« 2007-05 | HomePage | 2007-07 »

27 June 2007

yunus kejakarta

seekor ikan paus raksasa terdampar dipantai marina ancol. semua pengunjung yang sedang menikmati liburan terperanjat kaget. bagaimana bisa ?

memang sebenarnya ikan paus itu salah alamat. lha ya salah alamat, wong disuruh Tuhan kembali keninawa kok malah nyasar kejakarta. adalah Yunus bin Matta semua cerita ini dimulai. ketika dia mendapatkan perintah untuk menyebarkan kebaikan pada kaum ninawa penyembah berhala, Yunus malah pergi meninggalkan kaum tersebut karena stres. bagaimana tidak, berbagai cara sudah dia lakukan, tapi bukan taubat yang didapat, malah hinaan, cacian, juga makian. Yunus juga sempat berkata, jika kalian masih menyembah berhala dan jauh dari perintahnya tapi mendekati larangannya, maka Tuhan akan mengirimkan musibah juga bencana. dan pergilah Yunus. tiba tiba awan tebal menghitam, petir menyambar nyambar, kilat berkilauan. hari itu terlihat langit selarit jerit, bagai bangkai usungan mayit. pokoknya suasana waktu itu mencekam deh. barulah kaum ninawa sadar, ancaman Yunus ternyata bukanlah gertak sambal belaka. tanda tanda cuaca yang mengerikan, merupakan pertanda yang nyata kalau Tuhan akan menurunkan azab yang akan menimpa mereka. mereka mencari Yunus untuk mendapatkan ajarannya. tapi terlambat, Yunus telah meninggalkan mereka. Yunus tidak tahu kalau ternyata mereka sudah bertaubat. penduduk ninawa bergegas keluar rumah, mereka mohon ampunan pada Tuhan supaya tidak menurunkan musibah juga bencana.

Yunus meninggalkan kaum ninawa dengan perasaan jengkel dan marah. capek dehh. biar tahu rasa mereka. pikirnya. Yunus mengira kaum berhala itu sudah musnah rata tanah. tapi sebenarnya tidak. Tuhan memberi ampunan pada mereka. maka, sampailah Yunus dipelabuhan. dia menaiki kapal. maunya pergi menenangkan diri. gila kan ? lha wong disuruh Tuhan untuk menyadarkan kaum berhala kok malah pergi. alasannya menenangkan diri. tapi ya Tuhan tertawa geli. siapa bermain api akan terbakar. siapa menabur angin akan menuai badai. dikirimnya angin ribut kelaut. hujan deras mengguyur. kapal yang ditumpangi Yunus terombang ambing. bahkan hampir tenggelam karena melebihi batas muatan. semua orang didalam kapal itu berlarian panik. juga berteriak teriak minta pertolongan. tapi apa yang dikerjakan Yunus. dia malah tidur tiduran. memang stres.

"dasar orang gila, kapal morat marit seperti ini malah tidur tiduran. kapal sepertinya kelebihan muatan. semua barang buang kelaut supaya kapal tidak tenggelam. kau bantu mereka, jangan tidur tiduran dan malas seperti ini. ayo gotong royong, mbok yao bersifat kemanusiaan yang adil dan berabab." kata nahkoda.

akhirnya semua barang yang ada dikapal itu dibuang. habis tak tersisa. tapi kapal sepertinya masih kelebihan muatan. melihat hal itu Yunus memutuskan untuk menceburkan kelaut. biarlah dia mati asalkan semua penumpang kapal selamat. baik hati bukan ?

"baiklah, biarlah saya yang mati. demi menyelamatkan kapal ini. saya rela menceburkan diri kelaut." kata Yunus.

"memang kamu berani ? jangan sok ateng deh. nanti tenggelam lho. dengar yah, walau kami ini pirates of the caribbean. tapi kami masih mempunyai undang undang dasar. begini saja, kita undi. yang kalah yang nyebur kelaut." kata nahkoda.

memang nasibnya lagi apes. Yunus pun kalah undian. lantas dia menceburkan diri kelaut. melihat hal itu, Tuhan merasa iba. dikirimnya ikan paus raksasa untuk menyelamatkan Yunus. ditelannya Yunus kedalam perut ikan. seketika itu juga Yunus berdoa mohon ampunan karena telah meninggalkan semua perintahnya. meninggalkan mission imposiblenya. lalu dengan tiba tiba ikan paus itu terdampar dipantai. ya itu tadi, pantai marina ancol.

"Yunus, berhubung kaum ninawa sudah sadar. maka misimu selanjutnya dijakarta saja. disini masih banyak orang yang menjauhi perintahku dan mendekati laranganku." sabda Tuhan padanya.

dimuntahkan Yunus keluar dari perut ikan paus tersebut. para pengunjung dipantai marina seketika kaget. bagaimana bisa ada seseorang yang keluar dari mulut ikan paus. mereka ada yang mengabadikan kejadian tersebut dengan kamera ponsel juga dengan handycam. mereka mendekati bibir pantai. mereka hanya tercengang. tapi Yunus kebingungan. dimana ini ? apakah surga ? ya ampun, pantai benar benar jernih kebiruan. burung burung terbang merendah bersahutan. juga pasir yang lembut berwarna coklat keputihan. sementara orang orang masih mencoba berfikir siapa dirinya. Yunus masih saja mempertanyakan. apakah ini surga ? apakah aku sudah mati ? tidak ! kalau aku mati aku tidak mungkin ada disini untuk menjalankan mission imposible. Yunus terus berjalan. Yunus terus menurus tidak percaya apakah ini dunia. heran dia melihat jetcoster, juga heran dia melihat tornado. heran dia melihat jet sky, kano, juga wind surfing. heran melihat para wanita cantik dan seksi sedang berjemur dipantai mengenakan bikini. heran melihat semua kenikmatan dunia ini.

sementara disisi lain terlihat banyak anak anak pengasong menjual dagangannya. entah itu rokok, bungkus permen, atau es platik. tak hanya ditempat wisata itu. diperempatan jalan, dipasar pasar, juga disekolah, bahkan tempat ibadah. terlihat mereka menjajakan dagangannya. Yunus juga melihat perumahan perumahan kumuh tempat orang orang miskin itu hidup. sang ibu mencuci dan memasak dengan air yang sama. sementara anak anak mereka bermain main tanah yang sudah tercampur dengan endapan air limbah. terlihat kesedihan dan kegetiran hidup yang mereka rasakan sehari hari. sang ayah memeras keringat untuk ditampung kedalam panci panci rongsokan, botol botol plastik bekas, juga sobekan kertas koran kiloan. para perempuan tua yang hanya bisa meratapi apa yang terjadi pada hidupnya nanti. juga bau got mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong lorong muram perkampoengan itu melengkapi sudah penderitaan mereka. sempurna.

inikah jakarta ? batin Yunus. ternyata lebih parah dari ninawa. bisakah aku menyadarkan mereka ? para penguasa, koruptor, cukong, juga konglomerat penuh kolusi. semua majikan yang menyengsarakan rakyat, para buruh juga karyawan dengan gaji dibawah rata rata. para preman jalanan yang suka menindas, merampas dan membunuh korbannya. para pelajar dan mahasiswa yang suka tawuran. para tante tante girang dan om om senang yang suka dengan daun muda. juga para ustad yang sok alim menyebarkan agama padahal hanya bertujuan untuk mencari nafkah juga demi ketenaran dunia. para suami yang suka menyiksa istri, para istri yang suka menyiksa anak, juga para anak yang terkutuk seperti sangkuriang dan malinkundang. para panglima dan komandan yang suka semena mena dalam memberi perintah, menembak rakyat jelata dengan dalih mempertahankan tanahnya, tanah air indonesia tercinta. peluru peluru asu. hingga para aparat yang suka terima suap. dan orang orang semacamnya. inikah yang harus aku sadarkan. please dong ahh...

bagaimanapun juga ini perintah Tuhan. mau tidak mau Yunus harus menjalankannya. bedirilah Yunus diatas puncak monas. menyerukan sabda, menyuruh manusia menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Yunus sadar, ini bukanlah suatu pekerjaan yang gampang. ini bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. beserulah Yunus pada kaum pendosa itu. dengan kata kata yang lantang. berteriak keras. meninju awan. dan apa yang terjadi ? ajaib. sungguh ajaib. mereka semua sadar. mereka mengakui dosa dosa mereka dan berbaliklah mereka kearah pemahaman, penghayatan dan pengamalan pancasila. dengan seketika mereka semua bertaubat seperti kaum ninawa. Yunus makin dibuat kebingungan. apakah ini hanya sandiwara mereka supaya azab dari Tuhan tidak datang ? entahlah.

"bagaimana ini Tuhan, kenapa mereka langsung bertaubat ? kenapa kok tidak mencaci makiku terlebih dahulu ? apakah mereka berpura pura. ahh Tuhan, kenapa aku harus menjalankan misi ini. kenapa engkau tidak langsung mengeksekusi mereka saja ? mereka ini orang orang bisnis yang canggih. jika kelak kau ampuni mereka, apa ada jaminan supaya mereka tidak berbuat jahat lagi. maaf sebelumnya wahai Tuhan Yang Maha Pengasih. engkau terlalu memanjakan mereka dengan kasih. bukankah ini kurang disiplin. bagaimana kelak dunia jadinya kalau seperti ini. jika berbuat salah langsung menyesal. terus nanti berbuat salah lagi. maka begini sajalah Tuhan. akhiri semua sandiwara ini." kata yunus.

"Yunus, utusanku. kau ini sok tahu ya ? tugasmu hanyalah menyampaikan kebaikan saja. tugasmu hanya menyebarkan perintahku dan memberitahukan laranganku. aku ini memang maha pengasih dan penyayang. sekarang aku tanya kamu. kamu mau aku jadi maha pengasih dan penyayang atau maha kejam ?" jawab Tuhan.

"ya sudahlah Tuhan, memang kalau berdebat denganmu tak akan pernah menang. saya menurut saja."

"nah begitu kan manis, dan kamu harus bangga bisa menyadarkan mereka. kamu benar benar cerdas pangkat sebelas." kata Tuhan.

"maaf Tuhan, yang benar pangkat tujuh belas. dibagi delapan. dikurangi seribu sembilanratus empatpuluh lima."

Tuhan pun heran dan geleng geleng kepala. kok ya ada utusannya yang gaul seperti itu.

misi Yunus menyadarkan para pendosa ibukota pun akhirnya sukses. kini jakarta menjadi kota orang beriman. kini jakarta menjadi kota panutan. tidak ada lagi penguasa yang semena mena, tidak ada lagi cukong atau koruptor. tidak ada lagi majikan yang menyengsarakan buruh, karyawan dengan gaji dibawah rata rata, tidak ada lagi tawuran, tingkat kriminalitas yang menurun drastis. juga para aparat dan petugas berwajib yang benar benar berwajib.

hari itu, hingar bingar jakarta merayakan kemenangan. hari jadinya. pesta kembang api berhamburan membelah langit. meledak ledak. kemenangan atas segala hal. seperti bayi yang suci atau seperti seorang yang sudah melakukan pengakuan atas segala dosa dosanya. jakarta bahagia jakarta bahagia. ibu kota indonesia. aman, jaya, sejahtera.

12:00 Posted in Narasi | Permalink | Comments (43) | Email this

25 June 2007

mamat disunat

dua hari yang lalu saya melayat. yang meninggal mamat anaknya pak camat dikampoeng saya. sebenarnya saya enggan untuk melayat, tapi berhubung bapak saya tidak bisa berangkat, maka saya disuruh untuk mewakilinya.
maklum saja. hubungan pak camat dengan bapak sangatlah dekat. jadi, rasanya perkewuh kalau ngga datang. tapi berhubung kondisi bapak senin kamis, maka saya yang datang dalam acara duka tersebut.

saya mendengar cerita dari para tetangga dekat, katanya mamat meninggal karena kecelakaan. sore hari ketika senja sudah tertelan, mamat keluar membeli bakmi goreng. katanya untuk lauk makan nanti malam. dipacu sepeda motor barunya keluar rumah. tapi memang takdir berkata lain, bukannya sampai diwarung bakmi tempat pak nggowak, malah dia pergi keakherat karena entah bagaimana kok bisa motor yang ditungganginya terserempet mobil kijang lalu oleng lalu hilang keseimbangan dan akhirnya ditampani bis kota jurusan solo - sukoharjo. mamat mak sek.

sungguh disayangkan. pemuda yang baru beranjak masa puber seperti mamat harus berumur pendek. memang kalau yang diatas berkata terjadi ya maka terjadilah. yah, begitulah, apalah mau dikata.

akhirnya saya pun menghadiri prosesi upacara duka tersebut. kerangka bunga berjejeran dari beberapa perusahaan. mungkin rekan bisnis pak camat. beberapa keluarga dan juga tetangga yang juga sedikit saya ada
yang kenal. isak tangis meraung raung didekat peti jenasah mamat. apalagi ibunda tercinta. matanya memerah dan mukanya basah airmata. sesekali pak camat mengusap keringat yang berleleran diwajah yang nanar itu. sempat saya melihat mamat dipeti jenasah. kain kafannya masih penuh darah. ahhh, tak perlu saya ceritakan kondisi mamat disini. lalu saya mendoakan dia. pak camat sempat berpesan "hati hati ya nak kalau naik montor." saya hanya mengangguk dan berkata. "yang sabar ya pak."

lalu saya keluar dari ruangan itu, mencari kursi kosong dan duduk bersama pelayat yang lain yang tidak saya kenal. saya menyalaminya dan dia tersenyum menjabat tangan saya. "sugeng riyadi mas." katanya. lalu saya tersenyum menjawabnya. "sepertinya hari ini mamat disunat." katanya. saya kaget dia berkata seperti itu. "disunat ???" "iya disunat, padahal sudah sma tapi belum sunat, maka itu pak camat mengiming imingi membelikan motor baru untuknya supaya dia mau disunat. akhirnya dia setuju dan mau." jelasnya. saya melongo seperti kebo. "ya itu mas, memang nasib, motor barunya malah..." sambil geleng geleng kepala. "lha tapi kan mamat sudah alamat, masak disunat ?" kata saya. "tapi janji tetaplah janji. lagipula dia itu kan islam. lagipula mamat sendiri juga setuju dan rela. ini utang yang belum lunas mas." katanya lagi.

upacara duka itupun dimulai. pidato dari bapaknya, kerabat dekat, saudara juga rt/rw tak lupa ketinggalan. para pelayat mengangguk angguk tunduk. tapi kepala saya malah menoleh kekanan dan kekiri. siapa tahu saya melihat mas agus, siapa tahu saya melihat pak bong, atau barangkalai ada pak mardiman yang dulu menyunati saya. tapi tidak ada satupun orang orang itu. entah atau saya mungkin tidak melihatnya. yang saya lihat hanya pak mantri yang berbaju putih.

sayapun beranjak dari kursi dan pulang sebelum upacara duka itu selesai. entah apa yang terjadi selanjutnya. apakah mamat disunat atau tidak. ahh, setidaknya saya sudah mendoakan semoga dia diterima disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan bisa sabar dan tabah menghadapinya. amin.

10:52 Posted in Cerita | Permalink | Comments (25) | Email this

21 June 2007

dingin pagi hari

+ : sana mandi, katanya mau berangkat bareng
= : dinginnn... ( masih selimutan, malas )
+ : ya sudah ( berlalu )

saya pun bangun lalu melihat aurel didapur sedang merebus air.

= : ***benar benar istri yang pengertian, pikir saya*** makasih ya hun.
+ : apa ?
= : itu air panas kan buat aku mandi.
+ : siapa bilang ?
= : jadi...
+ : ini aku ngerebus air buat nggrujuk kamu biar bangun.
= :

08:46 Posted in Cerita | Permalink | Comments (53) | Email this

18 June 2007

karunia-kah saya ?

nama saya iwa. bahkan ada akhiran karunia. jadi nama lengkap saya iwa karunia. tapi hanya sedikit orang yang memanggil saya dengan nama tersebut. istri saya memanggil saya `mata` dengan embel embel `mas`. bapak dan ibu saya memanggil saya `le` atau `thole` yang sebenarnya saya sendiri juga sudah paham kalau panggilan itu adalah panggilan anak laki laki suku jawa yang berasal dari kata `konthole`. bahkan nenek saya yang sudah meninggal pun juga memanggil saya demikian. juga beberapa sanak keluarga yang jarang bertemu hanya memanggil `mas` atau `dik`

sampai sekarang saya tidak mengerti mengapa bapak dan ibu saya menamakan saya demikian. kenapa juga nama saya seperti penyanyi rap indonesia yang berakhiran kusuma. kenapa juga nama saya seperti menteri jaman pemerintahan soekarno hatta yang berakhiran kusumasumantri. kenapa kok nama saya tidak yang lainnya. pun saya sampai sekarang juga tidak mengerti arti nama `iwa` yang sebenarnya. yang saya tahu hanyalah arti dari `karunia`. lucunya saya merasa takut dengan nama `karunia`. mengingat saya dulu jarang sekali bersyukur tentang apa yang sudah Tuhan berikan kepada saya. lebih tepatnya saya merasa lupa ketika Tuhan memberkahi saya dengan segala karunianya. kesehatan, pekerjaan, dan kebahagiaan. tapi saya lupa, bahwa semua itu hanyalah sebuah karuniaNya. sampai istri saya mengingatkan "ingat nama mas,..." lalu saya pun mengucapkan syukur.

sudah jarang nama saya disebut orang. teman dikantor pun memanggil saya `kang` atau `pak` nama iwa karunia hanya terpampang dalam KTP, dalam SIM, dalam STNK, dalam IJAZAH, dalam SERTIFIKAT, juga dalam beberapa REKENING. ya, bagaimanapun juga saya merasa diberikan karunia sebagai warga negara indonesia, sebagai pengendara dan pemilik alat transportasi, sebagai orang yang berpendidikan, sebagai orang yang bertempat tinggal, juga sebagai brangkas penyimpanan uang. tapi setelah itu saya sadar kalau semua itu hanyalah barang titipan dariNya. mengingat hal hal tersebut, tak peduli arti nama saya, yang jelas saya benar benar diberikan karunia olehNya. saya bayangkan jika nama saya bukan karunia, apakah saya bisa seperti sekarang ini. ahh, apalah arti sebuah nama ? mungkin saya akan berkata seperti itu.

lalu saya mulai teringat tentang berita beberapa selebritis yang melaporkan kepihak yang berwajib ( saya sendiri sebenarnya kurang yakin kenapa namanya pihak yang berwajib, lha wong menurut saya tidak pernah punya kewajiban. ) karena pencemaran nama baik. berita berita seperti itu yang membuat saya membuka telinga juga membuka mata. sang idola masyarakat meminta orang yang mencemarkan namanya untuk meminta maaf. "ada ada saja masalah jaman sekarang, nama kok bisa tercemar ?" kata teman saya. "ya bisa saja, seperti cuangkemmu itu..." kata saya. itulah teman sekantor saya. suka ngerasani. didepan saya dia bicara tentang si A si B. dan mungkin didepan si A si B bicara tentang saya. predikat itu sudah melekat erat pada dirinya dan susah untuk dihilangkan. sehari saja dia tidak membicarakan orang mungkin mulutnya gatal gatal.

mungkin ini yang namanya penyakit. kali ini memang benar saya yang menjadi korbannya. beberapa hari yang lalu saya memergokinya ketika sedang berbicara dengan seorang teman tentang apa yang saya kejakan dikantor juga segala hal yang menurut dia tidak menyenangkan.

"kerja kok cuma ngalor ngidul, kalau ada bos pura pura sibuk. kalau ditanya soal kerjaan pasti jawabnya gampang. kalau ditanya laporan jawabnya belum selesai. sudah gitu pulangnya selalu duluan, memangnya ini perusahaan nenek moyangnya apa ? belum lagi kalau punya sesuatu yang baru selalu pamer, suka melebih lebihkan, namanya saja ada karunia tapi kelakuan kok seperti itu. mbok ya eling dulu sebelum jadi sekarang ini tuh seperti apa ?"

masih mengeluarkan kata kata yang memanaskan telinga, dia tidak sadar kalau sebenarnya saya sudah berdiri dibelakangnya. hati saya sakit tertusuk tusuk, nyeri dan pedih, begitukah saya dimata orang ? walau ada pepatah mengatakan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. tapi kenyataannya, saya tidak menjadi kafilah yang berlalu, malah menggonggong seperti anjing dengan segala nama binatang lain. tiba tiba terlihat beberapa teman langsung menghampiri memisahkan kita supaya tidak terjadi hal hal yang mengerikan.

lalu hari ini dia menghampiri saya dan meminta maaf tentang apa yang dia katakan waktu itu kepada orang orang tentang diri saya. sebetulnya marah saya masih berada dipuncak ubun ubun. tapi setelah saya menenangkan pikiran, saya bisa berfikir dengan waras. kalau seorang teman membicarakan saya seperti itu, mengapa saya marah ? bukankah seharusnya saya bertanya kepada diri saya sendiri, mengapa dia sampai membicarakan saya seperti itu ? apa ada yang salah dalam diri saya. dan kalau benar diri saya seperti itu, kenapa saya tidak merubah sikap dan kenapa saya mesti marah marah, kok tidak bersyukur. bersyukur karena sudah tahu kejelekan saya dimata orang maksudnya. kan kan kan ?

10:19 Posted in Cerita | Permalink | Comments (47) | Email this

14 June 2007

EYTD

saya mendapat teguran keras karena saya menggunakan ejakan yang tidak disempurnakan. saya tidak menggunakan awalan huruf besar diawal kalimat atau huruf besar untuk sebuah nama orang dan nama tempat, saya juga tidak memisah awalan `di` atau saya juga sering salah dalam menulis kata. terima kasih sebelumnya.

entah kapan penyakit tidak menggunakan ejakan yang tidak disempurnakan itu merasuki diri saya. susah sekali menyembuhkannya. saya sadar kalau saya ini bukan anak bahasa dan sastra. saya juga sadar kalau bahasa inggris saya seperti tukul arwana. tapi hal itu yang membuat saya terus menulis. saya menuangkan pikiran saya dalam tulisan. tidak ada kerangka karangan juga tidak ada perencanaan. saya menulis seperti orang kesurupan, hingga tidak memperhatikan tentang rambu rambu ejakan yang disempurnakan. sampai akhirnya pernah ada seorang teman yang mengatakan kalau saya tidak layak menulis selama hayat masih dikandung bandan. benar benar kejam.

waktu saya sekolah dulu, saya juga mendapatkan pelajaran bahasa dan sastra indonesia. bahkan selama dua belas tahun saya bertemu dengan mata pelajaran itu. dari mengeja huruf vokal, membuat kalimat, sampai pelajaran mengarang. tapi sekali lagi saya dipusingkan dengan hal hal seperti itu. mengingat saya ini bodoh dan berIQ jongkok, yang saya tahu hanya membaca dan menulis. saya tidak bisa membuat kalimat majemuk atau majemuk bertingkat. saya juga tidak bisa membuat kerangka karangan, bagaimana urutan cerita sampai endingnya. saya juga tidak bisa membedakan majas atau peribahasa, karena yang saya tahu hanya menggunakan kata `seperti` atau `bagaikan` yang saya sebut dengan pengandaian. saya juga tidak bisa membedakan antara prosa dengan puisi, terlebih lagi mencerna dan mengartikan apa maksudnya.

dalam mata pelajaran bahasa dan sastra itu, saya hanya sibuk dengan pemikiran pemikiran saya sendiri. hanya sedikit hal yang tahu. selebihnya saya menggunakan kacing baju kalau sedang ujian pilihan ganda. itu juga karena terpaksa, sebab banyak dari teman saya juga melakukan hal yang sama. sama bodohnya dengan saya maksudnya. tapi anehnya saya selalu lulus dalam mata pelajaran itu.

lucunya, terbesit dalam pikiran saya waktu itu sempat bercita cita ingin menjadi seorang penulis. entah itu novelis, entah itu cerpenis atau jurnalis. pokoknya semua yang berhubungan dengan menulis. tapi lagi lagi cita cita itu kandas. saya tidak pernah menjadi penulis. saya tidak pernah menjadi novelis, cerpenis atau jurnalis. saya terdampar dalam sebuah pekerjaan yang jauh dari kesenangan saya itu. bahkan saya lebih jauh terdampar dalam jurusan yang saya ambil waktu saya kuliah.

maka saya katakan sekali lagi. disinilah pelampiasan itu. saya bisa menulis dengan segenap perasaan saya. saya bisa menuliskan khayalan dan imaginasi saya. saya bisa menulis apa saja tanpa ejakan yang disempurnakan. saya bisa menulis bebas.

tapi maaf seribu maaf sekali lagi kalau tulisan saya dinilai mencemarkan ejakan bahasa indonesia yang disempurnakan. kalau tulisan saya terlalu panjang. atau tulisan saya kurang berkenan. semoga saya saya masih layak menulis selama hayat masih dikandung badan.

09:06 Posted in Cerita | Permalink | Comments (43) | Email this

11 June 2007

berkhayal

kata orang, saya ini terlalu banyak berkhayal. lhah ??? lalu apa salahnya kalau saya ini banyak berkhayal. bagi saya, berkhayal itu adalah kebutuhan pokok. bagi saya berkhayal itu bisa menyehatkan pikiran. bagi saya berkhayal itu... "bisa bikin gila." sahut teman saya. "bukannya memang sudah gila ?" sahut teman saya yang satunya lagi.

tapi biar saja. saya katakan demikian karena banyak dari teman teman saya berkata kalau saya ini banyak berkhayal. mungkin karena itulah saya suka menulis fiksi. dengan kata lain menjadi seorang tukang cerita gratisan yang dikarenakan naskah naskah narasi yang saya buat dan saya kirimkan kemedia cetak mingguan tidak pernah dimuat. ya, beginilah jadinya. terdampar dalam media blog paksaan. maksudnya memaksa pembaca untuk membaca dan memaksa pembaca untuk berkomentar. lalu send instant message to all in group dimessanger dimessenger dan tak lupa memasang status judul update tulisan saya terbaru. itu penting !

mengapa saya suka berkhayal ? mungkin dikarenakan saya mempunyai hobby berfikir yang tidak tidak. tapi bukankah yang tidak tidak itu sangat menyenangkan ? membanyakan hal hal yang diinginkan. seperti sepasang kekasih jika sedang berdua ditempat sepi, bila muncul pihak ketiga pastilah setan. maka seperti yang saya katakan, akan terjadi hal hal yang diinginkan. ya ingin inilah, juga ingin itu.

ya, saya suka sekali membayangkan ingin ini dan ingin itu. ingin punya kedudukan yang tinggi, ingin sukses, juga ingin punya uang yang buanyakkk sekali sampai saya menjadi milyader. jika sudah begitu pikiran saya jadi semakin tidak ada logikanya. punya castle dengan semua pembatu yang selalu siap melayani, mobil limo atau ferari, keliling dunia: membeli tas dimilan, memeli sepatu diroma, bermain ski diswiss, juga mondar mandir minum kopi dibelanda bersama teman saya kampoeng sebelah, bermain golf bersama presiden, setelan jas yang dijahit calvin klein, menjadikan paris hilton seorang asisten pribadi, menyuruh kla project menyanyikan lagu lagu cinta waktu saya makan malam, dan masih banyak lagi khayalan jika saya tulis tidak mungkin ada endingnya.

celakanya. semakin hari semakin saya banyak berkhayal membuat saya semakin takut untuk berkhayal. ketakutan itu bermula kalau saya mulai berfikir yang tidak diinginkan. beberapa hari yang lalu saya menghadiri suatu upacara pernikahan. ketika penguhulu berkata yang intinya maukah menerima pasangan kita apa adanya, baik suka atau duka, baik sehat atau sakit. sebuah sumpah diatas kitab suci. sumpah yang berlangsung tidak lebih dari lima menit itu. lalu saya bayangkan dalam diri saya dulu sewaktu saya menikah. apakah saya bisa memenuhi sumpah itu.

saya bayangkan bagaimana kalau ada masalah dalam keluarga saya, bagaimana kalau ada kesalah pahaman dalam keluarga saya, atau bagaimana kalau begini dan atau begitu. saya mulai memikirkan hal hal yang tidak diinginkan itu. bahkan ketika saya menjenguk ibu mertua yang sedang terbaring lemah dirumah sakit dan sampai sekarang belum diketahui apa penyakitnya saya mulai membayangkan, akankah saya bisa setabah itu jika istri saya sakit. saya juga membayangkan, jika saya mendadak lumpuh terkena stroke, akankan istri saya setia melayani saya seperti bayi, memandikan, menyuapi, membuang air kencing, juga membersihkan pantat saya selepas saya membuang hajat. akankah dia bisa setia dan tabah seperti itu ?

saya katakan demikian bukan berarti saya ragu akan ketulusan cinta kita selama ini. tapi inilah yang saya katakan sebelumnya kalau urusan cinta itu memang sepertinya tidak akan pernah beres. meski pernah dikatakan kalau Tuhan yang hanya bisa memisahkan. tapi nyatanya, manusia lebih bisa memutuskan bagaimana hidup yang sebaiknya hingga mempunyai seribu satu alasan waktu dipirsidangan. dan tidak sedikit para manusia itu melanggar sumpah diatas kitab yang berdurasi kurang dari lima menit itu. masuk akal bukan ? masuk akal dikepala manusia maksudnya, bukan dikepala Tuhan.

begitulah, saya ingin mengurangi hobby saya berkhayal itu. saya mulai mengurangi pemikiran saya yang tidak tidak. baik yang diinginkan atau yang tidak diinginkan. saya mau yang sedang sedang saja. hidup yang wajar, santai, tidak bingungan, juga berfikir positif. saya ingin mengurangi hobby saya berkhayal itu. mengurangi menulis narasi. seperti mencari Tuhan untuk minta saran, mendengarkan ceramah Kanjeng Rasul, juga menyebut diri saya malaikat. pernah dulu teman berkata, bagaimana bisa saya menyebut diri saya malaikat kalau saya ini seperti iblis. tapi semata mata hal itu hanyalah motivasi saya untuk bertahan hidup saja.

ya sudah lah, begitu saja ceritanya. saya hanya berusaha menghibur pembaca yang sudah menanti nantikan kapan saya update. hahaha... bercanda. sementara saya akan berhenti berkhayal lalu makan siang dan meneruskan laporan dimeja yang berserakan.

12:05 Posted in Cerita | Permalink | Comments (41) | Email this

06 June 2007

urusan cinta kita belum beres !!!

masalahnya, saya selalu memendam perasaan kepada orang yang saya suka. hingga tidak ada yang tahu kalau saya sedang jatuh cinta. jangankan seseorang, pada rumput yang bergoyang pun saya malu mengatakannya.


saya bertemu dengannya kemaren malam disebuah toko buku paling lengkap dikota ini. sebenarnya saya bingung, setelah makan malam, mau kemana ? tapi tiba tiba aurel mengajak saya untuk membeli peralatan kantor. sementara saya melihat lihat buku baru dilantai atas. kumpulan cerpen, antalogi puisi, dan beberapa karya sastra lainnya. disitu mata kami bertatapan. wajah yang tak asing. wajah yang pernah saya kenal. dan tak mungkin salah kalau dialah wanita itu. dewi namanya. teman semasa sekolah dulu.

"urusan cinta kita belum beres !!!" katanya. saya terkejut ketika dia berkata seperti itu. masih saja hal paling memalukan itu dia ingat. tapi mendadak dia tersenyum, menanyakan kabar, lalu berlalu. hanya basa basi saja. tanpa memberitahu alamat dimana dia tinggal sekarang atau bertukar nomor telp. mungkin karena dia tergesa gesa.

dewi adalah seorang ningrat. bisa dikatakan kalau dia masih ada hubungannya dengan raja raja jawa. seorang darah biru. laki laki mana yang tidak suka padanya. hanya laki laki yang goblok. tapi itulah saya. teman teman selalu bilang kalau dewi suka sama saya. ah, cinta monyet kata saya. tapi teman saya selalu bilang, cinta ya cinta, monyet jangan dibawa bawa. memang saya akui kalau saya bukan termasuk dari anak anak gaul. sementara teman teman saya suka ngeband, saya hanya suka membaca cerpen. "mau jadi apa ?" kata teman saya. "pujangga..." sahut teman saya yang lain. tapi begitulah saya yang tidak pernah macem macem. selalu menjadi yang serba biasa biasa saja. tidak merokok atau minum bir oplosan. tidak pernah kumpul kumpul atau bolos sekolah. selalu sendiri dan sepi. tapi anehnya saya selalu menikmati.

begitu ada desas desus kalau dewi menyukai saya. ketakutan saya semakin menjadi. saya semakin salah tingkah. bagaimana bisa ? saya sempat berfikir kalau ini hanya sebuah permainan belaka. sudah sering teman teman menjahili saya. menyembunyikan tas, atau sepatu saya sebelah waktu olah raga, sampai mengirimkan surat cinta palsu pada seorang teman wanita. tapi ternyata tidak. ini memang benar adanya. setelah teman sebangkunya berkata pada saya kalau dewi memang menyukai saya. ini baru pertama kalinya saya disukai sama wanita. entah apa yang membuat dewi menyukai saya. tampan ? tidak juga. kaya ? juga tidak. gaul ? apalagi. pintar ? ah, biasa biasa saja. apa ? jangan jangan dia hanya mempermainkan perasaan saya saja ? tapi sekali lagi katanya tidak. ini benar. terbukti ketika saya sempat meliriknya, dia juga tersenyum. seperti sebuah lambaian yang ragu.

seisi sekolah ribut karena peristiwa ini. saya menjadi terkenal. bisik bisik dikantin sekolah sering saya dengar. "jadi ini ya cowok yang disukai dewi." "iya, beruntung sekali." dan sebagainya. bisik bisik itu sangatlah meresahkan. tapi tak sedikit pula mereka ada yang mendukungku. mereka terus memberi semangat padaku.

"ayo ta, aku mendukungmu." kata surya.

"iya, sudah jelas kan kalau dia suka sama kamu. ntar kalau tidak keburu disamber orang, tau rasa kamu." jelas endro.

"berani dikit napa, orang juga cuma pacaran, memangnya mau apa ? kawin ? kalau itu pakai modal duit. nah kalau pacaran, ya paling cuma modal rayuan." jelas herman ikut memprovokasi.

"jalanin saja...takut amat sama cewek, kalau sama pak narno lha itu baru takut. killer seperti herder." sahut sahid.

saya akhirnya menyerah setelah teman teman bilang seperti itu. saya yakin karena mereka adalah teman yang baik. ada disaat saya sedang susah dan selalu membela saya jika ada yang mengganggu. tapi seribu tapi saya katakan pada mereka kalau saya belum pernah merasakan disukai sama wanita. kalau saya belum pernah merasakan jatuh cinta. bagaimana ini ? apa yang harus saya lakukan. semuanya tertawa ngakak. ada yang guling guling dilantai, ada yang gebrak gebrak meja.

"oalah ta ta, makanya, jadi orang itu jangan kaku. tiap hari baca buku. sekali kali jalan jalan keluar biar bisa lihat cewek cewek cantik. itu namanya cuci mata." kata endro.

aku terdiam dan menunduk. "gini ta, kamu biasa aja. sapa dia, aja bicara. apa saja. biarkan itu mengalir. atau kamu beri dia sesuatu. lebih bagus lagi." kata herman.

"gila kamu her, sudah tahu aku seperti ini, disuruh nyapa, disuruh bicara sama dia. bisa aa uu." kataku.

"emmm... kalau kamu malu, ya sudah. sebagai awalnya kamu tulis saja surat kedia. beri puisi atau rayuan rayuan gombal, terserah. kamu kan banyak baca buku sastra dan kamu lebih tahu itu." kata sahid.

akhirnya saya turuti saran mereka untuk membuat surat. surat cinta atau apalah namanya. saya awali dengan menyapa namanya. lalu dialinea pertama saya tulis puisi yang saya kutip dari pujangga ternama. saya jelaskan ketika saya petama kali memandangnya. hingga membuat saya tak bisa berkata apa apa. hingga darah dalam nadi ini serasa berhenti berdetak. saya juga katakan kalau saya suka jika dia tersenyum. serasa rembulan dan bintang bintang yang bertabur dilangit yang kelam perlahan redup lalu menghilang. bagaikan marahari menelan senja. menjadi saksi. menjadi bukti. begitulah adanya. inilah cinta yang saya rasakan. inilah sabda yang saya sampaikan. untukmu dewi.

lalu saya masukkan surat itu dalam amplop warna merah hati. kemudian saya serahkan pada herman untuk dia sampaikan pada dewi. lalu pikiranku jadi kemana mana. bagaimana nanti jadinya. diterima apa tidak. bagaimana kalau dewi marah. bagaimana kalau... ahh, hati saya galau. risau. deg degan. entahlah. serasa bercampur aduk jadi satu. juga keluar keringat dingin. dan ketakutan saya itupun menjadi nyata. mimpi buruk itu benar benar terjadi. waktu saya tiba disekolah. semua orang melihat saya. ada yang tersenyum senyum, ada yang tertawa, ada yang menyeringai sedikit terkekeh. saya melihat diri saya sendiri dan berfikir ada apa dengan saya. apa ada yang salah ? saya rasa tidak. hari itu benar benar hari yang memalukan. Tuhan memang maha sandiwara, pikirku. lalu aku dengar bisik bisik mereka.

"jadi ini yang menulis surat cinta itu ?" "romantis juga." "boleh juga tampangnya." kemudian mereka tertawa. sedikit mengejek sambil membuang pandang. "kok ya bisa dewi suka sama dia yah." "dipelet kali." "itulah namanya air tenang menghanyutkan." "duh yang pujangga." kemudian tertawa lagi. bahkan dewi pun menjadi acuh pada saya. sepertinya dia marah. mukanya sudah merah padam. malu atau entah apa yang dia rasakan sekarang.

"man, ada apa ini ? kok dewi jadi marah gitu ? kamu kasih surat itu pada dewi atau pada siapa ? kok anak anak pada tahu soal surat itu ?"

"emmm...emmm... sorry ta, suratnya jatuh dihalaman, lalu ada yang nemu, trus anak anak mading memajangnya didinding." katanya.

"asu !!!" kataku.

akhir ceritanya jadi runyam seperti itu. gara gara surat, dewi tidak pernah menyapa saya lagi. sepertinya kesalahan saya tak termaafkan. tapi begitulah wanita, seperti cuaca, susah ditebak apa maunya. kadang benci kadang cinta. datang dan pergi sesuka hati. hingga akhirnya sampai lulus sekolahpun saya belum pernah mengucapkan kata maaf padanya. bahkan sampai kemaren malam, kata kata itu tidak keluar dari mulut saya. dan saya sadar memang urusan cinta kita belum selesai. tapi yang membuat saya terharu, dia ucapkan selamat ulang tahun sebelum dia berlalu. saya hanya terdiam lama. lalu aurel memanggil dan bertanya siapa. dan saya jawab seorang teman lama. cinta monyet, kata saya. "cinta ya cinta, monyet jangan dibawa bawa."

15:58 Posted in Cerita | Permalink | Comments (41) | Email this

05 June 2007

25 tahun usiaku



aurel berkata :

"demi kamu, mata
akan aku berikan apa saja."


05:00 Posted in special moment | Permalink | Comments (45) | Email this

All the posts

 

eternity™ design by mata 2006 | engine by blogspirit | User Online