« Setetes Tinta | HomePage | kipli my man... »

10 November 2006

Setetes Tinta

siapa yang bertanggung jawab tinta itu berwarna hitam ? saya akan bertanggung jawab. saya sering mendengar dulu orang menulis puisi sebait dua bait harus berhadapan dengan pihak yang berwajib. hanya karena setetes tinta, kita harus dihadapkan dengan masalah yang sangat serius. sering kali kita mendengar banyak orang hilang yang tidak tahu sebabnya. bahkan keesokan harinya sebuah surat kabar memberitakan ada sebuah mayat yang terbujur kaku ditepi selokan. karena tulisan.

kali saya akan bercerita tentang itu semua. tentang setetes tinta. tentang seorang penulis yang ditangkap. dengan borgol dipergelangan tangan. mata dan mulut yang tertutup dengan kain hitam. lalu setelah itu dibawa ke sebuah mobil dan melaju entah ke mana. dan setelah sampai ditujuan, ikatan yang menutupi mata dan mulut itu dilepas. mula mula terasa begitu gelap. akhirnya sampai juga seleret cahaya dari lampu listrik remang dari jendela ruang. tapi bukan jendela, hanya lubang persegi empat sedikit memanjang.

sebelum mereka bertanya, penulis itu terlebih dulu membuka mulut.

"kalau bapak bapak semua hendak menginterogasi, percayalah, saya hanya seorang penulis, yang tidak ada hubungannya dengan organisasi mana pun, apalagi dengan kegiatan politik atau unjuk rasa para buruh. saya tidak kenal dengan tokoh politik manapun atau siapa pun kawan kawannya yang katanya dicari cari aparat karena terlibat dalam berbagai aksi. tidak, bapak bapak. kegiatan saya hanyalah merangkai kata kata dengan tinta. saya hanya bergumul dengan lautan kata kata..."

"sudah, jangan berpuisi di sini."


lalu sebuah kepalan martil menghantam kepalanya. terasa ngilu. lalu seseorang bertubuh kekar dari mereka berkata "gara gara tulisan, puisi dan semua cerita kamu ini menimbulkan sebuah provokasi. sampah seperti kamu memang tidak ada gunanya. kenapa kamu tidak melakukan hal yang lebih baik daripada membuat tulisan seperti ini." lalu sebuah pukulan mendarat diperut.

siksaan demi siksaan datang. diruangan itu seperti halnya neraka. dipukulnya dia dengan lonjoran kayu. ditendang kakinya hingga sengkleh. dibenamkan kepalanya dibak air. seperti layaknya binatang haram dia terus menerus disiksa. hanya karena setetes tinta. sehabis disiksa. lalu dimasukkan dia dalam sel pengap menanti hari hari dimana pengadilan sudah menetapkan vonis hukuman mati.

tapi dia tetap tidak peduli dengan semua itu. dia merasa dirinya benar. apa yang dia tulis lewat puisi ataupun cerita itu adalah sebuah gambaran yang sesungguhnya. sementara semua orang turun kejalan dengan kerusuhan dia menulis kata kata dengan tinta. menghujam menusuk tajam. dia terus menulis tentang hak hak yang tertindas, tentang kemiskinan, tentang keburukan dan kecacatan hukum, tentang semua tetek mbengek yang ada dinegara ini. sesekali dia menulis tentang cinta dan kasih sayang sesama manusia. sesekali dia menulis tentang keindahan negara jika semua warganya hidup dalam damai. hingga dia mengorbankan itu semua dengan kematian.

dan akhirnya, tibalah prosesi pembantaian yang paling dinantikan.

penulis itu melangkah dengan kaki yang tak goyah. perutnya membuncit. liang matanya terlihat kelam. rambutnya yang putih dipenuhi sindap, lengket dan bau apak. tubuhnya meruapkan aroma kematian. tetapi dia tampak damai. sikapnya seperti seorang pahlawan yang bersikeras mempertahankan kehormatan negaranya. ditengah tanah lapang yang luas, dia berdiri memandangi langit malam dengan sepasang matanya yang hampir buta karena siksaan. dia melihat rembulan dan bintang yang berkilauan.

aib sebentar lagi dilenyapkan. para aparat berbaris. puluhan senapan diarahkan. ketika segalanya kian dekat, keheningan kian terasa sempurna. lalu ditanya penulis itu tentang permintaan terakhirnya. dan dia terdiam tak berkata apa apa. hanya tersenyum.

dibawah sinar rembulan malam, puluhan peluru berlesatan seperti keping cahaya bening yang terbang melayang layang bagaikan kunang kunang. ya, semua puluru dari senapan yang ditembakkan melesat seperti cahaya menjelma menjadi kunang kunang. berkelebatan penuh warna. kemudian hinggap seluruh tubuhnya. ditangan, dikaki, didada, dan dikepala. perlahan dia menikmati cahaya itu. perlahan dia merasakan sebuah harapan. harapan akan sebuah keyakinannya tentang semua tulisan yang dia sampaikan. perlahan dia menutup matanya. pergi bersama kunang kunang. menembus malam yang kelam.

ps : setetes tinta sudah tertulis rho. - selanjutnya Cinta Sepotong Roti. buat siapa saja yang mau posting dengan judul tersebut.

09:35 Posted in Narasi | Permalink | Comments (9) | Email this

Comments

ta, ini tentang idealisme seorang penulis ya?
Menulis seperti halnya menerjemahkan sebuah idealisme dalam kata kata. Memang sulit hidup diantara sebuah idealisme dan realitas...kalo aku memilih untuk bisa mengelaborasikan keduanya. Menjaga agar idealisme tetap ada, namun tidak menafikkan sejumlah realitas yang ada. Agar tidak pragmatis nantinya. Kalau Mata gimana? ^_^

Posted by: MnX | 10 November 2006

bagusss...bales apa ga rho?

Posted by: aris | 10 November 2006

tinta lebih kejam dari senapan donk :D

Posted by: meli | 10 November 2006

begitulah realita yang ada... masih ingat kan nasib para jurnalis dan penulis dengan idealisme tinggi di masa orba?? can't say a word about that!

conta sepotong roti.... kek judul pilem jadul ah ta! :D

Posted by: Kana | 10 November 2006

ceritanya menarik. tentang siksaan. spesifiknya siksaan di penjara. kenapa ya kalo isi ceritanya tentang siksaan di penjara itu menarik untuk dibaca, kayak novel AYAT AYAt CINTA, yg menyisipkan cerita pelecehan seksual tahanan sesama pria [gay sex]. eh,artis2 tu kayak apa ya cerita di dalam bui? penasaran ni sama .... oh ya faisal, trus roy marten, trus ferry irawan, tommy dkk. ada cerita serunya g y?

Posted by: day | 10 November 2006

Untung jaman seperti itu sudah "agak" berlalu, selama menulis itu menjadi hak seseorang, seberapa tidak "berisi" pun tulisan mustinya teuteup dihargai.

Tetaplah menulis sampai engkau bisa tersenyum melihat "hasil" positif tulisanmu !

Salam Kenal ya :)

Posted by: fiadi | 10 November 2006

Jadi pengen tau, apa sih yang ditulisnya ampe itu orang marah besar ;)

Posted by: MaIDeN | 10 November 2006

hmm,,, kalo nulis di blog ga pake tinta kan? :P

Posted by: chocoluv | 10 November 2006

to aris:
bung aris, serbuuu...!!! (hehehe... paan sih nih)

buset, berdedikasi tinggi tuh. ckckck... salut salut. ternyata apapun yang kita lakukan, semuanya beresiko. bahkan menulis. bahkan meneteskan setetes tinta. ckckck.... dan betapa menyedihkannya jika pena dibungkam, tintanya tak lagi diteteskan. siapa lagi yang mau bersuara?

Posted by: RhoMayda | 10 November 2006

The comments are closed.