« 2007-10 | HomePage | 2007-12 »
13 November 2007
hiatus
Tuhan...
kan sudah saya bilang, jangan kemana mana
saya akan kembali
setelah pariwara berikut ini.

17:30 Posted in Note | Permalink | Comments (44) | Email this
09 November 2007
please judge the book by it's cover
kali ini saya dibilang sombong. lagi lagi saya yang bingungan ini ngga ngerti kenapa teman saya itu bilang saya ini sombong. bahkan sampai tulisan ini saya buat, saya masih bertanya tanya dalam hati, kenapa teman saya itu bilang saya sombong.
sebelumnya saya pernah ditanya, kok selalu cerita teman saya ini, teman saya itu, apakah teman saya ini beneran ada apa tidak ? ya terang saja saya jawab ada, memangnya saya sudah gila ngomong sendirian ?
lalu saya korfirmasi kedia, ingin tahu kenapa teman saya itu bilang saya ini sombong. maksud saya begini, saya mau minta penjelasan kenapa saya dikatakan sombong. nah kalau saya ini tahu penjelasannya, saya kan bisa merubah sifat saya yang sombong itu. dia sendiri pernah berkata "semua itu harus ada alasannya, sebab akibatnya." begitu saya tanya kenapa saya dibilang sombong dia malah menjawab "kamu kan pujangga, kamu kan pinter, kamu harusnya tahu kenapa saya bilang kamu sombong." sekarang saya makin bingung, sampai dibilang pujangga, sampai dibilang pinter. wong saya ini hanya merasa sok nyastra, kok dibilang pujangga. apalagi pinter ? sudah berkali kali pula kalau saya katakan IQ saya ini jongkok. saya ini sudah bingungan malah ditambah bingung lagi. pokoknya jawabannya itu muter muter yang intinya tidak memberikan alasan kenapa dia bilang saya sombong. tapi ya lagi lagi itu hak dia bilang kalau saya ini sombong. wong dikatakan mulut saya seperti sampah, dikatakan saya ini ngawuran, dikatakan saya ini ndobosan, ngga masalah kok, asalkan beralasan kenapa saya begitu ? nah kalau ngga ? apa kata dunia ?
teman saya juga berkata kalau saya ini terlalu blow up kehidupan pribadi didalam blog. "tulisan kamu kok sekarang ini beda yah dengan yang dulu, sekarang lebih blow up gitu. padahal kamu kan laki laki, geli aja ngelihatnya. tapi ya terserah kamu, wong itu blog kamu."
lagi lagi saya bingung dengan kata kata blow up. apa bedanya tulisan saya yang sekarang dengan yang dulu ? paling kalau saya perhatikan dulu saya menggunakan kata "mata" sekarang menggunakan kata "saya" selebihnya ngga ada bedanya sama sekali. mungkin karena pernyataannya itu saya dicap sombong. tapi bagian mana yang sombong saya masih belum mengerti.
sampai akhirnya saya melihat tulisan dalam blognya yang mengatakan kalau menjadi laki laki itu jangan cengeng. jangan banci. jadi ya segala sesuatunya harus dihadapi. sampai sampai dia bilang kalau menjadi orang itu harus bisa bersyukur. sebenarnya saya sendiri tidak mengerti tulisannya itu ditujukan kepada siapa. entah pada saya entah pada orang lain. sebab dia hanya menggunakan kata "kamu."
mungkin saya yang terlalu ke ge-er'an atau mungkin saya yang terlalu sensi. hingga seolah olah tulisan itu ditujukan pada saya. jujur saya sempat berkata dalam hati. memangnya siapa dia ? kenal saya juga dari dunia yang ngga nyata. kok bisa bisanya menulis seperti itu. dia menulis "sombong" lalu menulis "kurang bersyukur."
lucunya, saya jadi bertanya tanya, apakah saya orang seperti itu ? saya sadar, dalam menjadi manusia itu saya memang sering kali mengeluh. saya sering berkata kalau saya ini IQnya jongkok. mungkin saya banyak sekali dikelilingi orang orang yang lebih hebuat daripada saya. mereka banyak yang pandai, pintar, dan cerdas. hingga saya merasa saya ini jauh sekali dibawah mereka. dan saya sadar kalau saya berkata seperti itu.
"mas, sampeyan itu harusnya bersyukur pada Tuhan. kenapa sih selalu berkata IQ jongkok, padahal kan kita ngga boleh merendah seperti itu." kata teman saya suatu hari.
saya bukannya tidak bersyukur. malah sebaliknya, saya merasa bersyukur punya IQ jongkok. kenapa ? ya karena saya diciptakan Tuhan seperti ini. jadi saya ya terima apa adanya. sama seperti kamu kan, cuma bedanya kamu diberikan kepandaian yang banyak dan saya diberikan kepandaian yang kurang. begitulah jawaban saya.
sama seperti halnya saya bersyukur punya anggota badan yang lengkap, punya dua mata untuk melihat, punya dua tangan dan kaki, punya mulut yang bisa bicara, juga telinga yang bisa mendengar. bahkan saya sampai bertanya tanya, apakah ini karena banyak orang yang jauh tidak beruntung daripada saya. tidak bisa melihat, mendengar, bicara atau tidak bisa berjalan.
saya berfikir buat apa Tuhan menciptakan mereka didunia ini kalau mereka terlahir sengsara. apa untuk memberikan contoh kepada saya supaya saya bisa bersyukur ? supaya kita bisa prihatin ? supaya kita bisa saling berbagi ? supaya kita bisa kumpul kumpul menggalang dana, memberikan bantuan pada mereka, supaya kita mendapat pahala ? apakah begitu ? dan saya berfikir lagi, apakah Tuhan menciptakan saya yang ber IQ jongkok ini supaya teman teman saya bisa berkomentar "kasihan yah mata." "mata siapa ?" "itu yang IQnya jongkok." "ya setidaknya kita bisa bersyukur ngga seperti dia. "yuk kita bantu si mata supaya cerdas."
jujur saja saya pernah berfikiran seperti itu. "kasihan, untung ya saya ngga cacat seperti mereka." kata saya suatu hari pada seorang teman. "bukankah Jej juga cacat ? cacat mental maksudnya" sahut teman saya. "memangnya sampeyan punya mental mas ? kok bisa punya penyakit cacat mental." sahut teman saya satunya lagi.
lagi lagi saya bingung.

12:35 Posted in Cerita | Permalink | Comments (36) | Email this
06 November 2007
kalau kukatakan dunia milik kita berdua...
LANTAS, KALIAN MAU APA ???

14:45 Posted in Note | Permalink | Comments (59) | Email this
04 November 2007
segalanya terasa indah malam itu
aurel menatapku dengan senyuman. seolah olah ada sesuatu yang dia sembunyikan dibalik matanya yang dalam. "tengah malam nanti, bagaimana kalau kita pergi ke negeri neri ?" katanya. terang saja saya bingung. bagaimana dia bisa tahu perihal negeri itu. setelah saya terdiam lama, akhirnya saya teringat, saya selalu menyimpan tulisan tulisan yang saya tulis dalam sebuah folder di komputer. bisa ditebak kalau aurel membacanya.
"memangnya ada negeri seperti itu ?"
"ada. kamu menuliskannya dengan indah." jawabnya.
"itu kan cuma cerita fiksi."
"pilih mana ? kamu mengajakku ke negeri neri atau aku suruh membuatkan perahu dan candi arca seribu ?" jawabnya lagi.
"permintaanmu selalu yang aneh aneh. tahun lalu, kamu minta hadiah kupu kupu, sekarang kamu minta ke negeri neri, tahun depan kamu mau minta apa lagi ?"
aurel hanya tertawa. malam itu, kita menghabiskan waktu diteras belakang rumah. malam itu, bersama hujan turun menemani. malam itu bersama hujan turun membasahi. ah hujan, sebuah tangisan, juga sebuah kesedihan karena Tuhan marah kepada awan. saling berteriak dan bertengkar seperti halilintar yang menggelegar. hingga matahari, rembulan, dan bintang sembunyi ketakutan. dan langit menghitam. membuat suasana mencekam, deras menyakitkan. hingga kita berdua hanyut dalam dekapan. seperti kepedihan yang mendera pikiran, bagai gundah yang tak tertahan. tapi ketika lambat pelan kita hanyut dalam pelukan, kau pasti akan merasakan suasana yang damai, kau akan melihat hujan betapa bening, terasa kelam namun menghanyutkan. dibalik lipat kerutan yang tersimpan dalam mata, kau akan merasakan adanya bayangan surga didalamnya.
bersama hujan malam itu, bersama rerumputan, bersama pepohonan, ranting ranting, juga dedaunan, bersama semak semak tanah basah yang berwarna lusuh kecoklatan, bersama anak belalang bertubuh terang yang terbang hinggap didahan, bersama mendung hitam di langit selarit jerit bagai bangkai usungan mayit. bersama cinta yang bersemi dari dalam lubuk hati yang tak pernah mati. bersama tengah malam di hari ulang tahunnya.
ya, tengah malam itu aurel ulang tahun. usianya kini sudah 28 tahun. sambil melihat hujan, kita berbicara. berbicara tentang masa masa lalu. berbicara tentang masa pertama kali kita bertemu. juga berbicara tentang semua kenangan indah yang pernah kita lalui dulu. aurel sangat suka sekali membicarakan masa lalu. baginya, masa lalu itu sangat indah untuk dikenang. suka membuat kita senang. sedih tidak membuat kita susah.
"andai saja ada negeri neri seperti yang kamu tuliskan itu." katanya.
"bukankah negeri ini lebih indah dari yang ku tuliskan. negeri dimana kita tinggal, dimana kita bisa menatap hujan, dimana kita bisa merasakan embun pagi yang jatuh berluruhan, dimana kita bisa melihat lengkung pelangi manakala hujan berhenti ketika matahari datang menyinari, dimana aku, dimana kamu, saling bersama hidup dalam bahagia. bukankah ini negeri yang indah ?"
"sangat indah..." jawabnya singkat.
tengah malam itu. dengan hujan yang masih deras menghujam yang kita tatap dengan gamang. menerawang, jauh kedepan. tentang impian dan harapan kelak dimasa yang akan datang.
cerita kamarin.
buat aurelista astuty, istriku.
selamat ulang tahun ke 28.
semoga tetap bahagia selalu.

11:05 Posted in special moment | Permalink | Comments (38) | Email this



