« 2007-01 | HomePage | 2007-03 »

27 February 2007

ndoro togog

-- "katanya dulu gedung MPR-DPR RI penuh mahasiswa, mendobrak pagar, memenuhi halaman depan, tangga, teras, bahkan sampai atap. mereka mengibar ngibarkan sang saka merah putih, sebagian membawa spanduk bertuliskan REFORMASI, berteriak garang membakar langit." kata ponakanku bercerita tentang pelajaran sejarah yang kemarin ibu guru sampaikan disekolah.

-- "memang benar, dulu para pemuda berjuang. bahkan tidak hanya pemuda. mereka ingin mendapatkan apa yang mereka inginkan. kejujuran, hukum yang harus ditegakkan, serta menginginkan REFORMASI." kataku.

-- "apa yang mereka lakukan omm ?"

-- "apa saja, berteriak teriak didepan gedung MPR-DPR RI seperti yang kamu bilang tadi, membakar rumah, menjarah pertokoan, membobol mesin ATM, bahkan ada yang memperkosa." kataku.

-- "ahhh,..omm mengada ada, ibu guru tadi tidak menjelaskan bagian itu. omm bohong ya ?" katanya sambil mengerutkan dahi.

-- "tidak, buat apa omm bohong, memang itu yang terjadi di negeri ini pada waktu itu, bahkan kamu sendiri belum sempat melihat apa yang terjadi karena kamu masih kecil. begini ceritanya, selalu saja musibah melanda negeri ini. terjadinya kenaikan harga sembako dan naiknya harga BBM yang drastis membuat para warga masyarakat kalang kabut. krisis ekonomi yang sangat parah terjadi. katanya disebabkan karena hutang yang telah menumpuk dan banyak terjadinya praktek korupsi yang dilakukan para pejabat dinegeri ini. mereka yang mengaku para pemuda atau mahasiswa turun kejalan. berteriak teriak menginginkan keadilan. suasana sangat kacau, bahkan sering kali terjadi bentrok antara aparat dan pemuda hingga tak sedikit menelan korban luka luka dan beberapa ada yang meninggal. mungkin tidak terima karena ada rekan seperjuangan yang meninggal, solidaritas para pemuda makin menggila. penyampaian aspirasi bukan lagi membawa spanduk tapi membawa parang dan pedang, balok kayu dan batangan bambu, bahkan ada yang membuat bom rakitan dari botol kecap yang diisi dengan bensin. jika massa mulai beraksi, aparat melemparkan gas airmata. mereka bilang gas asu. lalu bentrokan terjadi. entah bagaimana hal ini bisa terjadi. ada yang bilang karena ulah provokator. ada yang bilang memang seharusnya ini terjadi. harus ada yang dikorbankan." kataku.

-- "jadi mereka ingin REFORMASI ya omm, seperti penurunan harga ?"

-- "ya,... seperti itulah contohnya."

-- "kalau harga sudah turun ?"

-- "ya menuntut yang lain, menyuruh para togog mengadakan sidang istimewa, lalu mengganti dengan yang lain. itulah jalan REFORMASI." kataku.

-- "mengganti togog dengan apa omm ?"

-- "ya dengan semar kalau bisa."

-- "apa hubungannya togog dengan semar omm ?"

-- "jadi kamu ngga tahu togog ya lee, togog itu saudara satu perut dengan semar. hampir mirip semar cuma mulutnya terlalu lebar karena rakus makan gunung hingga sobek sampai telinga. kamu tahu semar kan ? salah satu tokoh punakawan yang paling bijaksana, yang paling berpetuah dan sabar. nah, kalau togog itu kebalikan dari semar. togog itu suka menghamba yang selalu dijadikan budak dan penunjuk jalan para raksasa. karena yang namanya ndoro togog ini suka menghamba para raksasa yang lalim, maka sifatnya pun menjadi lalim. suka maling, suka bohong, dan tidak setia. ya pokoknya semacam itulah."

-- "memang sekarang sudah tidak ada togog ya omm ?"

-- "nah itu dia, celakanya kok ndoro togog ini makin banyak ya, hahaha..."

semua orang dalam rumah tertawa. kopi hangat buatan aurel tak terasa sudah dingin. sementara hujan diluar masih deras turun membasahi.

-- "kalau dipikir pikir pak RW disini juga togog lho lee." kata bapak. begitulah aku memanggil ayahnya aurel dengan sebutan pak.

-- "masak sih pak ? kok bisa ?" tanyaku penasaran.

-- "ya begitu itu, orangnya ngalor ngidul, omongane mencla mencle. karena disini jalannya sudah rusak, kemaren itu ada bantuan dari pemerintah berupa uang 9 juta. bukannya langsung dilaksanakan tapi malah duitnya dipakai dulu. warga kan ngamuk ngamuk. ada yang bilang RW ra teges, ngawur, dsb dsb... karena risih dia langsung menentukan keputusannya sendiri. nyewa pemborong untuk ngaspal jalan yang rusak itu. lebih ngawurnya lagi kok ya ndak ngadain kumpulan bareng buat membahas masalah itu ? belum lagi dulu waktu gempa. disini yang rumahnya ambruk gara gara gempa kan ada dua. pemerintah memberi uang santunan yang dititipkan oleh ketua RW berupa uang sebanyak 5 juta. kasusnya sama, duitnya dipakai dulu. apa ngga togog kalau begitu itu ? tapi ya akahirnya dibagikan juga. yang katanya uang 5 juta itu untuk rumah ambruk @ 1.5 juta sisanya untuk warga yang lain."

-- "kalau gitu sama saja pak." kata mas slamet kakak aurel. "mereka yang rumahnya ambruk karena gempa dikasih santunan dana 4 juta per KK. lha otomatis yang ngga terkena gempa pada iri. pasalnya itu duit 4 juga tidak untuk membangun rumah. tapi malah dibelikan sepeda mini, kambing, tv, bahkan ada yang buat kredit motor."

-- "wahh... sampai kredit motor mas ?" kataku

-- "lha iya, wong tahap kedua bantuan dana akan diberikan sebanyak 11 juta per KK. tapi kemarin itu ada yang iri trus menghubungi pihak yang membagikan dana itu. nah terus dicek apa uang 4 juta itu sudah untuk membangun rumah yang rusak apa belum. mendengar mau ada inspeksi tetangga tetangga yang kedapatan duit itu bingung. ada yang ke toko besi beli gembok kunci tapi minta nota kosongan, trus diisi sendiri notanya, semen 20 sak. ada yang ngisi cat tembok 10 liter. wes,.. neko neko."

-- "lha nek kaya gitu togognya siapa ?" sela aurel yang dari tadi cuma ikut mendengarkan saja.

-- "lha mbuh,...yang jelas mereka yang tidak mendapatkan dana bantuan pasti iri. ada yang laporan seperti tadi. ada yang maki maki menyumpah serapahi." tambah mas slamet.

-- "nyumpah gimana mas ?"

-- "ya nyumpah. awas, besok nek ada gempa lagi ngga mungkin tak tolongin, ben modar."

-- "apa orang hidup itu ya betah kalau lihat bangkai ?" kata bapak.

-- "lha ya, namanya juga ndoro togog ya kayak gitu pak." kataku.

15:15 Posted in Cerita | Permalink | Comments (16) | Email this

23 February 2007

kakek

saya rasa kok masih ada yang kurang jika saya belum menceritakan tentang kakek saya yang meninggal di usia 135 tahun ketika saya masih berumur 4 tahun. itu berarti jika umur saya sekarang 24 tahun. maka kakek saya meninggal di tahun 1986. dan itu berarti kakek saya lahir pada tahun 1851. kurang lebihnya.

barang kali jika kamu ingin mendengar cerita tentang orang gila, maka kakek sayalah termasuk salah satunya. saya benar benar dibikin takjub oleh cerita ibu. bahwa sebenarnya kakek saya adalah orang yang sangat sakti mandraguna. hal hal yang berbau klenik mungkin sudah tidak asing lagi bagi kakek. menyepi dikuburan dan kesurupan mungkin sudah sering terjadi jika kakek berdiam diri duduk bersila mencari wangsit. setelah mendapatkan wangsit, kakek sering berkelana entah kemana. jika ditanya ibu, kakek hanya menyebut arah mata angin. ke timur atau ke barat. baru setelah beberapa bulan dia kembali kerumah. lalu masuk kekamarnya danberbicara entah dengan siapa sambil menyalakan rokok kelobot khas bau tembakau kedu kelembak menyan bungkus daun jagung muda gulungannya sendiri. hal hal seperti itu sudah sering kali kakek lakukan. tidak hanya menyepi mencari wangsit, puasa mutih 40 hari atau mandi ditengah malam dengan menggunakan kembang setaman juga sering dia lakukan. yang katanya hal tersebut bisa membuat tubuhnya kebal dengan senjata tajam. dihujam dengan pedang ataupun parang tidak mempan.

barang kali jika kamu ingin mendengar cerita tentang orang gila, maka kakek sayalah termasuk salah satunya. saya benar benar dibikin takjub oleh cerita ibu. yang mengatakan kalau kakek saya mungkin sudah seperti Tuhan. apa yang diinginkan bakal terjadi. entah ilmu sesat itu dia dapatkan dari mana ibu sendiri tidak mengetahuinya. pernah suatu ketika ada seseorang yang mencari perkara. lalu kakek mengucapkan sumpah serapah. "mati kamu, jangan harap kamu bisa melihat cahaya." dan benar esoknya orang tersebut mati dan tidak pernah tahu apa sebabnya selain kutukan yang keluar dari mulut kakek. hingga kakek menjadi ditakuti, hingga kakek menjadi dihormati dan terpandang. sampai menjadi manusia yang tidak boleh disebut namanya.

barang kali jika kamu ingin mendengar cerita tentang orang gila, maka kakek sayalah termasuk salah satunya. saya benar benar dibikin takjub oleh cerita ibu. kalau pada waktu jaman perjuangan dulu kakek ikut serta membunuh para penjajah itu. seorang diri memenggal kepala para belanda. lalu memasukkan kelapa kepala itu dalam karung goni. kakek memang gila, tapi dia tidak rela jika tanah kelahirannya dijamah para penjajah dan dijarah. dan ketika negara ini merdeka. text proklamasi dibacakan, lagi lagi kakek hanya duduk diteras halaman rumah mendengarkan radio sambil menyalakan rokok kelobot khas bau tembakau kedu kelembak menyan bungkus daun jagung muda gulungannya sendiri.

barang kali jika kamu ingin mendengar cerita tentang orang gila, maka kakek sayalah termasuk salah satunya. saya benar benar dibikin takjub oleh cerita ibu. dan ibu adalah anak kakek dari istri entah keberapa. memang diakui kalau kakek sangatlah tampan. hingga dengan mudah dia bisa menikahi para wanita. saya sendiri kurang jelas berapa wanita yang sudah dinikahi kakek ? yang saya tahu, setelah bercerai dengan nenek dan melahirkan ibu, tidak ada lagi wanita yang dekat dengan kakek. dan tidak pernah lagi terdengar istri istri kakek sebelumnya. entah sekarang ada dimana. dan saya sendiri juga kurang jelas ada berapa anak kakek ? ada berapa cucu kakek ? yang saya ingat hanya wajah kakek yang samar samar, sehari sebelum meninggal dia melihatku dan tersenyum, asap nikotin tembakau kedu ampek kelembak menyan rokok kelobot daun jagung muda bau kuburan perlahan berhembus diantara sela sela giginya. paginya dia menutup mata. untuk selamanya. seperti senja menutup kisahnya.

dan jangan suruh saya menceritakan apa yang kakek lakukan diakhirat. bahagia atau tidak itu bukan urusan kita.

14:31 Posted in Narasi | Permalink | Comments (18) | Email this

21 February 2007

layangan

waktu itu cuaca cerah berawan. pagi hari matahari terlambat datang. hanya terlihat beberapa kabut yang mengembun membawa kesejukan. kadang gerimis membasahi membuat suasana menjadi atis. siang hari terasa panas sebentar. terkadang malah hujan turun secara perlahan. tapi terdakang juga membuat matahari semakin tenggelam dalam awan awan hitam yang berarakan. hanya angin yang berhembus menerbangkan layangan. sungguh waktu yang tepat untuk bermain layangan. musim layangan tiba juga. terlihat banyak sekali dikota ini layang layang berhamburan. terbang. tinggi. menembus awan.

kembali ingatanku kemasa lalu. aku punya seorang teman yang sangat menyukai layangan. namanya fitri. masih ingat betul bagaimana dia menyukai permainan yang satu ini. entah bagaimana ceritanya anak gadis seperti fitri menyukai permainan laki laki. dia tidak menyukai boneka, lompat tali, atau permaian anak anak perempuan pada umumnya. tapi fitri sangat menyukai layangan. sehabis pulang sekolah, setelah makan siang, jika cuaca cerah berawan fitri mengambil layangan dan gulungan senar lalu pergi ketanah lapang.

lalu dia terbangkan layangannya. layangan buatan babe. katanya bangga. berbeda dengan layangan buatan pak dar, pak djat, atau pak tri yang sangat cantik. ada yang bergambar kupu kupu, ada yang bergambar burung, lalu ada juga yang bercorak garis garis. tapi layangan babe hanya hitam polos warna kematian. hingga tidak ada yang menyukai layangan buatan babe. tapi fitri berbeda, dia sangat menyukai kehebatan layangan buatan babe. bagaimana tidak, begitu diletakkan ditanah dan ditarik senarnya, layangan itu seakan terbang dengan sendirinya. seakan menyatu dengan angin. karena layangan babe dibuatnya dengan hati. katanya, layangan itu juga punya cinta dan cita cita. layangan itu bukan sekedar benda mati. layangan itu juga bernyawa.

tapi memang benar kata babe. jika layangannya sudah terbang. dia begitu tenang. terlebih lagi dia menjadi penguasa langit. jika sedang bertarung dilangit layangannya itu seakan bisa bergerak dengan sendirinya. mengelak kekiri dan kekanan, lalu menukik dan jika ada kesempatan menghujamnya seperti elang. sudah ada puluhan layangan yang dibabatnya. bahkan gulungan senar yang fitri gunakan juga bukan senar sembarangan. babe yang membuatkan senar khusus itu untuknya. senar itu adalah senar gilas. dibuat dari tumbukan kaca yang dihaluskan lalu entah menggunakan apa dioleskan kesenar layangan. hingga tajam seperti parang yang bisa memutuskan leher seseorang. hingga orang orang menjulukinya layangan setan. hingga layangan lain tidak berani mendekatinya.

begitulah fitri. seorang gadis pecinta layangan. katanya, hidup itu sungguh sangat menyenangkan. terbang lepas bebas menembus mega, menembus awan, menembus angkasa luar, menembus cakrawala, mengelilingi bulan, menyapa bintang. katanya seminggu setelah valentine dia ulang tahun. yang ku tahu usianya sudah membentang panjang. tinggi bagaikan layang layang. panjang umur, bahagia dan sehat selalu. doa'ku.

10:45 Posted in Narasi | Permalink | Comments (13) | Email this

17 February 2007

hidup itu indah

untuk itulah kita harus menikmatinya. "menikmati hidup ?" kata teman saya yang bekerja sebagai wartawan. "itu jelas tidak mungkin. bagaimana bisa orang yang kerjaannya menulis seperti saya disuruh menikmati hidup. pergi kesana kemari mencari berita. lalu atasan teriak teriak karena dikabarkan mau deadline." tambahnya lagi. tapi untunglah saya ini bukan wartawan yang kerjanya mencari berita. saya juga sering mengatakan kalau saya ini bukan seorang penulis seperti teman saya itu. sebab penulis itu adalah sebuah pekerjaan. awalan pe dari kata kerja nulis itu sudah cukup membuktikan kalau kata tersebut layak untuk mendapatkan gaji. kalau saya ? boro boro dapat gaji. lha wong cuap cuap diblog gratisan seperti ini saja kalau ada yang baca sudah merasa bersyukur, apalagi kalau ada yang comment. wah,.. lonjak lonjak kegirangan.

lain lagi dengan teman sekantor saya. dia bilang kepalanya mau pecah. walaupun sebenarnya saya sudah melihat kalau jidatnya memang retak gara garanya dia kebanyakan bayar cicilan. beli mobil, beli motor, beli laptop, beli HP yang N-series, beli ipod, dan beberapa gadget lainnya. yang katanya barang barang itu memang sungguh memuaskan nafsu. inilah yang dinamakan menikmati hidup, katanya lagi. walaupun sebenarnya diakhir bulan kepalanya cenut cenut, mikir buat bayar cicilan mobil, cicilan motor, cicilan laptop, cicilan HP, cicilan ipod, dan cicilan gadget yang lain. bukannya menikmati hidup malah memaksakan hidup. batin saya. dan saya yakin kalau atmnya juga sudah lecet lecet dikarenakan terlalu sering dikeluar masukkan. terlebih lagi dengan bangganya dia bilang kepada saya, "ta, kamu mbok ya pakai kartu kredit, lebih praktis, tinggal gesek." sambil membuka dompet dengan bangganya menunjukkan kartu kreditnya yang berjajar. ada VISA, MASTER, dan entah apa lagi itu namanya. jawab saya ya enteng saja, "lha wong pakai kartu kredit kok bangga, punya utang kok dilihat lihatin, bangga itu kalau kamu buka dompet isinya duit 10 juta." kata saya.

sekarang ini saya sudah berkeluarga. belum punya anak memang, tapi sebagai laki laki saya memang harus berkewajiban mencari nafkah. bekerja membanting tulang hingga remuk redam. dalam bekerja itu ya saya sebisa mungkin menikmatinya. membuat suasana yang tidak sepanen hingga saya sendiri tidak bosan. jika sudah sampai rumah, sebisa mungkin waktu saya hanya untuk istri seorang. mungkin itu bagi saya yang dinamakan menikmati hidup. apalah gunanya menimbun nimbun kekayaan atau bekerja mati matian untuk menikmati hidup kalau toh sebenarnya rejeki itu ditangan Tuhan. seandainya saya nanti mati, uang juga tidak bisa dibawa untuk merayu Tuhan agar saya mendapatkan fasilitas khusus disurga. "ya kalau masuk surga." sela teman saya.

tapi ya dasar manusia jaman sekarang. manusia yang sudah modern. manusia yang menginginkan segalanya serba praktis. hingga menikmati hidup saja kesannya harus terpaksa. lalu kata teman kantor saya yang satunya lagi "ahhh,kalau saya sudah merasa bersyukur dengan kehidupan yang seperti ini ta."

"iya, bersyukur punya 2 mobil, punya rumah bertingkat, punya tanah 4000 ribu meter persegi, punya berlian 24 karat, belum lagi punya 3 hunny di 3 kota."

"amien..." katanya.

12:02 Posted in Opini | Permalink | Comments (23) | Email this

15 February 2007

damai dimata damai dihati

sepertinya ngga mungkin kata kata diatas terwujud. tapi ngga ada yang ngga mungkin jika rasa damai dimata dan damai dihati bisa menjadi kenyataan. menuju ke proses itu sangatlah susah. tapi sebagai manusia yang normal, siapa sih yang ngga mau rasa damai itu tercipta ? tentu saja manusia yang ngga normal. andaikata saya bisa berbicara secara langsung dengan pakdhe george bush, saya akan tanyakan soal damai dimata damai dihati itu. "susah apa tidak pakdhe ?" mungkin jawabnya bakalan susah. bagaimana tidak, begitu mendengar ada negara yang mengembangkan senjata nuklir langsung nyut nyutan pecah ndase. begitu mendengar ada yang tidak mau membagi lahan minyak langsung nyut nyutan pecah ndase. pokoknya jika tidak sesuai yang diharapkan pasti nyut nyutan pecah ndase terus. begitulah pakdhe bush, gombale mukio.

tapi kalau dipikir pikir dengan kepala dingin dan waras, karena ada juga yang kelapanya dingin tapi ngga pernah waras, kalau sebenarnya menciptakan kedamaian itu tidak sesusah yang dibayangkan. orang jawa bilang tepo sliro atau dengan kata lain saling menghormati antar sesama maka rasa damai itu akan tercipta. begitu melihat ada yang tidak benar langsung menegur untuk mengingatkannya tapi tidak berkesan seperti menggurui. bisa sambil bercanda dan tertawa. contohnya tetangga saya yang ngakunya seorang darah biru, keturunan ningrat, bergelar raden mas dan segala tetek mbengeknya yang berbau kraton surakarta hadiningrat. dia tidak mau kalau ada orang yang memanggilnya "pak" atau "mas" padahal panggilan "pak" atau "mas" itu sudah sangat sopan. "memangnya aku pakmu." atau "memangnya aku masmu." jawabnya. dia hanya mau dipanggil "ndoro" gila ngga itu ? contoh sepele lainnya ada seorang pengendara motor yang hampir serempetan. perlu digaris bawahi kata kata hampir. itu berarti belum terjadi. bukannya bersyukur tapi malah lihat lihatan teriak maki maki "ooo lha matane... !!!" pengendara satunya menjawab "matamu dewe,... !!!" hingga sering menyebabkan perkelahian. mbok ya sudah bilang "sorry ya mas..." beres kan, masalah selesai. kasus kasus seperti inilah yang mencemari tata keharmonisan rukun tetangga warga negara kita. hingga rasa damai itu menjadi jarak. hingga orang sering berkata "asss mbuh, sak karepmu..."

sampai tulisan ini diturunkan. saya belum merasakan kedamaian yang benar benar damai dimata dan damai dihati. hingga kemarin hari kasih sayang dirayakan saya juga belum merasakan damai dimata dan damai dihati. sebagai manusia saya cuma menginginkan kehidupan yang damai dan tenteram. dan sebagai manusia saya hanya ingin hal itu bisa terwujud. manusia yang saling tolong menolong, saling menghormati dan mengesampingkan perbedaan.

lalu saya kembali merenungkan diri. jika saya ingin menciptakan rasa damai dimata dan damai dihati itu, maka saya harus damai dengan diri saya sendiri. damai dimata saya maupun damai dihati saya. tapi saya percaya, selama hayat masih dikandung badan, keinginan damai setiap manusia waras itu selalu ada.

09:48 Posted in Opini | Permalink | Comments (22) | Email this

12 February 2007

IQ saya...

keponakan saya yang paling kecil berkata kalau dia sudah bosan sama yang namanya sekolah. lalu saya bertanya padanya kenapa dia bisa bosan sama sekolah ? dia malah balik tanya, memangnya sekolah buat apa ?

hal ini mengingatkan saya waktu saya kecil. dulu saya juga sangat membenci yang namanya sekolah. sekolah itu seperti neraka, walau sebenarnya saya sendiri tidak tahu apa neraka itu mirip sekolah ? sekolah mengharuskan kita belajar dan disuruh menghapal. penghitungan dan rumus rumus. pelajaran seperti matematika, fisika atau H2SO4 membuat saya pusing tujuh keliling. saya berkata demikian bukan karena saya anti pendidikan. bukan karena saya mengira pendidikan itu tidak berguna. maklum saja, orang yang ber-IQ jongkok seperti saya ini memang tidak begitu faham dengan hal hal seperti itu. lebih baik saya belajar mengarang daripada belajar menghitung. sering saya ditanya, "coba mata, cotangen 50 berapa ?" karena pusing jawaban saya juga sering ngelantur. "tidak ada cotangen 50, kegedean." kata saya.

seiring pertambahan umur dan pergantian susu. akhirnya saya mengerti fungsi dari sekolah. inti dari semua itu supaya kita menjadi orang yang berguna nantinya. bagi siapa ? ya bagi siapa saja. membuat sesuatu bagi bangsa negara ini. atau bekerja dan menjadikan diri kita orang yang bermanfaat. ya, untuk itu kita harus butuh sekolah. butuh belajar. asalkan kita ada kemauan pasti kita bisa mencapai hal tersebut. lihat saja, seseorang dengan pendidikan tamatan sekolah dasar bisa menjadi presiden. bisa menjadi pemimpin bangsa yang dihormati. punya banyak pengawal. punya banyak simpanan yang sampai sekarang mungkin ngga akan bakal habis dimakan tujuh turanan.

memang banyak yang bilang, kejarlah cita citamu setinggi langit. dulu kata orang tua kalau menimang nimang anaknya selalu saja bilang. "cepat gede ya, kalau sudah gede jadi dokter." hingga waktu taman kanak kanak kalau ditanya cita cita pasti selalu banyak yang jawab ingin jadi dokter. kalau semuanya jadi dokter, ngga ada yang jadi suster. ngga ada yang jadi apoteker dan ngga ada yang jadi tukang cerita seperti saya. hayah... tapi ya, namanya cita cita. boleh jadi siapa saja. asal semua itu bisa bermanfaat bagi semuanya.

berbicara soal pekerjaan ini juga ada sangkut pautnya dengan sekolah. masih ingat tidak dulu disekolah ada pelajaran menjahit dan memasak. dulu waktu sekolah terbagi menjadi dua kubu. ada yang ikut pelajaran elektro ada yang ikut PKK ( menjahit dan memasak ). untuk anak laki laki ikut elektro untuk anak perempuan ikut PKK. sebenarnya ya itu tadi. saya tidak suka belajar elektro yang bermain main dengan listrik yang disambung seri atau paralel. jujur saja saya lebih suka pelajaran memasak yang menjampur adonan terigu, gula dengan telor untuk dibikin roti bolu. tapi, berhubung hal hal tersebut sudah terkontaminasi dengan masalah gender, yang mengharuskan cowok harus pegang setrum sedang cewek harus pegang blender. ya sudah, mau tidak mau saya harus ikut ikutan walaupun saya tidak menyukainya. seperti halnya pekerjaan sekarang ini. jika tidak sesuai dengan kegenderan kita pasti menjadi sebuah masalah. cowok kok kerjanya penata rias, cewek kok kerjanya supir. lha, lama kelamaan kenapa masalah pekerjaan jadi seperti WC yang mengharuskan kita masuk kedalam kamar yang semestinya. pusing saya...

jadi pesan saya buat adik adik semua. belajarlah. jangan putus asa. kejarlah cita citamu setinggi langit. jadi apa saja tidak masalah. jika memang kalian menyukainya dan sekiranya bisa bermanfaat kenapa tidak. kalian tidak mau kan ber-IQ jongkok seperti saya ?

oh ya satu lagi. kalau kalian memang sudah sekolah. ya harus belajar dengan sungguh sungguh. kasian orang tua sudah susah payah membiayai. sekali lagi jangan seperti saya yang dulu hanya memanfaatkan untuk mendapatkan uang saku sama pacaran dan tawuran.

15:25 Posted in Opini | Permalink | Comments (19) | Email this

07 February 2007

putus asa

sayang,...
bolehkah aku meminta
biarkan aku menutup mata
selagi bisa menyebut namaNYA

12:31 Posted in Puisi | Permalink | Comments (23) | Email this

05 February 2007

ini gawat !

"bencana terus menerus melanda negara indonesia. terakhir kali banjir dikota jakarta menyebabkan banyak warga mengungsi, sambungan listrik putus, ribuan rumah terendam, serta beberapa dampak buruk lainnya. untuk itulah sebagai warga negara ini kita harus ikut berperan aktif didalamnya. mulai dari hal yang kecil misalnya menjaga kebersihan dilingkungan sekitar kita. atau bekerja bakti bersama menanam bibit pohon yang nantinya berguna sebagai wadah penyerapan air. nah coba anak anak, mengapa bencana alam seperti banjir bisa terjadi ?" seorang guru bertanya kepada murid muridnya.

banyak dari mereka yang tidak mengetahui bagaimana bencana alam seperti banjir bisa terjadi. dan kebanyakan dari mereka hanya bisa menjawab karena hujan turun tak henti henti maka banjir datang menerjang. hingga orang orang mengungsi menyelamatkan nyawanya atau ada yang bertahan dirumah karena harta bendanya takut dijarah. seorang murid berbisik bisik dengan teman sebangkunya. mungkin Tuhan sedang sedih, karena itu dia tak berhenti menangis. "Tuhan tidak bisa sedih, karena Tuhan sudah mati!"

suasana langsung terdiam. ketika anak berkata seperti itu. seakan akan waktu berhenti. bagaimana bisa bocah berusia 10 tahun itu mengatakan Tuhan sudah mati. negeri kami sebenarnya sebuah negeri yang aman dan tenteram. pemerataan pembangunan disegala bidang. teknologi mengalami kemajuan yang pesat. bahkan jarak semakin tidak ada artinya. sekalipun negeri kami dilanda krisis ekonomi, para penguasanya dilanda krisis moral dan warganya dilanda krisis tidak percaya, kami masih bisa bertahan hidup. bencana alam yang datang kami hadapi dengan penuh rasa syukur. masalah demi masalah yang belum selesai kami tunggu jawabannya dengan sabar. bahkan ketika harapan sudah musnah kami relakan. kami masih mencintai negeri ini. kami tidak bisa menyalahkan siapa siapa. sebab tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi. tapi ketika anak berkata Tuhan telah mati. kami jadi sedih. bagaimana bisa ? seolah olah kami ini tidak mempunyai rasa syukur. tidak mau menerima cobaan hidup yang diberikan dan tidak mau sabar dalam menghadapinya.

bocah itu bernama anak. seorang anak yatim yang kini tinggal bersama ayahnya seorang pensiunan pegawai negeri yang kini telah sakit sakitan. hidup anak sangat keras. dikota besar seperti ini sepulang sekolah anak menjadi penyemir sepatu yang mangkal dihalte bus. sedang dihari minggu pagi biasanya anak menjual koran eceran. hasilnya sebagian buat makan sehari hari sebagian buat uang tambahan sekolah.

"tapi bu, Tuhan memang sudah mati kan ?" kalimat itu keluar lagi dari mulut anak. sekitika ibu guru anak marah. seolah olah dia gagal mendidik muridnya. tak henti hentinya ibu guru membentak bentak bocah berusia 10 tahun itu. disuruhnya anak berdiri didepan pintu kelas sampai pelajaran selesai. sejak saat itu anak menjadi bual bualan teman temannya. semua temannya menjauh. tapi lebih sering mengejeknya anak durhaka, anak murtad, anak kafir, anak gila, atau anak haram. anak hanya bisa menangis sambil berteriak kalau dia bukan anak durhaka, anak murtad, anak kafir, anak gila ataupun anak haram. merasa tidak terima anak memukul teman yang mengejeknya itu. kepalanya dibentur benturkan kelantai sampai berdarah sementara dia terus berkata kata bahwa dia bukan anak durhaka, anak murtad, anak kafir, anak gila ataupun anak haram.

orang tua korban merasa tidak terima. dia ingin menuntut sekolah karena tidak becus mendidik muridnya hingga terjadi hal yang memalukan seperti itu. sambil terisak menangis anak hanya bisa membela diri. "saya kesal pak, saya terus diejek. apa salah saya hingga mereka mengatakan saya anak durhaka, anak murtad, anak kafir, anak gila atau anak haram." lalu kepala sekolah berkata "siapa yang bilang kepadamu kalau Tuhan sudah mati ? siapa yang mengajarimu kata kata seperti itu ?" kemudian anak mengusap air matanya, "tapi Tuhan memang sudah mati, seperti emak, sudah mati..." sementara guru guru yang lain hanya bisa menggeleng gelengkankan kepala sambil mengelus dada.

Tuhan sudah mati. kalimat itu sudah menyebar kepenghujung negeri kami. semua orang tua melarang putra putrinya bergaul dengan anak. karena anak dianggap mengalami gangguan jiwa. bagaimana bisa manusia mengatakan Tuhan telah mati. terlebih lagi kata kata itu keluar dari seorang bocah berusia 10 tahun. kami sendiri tak habis pikir. beberapa warga masyarakat menyarankan bocah itu dibawa kerumah sakit jiwa untuk penanganan lebih lanjut. dan beberapa ada yang menyarankan untuk dibawa kedukun karena dianggap sudah kemasukan setan.

semuanya terdiam, kemudian anak berdiri dari tempat duduknya sembari berkata "kata bapak, emak sudah beristirahat dengan tenang, tinggal bersama Tuhan disurga,...surga itu kan tempatnya orang mati pak ?" sambil menahan tangis teringat ibunya yang meninggal beberapa tahun yang lalu karena tersengat aliran listrik waktu banjir datang menenggelamkan rumah mereka.


*) ps : walau bencana musibah bukan lagu, tapi yakinlah badai pasti berlalu.

15:05 Posted in Narasi | Permalink | Comments (21) | Email this

03 February 2007

selamat pagi bapak presiden

selamat pagi bapak presiden. apa kabar ? kali ini saya akan bercerita. semoga bapak membaca beberapa paragraf dari cerita saya ini. maklumlah. saya ini hanyalah tukang cerita yang bisa menyampaikan apa yang sedang saya rasakan lewat tulisan. jadi mohon maaf sebelumnya jika ada kata kata yang kurang berkenan. oh iya, sudahkah bapak membaca koran pagi ini ?

begini, ini adalah kisah teman saya. panggil saja namanya wartono. seperti layaknya nama nama orang jawa. karno, harto, darmono, harmoko, atau susilo. semuanya berakhiran dengan vokal o. wartono adalah seorang penjual gado gado keliling dijakarta. sebenarnya menjual gado gado keliling itu karena dia terpaksa. setelah nasib krisis moneter yang melandanya mengakibatkan dia dipecat dari pabrik tempat dia mencari nafkah. kini untuk menghidupi istri dan keempat anaknya, dia mengandalkan bakatnya memasak gado gado. wartono sangat suka dengan makanan itu. dia membuat resep gado gado sendiri. beberapa sayuran seperti kacang panjang, wortel, kentang, dan timun dicampur dengan irisan tahu, tempe dan telur ayam lalu dikasih sambal kacang. disajikan dengan ketupat dan remahan kerupuk merah.

wartono menjual gado gadonya dengan gerobak keliling yang disewanya seharga 50 ribu sebulan. jam 8 pagi dia sudah mendorong gerobak keluar dari rumah kontrakannya yang terletak di kawasan pinggir sungai. lalu menjual gado gado kelilingnya dari perumahan keperumahan. gado gado wartono sangatlah enak. tak heran jika banyak pembeli yang ngantri atau memesannya. pernah saya merasakannya. untuk sepiring gado gado dijual dengan harga 5000 rupiah. waktu itu saya sodorkan uang 10000 rupiah, lantaran tidak ada kembalian maka saya suruh dia untuk membawa kembaliannya. dan seminggu kemudian saya beli lagi, begitu mau bayar dia bilang, "tidak usah bayar mas, minggu lalu kan masih ninggal 5000." begitulah wartono, orang jujur yang setiap hari bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya. supaya bisa makan dan anak anaknya bisa sekolah.

orang baik ternyata banyak cobaan. tiba tiba terdengar kabar kalau anak pertamanya meninggal. matinya mengenaskan. pagi itu seperti biasanya anaknya berangkat sekolah dengan naik kereta listrik. selain biayanya murah terkadang kalau beruntung bisa naik secara gratis. tapi naas pagi itu datang. banyak penumpang yang berjubel. mengakibatkan kereta penuh sesak. anak pertama wartono terjatuh dari gerbong kereta dan terlindas. pihak asuransi tidak mau menanggungnya. alasannya karena dianggap sebagai penumpang liar yang tidak membeli tiket. selang beberapa bulan anak keduanya juga meninggal. dia menjadi korban penodongan dijembatan layang. lantaran tidak mau menyerahkan tas sekolah yang isinya tunggakan uang SPP, lantas penjahat itu menusuk perutnya dengan belati. penjahat itu kabur membawa tas dan meninggalkan bocah yang mati bersimbah darah.

kesedihan wartono semain menjadi. apa salahnya hingga Tuhan memberi cobaan seperti ini. kini wartono tidak lagi berjualan gado gado. para pembeli gado gado itu mencari cari wartono. kemana wartono ? kenapa dia tidak lagi berjualan gado gado ?

nah bapak presiden sekarang musim hujan datang. menghujam. awan pekat menyelimuti kota jakarta. penderitaan wartono lengkap sudah. ketika malam yang lelap itu, banjir bandang merendam rumahnya setinggi lebih dari leher orang dewasa. istri dan kedua anaknya hilang entah kemana. sementara wartono hanya berteriak teriak disela sela warga yang kalang kabut. pagi ditemukan istrinya mati terseret sampai selokan, dilihat kepalanya terbentur runtuhan dinding beton. sementara kedua anaknya mati hanyut tak bisa bernafas. memang daerah tempat wartono tinggal sangat berantakan. disamping faktor kebersihan yang kurang, juga terlihat sampah yang berserakan menghambat saluran pembuangan. sebenarnya wartono sudah menyampaikan hal ini kepada warga masyarakat sekitar untuk bersama bekerja bakti. membersihkan sampah atau menanam bibit pohon sebagai tempat penyerapan. tapi sungguh tidak ada tanggapan sama sekali. mereka hanya mempedulikan urusannya masing masing. mungkin ini ciri khas masyarakat kota yang mementingkan diri sendiri tanpa melihat lingkungan sekitarnya. bisa jadi juga salah pemerintah yang kurang memperhatikan. entah salah siapa yang jelas segalanya bagi wartono sudah musnah. keluarganya ataupun harta bendanya.

jakarta memang kejam. yang kuat menindas yang lemah. yang kaya hidup semakin kaya, tinggal dalam rumah yang aman, terbebas dari segala mara bahaya. sementara yang miskin entah bagaimana nasibnya. saya pun menceritakan cerita ini pada teman temannya teman saya. dan cerita tentang wartono pun sampai kepenjuru seluruh kota. semuanya saling bersimpati. mengumpulkan dana dan sumbangan. lalu diberikan kepada wartono sebagai bentuk toleransi. atau mungkin bisa dijadikan modal untuk jualan gado gado lagi. kini syukurlah wartono bisa jualan gado gado lagi. antriannya panjang bermeter meter. tapi dia berubah menjadi pendiam. dan kutanya apa dia baik baik saja ? ternyata dia memang baik baik saja. keinginanya hanya satu. bertemu dengan bapak presiden republik indonesia. dan beginilah cerita ini saya buat.

07:53 Posted in Narasi | Permalink | Comments (20) | Email this

01 February 2007

aku tidak mau berpura pura

kenapa orang lebih suka membaca hamsad rangkuti
yang berkata penuh cumbu rayu :

maukah kau hapus bekas bibirnya dibibirku dengan bibirmu
jawabku
aku tidak mau menghapus bekas bibirya dibibirmu dengan bibirku !

dan kenapa orang tidak pernah suka membaca malaikat mata
yang berkata apa adanya :

jika kamu senang, belum tentu aku ikut senang
jika kamu sedih, aku juga tidak mau ikut sedih
tunggu, jangan kamu bilang aku tidak setia
begini,
jika kamu senang aku ikut senang padalal aku sedang merasa tidak senang
dan jika kamu sedih aku ikut sedih padahal aku sedang merasa tidak sedih
kamu mau aku berpura pura ?

08:19 Posted in Puisi | Permalink | Comments (24) | Email this

All the posts

 

eternity™ design by mata 2006 | engine by blogspirit | User Online