« 2007-03 | HomePage | 2007-05 »

30 April 2007

hilang

hari itu retha pulang membawa kantong plastik berisi ponsel canggih tertipis berkamera layar tajam. sudah lama sekali retha ingin mengganti ponsel lamanya dengan yang baru. segera dia update blog untuk memberitahukan kabar gembira ini kepada semua temannya didunia maya. tak lupa dia memberitahukan rhesya, sahabat dekatnya.

"duh,...yang hpnya baru." kata rhesya.

bagaimana tidak senang, saya pun pasti juga senang seandainya mempunyai sebuah keinginan dan berhasil untuk mewujudkannya. apalagi keinginan itu diraih dengan hasil keringat sendiri. begitulah retha, dielus elus ponselnya lalu dipencet pencet keypadnya yang empuk itu. sesekali dia suka berkamera, ceprat cepret sana sini. sesekali pula dia bermp3 ria, memutar lagu lagu baru.

"mau donk difoto..." pinta rhesya.

retha sesegera mungkin membuka setingan kamera. supaya hasilnya bisa maksimal.

rhesya memang seperti seorang model. tubuhnya yang tinggi, rambutnya yang lurus sebahu, serta kulitnya yang putih kecoklatan sudah merupakan syarat utama bagi seorang model. tapi rhesya bukan model. dulu pekerjaannya sebagai staff disalah satu perusaan swasta. bisa dikatakan sebagai wanita karier. masih satu kantor dengan retha. disini mereka bertemu lalu menjadi sahabat karib. dan bisa cocok dalam segala hal. bahkan ketika rhesya keluar dari perusahaan itu, mereka masih bersahabat. sampai sekarang. kini pekerjaan rhesya adalah seorang wiraswasta. cita citanya ingin mengembangkan usaha sendiri.

segera rhesya berdiri. bergaya bagaikan peragawati. dan retha cepret sana cepret sini. satu kali ganti posisi. dua kali ganti posisi. tiga kali ganti posisi. sepuluh kali ganti posisi. seratus kali ganti posisi. ya ampun. sudah seratus kali retha memotret rhesya. tak sadar memory ponselnya penuh. galery diponsel terisi dengan foto foto rhesya.

"sudah penuh nih rhe..." retha bingung. "lho rhe...kamu dimana ?" rhesya hilang. "rhe..." retha takut.

"disini re..." kata rhesya.

"dimana ???" retha bingung lagi.

"didalam ponsel kamu." jawab rhesya.

"ya ampun, bagaimana kamu bisa masuk kedalam ponsel. jangan main main kamu. ayo keluar. !!!" pinta retha.

"ngga bisa keluar...keluarin...!!!" rhesya bingung.

terlihat rhesya didalam ponsel. lalu mereka berteriak teriak panik ingin keluar. bagaimana ini ? bagaimana ? kok bisa seperti ini. didalam galery ponsel itu penuh dengan rhesya rhesya. ada seratus rhesya. semuanya berbicara. semuanya bergerak gerak. retha pusing. kepalanya mulai cenut cenut. bagaimana tidak cenut cenut, lha wong sudah menghilangkan anak orang. eh...lebih tepatnya memasukkan anak orang kedalam ponsel. bagaimana dia akan katakan pada suami rhesya.

"mas eko...rhesya hilang."

"hilang bagaimana ?"

"hilang dari bumi lalu masuk dalam hp."

"mbok jangan main main. bagaimana bisa ?"

"waktu difoto, lalu mendadak sontak lenyap kesedot kedalam hp."

tuh kan. bagaimana ngga bingung menjelaskannya. belum lagi menjelaskan pada ibunya. lalu menjelaskan pada ayahnya. bagaimana ini..? retha cenut cenut lagi. retha berfikir keras. ahh iya,..bukankah ponsel ini masih bergaransi. benar sekali, siapa tahu bisa dibenerin. cepat cepat retha melangkahkan kaki dan tak lupa membawa kartu garansi ketempat pusat penjualan ponsel tersebut yang juga melayani garansi atau service. tapi ini tidak mungkin, bagaimana dia akan mengatakan keluhan ponselnya itu.

"ada yang bisa dibantu mbak ?"

"ini mbak, ada masalah dengan ponsel saya." kata retha

"iya, masih garansi kan ? trus masalahnya apa ?"

"ohh ini ponsel baru kemaren mbak saya beli. tapi begitu saya memotret teman saya, dia tershisap masuk kedalam ponsel ini."

"maaf mbak. saya kurang paham."

"iya jadi teman saya menghilang dari dunia nyata trus masuk kedalam ponsel dan dia bergerak gerak."

"maksudnya ada masalah dengan video playernya ?"

"bukan mbak...emmm,..emmm..."

mengingat hal itu pasti akan terjadi, retha mengurungkan niatnya untuk pergi. cenut cenut retha makin menjadi. apa yang harus dilakukannya. benar juga, mungkin pertama tama dia harus mentransfer foto foto rhesya itu kedalam komputer. ya, benar. setidaknya bisa tersusun dengan rapi dan jelas melihatnya. cut - paste, ditransfernya foto foto itu kedalam komputer. retha kembali mumet. lalu bagaimana caranya supaya rhesya bisa keluar dari komputer. apa mungkin harus diprint dulu ? ehhmmm... ngga ada salahnya untuk dicoba. tapi tunggu dulu, kalau rhesya yang lainnya juga pengen diprint, bagaimana ? nanti ada dua rhesya, mungkin tiga, mungkin banyak lagi. retha mumet lagi. hari itu sudah habis satu bungkus panadol yang retha telan. sakit kepala ? sudah lupa tuh. lupa apanya. retha mencak mecak. berusaha untuk sabar. ahhh, benar juga. didelete dulu, lalu disisain satu rhesya.

mendengar kata kata delete. rhesya rhesya yang ada dalam komputer panik. seperti kiamat.

"jangan delete aku." kata rhesya.

"jangan aku. dia saja." kata rhesya yang satunya.

"dia yang palsu, aku yang asli." kata rhesya yang lainnya.

"dia saja,...dia,...dia,...dia,..." kata rhesya rhesya.

retha lagi lagi mumet. dia sudah menyiapkan bungkus panadol berikutnya. apa memang harus mencetak semua rhesya supaya adil. tapi kalau semua rhesya dicetak, nanti bagaimana selanjutnya. bukankah suaminya rhesya bakal puyeng sendiri.

"ini mas eko rhesya'nya." terlihat rhesya rhesya turun dari truk.

"loh. yang asli mana re...?

"semuanya asli mas."

"gila kamu re...mana tahan..."

retha hampir gila. untung saja belum gila. harus ada pengorbanan. sisakan satu rhesya lalu dicetak. akhirnya hukuman delete itu berlangsung juga. rhesya rhesya masuk kedalam recycle bin kecuali satu rhesya yang siap diprint. pikiran retha sudah mulai tenang. panadol ngga jadi ditelannya. tinggal diprint. pikirnya.

"jangan print aku re... jangan...biarkan aku disini saja." kata rhesya

"apa ? tadi teriak teriak pengen dicetak. sekarang kenapa berubah pikiran."

"yang lain memang pengen keluar kedunia nyata, tapi aku tidak. aku ingin didalam komputer ini saja."

"kenapa ?" tanya retha keheranan.

"entahlah. sepertinya aku sudah mulai nyaman disini. dalam dunia maya aku bisa menjelajah kemana saja. bertemu orang orang yang ngga kukenal. pergi ketempat tempat yang belum pernah kujamah. bebas, lepas, tanpa beban."

"bagaimana nanti aku katakan kesuami kamu tentang semua hal ini."

"terserah kamu. pokoknya aku mau disini saja. lagipula, jika aku dicetak, apa sudah pasti akan keluar menjadi nyata. siapa tahu malah terjebak dalam kertas. lebih hampa lagi kan ?"

retha kembali pusing. cenut cenut. lalu panadol kembali ditelannya. sekarang dia memikirkan, bagaimana nanti menjelaskan pada keluarganya. sementara rhesya sekarang sedang menikmati indah dunia barunya. duduk dibawah pohon ditemani matahari, bintang, dan pelangi yang warna warni. bersama bunga, rerumputan, dan kupu kupu yang terbang kesana kemari.

08:21 Posted in Narasi | Permalink | Comments (32) | Email this

27 April 2007

doa seorang blogger yang teraniaya

detik ini Tuhan datang menyapa.
"apa mau'mu mata ?" katanya.

aku meminta.
Tuhan, semoga postingan'ku ada yang baca.

11:30 Posted in Puisi | Permalink | Comments (33) | Email this

24 April 2007

reshuffle

setengah tidak percara, ketika dalyono melapor perihal ayam ayamku tidak bertelur. segera aku menuju kandang tempat ayam ayamku bersarang. dan memang benar katanya. bagaimana bisa ? hampir lebih dari seribu ayam dikandang tidak ada yang bertelur satu pun. mau ditaruh dimana mukaku ini. predikat sebagai peternak terbaik dikota ini hancur sudah. padahal setiap harinya ayam ayam itu bertelur semua. bahkan beberapa ada yang bertelur lebih dari sekali. ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. segera aku panggil dalyono.

"no,... dalyono... kesini no..."

"njih ndoro,..."

"bagaimana bisa itu ayam ayam tidak mau bertelur ?"

"saya sendiri juga ndak tahu ndoro,..."

"ndak tahu gimana ?!!! kalau yang ngga bertelur satu dua ekor ayam, itu sih masih normal. lha ini semua ayam ngga ada yang mau bertelur."

dalyono masih ketakukan. takut takut kalau dirinya akan ku pecat gara gara tidak becus bekerja.

"sudah, begini saja, kamu panggil ayam ayam itu untuk menghadap aku. apa maunya kok sampai kompakan ngga mau bertelur sepeti itu."

"inggih ndoro,.."

maka dipanggilnya salah satu ayam itu. ayam itu adalah perwakilan dari ayam ayam lain. ceritanya sebagai salah satu juru bicara mereka. ceritanya ayam itu yang dituakan mereka. ceritanya ayam itu bernama jabrik.

"baik jabrik, ayo ngomong ! apa maumu ? apa mau kalian semua ? kenapa kalian tidak mau bertelur ?"

maka dengan suara lantang dan penuh wibawa. sijabrik berkata. "kita protes...!!! bapak tahu kenapa ? itu karena jatah makan kami yang kurang. bapak menuntut kami untuk terus memproduksi telur. tapi bagaimana bisa, sedangkan jatah makan kami cuma sekali dipagi hari. selebihnya untuk siang dan malam hari kami mencari makan sendiri."

"memangnya kurang kalau makan sehari sekali ?"

"ya tentu saja kurang pak. itupun hanya bekatul. terlebih lagi sekarang marak penyakit H5N1 dan bapak tidak pernah memeriksa kesehatan kami."

"soal penyakit avian influenza itu sudah aku pikirkan. tapi soal jatah makan kamu ya memang cuma segitu. memang kamu menuntut jatah makan 3 kali sehari ? trus dengan campuran ketan hitam sama beras ? begitu ?"

"tidak pak. kami tidak menuntut berlebihan. kami hanya minta bapak memberikan perhatian ekstra pada kami. tentang kesehatan dan juga jatah makan kami yang ditambah."

"ya ya,... itu kan bisa dibicarakan, tapi kalian tidak perlu mogok nelor seperti ini kan ? lihat kerugianku kalau kalian mogok. terlebih lagi para pedagang martabak atau penjual jamu pasti mereka bangkrut gara gara kalian tidak bertelur. sekarang kalian bertelur dulu. setidaknya aku sudah tahu apa yang kalian inginkan."

setelah itu sijabrik pergi. lalu memberitahukan kepada teman temannya tentang hasil perundingannya denganku. esoknya aku bertanya pada dalyono perihal ayam ayam itu lagi.

"bagaimana no...? sudah pada nelor ?"

"sudah ndoro, tapi baru sepertiga jumlah ayam saja. sepertinya mereka mau mengadakan aksi protes mogok nelor lagi. dan sepertinya ini memang pengaruh dari sijabrik."

"setan alas...!!! dasar ngga tahu diuntung."

"sijabrik kita sembelih saja gimana ndoro ? biar menjadi peringatan buat ayam ayam lain supaya mau bertelur."

"jangan no... itu hanya memperkeruh suasana. biarkan saja mereka protes. kita lihat perkembangan selanjutnya."

dan memang benar. aksi mereka benar benar gila. hari itu mereka berbaris rapi lalu berteriak teriak seperti para demostran. ayam ayam itu membawa spanduk. mengenakan ikat kepala warna merah tanda perlawanan. lalu berjalan mengitari kampoeng, mengelilingi kota, menuju DPR / dewan peternakan rakyat. ayam ayam itu hingar bingar memenuhi halaman, tangga, hingga atap. mereka mengibarkan bendera. berteriak lantang, maninju langit, minta keadilan.

salah seorang petugas berkata. "sebaiknya kalian pulang dulu saja. nanti tuntutan kalian saya sampaikan pada pimpinan dewan. karena percuma, mereka hari ini sedang tidak ada ditempat. mereka sedang studi banding keluar negeri. ke amerika serikat, jepang, rusia, inggris, dan spanyol. "

dengan perasaan kecewa, jabrik dan kawan kawan pulang kekandang. tapi, mereka tetap melakukan aksi mogok nelor.

"bagaimana no...? apa mereka berhasil bertemu dengan pimpinan dewan."

"sepertinya gagal ndoro. tapi mereka semua ngga kapok. dan masih mengadakan mogok nelor."

"kurang ajar no. ini kurang ajar...sudah, aku akan bilang ke pak walikota."

paginya aku bertemu walikota untuk membicarakan hal ini. "bapak mau kalau tidak makan telur ayam lagi ?"

"benar juga kamu. ini tidak bisa dibiarkan. nanti saya akan samperin mereka. ini memang sudah keterlaluan. telur ayam itu baik untuk kesehatan dan banyak mengandung protein. kalau hidup kita ngga ada telur ayam rasanya memang ngga komplit." kata walikota.

dan memang benar. jika pak walikota yang bicara, ayam ayam itu menjadi resah dan takut. hari itu pak walikota datang kerumahku untuk memberikan penyuluhan pada ayam ayam itu. ayam ayam itu kini bertelur lagi. tapi ya mereka bertelur sambil berisik. seakan akan ngga ikhlas. mereka masih saja berkotek kotek, berteriak teriak, berisik ngga karuan. tapi, hal itu cuma berjalan sebentar saja. setelah pak walikota pergi, esoknya mereka ngadat bertelur lagi. sepertinya mereka sudah seiya sekata. senasib sepenanggungan. berat sama dipikul ringan sama dijinjing. begitulah ayam ayam itu yang membuatku pusing tujuh keliling. celakanya lagi, mereka ngga cuma mogok nelor tapi juga dikala fajar mau mekar, ayam ayam itu mogok berkokok. ngadimin yang bekerja disawah sebagai petani selalu kesiangan gara gara terlambat bangun. ngatiyem yang bekerja sebagai pedagang sayur juga terlambat bangun untuk jualan dipasar. tukang jamu, pekerja kantoran, pegawai negeri sampai anak sekolahan pun terlambat bangun. bukan karena mereka tidak punya jam waker. tapi kebanyakan dari mereka sudah terbiasa dengan suara kokok ayam dipagi hari.

mendengar hal itu pak walikota naik pitam. dia mengumpulkan seluruh warga kota. "saudara saudara sekalian yang saya cintai. mengapa saudara saya kumpulkan seperti ini. karena ini masalah telur. gara gara ayam ayam itu tidak mau bertelur, tidak ada suply protein yang masuk ketubuh kita. gara gara ayam ayam itu tidak mau bertelur, banyak dari para pedagang dikota ini gulung tikar. entah itu pedagang martabak, pedagang roti, atau pengusaha restoran. parahnya lagi, ayam ayam itu tidak mau lagi berkokok. ini sudah tidak berperikeayaman. sudah menyalahi kodrat. maka untuk itu. perihal telur kita ganti dengan unggas yang lain. seperti bebek atau angsa. sedangkan untuk kokok ayam diganti dengan jam waker. gimana setuju.

"IDEMMM..." teriak warga kota.

keputusan pak walikota disambut hangat para warga kota. penjual jamu mengganti telur ayam dengan telur bebek. begitu pula dengan pedagang martabak atau pedagang roti. sedangkan pengusaha restoran mulai membuat menu menu baru seperti cah kangkung telur buaya atau oseng oseng bayam telur kodok. aku pun juga mulai strategi yang baru. hari itu segera kupanggil dalyono.

"inggih ndoro..."

"mulai sekarang sembelih semua ayam ayam itu. bakar atau digoreng. terserah kamu."

"kenapa ndoro...?"

"buat apa dipelihara dan dikasih makan kalau tidak menghasilkan apa apa. sia sia saja kan. kita harus mulai beternak unggas yang lain. bebek atau apa saja yang pasti bukan ayam."

"jadi ini yang namanya reshuffle ya ndoro..."

diam diam aku tertawa cekikian...

08:25 Posted in Narasi | Permalink | Comments (32) | Email this

21 April 2007

door duistermis tox licht

mendengar kartini bercita cita menjadi guru. ayah dan ibunya kaget. waktu tiba tiba saja berhenti. "ini kiamat. benar benar kiamat." bagaimana bisa kartini bercita cita menjadi guru. mungkin kartini sama sekali tidak mengetahui apa yang dikatakannya. lalu ayahnya mulai mengajaknya untuk membicarakan hal ini.

"karti, dengar baik baik. menjadi guru itu bukan cita cita. menjadi guru itu juga bukan suatu pekerjaan. guru itu hanya slogan pendidikan. selebaran tempel digang kumuh desa. kita ini hidup dikota. rakyat bilang seorang ningrat. masyarakat bilang orang bermartabat. lagi pula ini zaman globalisasi, persaingan bebas. dimasa sekarang ini tidak ada orang yang mau menjadi guru. hanya orang orang gagal yang menjadi guru. mereka menjadi guru karena terpaksa. sedang kamu itu bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa seperti itu ?!"

"saya tetap mau menjadi guru, yah."

"apa nggak ada pekerjaan lain ? kamu tahu, hidup guru itu seperti apa ? sudah banyak contohnya kan ? guru itu hanya begitu begitu saja. selalu saja menyampaikan hal yang sama dan berulang ulang pada anak didiknya. hidupnya mepet. tugas seabrek abrek, tapi pendapatannya nol besar. mana ada guru yang kaya raya. kebanyakan guru rumahnya kontrakan. kebanyakan guru montornya kreditan. kebanyakan guru hidupnya penuh cicilan. dan jika gajinya sudah tidak mencukupi kebutuhan, pasti ngutang. jangankan sebagai cita cita, buat ongkos jalan saja kurang. cita cita itu harus tinggi, karti. masak jadi guru ? cita cita apa itu ? sudah banyak guru dinegara ini. apa kamu tidak tahu ? hidup menjadi guru, selalu dikejar waktu. kita sedang tidur nyenyak, tapi guru masih mengoreksi ulangan dan memberi nilai. mana ada guru yang bisa menikmati acara akhir pekan ? mana ada guru yang ikut arisan ? bahkan tidak banyak dari guru itu punya tabungan masa depan. dunianya suram. kenapa kamu bodoh sekali mau menjadi guru. kamu masih muda, pandai, dan biaya untuk kuliah sampai S3 sudah kami siapkan. pikir baik baik, karti."

"saya tetap ingin menjadi guru, yah."

"sekali lagi pikir baik baik karti. ayah tidak ingin kamu salah mengambil langkah dalam hidup."

"sekalipun saya berfikir satu hari, satu minggu, satu bulan, bahkan satu tahun yang akan datang, jawaban saya selalu sama ayah. saya ingin menjadi guru. itu cita cita saya."

ayah karti menghela nafas. tiba tiba ibunya berkata.

"ini pasti pengaruh dari dari orang lain. benar begitu kan ? apa karena kamu mendengar kalimat kalau guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. kalau guru itu berjasa bagi nusa dan bangsa. begitu ? kamu pasti berfikir, dengan menjadi guru, kamu akan ikut andil dalam mencerdaskan bangsa. tidak segampang itu cah ayu. banyak guru yang brengsek. menerapkan sistem pendidikan yang salah. kamu dengar berita kemaren, seorang anak bangsa tewas karena terbunuh akibat sistem kekerasan pendidikan yang sudah membudaya. dan terlebih lagi berita sehari hari dalam koran pagi ini. banyak dari anak bangsa yang terjerumus kedalam narkoba dan seks bebas. terlebih lagi ditelevisi banyak dari mereka yang melakukan praktek korupsi. ini masalah harga diri, cah ayu. ngga bisa dibayangkan bagaimana kalau kamu menjadi guru ?... membantu mengelola perusahaan ayahmu, ibu rasa sudah cukup. atau setidaknya cari pekerjaan yang lebih mulia."

"saya tetap ingin menjadi guru."

"kasih tahu ayah, siapa yang meracuni pikiranmu itu, karti. siapa ?"

"ayah sendiri. saya hanya ingin mewujudkan cita cita ayah waktu itu ketika ayah berkata tentang pekerjaan mulia adalah seorang guru. apa ayah lupa ? waktu mata saya terpejam dalam pelukan hangat ayah."

"ya ampun karti, itu dulu, sekarang sudah lain. kalau menjadi guru membuatmu bangga, apa artinya ? sementara dalam kenyataan kekayaan kita yang membuat orang lain lebih menghargai kita. itu fakta. hanya beberapa orang yang menghargai pahlawan tanpa tanda jasa dibandingkan menghargai manusia yang bertahta penuh harta."

"maaf ayah. tapi cita cita saya sudah mantab. saya hanya ingin menjadi guru. tolong relakan saya menjadi guru."

ayah ibunya tertunduk pasrah. itu kisah 120 tahun yang lalu.

sekarang usia semakin menua. lembaran buku sudah berwarna kuning kecoklatan. bagaikan besi yang sudah karatan. tapi perjuangan kartini menjadi seorang guru bagi bangsa ini tidaklah mati. memperjuangkan kaum wanita. kartini berhasil memajukan wanita bangsanya, Indonesia. dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. kartini memberikan inspirasi bagi wanita indonesia masa kini.

10:57 Posted in Narasi | Permalink | Comments (25) | Email this

19 April 2007

manusia paling mulia

tersiar berita dari televisi. reportase pagi, redaksi 7, seputar indonesia, topik siang, sampai headline news menyiarkan kabar gembira ini. ceritanya, seorang koruptor tiba tiba saja mendatangi kantor polisi, menyerahkan diri dan mengakui tindakannya selama ini karena sudah kurupsi korupsi. para polisi yang sedang piket berjaga jaga, sebagian yang sedang menonton acara senetron sinetron, sebagian yang sedang makan, dan sebagian yang sedang main remi terperanjat kaget. apa yang terjadi ?

"tangkap saya pak." sambil mengajukan kedua tangannya seperti minta untuk diborgol.

seketika itu juga, para wartawan dari berbagai penjuru datang. membawa kamera, membawa tape recorder, dan bertanya pada koruptor.

"saya hanya ingin bertaubat. setelah saya pikir pikir lagi, untuk apa uang milyaran yang saya simpan itu. hidup saya sudah merasa puas. ya, kepuasan yang sangat sesaat. saya akan serahkan kembali uang haram yang saya ambil itu. saya ingin membeberkan aib dan siapa saja teman teman saya yang melakukan korupsi. untuk itulah saya menyerahkan diri."

"jadi bapak mengakui kalau bapak bersalah."

"ya, pejabat seperti saya hanyalah duri dalam daging negara ini. seperti halnya musuh dalam selimut. saya dan teman teman sekoruptor memang melakukannya. awalnya kecil kecilan, terus besar besaran. awalnya ribuan, terus milyaran."

"apa tujuan bapak sebenarnya melakukan hal ini."

"sebenarnya saya hanya merasa kasihan pada para demonstran itu. saya merasa iba. petisi para jurnalis, kritikan mereka. lalu gemuruh beduk, tambur dan simbal, raung knalpot montor serta massa dengan spanduk spanduk panjang bertuliskan hapuskan KKN, lalu berteriak berjalan beriringan dijalan. hanyalah menyebabkan tikus tikus got seperti saya traumatis hingga pergi menyebar kekantor kecamatan, kelurahan, balaikota hingga istana negara. saya hanya ingin memberi contoh kepada para koruptor lain untuk bertaubat. inilah jalan yang tepat."

"anda tidak sedang mencari sensasi kan ?"

"buat apa ? saya tidak seperti artis artis yang mencari sensasi untuk sekedar masuk infotainment televisi selama 5 menit. mengaku punya anak. mengaku pernah menikah. mengaku sudah cerai. saya tidak mau berpura pura seperti itu. apa jadinya negara ini jika semua orangnya pura pura. semuanya akan jadi serba seolah olah dan seakan akan. seolah olah demokratis. seolah olah negeri hukum. seolah olah agamawan. seolah olah intelektual. seolah olah terpelajar. seakan akan pengusaha, padahal pedagang. seakan akan penulis, padahal pengangguran. seakan akan peduli, padahal tidak tahu menahu. maka tak heran, jika seorang yang sudah resmi menyandang tersangka kasus korupsi lalu pura pura sakit."

"jadi dengan menyerahkan diri, anda merasa bertanggung jawab ?"

"setidaknya saya sudah lega. dosa saya serasa terangkat. hati saya serasa bersih. bayangkan anda melakukan kesalahan lalu menyesalinya. bayangkan jika anda melakukan kejahatan lalu mengakuinya. silahkan hukum saya yang sebenar benarnya. saya terima apapun konsekwensi hukuman yang dijatuhkan kepada saya. lagi pula, bukankah hidup ini cuma sesaat. tak tahu kapan saya akan alamat."

selang beberapa waktu setelah itu. para koruptor yang lain berdatangan kekantor polisi. mereka mengakui kesalahannya. tak hanya para koruptor. para perampok, pencopet, pencuri, pembunuh, teroris, dan semua pelaku tindak kriminal menyerahkan diri. mereka sadar dan ingin bertaubat. ingin kembali kejalan yang benar.

"sebenarnya bapak tidak usah repot repot seperti ini. bukankah kita bisa melakukan jalan damai ?" salah seorang aparat berkata.

09:30 Posted in Narasi | Permalink | Comments (30) | Email this

17 April 2007

perkawinan

mungkin benar. katanya, perkawinan itu adalah produk kebudayaan paling dungu yang pernah dihasilkan manusia. kamu tahu, datang kepesta perkawinan jauh lebih menyedihkan daripada menghadiri prosesi kematian. manusia lebih bisa menerima kematian, karena kematian adalah suatu keikhlasan. tak perlu kesedihan yang berkepanjangan untuk sebuah kematian. sebentar dan cepat terlupakan. tapi indah untuk dikenang. karena kita harus menerima kematian dengan lapang dada, karena kita memang tak bisa menghindarinya, karena kematian memang konsekuensi yang mesti ditanggung manusia. tapi perkawinan ? bukankah kita bisa menghindarinya ? kita selalu punya pilihan untuk tidak menjalani perkawinan. maksudnya, kita punya pilihan yang bebas untuk menentukan apa yang kita pikir lebih baik buat hidup kita yang hambar dan sebentar. kalau kita bisa bahagia tanpa perkawinan, lalu buat apa kita memilih perkawinan ? menyedihkan bukan ? seseorang memilih perkawinan padahal tak ada jaminan atau garansi dalam hidupnya akan menjadi lebih bahagia setelah ia menjalani perkawinan. kekerasan dalam rumah tangga, pertengkaran, perebutan hak asuh anak hingga harta gono gini. kau tahu sendiri, maria tidak menikah, tapi dia bahagia...

*untuk para selebritis yang doyan kawin cerai.

08:35 Posted in Opini | Permalink | Comments (34) | Email this

16 April 2007

mie ayam

jika kalian sempat datang kesini. mampirlah kedaerah saya, disini ada warung mie yang sangat istimewa. bukan bakmie goreng atau bakmie godok. tapi kami menyebutnya mie ayam. mungkin makanan ini hanya ada dikota kota seperti solo, yogya, klaten, atau semarang. sedang dikota kota lain, entah. mungkin ada tapi mungkin jarang.

dikota ini, segala jenis warung makan bisa ditemui. dari nasi liwet, pecel lele, garang asem, sampai sate kambing. tapi, dari semua warung makan itu, mie ayam adalah warung makan paling banyak yang ada dikota ini. setiap jalan, setiap gang, setiap pasar sampai setiap sudut kota. mereka menyebut mie ayam remaja, mie ayam enak, mie ayam sedap rasa, mie ayam lezat, dan kami menyebutnya mie ayam pajang. yang paling terkenal. yang paling enak.

tak jelas siapa penjual mie ayam itu. dan tak jelas juga siapa namanya. yang pasti dia bukan daerah asli kampoeng sini. warung mie ayam pajang mulai buka jam 2 siang. dan rata rata tutup jam 9 malam. tapi terkadang jam 7 atau jam 8 malam sudah habis terjual. ketika warung mie ayam tersebut dibuka, beberapa menit setelah itu pembeli langsung berdatangan. duduk memesan segelas minuman es teh atau es jeruk lalu memesan mie ayam. mie ayam selalu dibikin sama rata. mungkin karena banyak pembeli hingga sipenjual repot memasak. hingga tidak melayani tanpa sayuran, tanpa irisan ayam, atau sedikit kuah. semuanya sama. sebagian dari pembeli ada yang memesan untuk dibungkus bawa pulang.

saya sendiri termasuk salah satu penggemar mie ayam. dikota ini, saya sudah pernah mencoba beberapa warung mie ayam. tapi, entah kenapa saya tidak terlalu bernafsu mencoba mie ayam pajang. setiap saya ingin membeli mie ayam itu, saya selalu mengurungkan diri. begitulah yang terjadi. berbeda dengan pembeli pembeli lain, banyak sekali diantara mereka yang datang dari luar kota. dengar dengar ada yang datang dari luar pulau jawa. entah dari mana tepatnya yang pasti mereka datang hanya untuk mencoba mie ayam yang istimewa itu.

begitu tenarnya mie ayam pajang, sampai pada suatu ketika saya melihat didaerah lain ikut memakai nama mie ayam pajang. mereka hanya menambahkan kata "cabang." tapi saya melihat warung itu juga biasa biasa saja. tidak terlalu ramai pembeli.

sampai suatu hari saya bertanya kepada salah seorang teman saya perihal mie ayam itu. perihal tentang bagaimana rasanya. teman saya hanya menggeleng gelengkan kepala. matanya terpejam seolah membayangkan nikmatnya mie ayam itu. dia hanya berkata "susah untuk dijabarkan." lalu saya bertanya kepada tetangga saya perihal bagaimana rasa mie ayam itu. apa dia juga akan memjawab susah untuk dijabarkan. tidak. tetangga saya berkata, "ibarat pelajaran agama, kamu mendapatkan nilai 9. rasanya seperti melihat surga." katanya.

sore itu saya sungguh niat untuk mencobanya. selembar uang lima ribu rupian saya siapkan. tiba disana, terlihat antrian sudah banyak. penjual berkali kali memasukkan gumpalan mie segenggaman tangan ketempat kuali yang berisi kuah air mendidih. berkali kali pula sayuran dimasukkan kedalam kuali itu. sekejab. cuma sebentar. mangkok mangkok bergambar ayam jago, bertuliskan ajinomoto sudah berisi mie dan sayuran. lalu penjual itu mengambil irisan daging ayam cincang dalam wajan. terihat potongan daging, kulit dan jika beruntung akan kebagian brutu yang rasanya paling nikmat. lalu mie mie dalam mangkok itu disiram dengan kuah berwarna coklat lalu ditaburi remahan bawang goreng sebagai penyedap mata.

giliran saya tiba. saya bilang pesan satu bawa pulang. penjual itu membungkus mie ayam kedalam kantong plastik tebal. lalu dia ucapkan terima kasih seraya memberikan kembalian dua ribu rupiah kesaya. sampai rumah saya tuangkan mie dalam mangkok. sumpit saya ambil. saos sambal saya tuangkan. saya aduk dengan perlahan supaya tercampur dengan sempurna. saya rasakan. dan memang benar, persis seperti kata tetangga saya, "ibarat pelajaran agama, kamu mendapatkan nilai 9. rasanya seperti melihat surga."

saya menjadi ketagihan. esoknya saya beli lagi. tapi rasanya lain. jika kemarin saya seperti melihat surga, kini saya seperti membayangkan surga. esoknya saya beli lagi. dan rasanya sudah biasa. tidak begitu istimewa. entah kenapa ? atau mungkin hanya perasaan saya saja. tapi memang benar. semula seperti melihat surga, lalu membayangkan surga, kini saya tidak merasakan apa apa. kenikmatan yang seperti surga itu hilang. saya tidak mau mencobanya lagi. terlebih jika saya melihat warung mie ayam itu, saya merasa mual. sepertinya mau muntah.

***

tersiar kabar.

seorang wanita kesurupan ketika makan diwarung mie ayam pajang. tubuhnya kejang kejang dan berteriak teriak.

seorang bocah melihat putih putih dibawah meja. entah kain mori entah pocongan.

lalu seorang teman bercerita pada saya. "kamu tahu kenapa mie ayam itu laris dan banyak sekali pembelinya ? sebab penjualnya memakai pesugihan. pertama kali mie ayam itu buka, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, terlihat ramai pembeli karena yang datang setan dan hantu hantu gentayangan."

entah fakta, entah fitnah.

12:18 Posted in Cerita | Permalink | Comments (35) | Email this

12 April 2007

bayangkan...

jika semua doa kita dijawab oleh Tuhan.

08:25 Posted in Puisi | Permalink | Comments (40) | Email this

09 April 2007

Institut Penyiksaan Dalam Negeri

indosiar.com, Jakarta - Keprihatinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kasus kekerasan yang terjadi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) disampaikan kepada wartawan seusai mengikuti doa dan Zikir nasional di Masjid Istiqlal Jakarta.


akan selalu kuingat bagaimana usaha orangtuaku hingga aku bisa menjadi seperti ini. kata ayah, biarlah sekarang ini ayah bersusah payah mencari nafkah asalkan kamu bisa sekolah. kata ibu, teruslah menuntut ilmu dan kejarlah cita citamu.

disini, dikampoeng ini. sekolah menjadi bahasa yang sangat asing. orang orang disini tidak mengenal yang namanya pendidikan. mereka hanya bekerja dan memikirkan bagaimana caranya bisa makan. mereka berdagang dan menggarap sawah serta ladang. maka ketika ayah menyuruhku untuk sekolah, banyak dari para tetangga kasak kusuk dibelakang. mau jadi apa nanti. seringkali kami dijadikan bahan obrolan diwarung dan pasar pasar. sekolah ? datang darimana pikiran tolol itu. sementara kita hanya disuruh duduk patuh diceramahi entah apa itu berguna atau tidak bagi hidupmu. sekolah hanya menjadikan kita tukang hapal dan tukang patuh. sekolah hanya menjadikan kita banci banci berdasi. sekolah membuat kita seperti sekumpulan anak yatim panti asuhan yang berpakaian sama. seragam. begitulah pemikiran warga desa dikampoengku.

sedari aku kecil, ayah dan ibu selalu mengajariku hal hal yang baru. mereka adalah guru bagiku. dengan sabar, ibu mengajariku mengeja kata. dengan sabar, ayah mengajariku menghitung angka. penuh cinta, penuh suka, juga tawa. ketika aku masuk sekolah pertama kali, ayah menepuk pundakku dengan bangga. "ini baru anak ayah." katanya. lalu ibu selalu membuatkan bekal makanan untuk istirahat siang. sekolah sungguh suatu hal yang menarik untuk seorang anak sepertiku yang haus akan ilmu. kegiatan ekskul atau karya wisata setiap akhir tahun merupakan suatu hal yang menyenangkan. aku tidak akan berhenti sekolah. sebab aku yakin, suatu saat nanti aku akan berguna bagi bangsa dan negara.

kali ini ayah menangis bahagia. aku kuliah disalah satu lembaga pendidikan tinggi kedinasan yang bermaksud untuk mempersiapkan kader pemerintahan yang siap tugas dan siap dikembangkan dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan dan tugas pembangunan, baik ditingkat daerah maupun ditingkat pusat secara berdaya guna dan berhasil guna. impianku kini diujung angan angan, akan jadi kenyataan.

sistem pendidikan disini menekankan kedisiplinan dan itu yang dibutuhkan oleh pemimpin didaerah yang bisa dijadikan teladan sebagai satu pengemban tugas pemerintahan. begitulah kata senior. kami disuruh taat dengan peraturan. dan kami harus siap menerima segala bentuk hukuman. keganjilan terjadi. hukuman hukuman yang tidak masuk akal terjadi disini. mendadak saja kami disuruh lari keliling lapangan, kami disuruh push-up, lalu secara tiba tiba perut kami dipukul, dada kami ditendang. sistem pendidikan apa yang sudah diterapkan disini ? hingga terjadi seperti ini. apakah ini sebuah balas dendam. atau memang para senior kami melakukan hanya untuk kesenangan.

hari itu, ajal menjemputku. aku datang terlambat waktu latihan drumband. tiba tiba saja beberapa senior menghampiriku. mereka menyeretku sedalam sebuah ruangan yang pengab. mereka menelanjangiku dan mengikatku.

"namamu siapa ?"
belum sempat kujawab, pukulan mendarat diwajahku.

"jawab !!! namamu siapa ?"
belum sempat berkata, sebuah tendangan datang keperutku.
setelah itu diseret tubuhku dan dibenamkan wajahku dalam bak mandi berkali kali. hingga aku tersedak karena air yang masuk lewat hidungku. matakupun memerah.

"bagaimana ? ini hukumannya kalau kamu terlambat datang."
berkali kali hantaman mendarat diwajah. berkali kali tendangan membuat dadaku terasa retak kesakitan. mataku memejam. bahkan ketika mereka menyuruhku menjilati kotoran disepatu, aku hanya bisa pasrah. kurasakan lidahku menebal. gatal.

"kenapa terlambat ?"
"ke,..si..anga..nnn, kak..kkk.." jawabku terbata bata.
"bukan suatu alasan !!!"
dilecut punggungku dengan ikat pinggang.
"kenapa terlambat ?"
dijejal mulutku dengan bangkai tikus.
"kenapa terlambat ?"
dicabut kuku tanganku dengan tang.
"kenapa terlambat ?"
disulut kemaluanku dengan rokok.

tiba tiba aku teringat sebuah cerita yang kukira hanyalah kisah.

tahun 1994, madya praja gatot dari kontingen jatim meninggal ketika menjalani latihan dasar militer dan dadanya retak.

tahun 1995, alvian dari Lampung, meninggal dibarak tanpa sebab.

tahun 1997, fahrudin dari jateng, meninggal dibarak tanpa sebab.

tahun 1999, edi meninggal dengan dalih sedang belajar sepeda motor dilingkungan kampus.

tahun 2000, purwanto meninggal dengan dada retak.

tahun 2000, obed dari irian jaya, meninggal dengan dada retak.

tahun 2000, heru rahman dari jawa barat, meninggal akibat tindak kekerasan. kasusnya sempat menjadi bahan berita. hingga dilimpahkan dipengdilan.

tahun 2000, utari meninggal karena aborsi dan mayatnya ditemukan dicimahi.

tahun 2003, wahyu hidayat yang juga ramai diberitakan meninggal karena tindak kekerasan. kasusnya dilimpahkan ke pengadilan.

tahun 2005, irsan ibo meninggal karena dugaan narkoba.

setelah itu. kututup mataku. kuingat kisah kisahku dulu waktu bersama ayah dan ibu.

13:31 Posted in Narasi | Permalink | Comments (65) | Email this

05 April 2007

buruk muka, cermin dibelah



13:20 Posted in Note | Permalink | Comments (32) | Email this

All the posts