« sebab rhesya ada diyogya | HomePage | doa hari raya »
21 September 2007
mencari malaikat
saya menyebut anak laki laki itu bernama mata, sebab ia lahir saat matahari enggan datang seperti senja tertelan petang. waktu itu hanya terdengar suara ibu yang melahirkannya berteriak teriak kesurupan, menyumpah serapahi seorang laki laki yang diatas namakan iblis, setan, binatang, dan segala macam mahluk malam yang mendesis berbisa.
ya, konon katanya laki laki itu tidak bertanggung jawab. kabur entah kemana. neraka. mungkin jawabnya jika saya bertanya padanya. akhirnya perempuan itu yang menanggung semua beban tersebut. menanggung semua penderitaan kehidupan yang keras. hingga saya selalu saja mendengar umpatan umpatan kasar tanpa alasan yang dia tujukan kepada anaknya. saya merasa kasihan padanya. merasa iba.
pernah pada suatu ketika saya tanyakan padanya, ada apa dengan mata ? lalu dia hanya menjawab dengan tatapan setan. "bukan urusan kamu !!!" lalu membanting pintu rumahnya dengan keras. sebenarnya rumah itu hanyalah rumah kontrakan yang bersebelahan dengan rumah saya. rumah itu ditempatinya setahun bersama laki laki sebelum mata lahir. ini artinya sudah empat tahun perempuan itu tinggal disini sendiri bersama anaknya.
sementara saya masih mendengar mata kecil terus menangis. menangis sampai ilu matanya kering dan habis. sementara ibunya masih terus memaki maki. "dasar anak setan, anak binatang, menangis saja terus kerjanya. bisa diam apa tidak !!!" bentaknya, yang sebenarnya saya sendiri mengerti kalau makian itu sebenarnya dia tunjukan kepada laki laki yang meninggalkannya pergi. hingga akhirnya mata kecil yang menjadi pelampiasan semua ini.
oh ya, saya belum memperkenalkan diri saya. nama saya rhesya. seorang perempuan. tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang diri saya. saya hanya seorang perempuan yang sangat menyukai anak kecil. entahlah, mungkin karena masa kecil saya yang sangat bahagia. saya berfikir bukankah masa kecil itu seharusnya memang bahagia. dielukan, ditimang timang sayang, dan bermain bersama teman teman. bukankah seharusnya begitu. tapi kenapa anak kecil bernama mata itu jauh dari kata bahagia. tidak pernah disayang juga selalu sendirian.
why - by: carlos escobar
malam malam berikutnya saya pasti selalu mendengar tangisan mata yang menyayat hati. saya tahu kalau anak itu pasti lapar. maka saya pun memberikan roti dan sekaleng susu. tapi lagi lagi ibunya yang keluar dengan sorot mata yang berapi api. lalu menerima susu dan roti yang saya bawa tanpa berkata terima kasih.
hal tersebut ternyata bukan untuk pertama kalinya. para tetangga pun sepertinya sudah kapok berurusan dengan perempuan itu. sepertinya dia tidak butuh anaknya dikasihani. biar saja anak setan itu mati. hingga sampai sekarang para tetangga itu tak ada yang mau peduli lagi.
mata, ah mata. bocah kecil itu. jika saya melihatnya, entah kenapa rasanya seperti melihat kesedihan yang sangat mendalam. sering kali dia duduk dibibir lincak yang tinggi depan rumahnya. hingga kaki mungilnya melambai berjuntaian. entah apa yang sedang dipikirkannya. hanya rembulan remang yang ditatapnya sambil menunggu kapan ibunya pulang. terkadang anak kecil itu tertidur dilincak karena lelah menunggu. bahkan gigil angin malam yang atis menembus nadi tidak pernah mau peduli. ingin saya mengangkatnya dan merebahkannya diranjang. mendekapnya dan memberikan kehangatan padanya. tapi saya urungkan niat itu. saya tidak mau lagi berurusan dengan perempuan gila itu. akhirnya saya hanya menyelimutinya. sekedar memberikan kehangatan dan melindungi badannya dari hembusan dingin malam.
terlihat tidurnya sangat nyenyak. nyaman. saya belum pernah sekalipun melihat wajah bahagia seperti ini. wajah anak kecil yang tersenyum dikala tidur. mungkin peri peri baik hati itu yang menemaninya dialam mimpi. entah kemana para peri itu membawanya pergi. andai saya bisa melihat negeri dibalik mimpi itu. andai saya juga bisa menemaninya masuk kedalam alam mimpi. tapi saya lagi lagi hanya bisa tersenyum penuh haru. saya meninggalkan mata yang sedang berpetualang jauh bersama bidadari. melepaskan kesedihan hati. melupakan hari hari yang penuh sepi.
malam pun berlalu. mengganti pagi. terasa lembut seperti hosti. sisa sisa dingin malam masih melekat sebelum hangat sulur cahaya fajar mekar. mata terbangun dari mimpi. peri peri menghilang. para bidadari telah pergi. entah kapan mereka datang lagi. kini hanya kupu kupu yang berkitaran dihalaman. disela sela rumput dan ilalang yang tinggi menjulang. kini hanya burung burung gereja yang terus berkicau. terbang merendah, hinggap dihanan memberi makan anaknya. sesekali mengajari bagaimana caranya terbang.
pagi itu suara tangis mata membangunkan saya dari tidur. suara tangis lambat laun lirih perih. menyayat nyayat. suara tangis itu menggores hati. apa lagi yang terjadi. kenapa tangisan mata kali ini berbeda dengan tangisan tangisan sebelumnya.
akhirnya saya mengerti, perempuan itu semalaman tidak pulang. perempuan itu meninggalkan mata sendirian. berteman gelap, berselimutkan malam, dilincak depan rumahnya. meninggalkan mata kecil kelaparan. meninggalkan semua beban hidup, meninggalkan anak setan yang sudah dilahirkannya. saya marah. marah. tegakah seorang bunda berbuat seperti itu.
mata terus menangis. terus menangis memanggil ibundanya. "bunda... bundaaa... bunda dimana ??? mata lapar..." begitulah suaranya yang lirih. kemudian saya menghampirinya penuh dengan cinta. menggandeng tangan kecilnya yang mungil. sedikit terdiam sedikit menoleh kearah belakang. melihat halaman rumah yang kian lama kian tenggelam. kemudian saya mandikan dia. saya siram dan usap tubuhnya dari luka yang pekat melekat. saya seka air matanya yang garing mengering. saya bersihkan rambutnya dari sindap dan lindap yang lengket. dan lihatlah. betapa dia kini tampak damai.
"kamu baik baik saja kan Ta ?" tanyaku, tapi mata hanya membisu.
"sementara kamu tinggal disini saja ya, setidaknya sampai ibumu pulang." kataku, tapi sekali lagi mata hanya mengangguk, lalu menunduk.
hari hari itu saya habiskan bersama mata kecil. saya selalu bercerita tentang peri peri kecil. saya selalu bercerita tentang bidadari yang turun dari balik pelangi untuk menemui anak anak yang baik hati. saya selalu bercerita tentang malaikat malaikat yang terbang dengan sayapnya yang mengembang dengan indahnya. saya selalu bercerita tentang para penghuni surga yang ramah. saya selalu bercerita tentang dongeng dongeng. para kurcaci yang suka menari, juga tentang negeri impian dimana setiap anak bisa bermain sepuasnya. hingga letih datang menghampiri.
"kamu sedang menggambar apa Ta ?" tanya saya.
"menggambar malaikat." jawabnya.
sebenarnya saya tidak paham tentang jawabannya itu. saya benar benar tidak paham. mungkin karena saya selalu bercerita tentang dongeng dongeng yang tidak masuk akal padanya. hingga dia bisa berkata seperti itu.
"kenapa kamu menggambar malaikat ?" tanya saya lagi
"aku mau jadi malaikat." jawabnya
"apa enaknya menjadi malaikat." saya betanya lagi
"bisa terbang."
"untuk apa terbang."
"mencari bunda yang pergi dibawa setan."
kemudian mata terus menggambar, melanjutkan gambarnya. dalam pikirannya, mungkin dia berharap kalau suatu saat dia akan benar benar menjadi malaikat. mencari ibunda yang pergi meninggalkannya.
***
saya menemukan ide tulisan ini waktu dikereta dalam perjalanan pulang menuju solo. ketika itu rhesya melihat seorang anak kecil mungil yang duduk didepan kita. terlihat suci, bersih, murni, bersama ibunya yang setia memegangnya. menggandeng tangannya. menimangnya dengan sayang. terlihat anak kecil itu terus melihat kearah kita. saya hanya berusaha mencerna apa arti tatapan itu. mungkinkah dia bertanya. apakah saya, apakah rhesya, bahagia seperti dirinya ?

14:50 Posted in Narasi | Permalink | Comments (39) | Email this
Comments
susah ditebak, apa arti tatapan seorang anak kecil. apa yang kira-kira membuatnya menatap. tapi sepertinya, tatapan seorang anak kecil adalah satu dari sedikit tatapan-tatapan tulus ^_^' (ngomong apa sih nih)
Posted by: RhoMayda | 21 September 2007
aku pernah menemukan kisah spt ini di beberapa kisah kehidupan org yg aku simak. seorang Ibu yg acuh pada anaknya hanya karena masih menyimpan luka kpd sang Bapak. kasihan memang..
bahkan ada kisah yg lebih tragis lho mas Mata di sini: http://niekeessy.wordpress.com/2007/09/07/gelap-gulita-kuhadapi-selama-6-tahun/
tp ini true story..
eh, yg mas mata ceritain ini true story juga ga yah..?
maaph, kalo ada yg terlewatkan oleh saya ^_^!V
Owya, aku masih agak bingung..
korelasi / benang merah antara mata kecil yg diceritakan di atas dengan seorang anak kecil yg mas dan rhesya *maaph, aku kurang menyimak mbak Rhesay ini siapa* itu apa, ya..?
bukankah keduanya jelas2 berbeda karena mata kecil terlihat tidak bahagia *mungkin* dgn kondisinya sdgkan anak itu *terlihat* bahagia?
Posted by: Nona Nieke,, | 21 September 2007
aku pernah menemukan kisah spt ini di beberapa kisah kehidupan org yg aku simak. seorang Ibu yg acuh pada anaknya hanya karena masih menyimpan luka kpd sang Bapak. kasihan memang..
bahkan ada kisah yg lebih tragis lho mas Mata di sini: http://niekeessy.wordpress.com/2007/09/07/gelap-gulita-kuhadapi-selama-6-tahun/
tp ini true story..
eh, yg mas mata ceritain ini true story juga ga yah..?
maaph, kalo ada yg terlewatkan oleh saya ^_^!V
Owya, aku masih agak bingung,
korelasi / benang merah antara mata kecil yg diceritakan di atas dengan seorang anak kecil yg mas dan rhesya *maaph, aku kurang menyimak mbak Rhesay ini siapa* itu apa, ya..?
bukankah keduanya jelas2 berbeda karena mata kecil terlihat tidak bahagia *mungkin* dgn kondisinya sdgkan anak itu *terlihat* bahagia?
Posted by: Nona Nieke,, | 21 September 2007
hmmm, mas mata sepertinya akan segera launch sebuah buku nih ;)
nice story,
Posted by: mitra w | 21 September 2007
Hmm.... ini cerita tentang kamu apa bukan ta? jadi penasaran... (mode detektif: ON)
Posted by: bakhrian | 22 September 2007
wah ta, tak kirain autobiografi
Posted by: kw | 22 September 2007
dalam hati anak kecil itu kali aja ; apa lu liat2x !!?
Posted by: dian | 22 September 2007
iya nih, ini cerita inspirasi darimana datangnya malaikat mata kah ??
*penasaran dot com*
Posted by: lita | 22 September 2007
mata anak kecil itu segede matanya dikau kah, mata? alaaah....ribet kan jadinya.....
Posted by: endang | 22 September 2007
@RhoMayda
bisa juga rho...
ngga ada yang tahu juga kan ? ahhh. saya ingin punya tatapan seperti itu. tanpa dosa.
@Nona Nieke,,
sebenarnya itu yang saya mau sampaikan.
saya selalu membaca dikoran, melihat berita di tv tentang ibu yang membunuh seorang anak, membuang seorang anak, atau bahkan menyiksanya secara perlahan. pikiran mereka itu dimana ?
ngga usah bingung dek... hubungan antara saya dengan rhesya cuma teman baik saja. dan soal mata kecil yang tidak bahagia itu bagaimana kamu menafsirkannya saja. :) apakah itu nyata atau tidak... :)
@mitra w
wah... doakan saja deh :) moga bisa nerbitin buku. :p
Posted by: mata | 22 September 2007
@bakhrian
menurut kamu gimana ?
@kw
hahahha
kalau saya nulis autobiografi mana ada yang mau baca
@dian
bisa jadi jeung...
"apa ? nantang loe !!!" hahahaha
Posted by: mata | 22 September 2007
Semoga dari tulisan ini senantiasa mengasah mata hati kita masing-masing untuk selalau meyayangi anak-anak.. miris memang melihat gambaran karakter si ibunya mata itu.. semoga kita semua,terutama para ibu dan calon ibu bisa sabar memerankan peran-nya sebagai seorang wanita. :)
Banyak cerita pahit-getir di negeri si bau kelek ini yang notabene baru saja keluar dari konflik bersenjata selama kurang lebih 14 tahun ini.. :D, tidak habis 7 hari 7 malam menceritakannya...
Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari Afrika Barat
--------------
PS: Ohya, Warung yang lama ini akhirnya kembali di buka, setelah lama di tinggal mudik.
Posted by: Domba Garut! | 22 September 2007
wuihhh...sedih ceritanya :(
Posted by: venus | 22 September 2007
wah gue dapet nomer berapa yah?
Posted by: noel | 23 September 2007
@lita
bisa jadi jeung...
@endang
ahhh, ndak perlu dibikin ribet... dinikmati saja. wong namanya juga narasi...
@Domba Garut!
betul itu kang...
sayangilah anak anak kita seperti kita menyayangi diri kita sendiri. toh mereka juga harta titipan Tuhan yang tak ternilai harganya. kan ?
sampeyan pernah mampir kesini kok. kita kan sudah kenal. lupa yah ??
Posted by: mata | 23 September 2007
Daya imaginasi loe tinggi Ta hehehee
Posted by: tata | 23 September 2007
@venus
padahal saya menulisnya dengan bahagia tuh... kelainan ya mbok ?
@noel
nomer berapa apa maksudnya ?
@tata
berapa cm tingginya ta ?
Posted by: mata | 23 September 2007
Siapa pun pelakunya... yang pasti itu cerita sangat menyedihkan... imbasnya pasti besar buat si anak dari sudut psikologi... dan sulit untuk diobati...
Posted by: bakhrian | 23 September 2007
tega sekali si Ibu, biar aja terbang dibawa setan
Posted by: Fa | 23 September 2007
Hm.......
Posted by: fely | 23 September 2007
Tatapan mata seorang anak bisa meluluhkan hati siapa saja....
Posted by: Tiwi | 23 September 2007
Salam kenal.
http://www.alatsurveycenter.com/
Posted by: Nav | 24 September 2007
Salam kenal.
http://www.alatsurveycenter.com/
Posted by: Nav | 24 September 2007
serem, hampir ga tak terusin mbacanya, ternyata cuman crita heheheh, bagoooosssss :D
Posted by: iway | 24 September 2007
bagus mata, tulisan kamu ini.
Posted by: ndutyke | 24 September 2007
what a great story...
jadi pengen nangis huhuhuhu....
Posted by: senny the ordinary | 24 September 2007
@bakhrian
bener itu kang...
efeknya terjadi nanti yah kalau si anak sudah mengerti. dendam misalnya. atau kebencian yang sangat mendalam...
@Fa
dibawa setan keneraka ya fa :p
@fely
kok cuma hm... fel ? pusing ya bacanya ? hahaha
Posted by: mata | 24 September 2007
@Tiwi
apalagi tatapannya si noni tuh... wah... ngga nguatin wi... :p
@Nav
salam kenal juga ya...
biaya iklan 100rb. tolong transfer yah.. :p
@iway
lha kan sudah ada labelnya... "narasi" gitu lohhhh :p
Posted by: mata | 24 September 2007
semoga ia bisa menemukan malaikatnya... :p
Posted by: Kana | 24 September 2007
@ndutyke
aneh aja bu... habis ngelawak trus nulis ginian. hahaha
@senny the ordinary
yah... jangan nangis donk. ntar puasanya batal. lho... hahaha
@Kana
amin na,... semoga ya na... berharap aja...
Posted by: mata | 24 September 2007
true story bukan ni mas mata? pengalam pribadi waktu kecil? atau cuma fiksi? penasaran nih..hehehe...tp ceritanya kuerennnnn pol...menyentuh kalbu mengharu biru.....kapan atuh dikumpulin cerita2 pendeknya di sebuah buku?
Posted by: novie-pinky | 24 September 2007
wahhhh,,,, tulisannya asyik, cerita yang keren abis... hehehe gak rugi baca tulisannya panjang banget... :D
Posted by: alwaysmommo | 25 September 2007
ceritanya menyentuh, liat pic apalagi.. campur aduk deh.
tepok-tepok buat mata..
Posted by: kenny | 25 September 2007
@novie-pinky
sudah menyentuh kalbu masih mengharu biru ya vie... hahaha...
wah... kalau main asal ngumpulin diblog sih ya sudah jadi kemaren kemaren... maunya bikin dari awal. tapi ya kebentur waktu :(
@alwaysmommo
makasih ya kang. salam kenal :)
@kenny
campur aduk gimana ? cat kaleee... :p
masih puasa kan jeung ???
Posted by: mata | 25 September 2007
Kayaknya anak yang dikereta itu pengen jadi kayak Mata hihihii..
Posted by: gita | 25 September 2007
dan aku benar-benar nangis...pengen pelukkkkkkkkkkkkk..ningrum..huhuhuhu
Posted by: mei | 26 September 2007
so sad ta...aku juga miris mendengar byk kisah tragis di kehidupan nyata.
Posted by: meiy | 27 September 2007
@gita
wah jangan deh... mendingan jangan jadi saya... apa hebatnya ? hahaha
@mei
sudah ditelp kan si ningrum. kok malah telp saya sih... hahahaha saya kan jadi bingung.. :p
@meiy
kalau diceritakan memang ngga ada habisnya ya mei..
Posted by: mata | 27 September 2007
hmmm....
Posted by: MnX | 20 October 2007



