« Hikayat Anjing | HomePage | Setetes Tinta »

09 November 2006

Hikayat Anjing

suatu hari dia bercerita kalau dirinya adalah anak anjing. "belikan ibu rokok anak anjing ! CEPAT !" kau dengar mata, dia memanggilku anak anjing, selalu setiap waktu menyemprotkan ludahnya yang kental dan bacin. kau pasti tahu mata, anak anjing dilahirkan anjing. setidaknya aku belum pernah mendengar ada manusia beranak anjing. jadi kalau aku ini anak anjing, dia itu apa ?

kau lihat mata, cara dia makan. kedua kakinya mengakang diatas meja, mengendus nanar, kemudian menyorongkan mulutnya kepiring. sesekali dengan kaki terangkat nungging. layakkah manusia bersikap seperti itu ?

lalu dia masih melanjutkan ceritanya. aku sudah muak dengan semua ini mata, sudah tidak tahan lagi. hampir setiap malam dirumah ini berdatangan laki laki. dari yang bertampang kucel, berjambang dan mesum. aku kira semua laki laki itulah tentunya juga anjing. kalau toh mereka manusia, aku yakin sebelum mereka bereinkarnasi menjadi manusia, para laki laki itu pasti anjing. anjing kawin dengan anjing aku kira memang jamak.

mata teringat akan keadaannya seperti itu. teringat karena kemiskinan dan krisis yang melanda membuatnya hidup seperti itu. sementara ibunya menjadi kupu kupu malam. dia bekerja siang malam. mata ingat dulu dia pernah menjadi penangkap anjing. hanya bermodal karung beras dia berjalan dari kampoeng ke kampoeng. melewati selokan, rel dan jalan setapak. mengincar anjing liar. selama dikota ini masih ada warung "SATE JAMU RICA RICA" dia terus menangkapi anjing liar itu untuk dijual ke pedagang sate. kemudian dia melihat pedagang sate itu membunuh anjing tangkapannya yang tidak perlu mata ceritakan disini bagaimana prosesnya.

mata melihat itu hanyalah sebuah pelampiasan akan dirinya. dia begitu dendam dengan yang namanya anjing. dendam akan dirinya sebagai anak anjing. hidup tidak seindah yang dibayangkan. dunia ini sudah terbalik. begitu banyak anjing yang mendapatkan kasih sayang dari pemiliknya. anjing itu makan teratur tiga kali sehari. mandi sehari dua kali. kadang sesekali kesalon khusus untuk perawatan bulu. kandang yang luas dengan alas tidur yang empuk seperti kapas.

dunia sudah terbalik mata. sedangkan aku. aku mata. makan sehari sekali saja sudah merasa bersyukur. ngga sempat untuk memikirkan pergi kesalon atau tidur diatas ranjang yang empuk. sementara setiap hari aku hanya berpakaian lusuh dan tidur diemperan toko karena kamar rumah dijadikan tempat jualan. bayangkan mata. apa ada yang salah dengan ini semua jika aku menangkapi anjing anjing itu dan menjualnya untuk dimasak dijadikan tongseng. kukira ini juga jamak. apa yang bisa kulakukan lagi selain menangkapi anjing anjing itu. tidak ada. ini keringatku. ini kehidupanku. ini rejeki yang aku dapatkan. andai pabrik sepatu tempat aku bekerja dulu tidak memecatku. aku tidak akan begini.

ya. mata pernah mendengar sebelum dia menjadi penangkap anjing. dia bekerja disebuah pabrik sepatu. sampai kemudian dia terkena PHK karena krisis ekonomi negara. lagipula pesangon yang dia dapatkan juga tidak seberapa. hanya mampu untuk beberapa minggu saja. sampai akhirnya dia menjadi begini. menjadi penangkap anjing. hingga dia dipanggil sebagai anak anjing.

sementara dia terdiam mata sudah tidak bisa menulis dengan kata kata lagi. tidak bisa menulis tentang dia dan ibunya. tentang dia dan anjing tangkapannya. atau tentang dirinya sebagai anak anjing. yang mata tahu, bagaimanapun juga anjing adalah mahluk ciptaan Tuhan.


(buat mas agus)

08:25 Posted in Narasi | Permalink | Comments (7) | Email this

Comments

anjing bukan manusia...*nyanyi kenceng pake toa

Posted by: unai | 09 November 2006

tidak ada anak yang minta di lahirkan dalam kondisi keluarga seperti itu, setiap anak minta di lahirkan dalam keluarga yang harmonis. Tapi bila memang Tuhan mengijinkan dia untuk terlahir dari keluarga yang amburadul, mungkin ada sesuatu hikmah di baliknya...tinggal si anak yang bisa mensyukuri makna hidup yang di berikan kepadanya.

teruntuk...diriku sendiri=)

Posted by: mei | 09 November 2006

iya anjing ciptaan Tuhan
(hanya saya betul-betul ngeri sama makhluk ini)
bersyukurlah dulu,
bahkan yang sangat minimal,
banyak yang bisa dinikmati,
bahkan yang kelihatannya bukan nikmat.
kalau masih belum bisa disyukuri, ke sini, sama-sama saya, minum kopi ^^

Posted by: RhoMayda | 09 November 2006

wuah anjing knapa pd ditangkepi....hikssss jahat

Posted by: -g- | 10 November 2006

T_T...hiks... sedih deh baca postingan ini...
aduh, ta... gw kira yg begitu cuma ada di sinetron doank.. emang beneran yah???? T_T

semua makhluk yang ada di jagat raya ini, baik makhluk hidup maupun makhluk mati, semua ciptaan Tuhan.. dan sewajarnyalah kita memperlakukannya selayak mungkin!

"dia" yang dia sebut bukan anjing ta.. justru lebih mulia daripada anjing... "dia" manusia yang sungguh mulia ta.. karena itu Tuhan berikan jalan hidu yg demikian :)

*set dah! sejak kapan gw bisa ngemeng gituh??? :o *

Posted by: Kana | 10 November 2006

eh salah maksudnyah yg ini:

>> "dia" yang mata sebut

bukan yang ini:

>> "dia yang dia sebut

:)) mangab...... :D

Posted by: Kana | 10 November 2006

dia bisa mendapat hidup yang lebih baik kalo dia mau berusaha,anak anjing tidak harus selamanya menjadi anak anjing..suatu hari bisa jadi serigala :D

Posted by: meli | 10 November 2006

The comments are closed.