« 2008-02 | HomePage | 2008-04 »
05 March 2008
normal ?
Akhir akhir ini saya dipusingkan dengan masalah perbedaan. Dikepala saya terngiang ngiang pertanyaan, kenapa begitu pentingnya orang membeda bedakan, misalkan kemaren waktu saya disuruh lembur kerja dihari minggu. Dengan keras saya menolak, maksud saya begini, tidak masalah bagi saya untuk lembur dihari minggu, tapi begitu saya ada acara keluarga yang penting apakah saya tidak bisa ijin ?
Lalu saya berkata pada teman saya yang kerjanya disini mempunyai kedudukan yang lebih penting daripada saya. Perihal saya begini begitu, tapi dia hanya berkata “ya itu resiko kamu, kamu kan anak baru, aku kan anak lama.”
Kalimat tersebut yang sampai sekarang terngiang ngiang ditelinga saya. Apakah perihal karena saya baru lantas itu merupakan sebuah kelebihan dirinya ? saya kurang paham bagaimana bisa seperti ini. Apa yang membedakan antara anak baru dengan anak lama ? bahkan saya sampai beranggapan kalaupun soal kemampuan dalam bekerja saya yakin saya yang lebih bisa daripadanya.
Tapi sudahlah, saya tidak akan lagi membahas masalah kerjaan dalam tulisan ini. Sebab saya sudah terlalu dipusingkan dalam urusan kerja. Kalau saya punya kesempatan menulis seperti sekarang ini ya lebih baik saya menulis dengan apa yang ada dalam pikiran saya. Saya tidak mau berpusing pusing lagi dalam urusan tulis menulis apalagi bercerita masalah pekerjaan yang mungkin tidak akan pernah ada habisnya. Cukup dibilang saya sedang gila, itu sudah mewakili apa yang saya kerjakan saat ini.
Kembali kemasalah perbedaan.
Teman saya pernah berkata, menjadi orang normal itu lebih susah daripada menjadi orang ngga normal. Ternyata memang benar, untuk menjadi orang normal memang membutuhkan perjuangan keras. Seperti halnya menjadi orang baik lebih susah daripada menjadi orang jahat.
“syukur alhamdullilah ya mas, kita ini masuk orang orang yang normal.” Kembali saya bertanya dengan pertanyaan kenapa “kok bisa ?”
“loh,… mas ini gimana ? hidup serba kecukupan, kerjaan tetap, istri yang setia, dan teman yang selalu ada disaat senang ataupun susah.” Tambahnya lagi. Lalu saya berfikir dalam hati ( sebab otak saya sedang capek mikir. ) ternyata orang ngga normal itu bukan saja orang yang cacat mental, epilepsy, homoseks dan yang lainnya. Ternyata predikat ngga normal itu juga hidup serba ngga berkecukupan, ngutang sana ngutang sini, ngga punya pekerjaan, juga tidak punya istri yang setia atau punya teman yang tidak peduli dengan kita. Selain itu ngga normal itu,…”ya seperti sampeyan itu mas.” Jawab teman saya dengan cepat.
Saya berfikir lagi,sejauh mana penggolongan orang normal itu. Dan sejauh mana batasan orang tersebut dikatakan ngga normal. Jika dikatakan normal kalau saya ini sehat jasmani dan rohani punya panca indra yang sempurna, ya saya normal. Jika dikatakan normal kalau saya ini punya kerjaan yang mapan, istri yang setia, dan teman yang mau bebagi baik suka maupun duka, ya lagi lagi saya normal. Lantas apa yang membuat teman saya berkata kalau saya ini ngga normal ?
“ya mungkin tampang jej dah ngga normal kali mas,…” kicau teman saya satunya lagi.
Setelah saya dikatakan ngga normal, sekarang tampang saya yang dikatakan kurang normal. Dosa apa yang saya lakukan selama ini hingga saya dicap sebagai manusia yang ngga normal.
“loh mas, bukannya dari lahir saja jej sudah ngga normal ? delapan bulan dalam kandungan sudah keluar itu kan namanya sudah ngga normal. Jadi pas donk ik ngatain jej manusia ngga normal. Harus bisa menerima dengan lapang dada donk…” lanjutnya lagi.
Sejenak saya teringat, memang benar juga kata teman saya itu. Saya pernah menceritakan padanya kalau saya ini dulu lahir sebagai bayi prematur. Bisa jadi itulah sebabnya kenapa IQ saya ini jongkok. Tapi bukan salah saya kalau saya ini terlahir jadi manusia yang ngga normal. Juga bukan salah bunda yang mengandung saya selama depalan bulan.
Jadi, selama hayat masih dikandung badang. Saya mencoba untuk menjadi manusia yang normal. Tapi sungguh susahnya minta ampun. Bahkan sampai sampai saya berdoa pada Yang Maha Kuasa untuk menjadikan saya manusia yang normal, berfikiran positif, juga sabar dalam menghadapi semua cobaan hidup yang menurut saya memang susahnya setengah mati. “mas mas, kalau doa sampeyan belum juga dikabulkan, saya mau kok dengan suka rela mendoakan sampeyan untuk menjadi orang normal.” Sambar teman saya lagi.
Jadi setelah saya berkicau kalau saya ini sudah gila, saya ini kurang waras, dan saya ini butuh pengobatan yang sampai sekarang menurut saya ngga sembuh sembuh. Ternyata saya sadar kalau saya ini masih belum menjadi manusia yang normal.
Ya sudah, sampai disini saja. Lha wong saya menulis dengan awalan huruf besar saja itu juga sudah menunjukkan saya ini ngga normal kok. Mungkin begitu salah satu komentar teman teman dalam postingan saya kali ini.

15:59 Posted in Cerita | Permalink | Comments (18) | Email this



