« 2007-09 | HomePage
| 2007-11 »
30 October 2007
sumpah...
kan kuberikan apa saja
kan kulakukan apapun juga
membuat candi arca seribu
atau perahu untuk bulan madu
hingga kan kubuat kamu resah, berdoa
seperti roro jonggrang dan dayang sumbi meminta
"Tuhan, terbitkanlah matahari lebih awal"

12:15 Posted in Puisi | Permalink | Comments (47) | Email this
29 October 2007
untuk r
seperti apa aku dimatamu ?
seperti bunga !
seperti teringat lagu masa kecil kita dulu
"mawar melati, semuanya indah."
bukankah begitu ?

10:50 Posted in Puisi | Permalink | Comments (40) | Email this
25 October 2007
sebab, urusan saya ngeblog belum selesai !
masih ingatkah kamu ?
atau sudah kau lupakan mereka ?
yang pergi meninggalkan kita kesurga, dengan sisa sisa cerita yang ditinggalkannya
natasya anya,
inong haris,
susiawan wijaya.
besok ?
entah siapa ?
"jangan saya Tuhan, jangan saya...
urusan saya ngeblog belum selesai !!!"
lagipula, masih banyak keinginan yang belum tercapai :
berkumpul dan bertemu dengan para blogger terkemuka indonesia
menyuarakan pikiran dan pendapat yang berguna bagi sesama
atau mendapatkan nominasi dalam ajang penghargaan blog terfavorit
kelak,
jika semua ini sudah beres, jika perasaanku sudah menetap indah dalam keheningan dan kesepian, menggodai jiwamu, merayu ragamu, sepoi sepoi mengipasimu, sayup sayup membisikimu, dalam perasaan rinduku padamu, penuh kedamaian, seperti katak ditelaga pematang sawah, seperti kerumunan camar yang membagi wilayah, seperti matahari yang kelelahan manakala senja memerah, seperti belaian nenek ketika purnama hinggap diatap rumah, serta ribuan rindu yang pernah engkau kisahkan padaku.
dan jika telah kau baringkan aku di tanah, sesekali kenanglah
bukan dengan komentar, bukan dengan puisi dan sajak, juga bukan dengan postingan
cukup taburkan cinta cinta dari hatimu, yang tak pernah henti menetes, agar padam bara neraka.

12:55 Posted in Puisi | Permalink | Comments (48) | Email this
23 October 2007
yuuk...
beberapa hari yang lalu saya diajak seorang teman pergi ke pusat penjualan ponsel untuk membeli ponsel bekas yang bagus dengan harga yang terjangkau. sebenarnya saya bingung, kok bisa bisanya teman saya mengajak saya. lha pasalnya saya ini tidak begitu mengerti soal urusan dunia ponsel. apalagi dimintai pendapat soal barang bekas itu, apakah masih bagus atau tidak. daripada tidak punya kerjaan, ya akhirnya saya mengiyakan saja ajakan itu. kalau toh pendapat saya mengenai ponsel bekas itu ternyata meleset, ya anggap saja tugas saya sukses. sukses mengerjai teman saya itu maksudnya.
setelah berkeliling kesana kemari, akhirnya teman saya tidak sengaja melihat ponsel yang sudah lama dia inginkan. dia pun menanyakan perihal ponsel tersebut kepada mbak penjaga counter.
"lihat yang ini donk mbak." kata teman saya. si mbak penjaga itu pun mengeluarkan barang yang diinginkan teman saya. "bisa dicoba ?" kata teman saya. "maaf mas, baterenya habis." jawabnya.
cukup lama kami amati ponsel tersebut ( karena memang kondisinya masih bagus, barangnya juga oke. ) dan sepertinya teman saya pun tergiur untuk membelinya.
"ya sudah, ngga usah dicoba deh mbak. saya ambil yang ini. berapa harganya ?" kata teman saya lagi.
"maaf mas, yang ini sudah didp orang, nanti sore mau diambil." jawab mbaknya.
saya lihat teman saya geleng geleng kepala sambil mengeluarkan kicau kicauan. "puas Jej ?" kata saya.
lalu kami berdua pergi meninggalkan counter tersebut, masih dengan perasaan yang ngga karuan. apalagi teman saya, disepanjang jalan terus menerus mengeluarkan bunyi bunyian. kok ya bisa bisanya memajang barang dagangan yang sudah laku dietalase, sudah didp orang lagi. terlebih lagi kok ya ngga bilang dari awal kalau itu barang sudah laku. buat apa coba ? "buathuk'mu..." kata saya cekakakan.
nah, akhirnya saya pun menyarankan padanya untuk membeli barang yang sejenis tapi yang baru saja. sebab harganya terpaut tidak seberapa. teman saya pun mengangguk. kami pun berhenti dicounter yang khusus menjual ponsel baru. lalu teman saya pun bertanya kepada mbak penjaga tentang seri ponsel yang diinginkannya itu.
"oh yang seri itu mas..." kata mbaknya. wajah teman saya pun terlihat cerah. bahagia. akhirnya ponsel yang diinginkannya itu berhasil juga dia dapatkan. terlihat si mbak sibuk mencari kesana kesini. lalu duduk didepan komputer kerjanya dengan serius.
"maaf mas, stok untuk ponsel tersebut sudah tidak ada."
saya pun tertawa ngakak. "yuuk pulang." kata teman saya.
saya jadi teringat ketika saya kebandung beberapa bulan yang lalu. bersama teman sekantor, kami pun menunggangi kereta api lodaya di gerbong VIP. sewaktu makan siang, mbak petugas yang cantik itu menawarkan kami pilihan menu makanan. mau nasi goreng atau nasi rames. saya pun berkata "kami mau nasi goreng saja mbak." tanpa berdosa si mbak menjawab "kalau nasi goreng sudah habis mas, tinggal nasi rames." jawabnya. "atur aja deh mbak." kata saya. tiba tiba teman saya nyeletuk lagi "yuuk loncat." dan si mbak yang cantik itupun berlalu sambil menawarkan kedua menu makanan tersebut kepenumpang yang lain.
lalu kemaren, sewaktu saya dan teman teman sedang makan siang. tiba tiba ada seorang laki laki muda yang menyapa salah seorang teman saya. mungkin seorang kenalan, saya sendiri juga tidak tahu.
"apa kabar mbak...? lama ngga ketemu ? gimana sudah nikah ?" kata laki laki tersebut.
"kabar baik, nikah ? belum nih. siapa juga yang mau sama saya." jawab teman saya. lalu obrolan pun berlangsung cukup seru, sampai sampai kita kita dijadikan kambing congek. akhirnya si laki laki itu pun pamit pergi meninggalkan kita.
"jeung, bukannya jej sudah ditaken orang ?" tanya saya keheranan.
"ah, sampeyan itu mas, ngga bisa lihat orang seneng sebentar. cincin kawin Ik lepas, jomblo deh." katanya.
"yuuk kawin." sahut teman saya yang satunya.
"yuuk posting." celetuknya ketika melihat saya menulis tulisan ini.

07:40 Posted in Cerita | Permalink | Comments (40) | Email this
18 October 2007
punya anak ?
terengar kabar kalau anak tetangga saya baru saja melahirkan. saya bingung. sudah, sampeyan jangan heran kalau saya ini sering sekali bingung. kalau urusan bingung, saya ini biangnya bingung. jangan ditanya kenapa, sampeyan kan pasti sudah tahu kenapa saya sering bingung. sebab hal tersebut sudah sering kali saya singgung disetiap postingan saya. lha pasalnya, anak tetangga saya itu baru berusia 15 tahun.
"itu namanya sok bingung mas, alias mbingungi. kayak gitu saja kok bingung. hal seperti itu kan sudah sering terjadi. hamil diluar nikah, melahirkan, lalu kawin muda." sahut teman saya.
nah, begitu saya dikatakan sok bingung saya jadi semakin bingung lagi. bingung saya yang pertama, saya kaget ketika mendengar berita tersebut. berita tentang anaknya tetangga saya yang melahirkan diumur 15 tahun. kok ya bisa ?
"mas, anaknya pak anu melahirkan lho, kita mau nyumbang berapa ?" katanya. bukannya menjawab berapa duit yang akan kita berikan, malah saya bertanya.
"ah, yang benar ? memangnya melahirkan apa ?" tanya saya.
"ya, bayi. piye tho ?" jawabnya.
"lha siapa tahu mengeluarkan telur, wong itu bocah baru 15 tahun. masak bocah melahirkan bocah." jawab saya.
itu kebingungan saya yang kedua. nah, kebingungan saya yang ketiga. itu bocah juga statusnya belum punya suami. nah bagaimana bisa, wong belum nikah kok sudah punya anak ? teman saya lagi lagi menyahut. "lha ya bisa saja. hamil diluar nikah itu kan sudah menjadi gaya hidup. sampeyan saja yang kurang gaul." lha, itu kebingungan saya yang terakhir, saya dikatakan kurang gaul.
mari kira sama sama ndobos perihal punya anak ini. mengingat sampai sekarang saya belum punya anak, pernah suatu hari saya dikatakan kurang jantan. gila ! dulu saya mengira kalau arti kejantanan itu bisa berkelahi atau hebat diranjang. ternyata arti kata jantan tambah satu lagi, yaitu harus bisa punya anak.
saya tertekan. selalu merasa tertekan. walaupun saya sebenarnya tahu kalau tertekan itu enaknya berjuta rasa. tapi kalau tertekan yang ini benar benar ngga enak. lha gimana ngga enak, setiap waktu saya pasti ditanya kapan punya anak. ditanya ada masalah apa ? kenapa kok susah punya anak. dan sebagainya. bahkan pertanyaan kapan punya anak tersebut sampai menghatui istri saya. hal hal yang menakutkan singgah dibenaknya. jangan jangan nanti saya jadi tidak cinta dengan dirinya. jangan jangan nanti dia tidak disuka sama ibu bapak saya. jangan jangan begini, jangan jangan begitu. tapi tekanan tekanan ngga enak itu tidak membuat saya pusing. saya katakan padanya kalau sampai kapanpun saya akan selalu mencintai dia. dan cinta saya padanya juga ngga pernah berubah. saya juga katakan padanya, soal kita punya anak atau tidak itu urusan Tuhan. kalau memang yang diatas sudah mempercayai kita untuk punya anak toh hal itu pasti akan terjadi. tapi kalau Tuhan menggariskan kita harus bahagia tanpa punya anak, menjalani hidup berdua sampai tua. ya kenapa tidak. toh manusia hanya bisa menerima. ikhlas.
"lha ya itu kan sampeyan. trus, apa anak tetangga sampeyan itu juga ikhlas ? apa orang tuanya juga ikhlas ? apa saudara saudaranya juga ikhlas ?" tanyanya.
"lha ya ikhlas, mau gimana lagi, wong nasi sudah menjadi bubur. buktinya saya malah diberi bingkisan yang didalamnya ada nasi kuning lengkap sambal goreng ati, krupuk udang sama iwak abon dengan selembar kertas bertuliskan telah lahir dengan selamat." jawab saya sambil cengengesan.

16:45 Posted in Cerita | Permalink | Comments (42) | Email this
10 October 2007
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428H, Mohon Maaf Lahir dan Batin


15:55 Posted in Note | Permalink | Comments (42) | Email this
08 October 2007
pengecap
"pengecap ?" kata teman saya.
"bahasa indonesianya ngga banget deh nek, ngga EYD" lanjut teman saya lagi.
"suka suka donk, wong Ik jadi orang indonesia juga barusan." jawab saya ketus.
mungkin saya termasuk dalam golongan manusia pengecap. setiap saya bertemu dengan orang baru, saya selalu berkata dalam hati. mungkin si ini orangnya begini, atau mungkin si itu orangnya begitu.
lihat ada laki laki berisi, saya langsung mengecap, jangan jangan homo. lihat perempuan cantik dengan dandanan sedikit menggoda, saya langsung mengecap, jangan jangan perempuan ndak bener, ndak benar jalannya, ndak benar pakaiannya, juga ndak benar wajahnya. melihat seseorang keluar dari mobil mewah, saya juga langsung memberi cap jangan jangan belinya kreditan pakai uang warisan.
suatu hari, saya berjalan jalan disebuah pusat perbelanjaan. hari itu saya mengenakan pakaian layaknya anak kost yang berstatus mahasiswa abadi. kumal. ngga karuan. sandal japit celana blue jins yang sudah tidak blue lagi dengan jaket yang entah sudah berapa minggu tidak saya cuci. langkah saya terhenti didepan counter hp untuk melihat lihat. ketika saya menanyakan harga hp 3G keluaran terbaru. sipenjual hanya acuh dan meniadakan saya. pikirnya pasti saya tidak punya uang untuk membelinya. padahal memang benar.
lalu kemaren, saya berbuka bersama diklaten. bersama keluarga besar aurel. setelah itu bersama pula kami berangkat taraweh kemasjid. sebelum berangkat bapak menyuruh saya untuk mengenakan baju. katanya tidak pantas pergi kemasjid mengenakan kaos. saya dicap tidak sopan. saya bingung, apa Tuhan menilai pakaian yang dikenakan saat saya menyembahnya ? tidak memperbolehkannya mengenakan kaos putih spalding corak garis merah melintang ?
lalu sepulang taraweh langsung kami pamit pulang. sesampai dirumah, istri saya langsung duduk dimeja kerja lalu menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. itu pun sambil mengeluh stres setengah mati karena merasa tertekan.
"akhirnya sempet juga megang kerjaan dirumah ?" katanya.
saya sadar kalau selama ini dia sibuk dengan urusan rumah, bahkan sampai sampai pekerjaan yang dibawanya pulang tidak pernah tersentuh sama sekali. lalu dia meminta saya membantunya dalam doa agar bisa kuat menghadapi tekanan yang besar itu. saya bingung, lha pasalnya waktu saya menekannya, dia tidak penah minta doa.
"tumben hon minta doa, biasanya kan ngga pernah sampai memerlukan doa." kata saya cengingisan. lalu dia hanya geleng geleng saja entah apa yang dipikirkannya. mungkin saya sudah kena cap lagi.
saya pun kembali mengoreksi diri. apa manusia memang dilahirkan sebagai pengecap. mengecap sesamanya, mengecap lingkungannya, bahkan mengecap tanah airnya.
saya ingat dasar negara kita yang pertama berbunyi ketuhanan yang maha esa. bahkan waktu upacara jaman sekolah dulu, mulut ini selalu melantunkannya. mengecapnya bahwa negara ini menomorsatukan Tuhan diatas segala galanya. tapi kenyataannya ? korupsi yang sampai sekarang ngga ada habisnya. juga terorisme yang mengatasnamakan agama kalau tindakan itu adalah jalan singkat menuju surga. kalau sudah seperti ini, pantaskah saya cap kalau negeri ini negeri omong kosong ? lagi lagi saya bingung.
"ngga usah bingung. Jej jadi orang indonesia kan baru saja." celetuk teman saya.

09:40 Posted in Cerita | Permalink | Comments (37) | Email this
02 October 2007
renungan hari ini
"apa Jej ngga sadar kalau hidup ini cuma sebentar. entah hari ini, entah besok, atau lusa kita ngga tahu kapan kita akan pulang." nasehat teman saya suatu hari.
saya juga heran. lha pasalnya teman saya yang selalu menghina dan menyindir saya setiap saat, kok tiba tiba berbicara religius seperti itu. setelah itu dia melanjutkan kata katanya. "makanya, selama hidup didunia ini, banyak banyak melayani, banyak banyak memberi, banyak banyak beramal. kirimin kita kita parsel lebaran misalnya." oalahhhh, lha wong mau minta parsel saja kok ngomongnya sampai hongkong.
saya jadi teringat ketika saya mendengarkan kultum sehabis sholat taraweh. pesan yang disampaikan penceramah banyak sekali yang mengena diri saya. bahkan tidak sedikit hal hal tersebut saya lalai menjalankannya. seperti yang dikatakan teman saya diatas yang menyuruh saya untuk banyak banyak beramal. saya akui, selama saya menjadi manusia, kok rasa rasanya hidup saya ini selalu saja menerima. jarang sekali memberi. tangan saya selalu dibawah. jadi, postingan dengan judul `sosial atau soksial` dan `lupa melayani` yang pernah saya buat beberapa waktu yang lalu belum sepenuhnya 100% saya lakukan. "10% saja juga belum." sahut teman saya.
suatu hari. ada seorang teman bercerita kalau dirinya berbuat amal dengan membagi bagikan nasi bungkus kepada para pengemis. salah seorang pengemis menolak bungkusan tersebut. lalu dia berkata kalau jatahnya itu dikasihkan kepengemis lain saja yang lebih membutuhkan, karena dia tidak lapar. lalu temannya teman saya itu bercerita pada temannya dan temannya itu bercerita kepada saya tentang pengemis itu yang hidupnya serba membutuhkan tapi masih mau peduli terhadap orang lain. lagi lagi saya kesetrum, teman saya juga kesetrum, temannya teman saya yang beramal itu juga kesetrum. wes pokoknya seperti `pe-er` berantai, sambung menyambung menjadi satu. sekarang giliran saya yang bercerita. ( maaf, saya tidak bermaksud untuk menyetrum anda. )
hidup ini cuma sebentar. cuma numpang lewat. sesaat. cepat. begitulah katanya. lalu pertanyaan berikutnya, apa yang sudah kita lakukan semasa kita ini hidup ? jujur saja, saya selalu takut jika berbicara jalan pulang. jalan pulang disini adalah jalan pulang menghadap sang pencipta. pertanyaan selanjutnya, pulang kemana ? surga atau neraka ?
sering kali saya menghadiri acara duka cita tersebut. saya melihat banyak sekali pelayat yang meneteskan air matanya. mengenang masa masa indah yang pernah dilalui bersama. seperti halnya waktu nenek saya meninggal dunia. peringatan tujuh hari sampai seperti jumat kemaren waktu dua tahun sepeninggalnya terus diperingati. lantunan doa dialunkan. taburan bunga beraneka macam warna dan rupa mengharumkannya. tak lupa acara makan makan yang meriah, membuat kita yakin kalau nenek dalam tidurnya yang panjang pasti tesenyum senang. bahkan tak lupa sebagai cucunya saya juga pernah menceritakan hal hal tentang nenek pada teman teman. saya menulisnya diblog, mengenangnya, membuatkan nenek sebait puisi, lalu membacanya berulang ulang.
lalu saya bayangkan jika hal itu terjadi pada diri saya. jujur saja saya takut membayangkan hal ini terjadi. tapi, manusia seperti saya ini apalah arti dimataNya. jika Dia bilang jadi maka terjadilah. ayah dan ibu menangis, saudara saudara saya meneteskan sembab air mata, entah berapa pelayat yang datang memberikan ucapan bela sugkawa. bunga bunga bertaburan, juga teman teman yang mengenang saya lewat tulisan seperti halnya saya menulis tentang nenek saya tercinta, dengan puisi, dan membicarakannya berulang ulang. tak lupa peringatan sampai seribu hari dengan lantunan doa yang indah.
lalu saya mulai mengharap lagi. mengingat saya ini manusia yang tidak sempurna dan serba kekurangan. semoga saja Tuhan juga menyediakan segala fasilitas yang indah, memperlakukan saya sedemikian rupa, dan memberikan saya service yang memuaskan layaknya dunia mengenang saya. kalau tidak ? "siap siap disiksa lagi deh Jej." sahut teman saya sambil tertawa.

21:00 Posted in Cerita | Permalink | Comments (26) | Email this
