« dua kelamin bagi midin | HomePage | dimana anak kambing saya ? »
21 May 2007
dua kelamin bagi midin
saya tak habis pikir bagaimana bisa dengan begitu nekatnya melakukan hal bodoh seperti itu. mungkin benar, dijaman sekarang ini sudah sangat susah mencari yang namanya pekerjaan. begitulah yang dialami midin. pemuda kampoeng sebelah yang selalu kalah dalam kancah perjuangan mencari nasi dan nafkah. tak ada cara lain, katanya. hanya ini satu satunya jalan.
tubuhnya yang tinggi semampai juga dagunya yang lancip menjadi modal utama. dicukur bulu kakinya, diusap usapkan bedak, pada muka, pada leher hingga dada supaya terlihat putih kuning langsat. dioleskan lipstik merah cabe merata pada bibirnya supaya terkesan mempesona. dikenakan wig panjang pinjaman warna hitam karatan. pokoknya hari itu midin harus tampil seperti layaknya wanita. harus bisa menarik perhatian. dipakainya beha hitam yang sudah diganjal dengan gabus, koran, entah apa. juga kebaya transparan motif renda renda bunga peninggalan ibunya. tak lupa dieratkan cawatnya supaya burungnya tidak menonjol keluar dan setelah itu dipakainya jarik lurik motif batik dengan lipatan wiru rapi dikiri yang dikencangkan dengan setagen melilit dipinggang. lalu diambil emas imitasi 10 gram'an dan dikalungkan kelehernya, beberapa cincin batu akik disematkan kejari jarinya, dan yang terakhir disemprotan minyak wangi keleher supaya sedap merangsang.
ahh, peduli setan dengan muka. ide gila menjadi pengamen wanita memang nekat. tapi apa boleh buat. mencari duit itu sangat susah. yang gampang ya seperti ini. cepat dan mudah didapat. hari itu midin mulai melenggang keluar rumah. dibawanya blek kosong wadah permen dan icik icik dari tutup botol yang sudah diratakan lalu disatukan dengan paku dan kayu. maklum saja, orang seperti midin tidak bisa bermain alat musik, gitar ataupun cak cuk. dilambai lambaikan crang cring crang cring, menuju pintu rumah satu kepintu yang lain. dari pagar gerbang satu kegerbang yang lain. dari toko satu ketoko yang lain. lumayan juga, recehan seratus atau limaratus sering dia dapatkan. jika beruntung bisa lembaran seribu atau lima ribu. tapi saya yakin, itu semua karena mereka merasa prihatin dan kasihan pada midin. tapi bisa juga merasa jijik tak tertahan, lantaran coreng moreng dandanannya seperti raksasa bertaring. maka sering kali midin malah dikejar anjing.
midin bukan wadam bukan waria. bukan orang gila juga bukan sakit jiwa. midin hanyalah seorang pria yang menjadi pengamen wanita. memang sudah resikonya seperti ini. anak anak bertepuk tangan mengikutinya. semua orang hanya geleng geleng kepala melihatnya. para sopir angkot yang mangkal disudut perempatan jalan sering menggodanya. disuruh goyang ngebor atau patah patah. lagi lagi karena uang, midin tak malu melakukannya. midin lari tunggang langgang, lantaran gayanya menjurus kepornoaksi, dilemparnya sandal japit oleh simbok penjual rokok yang marah karena tak tahan kaumnya diperolok. nafasnya ngos ngosan. didepan emperan toko yang yang tutup, dihitungnya lembaran kumal yang dijejalkan dari dalam kutang. sementara tukang bakso lewat mengejeknya. "diganjal apa cah ayu susumu itu ?" "tempe sama tahu." sahut pilot becak. tapi tak dihiraukan, perhatiannya hanya pada uang recehan yang sedang dihitungnya. lumayan, bisa untuk makan, katanya.
sedih rasanya jika midin harus mengingat nasibnya. pikirannya kemana mana. apalagi ketika dia sedang berkaca. malu rasanya. ini terpaksa. jika saja negara memperhatikan pengangguran seperti saya, pikirnya. mungkin hal ini tidak akan terjadi. ahhh, jangan kau salahkan negara. itu tidak menyelesaikan masalah. tapi, kenapa harus menjadi pengamen wanita. bersusah susah mendempul muka yang tebalnya seperti kulit badak. bersusah payah memakai kebaya, jarik dan beha. seperti halnya para wanita wanita itu, kenapa harus menjadi PSK. seperti halnya para lansia itu, kenapa harus ngemis meminta minta. ya, karena tidak ada jalan lain. tidak ada lagi. tidak. miris rasanya jika melihat kondisi seperti ini. apa masih ada gunanya hidup ini. mungkin lebih baik mati. berharap dijalan disambar truk tangki. atau bunuh diri ditabrak kereta api. ahhh, tidak seharusnya berfikiran seperti itu. ini usaha. ini rejeki yang halal. berkah dan pemberian Tuhan. setidaknya tidak korupsi seperti para politisi. setidaknya tidak putus asa merampok atau mencuri. apa yang terjadi kita harus bangkit. lihatlah para korban bencana yang sudah tenggelam tidak punya rumah, harta, dan benda. mereka terus memperjuangkan haknya. lihatlah para warga yang tanahnya terkena sengketa. mereka juga terus memperjuangkan haknya.
benar juga, bukankah ini hari kebangkitan. lalu midin kembali berjalan melenggang dengan semangat empat lima. dilambai lambaikan crang cring crang cring, menuju pintu rumah satu kepintu yang lain. dari pagar gerbang satu kegerbang yang lain. dari toko satu ketoko yang lain.
***
nb : judul diambil dari cerpen karya arswendo atmowiloto yang dimuat pada harian kompas, 20 mei 1972.

08:27 Posted in Narasi | Permalink | Comments (27) | Email this

Comments
tidak ada kata kalah dalam perjuangan mencari nasi dan nafkah
semua udah diatur, kamu lupa ya kamu pernah bilang gitu??
Posted by: tatari | 21 May 2007
mungkin itu jalan dari Tuhan buat Midin mencari nafkah....
tak kirain mo posting ttg waria beneran. xP
Posted by: Kana | 21 May 2007
@tatari
apa iya...? mata pernah bilang gitu yah...? emmm.... agak lupa... maklum dah tua... hahahaha
@Kana
jalan dari Tuhan ya na.? emmm..
Posted by: mata | 21 May 2007
ironi ya ta...moga2 orang kaya yg baca mau memberi kerja pd mrk2 yg seperti ini. mimpi?
Posted by: meiy | 21 May 2007
@meiy
ini hanya masalah soal kebangkitan nasional meiy... huakakaka
Posted by: mata | 21 May 2007
takdir tuh. Iya kan?
love (still) sucks!
Posted by: ordinary girl | 21 May 2007
iya, ta. mungkin itu jalan dari Tuhan. kita 'kan ga pernah tau apa rencana Tuhan buat kita atau ummatnya yang lain. siapa tau justru dengan cara mencari mafkah yang seperti itu si Midin bisa bertemu dengan jalan hidupnya yang sesungguhnya. entah jadi waria atau ketemu produser recording company trus diaja rekaman. jadi artis. terkenal. banyak yang beli album rekaman suaranya si Midin. jadilah dy orang kaya. xP
*ngelantur yak? lagi stress ta! x(
Posted by: Kana | 21 May 2007
Weleh, kirain punya 2 kelamin beneran
jadi penasaran belinya dimana gituh
hehehe
Posted by: sky habis hibernasi | 21 May 2007
AH BOS, HATI-HATI KUPIPES SECARA SEDANG RAZIA KUPIPES SEKARANG, TAPI ENTE LULUS KOK. WAKAKAKKAKAKAKAKAKAKAK!
EH BOS, GUE DAH BELI HAPE NEH, NOMOR YANG MARIN KIRIMIN LEWAT JALUR PRIBADI SECARA TAK COBA2 NGAFAL MASUKIN NUMBER KOK NDAK NYAMBUNG WAE...
Posted by: Black_Claw | 22 May 2007
ada temenku yang pernah ketemu dan ngobrol sama salah satu banci taman lawang, jkt. yg dikira waria itu, ternyata laki-laki tulen. dia cuma terpaksa menjual tubuh dan harga dirinya cuma supaya bisa makan. sad but true...
Posted by: venus | 22 May 2007
@ordinary girl
kek iklan permen aja... "takdir"...
@Kana
bener na. siapa tahu bisa seperti itu. mengingat banyak sekali bnci yang jadi artis. hahahaha.... yang penting usaha dulu yah..
@sky
kan cuman istilah
Posted by: mata | 22 May 2007
@Black_Claw
razia kupipes kan cuman ada didompu. disini mah kagak ada black... hahahaha loe sering menjaring tersangka yah ??? muke gile... mangnya gue ikutan jadi banci apa...? dasar bencong...
sudah beli HP yah..? gut gut... gitu donk,. masak PNS ngga bisa beli HP. seninya mana seni seni... ohhh... kemaren HP mati black... biasa kalau lagi bobok ya dimatiin... hahahaha
@venus
ya semuanya karena terpaksa. kalau ngga terpaksa, ngga bakalan ngelakuin hal kek gitu. ironis memang...
Posted by: mata | 22 May 2007
emang susah cari uang zaman sekarang. sedih bacanya karena midin harus mengorbankan harga dirinya demi uang yg nggak seberapa. kejamnya dunia
Posted by: awi | 22 May 2007
hidup itu pilihan ta, dan jalan apa yang kamu pilih itu yang terbaik...gak taulah aku mau komentar apa, tapi aku tetap yakin, tetap akan ada jalan (yang baik, halal dan terhormat) walupun untuk sesuap nasi...
Posted by: mei | 22 May 2007
Boooo...satu kelamin aja pertanggung jawabannya susah benerrr. Apalagi dua ? Ih, rumpi deh booo...!
Posted by: Milda | 22 May 2007
Judulnya doang yg ngambil dr tulisan org? Isinya ditulis sendiri kah?
Bagus isi tulisannya... :)
Posted by: putri | 22 May 2007
hari kebangkitan, msihkah dimaknai di negara ini?
Posted by: gita | 22 May 2007
Semangat terusss...mumpung masih hidup!
*Mat, tega bener jempolku dikomentarin hihihi....jadi ngakak*
Posted by: Tiwi | 22 May 2007
paling nggak si midin masih punya rasa malu, dan bisa bangkit...apane hayo :P
Posted by: kenny | 22 May 2007
@awi
kejamnya dunia itu di trans tv tiap jam 10.30 ***keknya*** :))
@mei
bener si... hidup itu memang pilihan. dan Tuhan selalu ngasih jalan sama umatnya. :)
@Milda
iya lho jeng... gimana tuh...
tapi tanggung jawab yang gimana dulu nih...?
Posted by: mata | 22 May 2007
@putri
kalau cerita dari mas arswendo atmowiloto malah jujur ja mata ngga tahu akan maksudnya. bingung dan mungkin terlalu nyastra.
@gita
keknya dah ngga deh...
@Tiwi
huuh... semangat... semangat 45
mengingat jempolmu di foto itu kan lucu wii... kek noni... hahahaha
@kenny
huuh
sampai sampai ngaca aja malu. tapi kalau soal bangkit ya pasti masih bisa bangkit. ehhh bangkit apanya nih ken..?
Posted by: mata | 22 May 2007
tadi aku ktemu ma temennya Midin....:((
Posted by: za | 22 May 2007
jaman memang sudah gila, untuk mencari nafkah pun bahkan harus melawan kodrat :(
Posted by: Ajie | 22 May 2007
@za
dimana za ketemunya ? hahaha
@Ajie
kalau soal jaman dah gila mang dari dulu dok. herannya itu kenapa kodrat mesti dilawan yah... ;))
Posted by: mata | 23 May 2007
halal halal sajah kalo ngamen!
udah bagus si middin gak ngerampok,ngejarah ato mencuri :P
Posted by: meli | 23 May 2007
Hi ..
Cerita yang bagus sekali.
Btw, yang dikopi paste hanya judulnya aja kan ?
Posted by: MaIDeN | 19 June 2007
@meli
setidaknya memangen lebih baik daripada merampok, menjarah dan mencuri mel :p
@MaIDeN
habisnya baca yang karya aswendo itu bingung inti ceritanya apa. trus dibikin kek gitu. :)
Posted by: mata | 20 June 2007
Post a comment