« 2007-06 | HomePage | 2007-08 »

30 July 2007

sampai mati !



08:10 Posted in Note | Permalink | Comments (58) | Email this

27 July 2007

gengsi ?

ketika seorang teman melihat saya memakai jam tangan abacus fossil beberapa waktu yang lalu. kini dia membeli sebuah jam tangan baru casio pathfinder yang bisa GPS. "jadi pengen aja mas make jam digital kek punya sampeyan." katanya. lalu saya geleng geleng kepala. apa ini yang namanya gengsi ?

dalam urusan gadget gadget'an saya tidak begitu peduli. lha pasalnya memang saya bukan type type manusia seperti itu. apalagi urusan gengsi gengsi'an. wahhh jangan sampai deh. saya lebih suka perut kenyang daripada menghabiskan uang hanya untuk barang barang seperti itu yang sebenarnya memang membuat nangis bercucuran air mata. sementara teman saya memakai XDA, saya masih menggunakan nokia 6800. sementara teman saya sudah membawa sony viao core 2 duo yang tipisnya sekertas HVS, saya masih memakai toshiba pentium 4. itupun belum bisa membaca DVDR. "saya belum puas mas dengan yang ini. kemaren lihat ada yang pakai acer ferrari soalnya, jadi pengen ganti asus lamborghini" katanya dengan santai. "iyah, ntar bisa balapan ya nek..." jawab saya. sementara teman saya pencet pencet PSP, saya masih pencet pencet yang lain. NGAGE maksudnya, ngeres aja pikiran loe ye... itupun aja minjem dari pokanan. cuapekkk dehhh....

"kan Ik juga harus ikutin mode, lagipula juga harus ikutin lingkungan disekitar. mau kalau you dibilang ketinggalan jaman ? gengsi donk..." begitulah katanya lagi.

lalu saya berfikir dengan pikiran yang jernih. sebab tidak mungkin saya berfikir dengan pikiran yang kotor. jadi semua itu karena mode, gaya hidup dan penyesuaian lingkungan ya ? batin saya. lalu pertanyaan selanjutnya adalah, jika mereka berada dilingkungan yang tidak mengenal gadget, mode dan gaya hidup, apakah dia rela mengganti soft contact lens yang membuat matanya menjadi biru hingga orang bilang seperti bule dengan kacamata ? apakah rela dia mengganti tasnya yang berlabel hermes ( baca 'er' seperti menyebut huruf r dan 'mes' seperti penyanyi memes. ) dengan bodypack ? apakah rela dia tidak naik mobil berlogo biru putih lalu naik angkot ? apakah rela dia tidak makan spaghetti melainkan makan sarimi ?

saya kemudian berfikir lagi dengan akal yang sehat. sebab tidak mungkin menggunakan akal yang sakit. pentingkah menunjukkan kepada seseorang kalau dirinya itu mampu beli ini mampu beli itu ? benarkah jika dia mengatakan kalau dia berhak bangga dengan apa yang dia raih itu. berhak menikmati rejeki yang diberikan Tuhan. "uang ya uang saya sendiri, terserah donk jeung mau Ik beliin apa." dan alasan lainnya. tapi benarkah seperti itu ? atau sesungguhnya hanya ingin dihargai ? bangga bisa menyaingi ? mungkin karena hal tersebut sangat memuaskan batin. begitukah ?

11:55 Posted in Cerita | Permalink | Comments (42) | Email this

25 July 2007

sahabat itu...

hari itu saya menjadi seorang pendengar budiman ketika teman saya sedang mengeluarkan keluh kesahnya. sambil menyeruput teh poci diwarung dan duduk duduk ditrotoar yang berlokasi ditengah kota, yang membuat hati terasa nyaman setelah diperkosa seharian. keluhnya.

"hehh ? diperkosa ? otaknya dah ngga beres kali ya ? kok ya mau maunya merkosa Jej ?" kata saya. "coba bayangkan mas. setiap hari saya selalu ngalor ngudul gara gara ngurusin kerjaan yang bukan kerjaan saya. sementara kerjaan saya sendiri belum beres. belum lagi "yang maha kuasa" ( sibos ditempat dia kerja maksudnya ) menyuruh saya ini itu. memangnya saya jongos apa ?" jawabnya.

"lha kamu aja yang geblek. ngapain mau disuruh suruh kalau bukan kerjaan situ." kata saya. "lho. ini bentuk loyalitas dalam bekerja mas. biar lebih bisa dipercaya dll dll." jawabnya lagi ngga mau kalah. "loyalitas apaan kalau gaji sama aja." kata saya lagi ngga mau kalah. "kalau gaji saya sama saja, mana mungkin Ik bisa traktir situ seperti sekarang ini." jawabnya lagi juga ngga mau kalah. "berarti Jej seneng diperkosa donk ?" kata saya sambil tertawa terbahak bahak.

obrolan kami malam itu sampai merembet kemana mana. dari anaknya sibos sampai simpenan sibos yang tidak perlu saya ceritakan secara mendetail disini. ( bisa gulung tikar blog saya. ckckck... ) sampai akhirnya pada teori percaya dan tidak percaya.

"kenapa ya mas,... kalau yang namanya keluarga itu beda banget ama sahabat. lha buktinya saya meminjam uang pada keluarga, entah itu kakak atau saudara saya yang lain susyehnya minta ampun." katanya sambil melahap roti bakar.

"beda dengan yang namanya sahabat, padahal tuh ya, mereka itu kan bukan siapa siapa kita. hanya seorang yang mampir dalam hidup kita. entah itu lama atau sebentar. tapi kesannya ngga karuan. kita bisa leluasa pinjem duit, bisa berbagi cerita, ya, ngga malu malu gitu lah. coba kalau sama keluarga sendiri. banyak mindernya." lanjutnya lagi sambil menyeruput teh poci rasa melati yang dia pesan.

"ehmm ehmmm,... ngerti kok." sahut saya sambil menikmati pisang bakar keju yang empuk.

"kadang tuh orang lain kayak saudara, trus saudara tuh malah kayak orang lain. misalkan saja saya malah merasa nyaman cerita sama situ daripada cerita sama ibu. intinya kok sahabat itu lebih bisa dipercaya daripada keluarga sendiri. merasa lebih nyaman gitu." katanya lagi.

mata saya jadi terbuka ketika dia berkata seperti itu. saya lalu berfikir dalam hati. ( sebenarnya saya juga bingung, lha berfikir kok dalam hati bukannya dalam otak ? ) apakah saya ini sahabat yang baik ? jujur saja sampai sekarang saya tidak tahu sahabat itu seperti apa ? yang saya tahu sahabat itu ibarat kotak P3K. tempat pertolongan pertama pada kecelakaan. ketika saya tidak punya duit atau ketika saya butuh pendengar karena masalah masalah yang ada. meminta saran dan pendapat. tapi tak lupa ketika saya sedang senang juga harus berbagi bersamanya. begitulah sahabat bagi saya. tapi, begitu mereka yang memerlukan kotak P3K itu, apakah selama ini saya sudah siap sedia ? dan bodohnya saya karena selama ini tidak pernah menyadarinya.

dulu misalnya, teman saya pernah mengeluh kalau cowoknya sering begini sering begitu. bahkan setelah mereka pacaran lamaaaa sekali, dengan teganya sicowok mendua. lalu apa yang saya katakan. "cowok begitu ditinggal saja. ngga ada gunanya." saya berkata seperti itu hanya pakai logika dan tanpa peduli tentang apa yang sedang teman saya rasakan dalam hati. kenangan indah waktu pacaran, kata kata mesra waktu makan malam bersama, atau pergi belanja, juga waktu memilih baju berdua. sahabat yang baikkah saya ?

sahabat saya juga datang dan pergi begitu saja. ada yang datang tampak muka pergi tampak punggung, tapi parahnya ada juga datang tampak muka pergi tidak tampak punggungnya. entah itu karena saya yang salah atau karena apa. jika kita mengenal awal awalnya dengan baik, apa salahnya kita pisah juga dengan baik baik. katanya sahabat itu tidak pernah mati, dan katanya lagi juga didunia ini ngga ada yang abadi, semua pasti pergi. tapi setahu saya, kenangan masih tetap tersimpan dalam dihati. kan...

10:57 Posted in Cerita | Permalink | Comments (42) | Email this

21 July 2007

4 sehat 5 sempurna

sambil menunggu pesanan datang untuk mengisi perut kami yang keroncongan. entah kenapa kok namanya keroncongan, kok ngga kengepopan ? saya jadi bingung. nah ceritanya kami ngobrol ngalor ngidul, seperti biasa, ngomongin ini ngomongin itu. sampai juga akhirnya pada seorang teman yang kebetulan ada disitu karena kemaren dia habis keluar dari rumah sakit karena terkena DB. "loe tuh aneh ya, sakit kok demam berdarah, masak sama nyamuk saja kalah." kata teman saya. "lha mending saya kalah sama nyamuk, daripada Jej, sakit kok muntaber." balasnya. kemudian gelak tawa pun riuh serempak.

"masuk rumah sakit kok dibangga banggain. jangan sampai deh masuk rumah sakit lagi." kata saya. "kalau ngga mau sakit ya Jej harus hidup 4 sehat 5 sempurna." sahut teman saya.

selama ini saya sudah mengkonsumsi makanan pokok, lauk pauk, dan sayuran. apalagi yang namanya susu, wahhh saya sangat suka sekali. terutama susu murni yang langsung diperas dari sumbernya. dari susu sapi maksudnya. hehehehe... tapi, lain halnya untuk urusan buah ? wah, susah. saya kurang begitu suka sama yang namanya buah. kecuali buah .... ( kalau kalian paham dan jalan pikiran sealiran dengan saya pasti bisa mengisi titik titik tersebut. )

lalu untuk menyempurnakan kekurangan saya itu. saya berolah raga. karena dengan olah raga akan menyehatkan badan dan menguatkan jiwa. begitulah katanya. nah, setiap akhir pekan saya selalu sempatkan untuk melakukan kegiatan yang satu itu. saya sempatkan bertemu dengan teman teman kampoeng waktu badminton, saling bercanda juga saling cerita. kegiatan tersebut sudah lama saya lakukan. namun saya berhenti beberapa tahun dan mulai aktif lagi kira kira 3-4 tahun yang lalu. dan hasilnya lumayan. saya jadi jarang sakit sakitan. juga stres dalam pikiran hilang seketika.

dulu, saya sering sekali terkena penyakit tipes. hingga saya sering kali keluar masuk rumah sakit. waktu itu saya tidak menganut prinsip hidup 4 sehat 5 sempurna. makan saya tidak teratur, sering tidur malam hari, juga karena saya kurang berolah raga. ya, untuk urusan olah raga saya sangat malas sekali. jangankan badminton, lari pagi saja rasanya berat. niatnya mau olah raga. tapi begitu bangun kembali lagi meringkuk dalam selimut. akibatnya jadi seperti itu. sering sakit sakitan. mungkin dokter yang memeriksa saya sampai bosan. sekalipun fasilitas rumah sakit sedemikian mewahnya. ber AC, ber televisi, dan tak lupa karangan bunga dari kerabat atau teman. tapi tetap saja selalu merasa tidak nyaman. sekalipun suster suster cantik menemani saya setiap waktu. menyuruh saya minum obat lalu menyuapi saya waktu makan.

saya teringat waktu dulu ibu masuk rumah sakit kerena stroke yang dikarenakan konsumi makan yang berantakan. begitupula ayah yang sekarang sudah terkena penyakit jantung karena kegemukan. hal hal seperti itu yang membuka mata saya untuk sadar akan betapa pentingnya hidup sehat itu.

sungguh benar adanya kalau kesehatan itu mahal harganya. jika saya selalu punya waktu untuk makan makanan kotor, kenapa saya tidak punya waktu untuk makan makanan bersih. jika saya punya waktu untuk membuang sampah sembarangan, kenapa saya tidak punya waktu untuk menjaga kebersihan. dan jika saya selalu punya waktu untuk menggerakkan badan malam malam, kenapa tidak punya waktu untuk menggerakkan badan pagi pagi. "bentar masss, menggerakkan badan tengah malam itu juga olah raga lho. lha buktinya Ik sampai keringetan terengah engah." kata teman saya.

11:30 Posted in Cerita | Permalink | Comments (39) | Email this

19 July 2007

setengah setengah

beberapa teman saya menyuruh saya untuk membuat buku. katanya sih, karena tulisan saya yang lumayan. lumayan hancur maksudnya. lha saya bertanya balik, apa bisa saya ini membuat buku ? "halah mas, kok ya sampeyan kalah sama anak anak sekolah. mereka itu sudah banyak yang membuat novel lho." celetuk teman saya. nek...? novel ??? bisa ngga selesai selesai endingnya. bagaimana kalau buku riwayat hidup, gampang kali ya... "amit amit jabang bayi'k massss, dikasih duit buat baca juga Ik ogah." sahut teman saya satunya lagi.

lalu pada suatu hari ketika saya sedang tidak ada pekerjaan. "memangnya kapan kamu pernah punya kerjaan ta ? lha wong kerjanya cuma ngalor ngidul." sahut teman saya lagi yang mulutnya seperti ember. hari itu, seperti biasanya saya jalan jalan mengunjungi blog kawan kawan tersayang. lewat layar kaca monitor tabung itu ( yang rencananya mau saya ganti dengan monitor slim flat tapi selalu gagal karena uang disaku juga slim flat. ) saya membaca postingan mereka. yang suka memasak, masih saja menulis resep masakan. yang sedang kasmaran, masih saja menulis kisah kasihnya. yang bergerak, masih saja menegakkan kebenaran sebenar benarnya. yang berkeluarga, masih dengan cerita anak anaknya. dan yang 18 tahun keatas, masih disensor.

nah, diantara teman teman saya itu, tidak sedikit sudah membuat buku sendiri. entah itu novel atau kumpulan cerita dari blog yang dibukukan. lalu saya bertanya kepada seorang teman lewat messenger yang kebetulan pekerjaannya berkecimpung dengan dunia tulis menulis. gampang yah bikin buku itu ? "syaratnya mudah kok ta, asal bisa nulis terus kirimin saja naskahnya. lewat aku juga bisa kok. ntar tak urusin" katanya. duhh baek banget yah. lalu dia juga menjelaskan tentang seluk beluk dunia tulis menulis tersebut. umumnya, naskah yang dikirim akan diproses kurang lebih tiga bulan. jika gagal seleksi naskah akan dikembalikan dan jika lolos maka teken kontrak. untuk kesepakatan royalti dan lain lainnya.

singkat cerita dia menunggu naskah saya. disinilah saya dihadapkan dengan sebuah lagu lama. jika saya mengerjakan sesuatu, akhir akhirnya kandas ditengah jalan. saya pernah menyampaikan kepada teman saya kalau dulu saya punya keinginan menjadi model. teman saya langsung tertawa ngakak sampai guling guling ditanah. "mbok ya nyebut tho mas masss, lha muka pada jerawatan seperti aspal pecah, merah merah seperti gunung merapi punya kawah. kok mau jadi model." katanya. ya mungkin karena itu dulu saya tidak lolos seleksi. "rajin bersihin muka mas, tapi pakai lahar merapi bersihinnya, biar hilang." sahutnya lagi. mukeee loe yang hilang. dasar ..... ( terpaksa saya isi titik titik, silahkan diisi sendiri, takutnya kalau saya yang isi dibilang kasar. )

itulah lagu lama yang saya maksudkan. saya selalu punya keinginan banyak. pengen bisa ini, pengen bisa itu. mau jadi ini, mau jadi itu. mau belajar ini, mau belajar itu. awalnya sih menggebu gebu. tetapi setelah itu berhenti ditengah tengah seperti kehabisan bahan bakar.

saya pernah tertarik untuk belajar design grafis. lalu saya mengikuti kursus kilat selama satu tahun disalah satu lembaga pendidikan swasta. tapi akhirnya ditengah jalan saya berhenti. selebihnya saya belajar sendiri. "makanya mas, kalau mau ngelakuin sesuatu itu jangan setengah setengah. contohlah saya dalam menjalani diet, saya rela jadi vegetarian." katanya. "kambing makan rumput juga segitu segitu aja jeung..." jawab saya.

begitulah contohnya. tapi semoga keinginan saya untuk menulis tidak kandas ditengah jalan. itulah kenapa saya jarang bernarasi lagi. sebab saya sedang menyusun kumpulan cerita khalayan tersebut untuk dibukukan. semoga cepat selesai.

07:15 Posted in Cerita | Permalink | Comments (32) | Email this

16 July 2007

hp itu...

kebiasaan saya yang paling boros waktu dulu adalah suka gonta ganti hp. "ngga apa apa mas, yang penting bukan gonta ganti pacar." kata pacar saya waktu itu yang sekarang sudah berhasil saya nikahi. saya benar benar tidak mengerti, kenapa penyakit gonta ganti hp itu menjangkit dalam diri saya seperti virus. walau sebenarnya saya tidak tahu apa virus itu juga suka gonta ganti hp.

pertama kali saya punya hp waktu smu. waktu itu harga hp sangat mahal dan termasuk barang mewah. belum lagi nomor kartu yang harus dibeli. bandingkan dengan jaman sekarang. harga perdana saja seperti kacang kiloan. memperolehnya pun juga gampang. disetiap jalan hingga parkiran.

sekarang, begitu mudahnya orang orang mengenal yang namanya hp. bahkan dengan mudah bisa mendapatkannya. hp dikalangan anak anak jaman sekarang sudah seperti kewajiban. karena jika tidak punya bisa dicap sebagai ketinggalan jaman. "haree gini ngga punya hapee,...?" mengingat kata iklan.

syukur kepada yang maha kuasa. penyakit saya gonta ganti hp sudah sembuh. saya merasa hal itu benar benar ngga ada gunanya sama sekali. bisa dibilang saya sudah tidak bernafsu untuk gonta ganti hp lagi. "bilang aja ngga punya duit untuk ganti hp ta." sahut teman saya. "biar saja hp jelek tapi bukan hp cicilan." jawab saya. saya merasa hp sekarang hanya untuk sekedar berkomunikasi dan ber sms ria. jadi saya hanya membeli hp yang murah meriah. soal mp3 player saya serahkan pada ipod, untuk jeprat jepret saya serahkan pada lumix tersayang, lalu untuk apa gprs, lha saya online setiap harinya. gratis pula...

nah, ceritanya dikantor saya ada seorang teman yang sangat suka sekali dengan hobby gonta ganti hp itu. begitu dia menyukai hp baru. dia langsung menggantinya dengan yang baru. tapi parahnya, dia selalu membangga banggakan hp barunya tersebut. terlebih lagi dia suka mengomentari hp orang lain. misalnya ketika hp saya sedang berdering, dia berkata "tuh mas, jangkriknya bunyi." atau dia bilang, "itu hp atau ganjal pintu mas ? kok gedenya seperti kingkong." juga berbagai macam komentar yang memanaskan telinga. penting yah mengomentari hp orang lain ? saking jengkelnya, teman saya yang dikatai hpnya buat melempar anjing membalas dendam. waktu rapat tadi siang, ketika bos sedang berpidato, berderinglah hpnya yang indah itu dengan suara yang merdu mendayu dayu "tak sobek sobek mulutmu, tak sobek sobek, tak sobek sobek." ruangan rapat jadi bergemuruh hingga wajahnya merah padam. sedang sibos hanya geleng geleng kepala saja lalu menyuruhnya untuk mematikan hp.

memang tidak bisa disalahkan ketika hp menjadi sebuah mode dan gaya. hingga menyebabkan seseorang bisa terangkat harga dirinya gara gara hp yang dimilikinya itu berkelas. bangga ketika ditanya. "hp kamu apa ?" lalu dia jawab aku pakai luna. aku pakai sirocco, aku pakai iphone, aku pakai shine, aku pakai prada. dan ketika saya dan teman teman senasib sepenanggungan menjawab. motorola sekian sekian, samsung sekian sekian, nokia sekian seki... "wahhh ribet mas serinya, susah diinget." sambarnya langsung dengan cepat bagai telkomnet instan.

18:40 Posted in Cerita | Permalink | Comments (43) | Email this

13 July 2007

seperti tempat sampah

banyak dari teman teman saya berkata kalau blog itu hanya sebagai tempat sampah. "iya sama seperti cuangkemmu itu ta, persis tempat sampah. ngga heran kalau loe suka ngeblog." sahut teman saya. "maksoottt loeee ???" iya maksudnya karena sampah dimulut saya sudah penuh jadi keluarnya diblog. gitu kali yee.

teman saya berkata katanya hebuattt. hebuatnya ? "lha mulut sebagai tempat makan kok jadi tempat sampah. bisa multifungsi itu ta." ya memang benar. mulut itu sebagai tempat makan. segala jenis makananan yang saya suka. sate kambing, nasi goreng, ikan tengiri, batagor, juga mie ayam. hingga lidah dalam mulut ini sampai ikut goyang karena saking nikmatnya makanan makanan itu. "goyang kok dilidah, mbok ya goyang yang lain." kata teman saya. "lebih enak goyang dilidah lho mbak." kata saya.

jadi begitu yah. saya baru tahu kenapa blog dikambing hitamkan sebagai tempat sampah. dan kenapa dalam kasus ini kambing yang menjadi korbannya. yang hitam pula. ampun DJ... ***minjem kata katanya retho***

memang saya akui dalam ngeblog saya suka sekali menceritakan siapa si a siapa si b. bahkan kelakuan si c sama si d. tapi apakah karena saya sering menceritakan dan membahas tentang seseorang. entah itu teman, saudara, atau tetangga, apa bisa dikatakan kalau mulut saya ini busuk seperti tempat sampah ? padahal kalau dilihat lihat lagi, mulut saya ini indah lho. merah merekah sedikit basah. nah kan ?

saya pernah bercerita soal teman saya yang punya mulut lebih tajam dari mulut saya. bahkan sampai sekarang pun dia masih sering berkicau. entah mungkin karena sifatnya yang seperti itu atau karena hal lain saya tidak mengerti. tetangganya melahirkan, cerita. saudaranya hajatan, cerita. habis liburan keluar kota, cerita. aplikasi hutangnya diacc, cerita. bahkan hari ini bajunya baru, cerita. "kamaren yang beli sama suami disemarang pas weekend, bagus ngga mas ?" katanya. "bagus bagus... pantes kok" jawab saya. "tahu ngga mas, kemaren aku juga lihat jam tangan, chanel ( dia bilangnya chenel ) aduhhh bagusss banget deh. pengennnn..." HAH ? chenel ? dia bilang chanel, chenel. syenel kaleeeee. biar mulut saya tempat sampah dan tulisan saya ngga EYD tapi masih bisa mengeja kata dengan benar lho jeung...

saya sadar sebagai manusia saya ini banyak salah. bahkan tidak sedikit teman teman saya menjadi korbannya. baik itu korban dari mulut saya yang seperti sampah ini atau korban dari tulisan tulisan saya diblog. saya sering berjanji, bahkan berjuta janji saya alamatkan kesurga tapi akhirnya kandas dineraka karena lalai untuk menepatinya, saya sering berkata iya tapi tiba tiba saja saya berkata tidak, juga beberapa hal yang lainnya baik sengaja atau tidak disengaja. ahh, sepertinya saya harus meminta maaf karena mulut saya yang seperti tempat sampah ini, dan mengingat bahwa saya hanyalah manusia yang khilaf juga sebagai manusia yang penuh rasa salah.

12:56 Posted in Cerita | Permalink | Comments (36) | Email this

11 July 2007

money

hari ini saya berkunjung ketempat RMY. dipostingannya terbaru membahas tentang Debt Diet. dipostingan tersebut disinggung, janganlah menggunakan kartu kredit melebihi dua. lalu saya jadi ingat kalau saya sering mendapatkan penawaran kartu kredit dari berbagai bank. tapi saya selalu menolaknya. bukannya saya sok tidak butuh uang dan bukannya saya sok sudah tercukupi tapi memang saya tidak suka dalam urusan hutang. dan bukannya saya tidak punya hutang, manusia mana yang tidak punya hutang. lha jangankan uang, nyawa dan semua organ tubuh yang menempel dalam diri saya ini juga hanya pinjaman. cuma bedanya tidak ada bunga dan denda kalau terlambat. ya tahu diri saja sudah cukup. tahu diri jadi manusia maksudnya.

saya suka heran dengan teman teman saya yang punya kartu kredit. mereka suka pamer ketika membayar dicafe waktu makan siang. mengkilat boo... terlebih lagi didompet mereka berjajar berurutan. seperti pelangi boo... bermacam warna maksudnya. lalu diantara teman teman saya itu mengatai saya kampoengan. mereka bilang orang dijaman sekarang ini kalau ngga punya kartu kredit ngga gaya. lha bahasa tukulnya ndeso. lalu saya bilang, "lha jaman sekarang ini memang jaman sudah kebalik. ngga hanya cowok seneng cowok atau cewek seneng cewek. punya malu kok diumbar umbar. punya hutang kok bangga." ( geleng geleng kepala )

teman sekantor aurel misalnya. bangga menenteng hp bermerk. ngga tanggung tanggung nokia series N sekian. bangga donk lha bawaannya gadget. buntutnya dia mesti pusing mikirin cicilan yang kalau dijumlah selama setahun harganya melebihi harga pasar. "ya iya lahhh, wong namanya saja hutang." sambar saya. tapi sekali lagi ya itu. gaya.

lalu tetangga saya yang sudah mbah mbah, baru saja membeli rumah kreditan. masalahnya cuma sepele. gara gara tetangga rumah sampingnya beli rumah baru disalah satu kawasan elite daerah solo. mendengar hal itu dia panas. lha dia bisa kok aku ndak bisa. maka belilah dia sebuah rumah entah type berapa. ( dengar dengar dari ibu ibu PKK sih itu, `kredit` mas ) katanya untuk anaknya kelak kalau sudah nikah. ibaratnya kalau usianya sekarang sudah 65 tahun lalu dia kredit rumah selama 15 tahun, terus 5 tahun lagi dia sudah menempati rumah masa depan itu. ditanah kuburan yang 1 x 2 meter maksudnya. trus bagaimana itu ? kasus kasuss...

saya akui saya sangat suka dengan yang namanya uang. kecintaan saya sama uang membuat saya rela kerja mati matian. saya berfikir waktu sekolah dulu, begitu enaknya saya mendapatkan uang saku dari orang tua. sekarang setelah tidak sekolah, dapat uang saku dari mana ? uang menurut saya memang bisa membeli apa saja. rumah juga tanah hingga mobil mewah, membeli perusahaan, membelikan istri saya intan dan berlian, juga cek kesehatan keluar negeri setiap bulan. nah kan ? apa saya bilang, penyakit mengkhayal saya kambuh lagi. tapi, kecintaan saya terhadap uang itu bukan berarti saya cinta pada hutang. lha amit amit jabang bayi, jangan sampai hutang saya nambah.

saya membaca kolom parodi kompas minggu ini ketika tukul ditanya what’s the meaning of money ? lalu tukul menjawab, "good question. after i have known what it’s like to have money, it turns out that it’s nothing special. It’s actually a test to have a lot of money. we have to learn to control ourselves with it, to stop us doing things that will be to our detriment. whether we are rich or poor, sugar still tastes sweet." mantafff juragan...

07:43 Posted in Cerita | Permalink | Comments (36) | Email this

09 July 2007

saya mau curhat

kamis lalu saya bertanya pada para pembaca sekalian. perihal apa yang paling membahagiakan jika hidup ini tidak sempurna dan cinta itu selalu menyakitkan. ajaib, benar benar ajaib. saya mendapatkan jawaban yang susah untuk dicerna dengan otak saya yang berIQ jongkok. ada yang membuat pernyataan balik "....punya seorang teman yang akan selalu berkata kepada kita bahwa hidup itu sempurna dan cinta itu menyejukkan." lalu ada yang menjawab "berada ditengah tengah keluarga." lalu ada yang menjawab "mendapatkan kepastian bahwa saya berhak masuk surga bersama org2 terkasih." sampai jawaban "melanglang buana,kalo bisa tamasya ke mars :D"

saya sering kali membuka blognya rime. dan saya selalu disuguhi dengan keindahan alam diberbagai tempat yang berbeda beda. suasana yang hijau. embun pada akar, pada dahan, pada ranting, dedaunan yang basah. juga semerbak wangi coklat tanah. begitulah mungkin suasana yang terlukiskan. lalu saya juga punya teman yang suka sekali naik gunung. saya bertanya, kenapa suka sekali naik gunung. katanya, ini prinsip hidup. dalam hidup, kita harus terus menaikinya. memperjuangkannya sampai titik puncak. sampai kamu kelelahan. setelah itu, kamu pasti akan puas menikmatinya.

jawaban yang tidak masuk akal itu saya cerna dalam dalam sebelum saya telan. jika kita kelelahan, bagaimana kita bisa menikmati hidup ? lalu saya bilang padanya, kalau saya menganut hukum bahwa roda selalu berputar sebagai prinsip hidup. jika bersakit sakit dahulu maka belum tentu kamu bisa bersenang senang. bisa jadi malah mati kemudian. kata saya. bagi saya, hidup itu selalu berputar. kadang sudah, kadang senang. kadang sehat, kadang sakit. kadang benci, kadang cinta. kadang diatas, kadang dibawah. "eh mas, kalau saya mau dibawah terus saja, enak kok." sambar teman saya dengan cepat dan kilat. "lha kalau kamu dibawah terus, kasian suami kamu, bisa mati terengah engah." jawab saya. yeeuuukkk...!!!

setelah berpusing ria dengan masalah hidup. "apa sih yang loe tau tentang hidup ta ?" kata teman saya waktu memberi komentar dalam salah satu postingan saya. ya, saya memang tidak tahu apa itu hidup. lha menjalaninya saja masih setengah setengah. setengah gila maksudnya. tapi sudahlah, jalani saja. begitulah jawaban yang sempurna menurut saya. akhirnya saya dihadapkan dengan masalah yang cukup rumit. sehari setelah itu saya terluka. dan saya menghadapinya dengan tertawa.

kamis malam ada telpon dari saudara ( adik kandung ayah / tante ) yang mengabarkan kalau rumah jatah bagiannya yang bertempat tepat disebelah rumah yang saya tempati ( satu halaman, satu tanah, satu pagar. ) akan dikontrakkan. sebenarnya jatah rumah itu adalah jatah untuk kedua adik kandung ayah. berhubung salah satunya sudah meninggal, status rumah itu jadi semakin tidak jelas. notaris bilang, setengah untuk tante saya dan setengah lagi dibagi untuk saudara yang lain. tapi kemauan tante saya kalau rumah itu bisa dikontrakkan, maka setengah untuknya dan setengah lagi sebagai uang darurat, siapa tahu ada bagian yang rusak maka bisa menggunakan dana tersebut. ayah marah, selama ini dia yang mengurus rumah tersebut. dicat temboknya jika mengelupas, diganti gentengnya jika bocor, juga saluran air, dan listrik jika ada masalah. terlebih lagi itu adalah rumah nenek yang dibangun ayah kemudian diwariskan kedua anaknya yang dulu belum punya bagian. maksud ayah, boleh saja dia menuntut hak atas rumah yang tidak pernah ditinggali itu. tapi, kenapa dia tidak melihat kondisi ayah yang sedang sakit sakitan karena jantungnya yang sudah lemah terkena. kenapa dia tidak melihat kondisi ibu yang baru saja sembuh dari penyakit stroke. apa tidak ingat dulu waktu dia nikah, semua biaya dari ayah. waktu dapat kerja, motor dibelikan. sekarang ? malah menuntut haknya yang katanya buat tambahan naik haji. ayah menangis. sekali itu saya melihat ayah menangis. terlebih lagi ibu tidak kuat menahan sedihnya. yang membuat saya luka adalah tangisan tersebut. saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya. "apa cukup uang 200 juta yah untuk harga rumah tersebut ?" kata saya. "lebih, harga tanah disini sampai 2 juta / meternya." jawabnya. "sabar saja, siapa tahu anakmu nanti ada rejeki, kita tutup rumah tersebut lalu jadikan satu dengan rumah ini. ngga usah ditanggapi dulu, ingat kesehatan."

begitulah, saya jadi teringat soal hidup, kadang diatas kadang dibawah. tapi kebanyakan orang bakal lupa kalau sudah diatas pasti tidak ingat waktu dia ada dibawah. katanya guru, digugu lan ditiru. katanya sudah menjadi kepala sekolah. katanya sudah beragama. rajin ibadah, sholat lima waktu dan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. tapi menciptakan rasa keharmonisan dan keselarasan dalam hidup kekeluargaan saja tidak bisa. entahlah. mungkin saya harus berusaha memberikan dukungan pada ayah untuk masalah ini. sedangkan saya sendiri sebagai anak tak lepas dari masalah yang ada. bagaimanapun juga masalah dalam keluarga saya juga masalah saya. dan masalah saya adalah masalah para pembaca sekalian... hahahaha... yang jelas saya memang mendapatkan cobaan yg cukup dahsyat dalam menjadi manusia bukan cobaan yg cukup dahsyat dalam menjadi seorang blogger. :)

10:10 Posted in Curhat | Permalink | Comments (47) | Email this

06 July 2007

mata luka ?

ha ha
tawa tardji bahagia

11:28 Posted in Puisi | Permalink | Comments (23) | Email this

All the posts

 

eternity™ design by mata 2006 | engine by blogspirit | User Online