« 2006-11 | HomePage | 2007-01 »
28 December 2006
2007
waktu aku masih anak anak, kupikir hujan itu adalah sebuah tangisan. suatu kesedihan karena Tuhan marah kepada awan. saling berteriak dan bertengkar seperti halilintar yang menggelegar. hingga matahari, rembulan, dan bintang sembunyi ketakutan. dan langit menghitam.
sungguh itu yang membuatku tidak menyukai hujan. airnya yang deras sangat menyakitkan. dinginnya yang mencekam seperti kepedihan yang mendera pikiran, bagai gundah yang tak tertahan. sekali lagi aku tidak suka hujan. hujan itu mengerikan. aku melihat hujan seperti aku melihat sebuah harapan yang sia sia. entah kenapa hujan sering kali membuatku merasa seperti itu. entah sejak kapan aku takut pada hujan. trauma.
aku lebih menyukai setelah hujan reda. serasa semua masalah telah berlalu begitu saja. langit hitam yang perlahan retak karena matahari yang bersinar. tetes tetes air didaun yang berjatuhan. rumput yang semakin menghijau. semak semak tanah basah. dan sesekali muncul pelangi berwarna warni. rasanya ada sebuah harapan baru tentang mimpi mimpi yang belum tergapai. seperti kabut pagi hari. berlapis putih terasa lembut mudah ditembus, digunting, disobek, dilipat, atau diacak acak dari ujung ke unjung, dari sudut ke sudut hingga dengan sesuka hati bisa keluar masuk kapan saja kita suka. semaunya. bermain petak umpet, melompat lompat, berlarian bersama burung gereja, kupu kupu ataupun lebah madu. tertawa cekikikan, habiskan hari, sampai letih menghampiri.
desember dikota kami sekarang adalah musim penghujan. hujan datang tiap pagi, siang atau malam. tidak diragukan lagi jika hujan datang dipenghabisan tahun. kami tidak mempedulikan hujan datang atau tidak. yang pasti kami semua akan merayakan malam pergantian tahun ini. ya, malam tahun baru nanti pasti sangat meriah. malam yang tercipta untuk berhura hura dan berpesta pora bersama keceriaan yang penuh harapan, seolah dimana Tuhan tidak menyediakan kesempatan dihari berikutnya. orang orang melihat jarum jam, detik dan menit yang terus dihutung mundur. melihat waktu yang melaju ditugu tugu, dimenara berlonceng atau digapura tua batas kota. menunggu dentang duabelas kali tepat ditengah gelap kelat malam yang pekat, lalu membuat terompet terompet menjerit, klakson kendaraan melolong, serta kembang api yang terbang berhamburan. selang beberapa jam setelah itu keadaan kota kami menjadi senyap. anak anak muda kebut kebutan. berjudi dan ada beberapa yang mabuk. meminum sekaleng bir campuran serta menghisap ganja. dan terkadang hujan kembali datang. dalam dingin malam yang membuat sepasang remaja kasmaran saling berdekapan diemperan toko pinggiran jalan. sesekali terlihat mereka berciuman dalam remang lampu jalanan. saling meremas. saling bisik. saling mendesah perlahan. setidaknya mereka tidak terjebak dalam dinginnya hujan serta menikmati suasana romantis yang atis. mereka menyimpan hujan sebagai kenangan yang kelak dapat diceritakan kepada anak anak. hujan akan menjadi saksi kisah cinta mereka. dan hujan akan menjadi saksi awal harapan mereka.
selamat tahun baru 2007. semoga impian kita menjadi kenyataan.
14:34 Posted in Narasi | Permalink | Comments (26) | Email this
27 December 2006
sungguh sayang,...
aku ngga kuat kalau kamu suruh keramas tiap subuh pagi. bukan berarti aku ngga mau melakukannya. tapi coba banyangkan. BAYANGKAN. jam 5 bangun lalu keramas. dingin kan ??? lagi pula dengan mata terkantuk kantuk, memangnya bisa konsentrasi kalau mandi. salah salah bisa gosok gigi pakai shampo. sungguh merana nasibku. tapi ya bagaimana lagi. pengorbanan itu harus dilakukan. tugas suami itu memberikan nafkah lahir maupun batin.
ahhh,...sepertinya mata masuk angin. :(
16:11 Posted in Cerita | Permalink | Comments (8) | Email this
25 December 2006
menjadi selebloger
pernah seseorang bilang kalau saya adalah seorang selebloger. tentu saja saya kaget dengan istilah itu. belum pernah saya mendengar ada istilah selebloger. apa maksudnya selebritis dunia bloger ? atau orang orang yang terkenal didunia bloger ? tapi jika memang artinya demikian maka tentu saja saya bisa membanggakan diri dengan sebutan selebloger tersebut. belum ada satu tahun saya ngeblog sudah mendapatkan julukan seperti itu. tapi ya terima kasih.
lalu saya sibuk mencari arti selebloger itu. saya tanya kesana kemari jawabannya ngga ada yang pasti. tapi dari semua jawaban mereka bilang istilah itu buat orang yang pantas karena tulisannya yang bagus. wah, kalau ini saya harus memikirkan dua kali untuk menyandang istilah itu. sebab pekerjaan utama saya bukan penulis, melainkan menghitung duit. hahaha. banyak sekali orang orang terkenal didunia bloger. sebabnya banyak. ada yang memang sudah terkenal. misalnya para artis, penulis atau politisi yang ngeblog. atau terkenal karena memang sering ngider kesana kemari ngasih comment hingga namanya sering dilihat.
tapi yang jelas, menjadi seorang yang terkenal itu sangat merepotkan. coba banyangkan, sering kali kita mendengar berita berita yang tidak sedap tentang orang orang terkenal itu. misalnya saja seorang artis yang jalan berdua dengan teman cowoknya, maka dikira dia pacaran atau kalau si artis sudah punya suami maka dikira dia selingkuh. atau seorang figur masyarakat yang sudah dijadikan seorang panutan karena ilmunya yang memang pantas untuk dicontoh. berbicara tentang keluarga yang sakinah. keluarga bahagia lalu tiba tiba dia melakukan sebuah tindakan yang memang tidak seharusnya dilakukan. dan kita menghujatnya. membakar bukunya dan mencaci makinya tanpa kita ketahui apa alasan yang sebenarnya.
saya juga kenal dengan seorang paling terkenal dinegara ini. dia adalah orang terkenal diantara orang orang terkenal. seorang pemimpin. sebelum menjadi pemimpin negara ini. beliau sungguh orang yang patut dibanggakan. beliau selalu mendengarkan keluhan keluhan setiap orang. dengan setia dia mendengarkan masalah masalah para wong cilik itu. tentang harga minyak yang naik, tentang panen yang gagal, tentang atap rumah yang bocor, tentang anak anak mereka yang nakal atau tentang uang sekolah yang semakin mahal. beliau dengan sabar mendengarkan cerita keluh kesah mereka sampai selesai. lalu beliau tersenyum. seperti sebuah mujikzat. seperti ada harapan tentang masalah masalah itu ketika melihat beliau tersenyum dan mengangguk. harapan yang benar benar menjadi impian tentang hari esok yang menjadi nyata. maka kami tak ragu ketika kami memilih beliau untuk menjadi pemimpin negara ini. kami menjadikan beliau pemimpin agar bisa berkeluh kesah, masalah, dan ganjalan yang ada dihati. begitu beliau menjadi pemimpin. dan begitu beliau menjadi orang terkenal. selebritis. kami semakin susah untuk bertemu dengan beliau. semakin hari semakin banyak yang datang kepada beliau untuk berkeluh kesah. hingga meski membuat jadwal terlebih dahulu. mengisi buku tamu beserta keperluannya. lama kelamaan beliau hanya berpesan dan berpidato dengan text yang sudah diketik oleh sekretaris negara. lalu disiarkan di media massa. televisi, radio dan media cetak. supaya lebih simple. para masyarakat tidak bisa menyampaikan keluh kesahnya lagi karena beliau terlalu sibuk dengan urusan yang katanya lebih penting. yang katanya untuk kemajuan negeri ini. yang katanya demi keadaan yang makin baik lagi. supaya bisa menatap masa depan yang lebih cerah. masyarakat hanya berharap bisa bertemu lagi. berkeluh kesah seperti dulu. ingin didengarkan. perhatian. cuma itu. ya, saya rasa cuma itu.
bisa dibayangkan betapa susahnya menjadi orang terkenal itu. saya tidak ingin menjadi special. terlena dengan pujian. tapi jika memang sekiranya saya sudah terkenal, selebritis, selebloger, atau apalah namanya. saya tidak keberatan untuk dimintai tanda tangan. :)
17:17 Posted in Cerita | Permalink | Comments (23) | Email this
22 December 2006
mata buta
entah kenapa akhir akhir ini aku sering kali mengalami mimpi buruk yang berkepanjangan. mimpi yang seakan akan menghantui dan terus mengikuti. terakhir kali aku bermimpi menangkap iblis, kali ini aku mimpi berkelahi dilangit dengan sesosok makhluk putih bersayap. lalu dengan jari jarinya. dia mencengkeram dan mencungkil kedua indah bola mataku dan dibuangnya hingga seorang wanita memungutnya.
begitu aku terbangun dari tidur, aku merasakan sesuatu yang lain. seharusnya aku bisa melihat cahaya matahari yang masuk melalui sela jendela kaca. seharusnya aku juga bisa melihat atap langit langit rumah yang retak. seharusnya aku bisa melihat diriku yang masih meringkuk lesu. lucunya aku masih merasa tertidur. hari masih malam. gelap. tapi ternyata aku sudah buta. tak bisa melihat. aku teringat tentang mimpi yang barusan menghampiri. mimpi yang menjadi kenyataan. tentang bola mataku yang hilang. rongga mataku berlubang.
"mataku, kemana mataku, aku buta... tapi juga mataku menghilang. kemana ??? tolongggggg,...??? TOLONGGGG...mataku...!!!"
aku menjadi histeris karenanya. para tetangga berdatangan. entah apa yang mereka lakukan. aku hanya bisa merasakan. ada yang bertanya keheranan. ada yang ketakutan. bahkan ada yang menelpon rumah sakit untuk mendatangkan ambulan. aku pingsan. tak sadarkan diri. yang jelas aku tidak bisa lagi menahan apa yang baru saja kualami. lalu kudapati diriku ada diranjang rumah sakit. tercium bau obat yang menyengak. bahkan dokter sudah angkat tangan. dia tidak bisa melakukan apa apa. ini merupakan sebuah kasus yang langka. mata yang tiba tiba hilang. berlubang. kosong. dan benar benar tak tersisa apapun. bahkan bekas darah yang mengering pun tidak ditemukan. mungkin karena kalainan genetis atau cacat bawaan. hah ? bagaimana bisa menyimpulkan demikian, padahal hal ini baru saja terjadi semalam. dengan rasa kecewa aku pulang. rasa ingin tahu terus menerus datang. mencari sebab kenapa bisa timbul akibat seperti ini. para tetangga tidak ada yang bisa diharapkan. mereka hanya kasak kusuk saja. berbicara omong kosong. mengarang sebuah cerita kenapa aku tiba tiba bisa buta. bahkan ada yang memotretku, lalu dikirimkan kemedia massa supaya dapat uang atau mungkin bisa masuk acara langka tapi nyata. parahnya ada yang bilang ini bukan penyakit tapi kutukan. gila. benar benar gila.
pasti ini perbuatan malaikat. dia bersayap dan berwarna putih. ya, sudah pasti ini perbuatan malaikat. malaikat yang harus bertanggung jawab atas ini semua. tapi kenapa malaikat melakukan hal ini terhadapku ? membutakan mataku ? ahhh peduli amat. yang pasti aku akan mencari malaikat itu. aku akan membuat perhitungan dengannya. pikirku. lalu dengan berjalan perlahan. terkadang terseok seok mencari pegangan. aku terus berjalan. berjalan tak tentu arah. melewati semak belukar. melewati ribuah lembah. melewati gunung gunung. melewati padang rumput. menyerang laut. sampai jauh. menuju batas cakrawala tempat dimana matahari menelan senja. setiap bertemu dengan seseorang pasti aku selalu bertanya. kamu tahu dimana malaikat ? tempat dimana aku bisa bertemu malaikat. lalu orang orang itu hanya bisa menatapku seperti orang bego. ada yang bilang aku sudah gila. hilang harapan. atau seorang sakit jiwa.
lalu ketika aku berpapasan dengan seorang wanita, dan aku bertanya dimana aku bisa bertemu malaikat, dia berkata.
"untuk apa kamu mencari malaikat ?"
"akan kutanya kenapa dia mengambil mataku, kenapa dia membuat aku buta ?"
"melaikat tidak mungkin sembarangan melakukan hal itu. pasti karena Tuhan yang menyuruhnya ?"
"apa ??? jadi ini semua karena Tuhan yang menyuruhnya ? kalau begitu bagaimana aku bisa bertemu dengan Tuhan ?"
"untuk apa kamu bertemu Tuhan ?"
"ya untuk menanyakan, kenapa Dia menyuruh malaikat membutakan mataku."
"Tuhan ada dalam Al-Quran, temui saja dia disana pasti kamu akan mendapat jawabannya."
"tapi...aku tidak pernah membaca Al-Quran."
"kalau kamu tidak pernah membaca Al-Quran, untuk apa kamu mempermasalahkan matamu yang hilang ?"
"....???"
12:20 Posted in Narasi | Permalink | Comments (20) | Email this
21 December 2006
cinta, cinta
sebenarnya kamu ini milik siapa ?
17:45 Posted in Note | Permalink | Comments (22) | Email this
20 December 2006
remang fajar surakarta
surakarta, bulan desember, dingin pagi sisa sisa angin malam hari yang menembus nadi masih terasa sedemikian atis. bayangan bulan yang samar samar masih terlihat disela sela kabut subuh yang memutih. seperti lambaian yang ragu untuk memulai hidup baru. sinar matahari yang enggan datang, mungkin sudah merasa bosan. lalu gerimis dan hujan buram remang remang turun dengan perlahan. sungguh sangat mempesona. bersama imaginasi, narasi, dan wanita yang menemani. seperti fajar pagi ini. aku masih duduk diteras depan rumah. bersama hujan yang masih tertumpah. dingin semakin dingin. cara terbaik untuk mengusirnya tak lain secangkir kopi. tapi berbeda dengan rho yang memilih cappuccino. ya, wanita yang membaca tulisanku itu bernama rho. seorang anak sastra yang sekarang sedang tinggal dibelanda dan menyelesaikan studynya disana.
rhomayda alfa aimah, cukup kupanggil rho. selalu kulihat blognya. katanya pikirannya kacau, otaknya sedang ngga waras. metabolisme tubuhnya terganggu. setidaknya itu yang kubaca waktu dulu. mungkin sekarang sudah ngga lagi. sekarang dia sudah normal. bisa tertawa. bisa jatuh cinta. bisa bahagia.
tidak ada yang menarik untuk diceritakan tentang kota kecil ini. selain makanan makanan khasnya yang berbahan santan, atau terlihat sepeda, becak dan andong yang melengkapi suasana kota agar terkesan tempo dulu. selebihnya semuanya sudah terinfeksi budaya barat. restoran siap saji, supermarket, dan terlihat beberapa butik dan ruko ruko. budaya kota ini seakan akan sudah tenggelam oleh waktu. termakan jarum jam yang berputar berlawanan. sekarang rho menyuruhku untuk membuat tulisan dengan judul remang fajar surakarta bagaimana mungkin aku bisa membuatnya kalau judul seindah itu sangat berlawanan dengan kenyataan yang sesungguhnya.
tepat disini rho, didepan mal ini para pengunjuk rasa berdatangan. mereka berteriak teriak ingin perubahan. lalu setelah itu mereka menjarah apa saja yang ada didalam mal. pakaian, sepatu, jam tangan, perhiasan, uang. mereka seperti binatang. setelah itu berteriak girang lalu melakukan pembakaran. kejadian kerusuhan mei waktu itu masih membekas dikota ini. remang fajar tak lagi tergambar. sinar senja tak lagi mempesona. lalu didepan rumah merah megah itu rho. barang barang diambil secara paksa. dan para wanita diperkosa. seakan akan mereka meluapkan kemarahan tentang adanya kesenjangan. mereka sudah lupa kodrat mereka sebagai manusia. semalam kerusuhan terus terulang. remang fajar surakarta pagi itu terlihat murka. toko toko tutup, bangkai mobil berserakan, asap hitam dari ban bekas menusuk masuk ke rongga dada, pecahan pecahan kaca, lalu orang orang yang berlalu lalang. ada yang melihat lihat. ada yang menangis berduka. ada pula yang tersenyum sinis. surakarta neraka.
dari sojomerto berita itu pasti pernah kau dengar. hancur luluh rasa jiwa dan raga, tak percaya tapi nyata. memang begitulah cerita yang sebenarnya. dari sini pula aku memandangi surakarta dengan penuh rasa kehilangan. dari sini pula harapan dan impianku telang hilang. orang orang seperti kita ini rho yang harus bergerak. cepat. melesat. seperti kilat yang menyayat. pertanyaan demi pertanyaan datang menhantui secara perlahan. apa ? siapa ? kenapa ? dari sini pula aku selalu digoda pertanyaan pertanyaan itu. sambil melihat kupu kupu yang hinggap dimatamu. kutulis sebuah cerita singkat tentang kota ini.
***
"kenapa kamu kotori remang fajar indah ini dengan cerita kekerasan. ceritalah tentang cinta, tentang kasih sayang, tentang keindahan atau tentang kebahagiaan. aku sudah bosan mata dengan semua ini." pasti begitu katamu dalam hati.
"sebab cinta, kasih sayang, keindahan, dan kebahagiaan tidak ada dikota ini."
14:10 Posted in Cerita | Permalink | Comments (13) | Email this
19 December 2006
menangkap iblis
serius. ini benar benar serius. tidak main main. tadi malam aku bermimpi menangkap iblis.
bagaimana bisa ? entahlah. tiba tiba saja iblis itu berlutut dan bersimpuh dihadapanku. dengan wajah yang iba memelas memohon ampun untuk dilepas. bagaimana bisa iblis yang begitu menakutkan, berwajah menyeramkan dengan mata merahnya, telinga yang mencuat, dahi dan pipinya yang mengkerut, bibirnya yang hitam dan lidahnya yang menjulur panjang tercabang melata, serta tanduknya yang melengkung beruas ruas menjadi tidak punya daya dihadapanku. apa karena aku lebih menakutkan. atau karena iblis tahu kalau aku adalah seorang malaikat. entah apa yang sudah aku lakukan, yang jelas dia terus menerus meminta untuk dilepas.
dan akhirnya aku bawa dia kedunia nyata, aku seret dia kejalan raya. aku pasung dia ditengah alun alun kota. hingga para orang orang datang berarak melihat. menghujat. mengutukinya dengan sumpah serapah yang laknat. dibawah terik matahari yang panas menyengat.
"bagaimana kalau kita bunuh dia, kita rajam, kita hujam, dengan pedang dan parang tepat dilehernya."
"sudah lama kita menunggu hari yang suci seperti ini. terkutuklah iblis. dia itu bidah. dia itu penyihir."
senja kian muram, orang orang ditanah lapang ini sudah dipuncak kemarahan. ada yang memecut iblis itu, dilecut. hingga terkadang ada yang melempari batu ditubuh sambil menghujah murka. iblis dimata orang tidak lebih dari kebusukan. pencoleng. pembunuh. pemerkosa. penipu. pelacur. dia iblis yang membiarkan kemaluannya dihisap para pengemis kudis, dia iblis yang tak enggan menjilati para penderita sifilis, dia pendosa yang melayani para bromocorah dengan tubuhnya, dia sundal yang tidur dengan para begundal. dia iblis yang dengan cara apapun rela menjerumuskan para manusia untuk menjadi pengikutnya hingga tak keberatan untuk memberikan contoh agar sempurna.
"tolong lepaskan aku, maka akan aku berikan apa saja"
iblis itu akan memberikan apa saja asalkan dia bisa bebas. apa saja. dia menawarkan harta, dia menawarkan wanita, dan dia menawarkan tahta. selalu saja dengan "ta" "ta" yang itu itu saja. aku tidak butuh harta, tidak butuh wanita atau tidak butuh tahta. lalu dia menawarkan cinta. aku hanya bisa tertawa. bagaimana makhluk nista macam dia bisa menawarkan cinta.
"aku akan memberimu anak, itulah cinta. bukankah selama ini kamu tidak punya anak. apakah kamu bahagia mata?"
bedebah. dengan cara apa kamu memberiku anak ? aku tidak mau nanti anakku dipanggil anak setan, anak jin, atau anak iblis. lebih baik aku tidak punya anak dari pada nanti anakku menjadi anti Tuhan seperti kamu.
"baiklah ini tawaranku yang terakhir, lepaskan aku maka aku akan memberitahukan bagaimana cara aku menggoda para manusia."
semua terdiam, rasa ingin tahu bergejolak didada. mungkin jika iblis memberitahukan bagaimana caranya dia menggoda manusia, kita bisa menghindarinya, mencegahnya, bahkan kita bisa membuat penawarnya. semua orang menatap iblis itu. menatap matanya. penuh tanda tanya. lalu iblis itu mulai menerangkan.
"nafsu. selama manusia punya nafsu. aku, iblis bisa menggoda manusia. nafsu yang terus tumbuh dalam hati. yang mengeras seperti batu. selama kalian para manusia mempunyai itu. aku bisa melakukan bisikan dan rayuan. sebenarnya kalau dipikir pikir, kalian para manusia lebih iblis daripada iblis. kalian para manusia sangat egois, sangat berambisi. kalau bicara soal untung untungan, sebagai iblis aku tidak mendapatkan apa apa dari kalian. coba kalian pikir ? apa yang kudapatkan ? sementara kalian terjebak dalam kekayaan dan kekuasaan. lalu apa imbalan yang kudapat ? kalian hujat aku, kalian sumpahi aku, kalian pasung aku seperti ini, dan kalian doakan aku agar dineraka selamanya. kalian yang mengaku makhluk paling mulia tapi berhati busuk. murka. jahat. dan bejat. uang rakyat kalian sikat. kekerasan dan tindakan anarkis antar sesama. bayi tak berdosa kalian buang. simiskin yang kalian tindas. sikaya yang semena mena. lalu dengan bangganya kamu melempari tubuhku dengan batu. kamu meludahi wajahku. kamu melecuti punggungku. dan kamu akan menghujamkan parang, kelewang dan pedang keleherku."
iblis kembali menatap para manusia manusia itu dengan matanya yang menyala. satu persatu dia melihat. melihat mata para manusia yang katanya dicap sebagai makhluk mulia. sempurna. tapi tidak lebih hanyalah seorang makhluk yang hina. terlebih lagi ketika ada beberapa manusia yang menyembahnya. bahkan kemaren ada seorang bupati yang datang padanya meminta pertolongan. "tolonglah saya, saya terjerat hukum. saya terlanjur memakai dana pembangunan jalan raya, kalau tuan menolong saya. ini ada tujuh kembang setaman dan kemenyan sebagai uang muka."
lalu iblis menjawab. "uang muka matamu, kau kira aku ini siapa ? main suap begitu saja. kerjaanku hanya membisiki dan menggoda manusia. selanjutnya urusan manusia itu sendiri. terjerumus atau ngga ? lagi pula untuk apa kamu bawa kembang dan kemenyan ? kau kira aku ini mbah dukun ? cepat pergi sana." sambil tergopoh gopoh bupati itu lari terkencing kencing. dalam hati dia memaki maki. "awas kau iblis, suatu saat kalau kamu terjerat. akan aku pastikan kau akan mengiba kepada manusia. akan aku buat kamu sengsara. tersiksa."
"kau lihat manusia yang memakai baju kuning bergaris itu ? dia salah satunya, kau lihat manusia yang bermata sipit itu ? dia juga juga salah satunya, dan kau lihat manusia..." belum sempat iblis itu berkata parang, kelewang dan pedang dihujamkan. bensin dilemparkan lalu api dinyalakan. iblis itu terbakar. kulitnya melepuh. musnah. hilang tak berbekas.
*) terinspirasi oleh ceramah [aa'gym dan lampu wasiat] beberapa bulan yang lalu.
17:02 Posted in Narasi | Permalink | Comments (13) | Email this
18 December 2006
apa ini postingan ?
tentu saja bukan !
*) mohon ampun, sedang tidak bisa berkata kata [ lagi ]
10:03 Posted in Note | Permalink | Comments (15) | Email this
16 December 2006
dan saya bahagia
kelepak suara sayap jibril terdengar. masuk kekamar rhesya dan membawanya terbang tinggi kelangit menembus awan diantara larit cahaya bulan yang temeram, melalui gugusan rasi bintang, meniti kabut malam hari, hingga sampai ketujuan sebuah negeri eternity. dari pintu gerbang sudah banyak ribuan peri yang menyambut kedatangan rhesya. peri peri bersayap kecil, mungil. membawa keranjang berpita warna warni penuh remahan bunga beraneka rupa.
inilah eternity. negeri para dewa dewi. angin bau kesturi aroma mimosa. beberapa bunga berserakan, membuat tanah sedikit perak merah keemasan. rhesya begitu sangat bahagia, ketika jibril datang membawanya kenegeri ini. inilah tempat selama ini yang dia dambakan dan dia idam idamkan. bebas, seperti surga. lepas, seperi nirwana. hanya hamparan padang rumput yang berhembus serta daun daun yang berjatuhan disungai. bernyanyi bersama malaikat yang memetik harpa. terbang bersama para peri peri kecil. melompat dari satu bunga kebunga yang lain. bahkan dia juga bisa bermanja dengan kupu kupu dan lebah madu.
tidak seperti dirumah yang sesak. yang tersedak dengan masalah yang itu itu saja. rumah tidak lagi indah. sejak pernikahannya tahun lalu. selalu saja muncul berbagai masalah. masalah demi masalah. satu masalah yang belum selesai hingga muncul masalah yang lain. dari hal hal yang kecil sampai pada masalah prinsip dan berbeda pendapat yang akhirnya menyebabkan sebuah pertengkaran. entahlah. rumah tangga mungkin memang seperti ular tangga yang gampang naik dan turun begitu saja. setidaknya sedang berjalan ditempat, mungkin ini yang sedang rhesya alami. kesalahan demi kesalahan, kurang tanggung jawabnya suami, keputusan yang sepihak, serta sikap dan kelakuan yang tidak berubah. dirumah, memang kekurangan cinta. kurangnya keharmonisan, membuat rhesya selalu berdoa. semoga dia bisa meninggalkan semua ini. pergi kesebuah negeri yang abadi.
hingga pada akhirnya jibril datang menjemputnya. hingga rhesya tidak pernah bersedih. dia hanya merasakan sebuah kebahagiaan. selalu saja ada hal hal yang baru dinegeri ini. bahkan sekarang ini rhesya telah bermain main dengan mimpi. dia melihat kubangan mimpi. seperti halnya melihat tv. dalam kubangan mimpi itu, rhesya bisa ikut masuk dan menjadi tokoh utamanya. seorang anak kecil yang bermain main dipantai, membuat rhesya ingin menjadi putri duyung yang mengajaknya berenang. seorang wanita yang berdiri sedih menangis dijembatan, membuat rhesya ingin menjadi lengkung pelangi disela sela pilar cahaya matahari untuk menghiburnya. dan seorang laki laki tampan yang bersandar dipohon sakura menulis sebuah cerita, membuat rhesya ingin menjadi kupu kupu terbang mengitarinya. hinggap dipena. menanam harapan dan impian.
kini kamar itu sunyi. rumah itu sepi. sang suami hanya termangu duduk dikursi sendiri. hidupnya kini tak berarti. hanya sekerat roti yang sudah berjamur, sebotol susu yang telah rusak serta beberapa kaleng pepsi yang kadaluarsa. hidupnya berantakan. bersama dingin malam yang atis, terkadang duduk diteras depan rumah memandangi getih bulan sabit. berharap jibril datang membawa rhesya pulang. sungguh usia tua yang celaka. tak ada yang peduli lagi dengan rumah itu. kecuali semak belukar tempat anak anak bermain petak umpet. ayunan dan beberapa pohon yang lapuk. serta teras rumah yang kini menjadi sarang kelinci yang matanya menyimpan senja. bahkan anak anak kecil itu sering bercerita tetang rumah itu, tentang laki laki tua renta, atau tentang malaikat yang jatuh cinta pada rhesya lalu menculiknya dan mengajaknya terbang mengembara. hidup bahagia.
selamanya.
00:05 Posted in Narasi | Permalink | Comments (18) | Email this
14 December 2006
mata rhesya
rhesya menemukan sepasang mata dipinggir jalan. entahlah. akhir akhir ini banyak organ tubuh yang berserakan dipinggir jalan. kemaren ada yang menemukan bibir dipinggir jalan. sekarang giliran rhesya yang menemukannya.
sejak dulu memang rhesya mempunyai sebuah keinginan punya mata yang sangat indah. untuk mengganti mata yang katanya kurang indah itu. tapi sebenarnya rhesya sudah mempunyai mata yang sangat indah. ukurannya pun sudah pas. presisi. mata putih dengan bola mata hitam mengkilat seperti kaca. bening. bahkan dengan matanya yang sekarang itu rhesya seperti malaikat. bidadari. bahkan rhesya terlihat cantik. wajahnya terlihat sayu putih sinar matahari. rambutnya yang hitam terurai bahkan melengkapi kesempurnaan kecantikan seorang malaikat. tak heran jika puluhan laki laki menyukai rhesya. hanya dengan sekali tatap, rhesya mampu membuat laki laki jatuh cinta padanya. tatapan yang seolah olah menggambarkan kemurnian hati rhesya. tapi entah kenapa rhesya tidak menyukainya hal tersebut. katanya kalau mata rhesya itu tidak indah. hingga rhesya begitu bahagia ketika menemukan mata dipinggir jalan.
rhesya berpikir kalau mata yang dia temukan itu adalah sebuah pemberian Tuhan. dia juga mengira kalau mata itu adalah mata seorang malaikat yang jatuh dari langit. mata yang ditemukannya itu adalah sebuah mata yang sangat mempesona. dan banyak sekali keindahan dalam mata itu. bahkan keindahan mata rhesya sekarang kalah dibandingkan dengan mata yang dia temukan itu. siapa yang tega membuang mata seindah ini dipinggir jalan ? pikir rhesya, benar benar orang yang celaka.
melihat mata itu, rhesya seperti melihat sebuah dunia yang menyejukkan. pohon pohon akasia yang rindang, bunyi air yang mengalir disela sela bebatuan, harum bunga melati yang berserakan, bambu bambu hijau yang melengkung, rumput basah dilapangan, kupu kupu yang berhamburan diawan cerah bersama beberapa anak kecil yang berlarian mengejarnya, dan sesekali terlihat gerimis riwis riwis yang tiris. mata itu benar benar seperti mata malaikat.
tanpa pikir panjang lagi, rhesya membawa mata itu ke medical eye center. kata lain dari sebuah klinik mata. tak peduli berapapun biayanya, rhesya ingin segera mengganti matanya dengan mata yang dia temukan dipinggir jalan. tak peduli apapun resikonya rhesya ingin mempunyai mata indah itu. mata itu sudah membius rhesya. seakan akan rhesya sudah masuk kedalam dunia indah mata itu.
kini rhesya bangga dengan matanya yang baru. tak henti hentinya dia menatap cermin sambil memangdang keindahan matanya yang baru itu. wajahnya yang cantik kini menjadi semakin cantik. bibirnya yang merah kini menjadi semakin basah, rambutnya yang hitam terurai kini menjadi semakin mempesona, serta matanya yang bening seperti kaca kini menjadi pelangi warna warni. kini rhesya memang seperti malaikat. bidadari langit ketujuh. peri negeri neri. hanya tinggal sayap, maka dia akan sempurna. siapa tahu besok dia menemukan sayap malaikat tergeletak dipinggir jalan.
dengan percaya diri rhesya pergi keluar rumah. memperlihatkan mata malaikatnya itu. semua orang yang melihat hanya kasak kusuk saja dibelakang. ada yang bilang mereka pernah melihat mata itu waktu kerusuhan dibanyuwangi, ada juga yang melihat mata itu waktu kerusuhan semanggi, lalu ada yang bilang kalau mata itu adalah mata seorang bocah berusia lima tahun yang mati tercungkil karena terlalu indah hingga dijadikan rebutan. dibalik keindahan mata itu terlihat keburukan. kerindangan pohon akasia yang ditebang, bunyi air mengalir yang tercemar, harum melati dibatu nisan, bambu bambu yang membusuk, rumput basah yang terbakar karena lapisan ozon yang bocor, kupu kupu yang mulai musnah, anak anak diperempatan jalan, serta gerimis riwis riwis di langit semburat mayit.
"kau lihat mata wanita tadi ?"
"iya, aku melihatnya..."
"benar benar mata yang jujur..."
"persis mata Tuhan"
10:49 Posted in Narasi | Permalink | Comments (25) | Email this



