kita berdua. janji janji indah berhamburan. kata kata manis berserakan. jika kau jadi bulan, aku jadi bintangnya. jika kau jadi bunga, aku jadi kumbangnya. semua seperti lagu cinta. semua terserah padamu aku begini adanya. hingga jangan ada dusta diantara kita. sungguh gila, dan saya pun tak tahu, mau dibawa kemana hubungan ini. saya pun juga tak tahu bagaimana cara mengakhiri kisah cinta ini. dia juga pernah mengatakan, biar waktu yang memisahkan kita. lantas saya bertanya, kenapa tidak maut yang memisahkan kita ? dia tertawa.

waktu memang memisahkan kita. saya lupa bagaimana mulanya cinta kita terpisah. yang jelas saya meninggalkannya begitu saja. saya disuruh orang tua untuk melanjutkan sekolah diluar kota. saya menyesal. saya tidak mengucapkan selamat tinggal padanya. entah apa yang ada dipikiran saya waktu itu. saya ini bukan laki laki. saya berusaha menghubungi dia, tapi tidak bisa. saya kirim surat padanya, tapi tak ada balasannya. mungkin, dia terlanjur benci. dan mungkin menganggap saya remaja yang baru saja mengenal apa itu cinta. tanpa berusaha untuk menjaganya. tanpa ada upaya untuk memilikinya.

bahkan sampai sekarang saya tidak pernah lagi mendengar kabarnya. saya hanya bisa berkata 'mungkin'. mungkin dia sudah menemukan cinta sejati. mungkin dia mendapatkan seorang laki laki yang bertanggung jawab. mungkin dia sudah menikah, menjadi seorang istri dan seorang ibu bagi anaknya yang lucu lucu. dan sudah menemukan kebahagian yang sejati. menyesal ? entahlah. jika saya katakan menyesal, rasanya tidak pantas dan tidak adil bagi aurel karena sudah menemani saya hampir 10 tahun lamanya. dan jika saya katakan saya tidak menyesal, rasanya saya ini benar benar lelaki pengecut yang meninggalkan cintanya dan tidak pernah mau untuk berjuang mendapatkannya.

*paintings & airbrushing images by natan planet renders

ic_m.gif

11:47 Posted in Cerita | Permalink | Comments (24) | Email this

11 December 2009

menjadi pengemis

hina.jpg

tiba tiba ada hasrat keinginan untuk menjadi seorang pengemis. coba sampeyan sampeyan semua bayangkan, kalau setiap orang paling tidak ngasih seratus rupiah kadang ada yang limaratus rupiah, coba sudah berapa rupiah yang terkumpul seandainya saya ngider ngalor ngidul dari rumah ke rumah, pangkalan bis, terminal sampai stasiun kereta ? coba bayangkan lagi jika hal itu dilakukan paling tidak delapan jam sehari ? coba banyangkan jika hal itu dilakukan setiap hari ? dan coba bayangkan kalau hal itu saya lakukan berdua bersama istri saya, bukankah penghasilannya dua kali lipatnya ?

"yuk hon, kita ngemis ?" ajak saya sambil bercanda.

"sing sing...!!! orang kok ngga tau terima kasih. wong ya hidup sudah serba kecukupan. lha kok mau ngemis." jawab istri saya.

"wes, ra kompak blas...katanya cinta ? seandainya nanti kita ditakdirkan jatuh miskin lantas jadi pengemis, kan sudah siap lahir batin." jawab saya.

"bukan masalah siap ngga siap. mbok sampeyan itu bersyukur. mbok ya kalau punya cita cita itu yang bener. katanya mau jadi orang yang bener, membangun bangsa, menjadi warga negara yang baik. kok malah jadi pengemis. mikir mas, mikir." jawab istri saya.

memang, saya ini manusia yang ngga bisa mikir. dan jujur, bukannya saya ini tidak tahu terima kasih atau apa. saya cuma miris ketika melihat rakyat indonesia banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan. sungguh sengsara bukan ? sudah miskin, masih dibawah garis miskin lagi. jangankan berfikir untuk mencari pekerjaan yang baik hingga hidupnya lebih sejahtera, mendapatkan recehan untuk sepiring nasi setiap harinya saja sudah bersyukur. mereka para pengemis itu rela bejalan kaki puluhan kilometer setiap hari untuk mendapatkan haknya agar bisa makan. belum lagi mereka yang terorganisir. lantas harus menyewa bayi, ngesot, dan sampai ada yang mencacatkan diri. semua itu mereka lakukan agar bisa dikasihani. supaya kita bisa memberi lebih. ironis bukan ?

"lha kalau sampeyan itu mau menjadi manusia yang lebih terhina (maksud teman saya, mungkin sekarang ini saya sudah menjadi manusia hina.) ya sana silahkan ngemis. apa sampeyan itu tidak tahu mas, kalau menjadi pengemis itu adalah pekerjaan yang hina ? wong ya masih punya tangan dan kaki untuk bekerja, lha kok malah ngemis. belum lagi bawa bawa anak kecil, bayi, trus pura pura cacat. bukankah itu sudah bentuk manipulasi kecil dalam berbohong supaya dikasihani lantas diatasnamakan mencari rejeki ?" komentar teman saya suatu hari.

setelah mendapatkan pencerahan dari teman saya diatas, saya kembali berfikir. mungkin ada benarnya juga. lantas, kalau mengemis itu adalah pekerjaan yang hina, berarti bukan hanya para pengemis saja yang menjadi orang hina. tapi juga orang orang penting pemerintahan, para pejabat, aparat, hingga wakil rakyat buanyak yang menjadi orang hina, karena tidak sedikit dari mereka suka ngemis. ironisnya, mereka itu tidak hanya mempunyai kedua kaki dan tangan untuk bekerja tapi mereka itu adalah orang orang pilihan. orang orang pinter, berpindidikan, juga gelar yang berjajar. tak hanya itu, mereka juga punya segalanya. gaji bulanan beserta tunjangan hidup yang komplit hingga total puluhan juta. hingga menjadi orang orang terhormat yang dipercaya rakyat untuk mengurus negara. tapi, apa yang sudah mereka lakukan ? memperjual belikan pasal pasal hukum. makelar kasus. kriminalisasi. hingga mengharuskan rakyat kecil menanggung denda ratusan juta karena menjadi tersangka pencemaran nama baik.

dan sungguh bukankah mereka telah menjadi pengemis hingga kita semua harus memberi recehan. tak peduli kita harus memecah celengan. dalam bentuk ratusan atau lima ratusan. bersama, kita akan berikan ketangan mereka.

"masih mau jadi pengemis mas ?" tanya teman saya lagi. tidakkkkkkkkk!!!

ic_m.gif

13:37 Posted in Cerita | Permalink | Comments (24) | Email this

1 2 3 4 5 6 7 8 Next