« 2007-08 | HomePage | 2007-10 »
29 September 2007
no comment !!!
"kamu tuh ya Ta, kalau dikasih pe-er kok ngga pernah sekalipun dikerjakan." kata teman saya suatu hari.
terus terang saja, sifat males saya belum hilang. buanyak sekali teman teman membombardir saya dengan jutaan pertanyaan soal pe-er pe-er tersebut. saya disuruh menceritakan hal hal aneh yang saya punyai sampai saya disuruh menceritakan kebiasaan yang saya kerjakan.
saya rasa, jika para pembaca ( maksudnya teman teman, sebab kalau saya sebut sebagai pembaca nanti profesi saya jadi penulis. ya ogah, digaji saja ngga !!! ) sering membuka blog saya yang ala kadarnya ini, membacanya juga menghayatinya. maka semua jawaban dari pe-er pe-er tersebut pasti sudah ada. jadi apa lagi yang mesti saya sampaikan jika saya disuruh menceritakan keanehan saya padahal saya ini memang sudah aneh. dan menceritakan kebiasaan saya padahal saya ini manusia luar biasa. luar biasa hancur maksudnya.
nah, begitu saya membaca postingan teman teman yang menyuruh saya mengerjakan pe-er, saya minta maaf. mungkin karena saya diam saja. no comment. kata saya dalam hati.
ngomong ngomong soal no comment, kok rasa rasanya ngomong no comment itu gampang banget yah. tanpa beban, ngga berdosa. "Ta, gimana kerjaan ?" saya jawab no comment. "Ta, sudah punya momongan ?" saya jawab no comment. "Ta, gimana blog ?" langsung saya buka, sudah ada berapa comment yang masuk hari ini ? kata saya dalam hati.
dulu saya pernah bercerita soal mulut saya yang dikatakan seperti tempat sampah. sampai sampai hampir semua teman saya diblogger memaki maki saya. pasalnya saya mengatasnamakan mulut saya dengan tulisan sebagai uneg uneg yang saya rasakan. jadi ya daripada gabung sama jeung jeung dikantor, ngomong ba bo ba bo... ( padalal saya sudah ketularan mereka ngomong Jaj Jej Jaj Jej ) mendingan saya nulis. lalu saya ceritakan soal si anu yang begini si inu yang begitu. "ya sama saja itu mas, cuma bedanya mereka ngomong pakai mulut, sampeyan tidak." jelas teman saya.
setelah mulut saya dikatakan tempat sampah, teman saya berkata lagi "sampeyan memang pantas jadi blogger mas, bukankah mulut sampeyan itu juga suka mengomentari orang." nah, saya sudah kesetrum lagi untuk kedua kalinya. mengingat saya ini selalu berkomentar jika ada hal hal yang membuat mata saya perih melihatnya. parahnya, komentar saya selalu saja ngga masuk akal. akhirnya orang yang saya komentari malah berkata. "sok teu deh..." atau "suka suka Ik donk."
akhirnya teman saya bilang. "kamu tuh ya mas, mbok ya jangan suka mengomentari orang, IQ saja ngakunya jongkok kok jadi komentator, memangnya situ sudah merasa paling benar ?"
saya hanya ngangguk ngangguk saja. dan lagi lagi saya terdiam. lha saya mikir, apa teman teman blogger yang suka mengomentari postingan saya itu apa ya merasa paling benar ? apa ya merasa paling tahu ? padahal jujur saja dalam hati. saya menjadi blogger itu ya salah satunya pengen dikomentari. saya menjadi blogger itu ya pengen dibenerin. syukur syukur kalau saya sudah bener, nah kalau saya malah salah ? kan jadi tahu salah saya dimana.
"heran deh, jej itu memang orang aneh. hidup kok mau saja dikomentari, kalau Ik ? ya ogah. siapa elo ?" sambar teman saya lagi.

09:40 Posted in Cerita | Permalink | Comments (43) | Email this
26 September 2007
yang benar itu apa sudah yang paling benar ?
puasa ngga puasa, suasana disini sepertinya sama saja. kalau sudah membicarakan orang merembetnya kemana mana. saya yang niatnya ingin menegur para jeung jeung itu kok malah kena dampratnya. "dijaga lho jeung omonganya, bukannya Jej lagi puasa." kata saya. "lha sampeyan kalau punya telinga juga ikut mendengarkan, mbokya ditutup." jawabnya. alhasil kita malah beradu mulut, apakah mulut dia ataukan telinga saya yang salah. ( sebenarnya saya juga bingung dengan istilah ini. masak mulut kok diadu. memangnya tinju ? maklum saja. mengingat IQ saya yang jongkok ya jadinya saya kurang paham dengan istilah istilah seperti itu. )
sering kali saya diceramahi, perihal saya sering mengatakan kalau saya ini bodoh. saya ini ngga mampu. atau saya ini berIQ jongkok. saya dikatakan kurang berterima kasih juga dikatakan tidak menghargai karunia yang Tuhan beri. bahkan saya dikatakan menghina ciptaanNya. padahal saya ini ngomong apa adanya. bukan bermaksud untuk menyindir atau bukan bermaksud untuk mengeluh. tapi saya berusaha untuk jujur. saya menghormati Tuhan karena sudah menciptakan saya seperti ini. kondisi saya yang jongkok ini, bukankah sebuah pemberian dariNya ?
kita lupakan dulu masalah mulut. kembali lagi kejudul yang diatas. saya mau serius sedikit. yang benar itu apa sudah yang paling benar ?
bebarapa hari yang lalu saya membaca sebuah postingan dari seorang teman. ceritanya dia kena tegur oleh seseorang karena dia memelihara anjing dikamar kostnya. lalu dengan beralasan dia berkata yang intinya kenapa memelihara sebuah anjing saja dianggapnya haram, apa dia ngga ngaca kalau dia kerjanya minum minum, dugem, main main cewek. lagipula sholat saja ngga pernah kok bisa bisa dengan sepelenya mengharamkan soal anjing. jujur saja dalam hal ini saya bingung ( mengingat IQ saya jongkok seperti diatas ) ini yang benar yang mana, yang salah siapa ?
berbicara soal anjing, saya jadi ingat ayah saya. hal itu dikarenakan ayah saya pernah memelihara anjing. beberapa tahun yang lalu ayah saya dikasih seekor anjing sama seorang tetangga. ngga tanggung tanggung. anjing tersebut adalah anjing gembala jerman. ada sertifikatnya. ada kartu kesehatannya. juga ada silsilah keturunannya. alhasil ayah saya membuatkan kandang sebesar 4 x 4 meter dibelakang rumah paling ujung. ayah saya juga memberikan makan yang teratur. daging sapi cah, tulang iga, dan susu. juga tablet kesehatan sehari tiga kali. saya hitung hitung untuk biaya sianjing mungkin sekitar Rp. 50.000 sehari. saya sempat berfikir. apa sekarang ini saya punya saudara angkat. pasalnya sebegitu sayangnya ayah saya dengan anjing tersebut. sampai sampai memberikan fasilitas ekstra melebihi fasilitas yang dia berikan pada anaknya.
saya pernah bertanya, kenapa harus memelihara anjing. saya tanya demikian karena saya memang tidak suka dengan anjing. agama yang saya anut juga mengharamkan anjing. najis. lalu dia menjawab, ini karena dia menyanyangi binatang. salah satunya ya anjing itu. apalagi anjing gembala jerman yang sah. pernah anjingnya itu ditawar seseorang dengan harga 4,5 juta tapi ayah saya tidak memberikannya. lha wong ini barang pemberian kok dijual. lagi lagi katanya.
nah, yang membedakan antara ayah saya dan teman saya itu adalah ayah saya tidak pernah menganggap dirinya itu islam. dia tidak sholat, tidak puasa, tidak pernah kemasjid. dia tidak beragama. pernah suatu hari ada seorang tetangga mengajaknya pergi kegereja, dia juga menolaknya. mungkin agama bagi dia hanyalah simbol atau status, saya sendiri tidak mengerti apa jalan pikirannya itu. hal ini yang membuat saya sedih. sampai setua ini ayah saya belum punya keyakinan. saya selalu berkeinginan. alangkah indahnya jika ayah saya masuk islam. sadar atas semua kekhilafannya. saya sendiri tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi. "sebagai manusia, saya mengakui adanya Tuhan. dan sebagai manusia hanya dengan membedakan yang benar dan yang salah. itu sudah cukup." katanya suatu hari. maka dari itu. seperti memelihara anjing ya bagi dia sah sah saja. toh itu menyayangi binatang. bukankah anjing juga ciptaan Tuhan. bukankah agama agama itu juga menyuruh kita menyayangi makhluk makhluk ciptaanNya. katanya lagi.
lalu dia juga berkata, kalau orang mengaku punya agama, padahal dia tidak beribadah, tidak pernah kemasjid atau kegereja, dan selalu berbuat salah padahal tahu kalau itu perbuatan salah. bagaimana ? masih mendingan saya yang tahu yang benar dan yang salah ataukah mendingan dia yang mempuanyai agama.
saya hanya terdiam mendengar hal tersebut. saya merasa tertusuk. bukan berarti saya meragukan keyakinan yang saya anut dan saya percayai. rasanya sebagai orang yang beragama saya juga sering sekali melakukan perbuatan perbuatan yang salah itu. membicarakan orang waktu berpuasa seperti halnya teman saya diatas, subuh selalu terlambat bangun, datang dimasjid paling akhir, sholat dishaf paling belakang, mimbar ceramah tidak pernah mendengarkan, lalu pulang tanpa beban. tapi, jika disuruh meminta minta, saya jagonya. ya Tuhan, berikanlah saya kemudahan dalam menjalankan hidup ini, berikanlah saya kesehatan, keluarga saya, teman teman, juga saudara. jadikanlah saya orang yang tabah, jadikanlah saya orang yang setia, terhadapmu, terhadap agamamu dan kitapmu. pada keluargaku dan istriku. berikanlah saya keturunan, rejeki yang melimpah, dan keselamatan. tak lupa ampunilah segala dosa dosaku, dosa dosa orang tuaku, ibuku, juga ayahku yang belum sekalipun menyembahmu.
ya, saya hanya bisa berdoa. mendoakan orang tua saya, ayah saya, ibu saya, mendoakan keluarga saya, istri saya, juga saudara saudara saya. saya hanya bisa meminta. bukankan saya ini manusia yang serba kurang ?

11:25 Posted in Curhat | Permalink | Comments (46) | Email this
25 September 2007
doa hari raya
belikan aku baju baru, bulan.
ingatkah ? sebentar lagi lebaran datang.

08:56 Posted in Puisi | Permalink | Comments (26) | Email this
21 September 2007
mencari malaikat
saya menyebut anak laki laki itu bernama mata, sebab ia lahir saat matahari enggan datang seperti senja tertelan petang. waktu itu hanya terdengar suara ibu yang melahirkannya berteriak teriak kesurupan, menyumpah serapahi seorang laki laki yang diatas namakan iblis, setan, binatang, dan segala macam mahluk malam yang mendesis berbisa.
ya, konon katanya laki laki itu tidak bertanggung jawab. kabur entah kemana. neraka. mungkin jawabnya jika saya bertanya padanya. akhirnya perempuan itu yang menanggung semua beban tersebut. menanggung semua penderitaan kehidupan yang keras. hingga saya selalu saja mendengar umpatan umpatan kasar tanpa alasan yang dia tujukan kepada anaknya. saya merasa kasihan padanya. merasa iba.
pernah pada suatu ketika saya tanyakan padanya, ada apa dengan mata ? lalu dia hanya menjawab dengan tatapan setan. "bukan urusan kamu !!!" lalu membanting pintu rumahnya dengan keras. sebenarnya rumah itu hanyalah rumah kontrakan yang bersebelahan dengan rumah saya. rumah itu ditempatinya setahun bersama laki laki sebelum mata lahir. ini artinya sudah empat tahun perempuan itu tinggal disini sendiri bersama anaknya.
sementara saya masih mendengar mata kecil terus menangis. menangis sampai ilu matanya kering dan habis. sementara ibunya masih terus memaki maki. "dasar anak setan, anak binatang, menangis saja terus kerjanya. bisa diam apa tidak !!!" bentaknya, yang sebenarnya saya sendiri mengerti kalau makian itu sebenarnya dia tunjukan kepada laki laki yang meninggalkannya pergi. hingga akhirnya mata kecil yang menjadi pelampiasan semua ini.
oh ya, saya belum memperkenalkan diri saya. nama saya rhesya. seorang perempuan. tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang diri saya. saya hanya seorang perempuan yang sangat menyukai anak kecil. entahlah, mungkin karena masa kecil saya yang sangat bahagia. saya berfikir bukankah masa kecil itu seharusnya memang bahagia. dielukan, ditimang timang sayang, dan bermain bersama teman teman. bukankah seharusnya begitu. tapi kenapa anak kecil bernama mata itu jauh dari kata bahagia. tidak pernah disayang juga selalu sendirian.
why - by: carlos escobar
malam malam berikutnya saya pasti selalu mendengar tangisan mata yang menyayat hati. saya tahu kalau anak itu pasti lapar. maka saya pun memberikan roti dan sekaleng susu. tapi lagi lagi ibunya yang keluar dengan sorot mata yang berapi api. lalu menerima susu dan roti yang saya bawa tanpa berkata terima kasih.
hal tersebut ternyata bukan untuk pertama kalinya. para tetangga pun sepertinya sudah kapok berurusan dengan perempuan itu. sepertinya dia tidak butuh anaknya dikasihani. biar saja anak setan itu mati. hingga sampai sekarang para tetangga itu tak ada yang mau peduli lagi.
mata, ah mata. bocah kecil itu. jika saya melihatnya, entah kenapa rasanya seperti melihat kesedihan yang sangat mendalam. sering kali dia duduk dibibir lincak yang tinggi depan rumahnya. hingga kaki mungilnya melambai berjuntaian. entah apa yang sedang dipikirkannya. hanya rembulan remang yang ditatapnya sambil menunggu kapan ibunya pulang. terkadang anak kecil itu tertidur dilincak karena lelah menunggu. bahkan gigil angin malam yang atis menembus nadi tidak pernah mau peduli. ingin saya mengangkatnya dan merebahkannya diranjang. mendekapnya dan memberikan kehangatan padanya. tapi saya urungkan niat itu. saya tidak mau lagi berurusan dengan perempuan gila itu. akhirnya saya hanya menyelimutinya. sekedar memberikan kehangatan dan melindungi badannya dari hembusan dingin malam.
terlihat tidurnya sangat nyenyak. nyaman. saya belum pernah sekalipun melihat wajah bahagia seperti ini. wajah anak kecil yang tersenyum dikala tidur. mungkin peri peri baik hati itu yang menemaninya dialam mimpi. entah kemana para peri itu membawanya pergi. andai saya bisa melihat negeri dibalik mimpi itu. andai saya juga bisa menemaninya masuk kedalam alam mimpi. tapi saya lagi lagi hanya bisa tersenyum penuh haru. saya meninggalkan mata yang sedang berpetualang jauh bersama bidadari. melepaskan kesedihan hati. melupakan hari hari yang penuh sepi.
malam pun berlalu. mengganti pagi. terasa lembut seperti hosti. sisa sisa dingin malam masih melekat sebelum hangat sulur cahaya fajar mekar. mata terbangun dari mimpi. peri peri menghilang. para bidadari telah pergi. entah kapan mereka datang lagi. kini hanya kupu kupu yang berkitaran dihalaman. disela sela rumput dan ilalang yang tinggi menjulang. kini hanya burung burung gereja yang terus berkicau. terbang merendah, hinggap dihanan memberi makan anaknya. sesekali mengajari bagaimana caranya terbang.
pagi itu suara tangis mata membangunkan saya dari tidur. suara tangis lambat laun lirih perih. menyayat nyayat. suara tangis itu menggores hati. apa lagi yang terjadi. kenapa tangisan mata kali ini berbeda dengan tangisan tangisan sebelumnya.
akhirnya saya mengerti, perempuan itu semalaman tidak pulang. perempuan itu meninggalkan mata sendirian. berteman gelap, berselimutkan malam, dilincak depan rumahnya. meninggalkan mata kecil kelaparan. meninggalkan semua beban hidup, meninggalkan anak setan yang sudah dilahirkannya. saya marah. marah. tegakah seorang bunda berbuat seperti itu.
mata terus menangis. terus menangis memanggil ibundanya. "bunda... bundaaa... bunda dimana ??? mata lapar..." begitulah suaranya yang lirih. kemudian saya menghampirinya penuh dengan cinta. menggandeng tangan kecilnya yang mungil. sedikit terdiam sedikit menoleh kearah belakang. melihat halaman rumah yang kian lama kian tenggelam. kemudian saya mandikan dia. saya siram dan usap tubuhnya dari luka yang pekat melekat. saya seka air matanya yang garing mengering. saya bersihkan rambutnya dari sindap dan lindap yang lengket. dan lihatlah. betapa dia kini tampak damai.
"kamu baik baik saja kan Ta ?" tanyaku, tapi mata hanya membisu.
"sementara kamu tinggal disini saja ya, setidaknya sampai ibumu pulang." kataku, tapi sekali lagi mata hanya mengangguk, lalu menunduk.
hari hari itu saya habiskan bersama mata kecil. saya selalu bercerita tentang peri peri kecil. saya selalu bercerita tentang bidadari yang turun dari balik pelangi untuk menemui anak anak yang baik hati. saya selalu bercerita tentang malaikat malaikat yang terbang dengan sayapnya yang mengembang dengan indahnya. saya selalu bercerita tentang para penghuni surga yang ramah. saya selalu bercerita tentang dongeng dongeng. para kurcaci yang suka menari, juga tentang negeri impian dimana setiap anak bisa bermain sepuasnya. hingga letih datang menghampiri.
"kamu sedang menggambar apa Ta ?" tanya saya.
"menggambar malaikat." jawabnya.
sebenarnya saya tidak paham tentang jawabannya itu. saya benar benar tidak paham. mungkin karena saya selalu bercerita tentang dongeng dongeng yang tidak masuk akal padanya. hingga dia bisa berkata seperti itu.
"kenapa kamu menggambar malaikat ?" tanya saya lagi
"aku mau jadi malaikat." jawabnya
"apa enaknya menjadi malaikat." saya betanya lagi
"bisa terbang."
"untuk apa terbang."
"mencari bunda yang pergi dibawa setan."
kemudian mata terus menggambar, melanjutkan gambarnya. dalam pikirannya, mungkin dia berharap kalau suatu saat dia akan benar benar menjadi malaikat. mencari ibunda yang pergi meninggalkannya.
***
saya menemukan ide tulisan ini waktu dikereta dalam perjalanan pulang menuju solo. ketika itu rhesya melihat seorang anak kecil mungil yang duduk didepan kita. terlihat suci, bersih, murni, bersama ibunya yang setia memegangnya. menggandeng tangannya. menimangnya dengan sayang. terlihat anak kecil itu terus melihat kearah kita. saya hanya berusaha mencerna apa arti tatapan itu. mungkinkah dia bertanya. apakah saya, apakah rhesya, bahagia seperti dirinya ?

14:50 Posted in Narasi | Permalink | Comments (39) | Email this
20 September 2007
sebab rhesya ada diyogya
akhirnya rhesya benar benar menemukan mata. tidak memungutnya dijalan seperti waktu itu. tapi dia menjemput saya distasiun tugu yogyakarta. entah apa yang harus saya katakan. suprise suprise ? senang ? atau bahagia ? entah kata apa yang tepat untuk mengungkapkannya. pasalnya memang hari ini saya bertemu dengan salah satu inspirasi saya itu. seperti halnya agustinus wahyono bertemu oji, putu wijaya bertemu amat, atau seno bertemu sukab.
ini bukan narasi seperti waktu itu. tapi sungguh ini benar benar terjadi. dan gambaran rhesya dipikiran saya jauh berbeda dengan yang saya utarakan waktu itu. karena itu saya sampai kehabisan kata. tidak banyak bicara. saya hanya sanggup melihat kedua mata yang bening itu. mungkin memang benar adanya kalau kedua mata itu adalah mata yang dia temukan dipinggir jalan pada suatu hari.
ah, rhesya. terbuat dari apakah dia ?
tidak tidak. saya tidak mau bernarasi disini. maaf, bukan tidak mau tapi sedang tidak ingin. saya hanya sedang menikmati kebahagiaan ini. sebab hari ini saya memang bertemu seorang teman bernama rhesya.
"ta, dimana ?" sebuah sms datang.
"diyogya bersama malaikat." jawab saya singkat.
thanks ya rhe...
19:50 Posted in Cerita | Permalink | Comments (23) | Email this
17 September 2007
menjadi pelawak
saya baru sadar akhir akhir ini kalau hidup saya itu hanya sekedar bahan tertawaan. bagi saya itu tidak masalah. toh saya malah bersyukur. hidup yang hanya sebentar ini kalau dihabiskan dengan tertawa saya rasa sangat membahagiakan.
minggu lalu, sempat saya ceritakan kalau saya pergi kejogya dan bertemu dengan beberapa teman disana. salah seorang teman bekata kalau saya ini sudah tidak romantis lagi. yang mungkin maksudnya adalah tulisan tulisan dalam blog saya yang sudah tidak lagi seperti dulu. romantis, puitis, termehe mehe. wah. jujur saja, sebenarnya saya juga bingung jika saya ini dibilang romantis. lha gimana ndak bingung, wong keseharian saya itu jauh dari kata kata itu. saya tidak merokok, minum, makan, mandi juga tidak gratis. lha kok bisa bisanya saya dibilang romantis. itu satu.
nah yang kedua, ada yang mengira saya ini perempuan. ini benar benar guyon yang kelewatan. seharian saya bekerja, disuruh ini disuruh itu, diperkosa sampai malam, dipaksa menjual diri, sampai dasar seperti simbok simbok dipasar. lalu begitu ada waktu senggang saya lewatkan untuk membuka blog dan membaca komentar, malah saya dikejutkan dengan komentar. "loh, tunggu! tunggu!... ehk, jadi Mata itu ternyata Oom dan bukannya Tante, to?" nah, saking terkejutnya, saya malah pergi kekamar kecil untuk melihat isi dibalik celana saya, apakah saya ini laki laki atau perempuan. begitu saya yakin kalau saya ini laki laki, saya baru minta konfirmasi kedia "saya ini laki laki lho ya. jangan salah. !" tapi ya itu tidak menjadi masalah. mungkin karena Ik suka ngomong Jaj Jej Jaj Jej sama suka ngomong jang jeung jang jeung. jadi dia mengira saya ini tante tante. sekarang dah jelas kan boo siapa Ik ? nah kalau Jej belum jelas ya kesini biar bisa diperjelas lagi. ketemuan maksudnya...
sampai suatu hari ada seorang teman yang berkata kalau istri saya itu sangat polos. lucunya puolll. ( sebelumnya maaf, mungkin sampeyan sampeyan bosan kalau saya terlalu sering menulis tentang siapa istri saya itu. tapi ya bagaimana lagi. wong saya melawati hidup ini bersama dia. jadi ya mau ngga mau ya saya harus cerita siapa dia. ) lha saya katakan. wah cocok ngelawak kalau begitu. apa tak suruh jadi member WS saja kata saya. akhirnya teman saya satu itu malah bilang. "wah, ide yang bagus! setuju mata! beneran ya si aurel masuk ke WS. taktunggu di emailku kamu sekalian mat. kasitau aurel yaa." katanya. tapi yang lolos seleksi ngelawak itu cuma saya seorang. karena memang istri saya tidak tahu menahu soal ini.
saya pun akhirnya menjadi bagian dari kumpulan grup lawak itu. tertawa berjamaah kata bu guru. bercerita tentang keseharian saya dengan istri saya dirumah, bercerita tentang keseharian saya dengan teman teman kantor yang suka berkata Jaj Jej Jaj Jej, atau hal hal sepele yang kalau dipikir pikir bisa membuat kita tertawa. saya rasa hal ini sangat menyenangkan. dan saya rasa hidup saya jadi bertambah bahagia karenanya. gimana ? sampeyan mau ikutan apa ndak ?

15:17 Posted in Cerita | Permalink | Comments (38) | Email this
14 September 2007
puasa dulu dan sekarang
saya termasuk orang yang sangat bahagia jika bulan puasa datang. mungkin tidak perlu saya ceritakan lagi kenapa saya bahagia. sudah jelas, setiap melakukan ibadah, menjalankan perintahNya pasti pahalanya berlipat ganda. itu salah satunya.
apalagi dulu, waktu jamannya sekolah dulu. begitu datang bulan puasa, libur selama satu minggu. seneng tho ? lha gimana ngga seneng. senengnya cah sekolah itu kalau ngga libur ya pulang pagi. apalagi waktu puasa. bangun jam 3 pagi, sahur. makan nasi sama telur. kadang kalau kepepet ya bikin sarimi. terus pamit, subuhan ke masjid. selesai, dolanan mercon. wajar, lha kalau sudah ketemu sama konco konco, wes, pengennya itu main terus. tapi lucunya ya ngga ada rasa khawatir, gimana nanti kalau pulang dimarahi apa ngga. ngga ada rasa takut. kalau kira kira ibu mau marah, ya bilang, "puasa lho bu, kan ngga boleh marah marah." kan gampang, kata saya.
begitulah kalau libur puasa selama seminggu, kesempatan bermain itu lebih banyak. pamitnya tarawih ya dimasjid cuma sholat isya. memang dulu itu mikirnya,... gimana ya, kalau diingat ingat itu ya malu sendiri. asal dapat tanda tangan. waktu puasa itu pasti ada buku kegiatan bulan ramadhan. istilahnya ya buku tugas. maksudnya ya biar rajin ibadahnya. ceramah isinya apa, subuhan imamnya siapa. ditulis, lalu minta tanda tangan sama yang bersangkutan. tapi ada juga yang dikarang. diisi sendiri, ditandatangani sendiri. yang penting ikut ngumpulin.
begitu libur sudah selesai. masuk sekolah. lemes. tapi ya memang dulu waktu puasa itu, jam sekolah itu pelajarannya dikurangi. biasanya pulang jam satu, sekarang jam sebelas sudah pulang. tapi kalau saya sampai rumah ya jam lima. "kamu kok jam segini baru pulang. sekolah pulang jam sebelas kok jam lima baru pulang." kata ibu yang sebenarnya marah tapi ya dibikin sabar. "ngabuburit." jawab saya. yang sebenarnya ya keluyuran sama teman teman. besoknya lagi pulang jam lima, besoknya jam lima. pokoknya nyari alesan terus. lha kok ini jam lima lagi. "lha tadi ada pengajian disekolahan." kata saya. yahhhh, besok kalau kamu pulang sekolah sampai rumah jam lima lagi, awas, sehabis buka puasa ojo takon doso." meh nginep, lha takut. tapi ya akhirnya ngga jadi. saya pikir nanti kalau ngga pulang malah tambah perkara. akhirnya ya pulang sekolah terus pulang. bingung mau ngapain, tidur sampai sore. daripada lapar.
kalau dipikir pikir, dulu itu memang benar benar keterlaluan. sekarang, kok rasanya puasa itu ya lancar lancar saja. saya masih ngga percaya. ngga percayanya itu saya lewati bulan puasa ini sama istri saya tercinta. walaupun saya yang sering kali bangunin dia waktu sahur. kemaren saya bangunin aurel malah ditendang. padahal saya bangunin dia itu juga sudah pelan pelan. "kok malah nendang tho hon ?" kata saya. "lha tak kirain kucing." jawabnya. lha kok malah... wes, saya hanya bisa geleng geleng kepala. "opo ono kucing bangungin sahur ?" kata saya lagi. "sahur ya mas ? dah bikin teh hangat ?" jawabnya lagi. wes ditendang, suruh bikin teh hangat. yah, tak bikinin. nanti kalau lama kelamaan saya disuruh masak, lha remuk awak'ku.
tapi ya, walau begitu kok rasanya nikmat. menjalani ibadah dibulan puasa dengannya itu serasa indah. subuhan ya subuhan bareng. taraweh ya taraweh bareng. kalau ada acara pengajian ya pengajian bareng. jadi, waktu itu seperti berlalu begitu saja. tidak terasa. tiba tiba sudah buka puasa. tiba tiba lagi sudah lebaran. jadi ya kalau ibadah itu dilakukan dengan rasa suka, dinikmati, juga dijalani dengan senang hati. rasa rasanya kok ya adem adem saja. besok pengen ngulang lagi, terus menanti nanti, kapan ya bulan puasa datang lagi.
lha kok bicara saya sudah seperti ustad gini. ya sudah. selamat menjalankan ibadah puasa. semoga puasa hari ini, besok dan seterusnya akan berjalan lancar. dan segala amal ibadah kita bisa diterima oleh Allah SWT. amin.

14:40 Posted in Cerita | Permalink | Comments (38) | Email this
10 September 2007
aurel itu...
istri saya. sebenarnya saya bingung mulai dari mana saya cerita. sungguh, kalau sudah ngomongin istri saya yang satu itu, ( lha memangnya ada yang lain ? wong satu aja ngga habis habis. ) maksudnya kalau sudah ngomongin dia memang ngga pernah ada habisnya. selalu saja nanti larinya kemana mana. tapi ya ngga apa apa. saya paling suka ngomongin dia. rasa rasanya tuh memori yang dulu dulu pasti teringat lagi. tapi pernah juga kejadian, lha gara gara ngomongin dia, cerita soal dia ketemannya, saya malah didamprat habis habisan.
"wes puas sing ngerasani mas ?" katanya. lha saya juga bingung. kok tiba tiba dia bilang begitu. usut punya usut ternyata temannya yang saya ajak bicara itu cerita ke dia kalau kata saya dia itu begini begini.
"kamu tuh kalau pengen tahu rumus'e, yang namanya cinta itu ya begitu itu, ngomongke terus." jawab saya.
"lha sebenarnya kayak gitu itu maksud'e apa mas, wong sama istrinya sendiri kok sukanya ngerasani. ben opo ?"
"ngga ada maksud apa apa hon, sumpah. cuma seneng aja."
"seneng kok ngerasani. ngomong ngomong'ke, cerita keteman teman kalau aku ini begini begitu. kalau dah ngga suka mbok ngga usah aneh aneh. tinggal dianter pulang, wong aku yo masih punya rumah." jawabnya.
"lha kemaren mau tak anterin, bensinku entek je..." jawab saya sambil cengingisan.
"pinter alesan..."
"wes tho hon, aku dibikinin kopi dulu."
"mbok bikin sendiri..."
"ya beda, kalau yang bikinin kamu itu kan rasanya jadi nyes."
"halah,... aksimu, merajuk..."
"lha, itu dah tehnik tho ? kayak dulu jaman pacaran, masak ngga ingat ? mesra mesraan."
"lha dulu kan aku juga merasa kasian sama kamu mas, coba saja kalau ngga tak terima, kalau ngga tak kukup apa ya ada sing mau sama kamu."
"he eh, aku dulu kan gembel, tidur saja ditong sampah. LHA KOE RA WERUH PAS AKU KERAH...,nang ngetong kae."
"marah...terus keloro loro."
"masuk tong sampah, dulu duluan rebutan tulang je."
"rebutan tulang sama siapa ?"
"helly !!! wong ngomongmu ya kebangetan banget."
begitulah singkatnya kira kira keseharian saya kalau dirumah sama aurel. kalau ngga smash smash'an ya mesra mesra'an. tapi sepertinya banyak mesranya. kata teman, saya sama aurel itu adalah pasangan yang sangat harmonis. "sampeyan itu beruntung lho mas bisa dapat istri seperti mbak aurel. sudah orang cantik, rajin, baik. tapi..." "tapi dia yang musibah dapetin saya. mau ngomong gitu kan ?" lanjut saya. lha ya sudah saya tebak, batin saya. ngga dirumah, ngga dikantor kok saya jadi bahan celaan.
tapi ya jadi manusia itu memang serba membingungkan. makanya saya masih dicap setengah setengah. dulu waktu belum nikah ditanya kapan nikah, bingung. setelah nikah ditanya kapan punya anak, tambah bingung lagi. apalagi punya istri cantik. was was. takut dilirik orang. serba salah. tapi ya ngga apa apa. yang penting itu pengertian sama suami. pikir saya. ya seperti aurel itu. mau ini itu serba lapor. "kalau sudah ngga ngerokok ya jangan sampai ikut ikutan ngerokok lho mas, keselak, aku sing repot." yah,... memang pikirannya itu sehat. "mbok ya sekali kali makan buah tho mas, biar ada gizinya. makan kok daginggg terus, tua nanti kena darah tinggi, trus stroke. mau ?" yah... nurut. memang dia itu pengertian. kurang apa coba punya istri seperti itu. "hon, peci rajut yang kamu belikan kemaren itu ngga muat lho. sesak." kata saya. "lha ya sirah'e diongoti." jawabnya. "lha ya sakit tho hon. kayak potelot wae." "ya dikompres, kasih betadine, nanti ya lembut." wes, tak diemin terus. sabar. lha gimana ngga sabar, wong saya juga rada rada takut sama dia. salah siapa punya istri cantik.
nah, baru saja saya bicarakan, dia barusan telp saya. memang, kalau perasaan wanita itu tajam. nanyain saya sudah makan apa belum, nanyain sekarang saya pulang jam berapa, bilang kalau nanti pulang hati hati. lalu cerita kalau tadi dia makan pakai sayur asem, sama tempe, sama telor. katanya yang masak nyokap. lalu dia bilang kalau tadi habis nyuci baju banyak banget. setelah semua itu selesai dia telp saya. dan sekarang katanya dia mau menyelesaikan pekerjaannya. mungkin laporan harian yang tertunda. entahlah. duhhh, malam ini saya ingin pulang saja. kapan kapan saya lanjutkan lagi cerita cerita tentang dia. 
nb : oh, ya. tak lupa saya ucapkan terima kasih buat yuni, sama amma yang sudah menjamu saya sabtu siang kemaren dijogya. seneng banget deh ketemu sama kalian. soto sulungnya enak lho, kapan kapan saya kesana lagi ya jeung...jangan kapok lho... :)

20:05 Posted in Cerita | Permalink | Comments (48) | Email this
07 September 2007
aurel...

*klik gambar untuk memperbesar

13:45 Posted in Puisi | Permalink | Comments (41) | Email this
05 September 2007
teringat masa itu

*klik gambar untuk memperbesar

11:45 Posted in Note | Permalink | Comments (32) | Email this



