« lagi lagi tentang cinta | HomePage | masalah nama »
23 October 2008
lagi lagi tentang cinta
"saya bisa, mencintai seorang wanita selama duapuluh empat jam, setiap hari. kamu bisa ?" tanya seorang teman yang baru merasakan nikmatnya mahligai perkawinan beberapa minggu yang lalu.
ya, sepertinya memang bukan sebuah berita yang baru lagi ketika seseorang sedang dimabuk asmara, maka sejuta pujian dan kata kata berhamburan keluar dari mulutnya. seperti teman saya diatas. bukannya sinis, tapi setidaknya saya suka jika seorang teman saya sedang merasakan bahagia. lantas saya berfikir dan terus berfikir lagi. iya, apa saya bisa ?
"awas kalau sampeyan ngga bisa, tak mutilasi pakai silet." ancam istri saya ketika saya menceritakan hal ini padanya.
bagi saya, bisa mencintai itu adalah salah satu anugrah yang luar biasa nikmat yang diberikan Tuhan pada umatnya. bagaimana tidak, saya rasa kalau urusan cinta, sampeyan semua tentu sudah pernah merasakannya.
"topiknya jangan cinta cinta'an terus mas, ganti topik yang lain apa ngga bisa ?" kata teman saya suatu hari.
"misalnya ?"
"lho, banyak tho yang bisa dibicarakan. masalah moral bangsa yang makin ngga karuan, korupsi yang makin menjadi, serta hukum yang bisa dimanipulasi. yang busuk bisa dibuat fresh. yang kasar bisa ditampilkan lembut. yang jahat bisa dicitrakan baik. yang koruptor bisa dihadirkan suci. yang bohong bisa dijadikan alim. yang kriminal bisa dirubah sebagai dermawan nan agamis. yang setan bisa menjadi malaikat. jadi ya jangan cinta cinta'an terus mas topiknya. bosen !" jawab teman saya lagi.
tapi pikir saya, siapa yang mau peduli dengan kebobrokan moral dan bangsa ini. jangankan diprotes lewat tulisan, lha wong kita teriak teriak kepanasan bawa spanduk saja malah dipukuli pakai pentungan. mendingan kalau cuma luka memar babak bundas, lha kalau sampai ada yang mati segala. trus siapa yang mau tanggung jawab atas hilangnya anak orang karena ingin sebuah perubahan untuk menuju masa depan yang lebih baik lagi. batin saya dalam hati. bukankah mendingan membahas masalah cinta yang indahnya berjuta rasa dan juga punya rasa nikmat yang sakitnya tiada tara.
"kalau sudah dapat orang yang dicintai, ya sampeyan ngga boleh mencintai wanita lagi. itu namanya selingkuh." kata istri saya.
"lho, arti cinta kan luas. ngga boleh diartikan sepihak seperti itu donk. bisa cinta sama siapa saja. sama Tuhan, sama orang tua, sama teman, sama pekerjaan, sama yang lain lainnya juga." jawab saya.
"pembahasan tadi kan mencintai seorang wanita. gimana tho ? kok lupa. orang ngomong sendiri kok ngeyel. jangan jangan sampeyan punya demenan lain ? mau mencintai wanita lain lagi ?" tanya istri saya.
beberapa hari yang lalu teman saya yang baru merasakan indahnya mahligai perkawinan itu bertanya lagi pada saya. "mas, gimana yah caranya agar saya tetap setia ?"
saya benar benar dibuat bingung. bagaimana bisa dia bertanya seperti itu sementara beberapa minggu yang lalu dia bertanya pada saya perihal bisakah saya mencintai seorang wanita selama duapuluh empat jam, setiap hari. apa maksudnya ? "saya ngga yakin saya bisa menjalaninya, sampeyan kan sudah tiga tahun menikah. dan sepertinya berjalan lancar." jawabnya.
akhirnya saya hanya bisa terdiam untuk tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. ya, saya hanya bisa berfikir, bagaimana caranya menjaga kesetiaan. tidak bisanya saya menjawab pertanyaan itu lantaran karena saya susah mengartikan kata setia itu sampai sejauh mana. sampai sebatas apa. jika karena melihat seorang wanita cantik lantas saya terkagum kagum itu sudah bisa dikatakan tidak setia. maka memang saya bukanlah laki laki yang setia. "kamu ya harus maklum bune, hidup saya dikantor kan memang dikelilingi sama buanyak wanita cantik." kata saya suatu hari sama bos mburi yang paling suka bikin oseng oseng tempe lombok ijo.
"percaya, tapi awas saja kalau sampeyan main belakang." jawabnya dengan sinis sembari memasukkan irisan tempe dan kacang panjang kedalam wajan.
mungkin ada benarnya kalau cinta itu dibilang buta. sehingga rumput hijau ditetangga tak bisa dilihat lagi. karena buta, ya saya hanya mengenal apa yang ada di dekat saya saja. yang bisa saya raih, yang saya jaga dengan segala kekuatan dan yang akan saya genggam untuk selamanya. "buta aja jej." sahut teman saya dengan cepat
"lantas gimana intinya supaya kita bisa setia ?" tanyanya lagi
ya normalnya sih kita harus serius dalam menjalani segala komitmen dalam hidup ini, kalau sampeyan belum bisa serius ya jangan sekali kali menjalin sebuah komitmen. selain itu ya segala sesuatunya harus dijalani dengan ikhlas. dan jangan sekali kali menjadi manusia egois, dengan kata lain kalau berani melakukan ya harus berani bertanggung jawab. jangan hanya berani melakukan saja.
"ya, kira kira begitulah. berhubung saya ini orang yang ngga normal jadi saya hanya bisa mengira ira saja." kata saya sambil garuk garuk kepala karena kebingungan.

13:19 Posted in Cerita | Permalink | Comments (25) | Email this
Comments
musuh dr kesetiaan itu adalah kejenuhan, jika kita sudah bs melewati & mengatasi titik jenuh itu, setia pasti bs terwujud. bukan begitu mas mata?
omong2 saya dpt comment pertama nih, hahaha :D
Posted by: Darkpuccino | 23 October 2008
to loyal or built faithfulness may be difficult
just enjoy it, enjoy what feeling you have
kalo memang cinta itu ada masa kadaluarsanya, ya diinget aja barang yg sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan
Posted by: tatari | 24 October 2008
saya jadi takut sendiri.... gimana mau mengerti kata setia apalagi mempertahankan kesetiaan itu, kalau kata cinta saja ora ngertos.....
Posted by: anakayam | 24 October 2008
jangan sampai cinta buta
Posted by: linda | 24 October 2008
walahh bahasan cinta yg berat nih!
aku mencintai cinta itu sendiri walaupun cinta juga yg menjadi musuh tercinta ku ;p hihihihi.............
salam kenal yaaaa :D
Posted by: ria | 24 October 2008
Wow... berat....
Posted by: vidy | 24 October 2008
@Darkpuccino
lha begitu bukan yah...
saya juga masih bingung kok malah ditanya... hahaha
btw selamat anda sudah mendapatkan komen pertama :p
@tatari
enjoy sih enjoy
orang hidup kalau ngga dibikin enjoy trus dibikin gimana ?
wah...dapet teori dari mana tuh ? barang yang sudah dibeli tidak dapt dikembalikan lagi ??? ckckck
@anakayam
cinta kan memang ngga harus dimengerti
katanya sih...
Posted by: mata | 24 October 2008
tumben serius????
iya, cinta emang masalah yang complicated
setia?
susah emang diuraikan dengan kata-kata
tapi menjalaninya pasti lebih sulit lagi ya? (ingat masa2 ada prahara dalam rumah tangga gua.. ha..ha..ha....)
tapi yang penting menjalani dan mencobanya saja
salam buat aurel ya?
Posted by: mayssari | 24 October 2008
@linda
mendingan cinta buta jeung, masih bisa meraba raba. lha kalau cinta mati ? ngga bisa ngapa ngapain lagi kan ? wong mati. hahaha
@ria
berat dari mananya ? biasa aja deh perasaan. berat mana sama memahami puisi ?
btw salam kenl juga yah...
@vidy
berat bacanya yah ? karena panjang. hahaha
Posted by: mata | 24 October 2008
Ndak ikutan aahhh....
Posted by: Reth | 24 October 2008
ah setia ya...aku sependapat dg mata, setianya manusia diukur dr keteguhan memegang komitmen.
Posted by: meiy | 24 October 2008
@mayssari
iya yah... masak sih jeung saya kelihatan serius ?
ya setidaknya setiap berumah tangga pasti ada masalah. gitu kan jeung ???
ok deh, nanti disalamin
@Reth
np ? takut ?
@meiy
hehehehe,... :)
Posted by: mata | 24 October 2008
He..he...
Pantes... :D
Ternyata bahasan postingan kita sama toh, mas :D
Cinta itu harus dilihat dari berbagai sisi..Bukan hanya dari satu sudut pandang...
Posted by: putri | 24 October 2008
panjang beneer postinganyaaaaaaa....intinya dicintai itu lebih indah ketimabng mencintai...sakiiiiiiitttttttt...heheheheh
Posted by: HeNy | 25 October 2008
Bicara memang cinta emang ndak habis-habisnya. Sebab cinta emang mbulet koyo katok kebulet entut. Atau entut kebulet katok, ya?
Posted by: fely | 25 October 2008
@putri
sehati donk nek... kan sama.. :p
ya mungkin begitu. bisa dipndang dari segi mana saja. :)
@HeNy
kok bisa dicintai lebih indah daripada mencintai ?
@fely
halahhh.... si ratu mal ini kok ngomongnya sampai ke celana sih... :(
Posted by: mata | 25 October 2008
sama dengan cinta, kadar setia juga harus diukur dari segala sudut pandang *lho?!
bahasannya berat Om, gak sanggup...
Posted by: shelila | 25 October 2008
intinya cinta bikin garuk-garuk kepala ya ta :D
Posted by: kenny | 26 October 2008
memang cinta topik yang tak pernah akan basi Ta...
Posted by: za | 27 October 2008
@shelila
sudut pandang sebelah mana ?
kok banyak yang bilang bahasan berat sii ?
@kenny
ketombean donk ken
ckckck
@za
ho oh...
Posted by: mata | 27 October 2008
berat! berat! bacanya berat! :p
Posted by: tuteh | 27 October 2008
kadingaren iso ngomong tuwo,hik hik...
Posted by: nita | 28 October 2008
hehe, tetep ae perkoro "tresno" iku sakkarep perspektif masing2 individu. Lha wong anom dengan yang sudah banyak merasakan asam garam kehidupan kan, pandangan dan orientasi "cinta" itu juga sudah lain.
.
ehm,
keknya saya mesti berguru nih di padepokan panjenengan, khusus perkoro cinta
.
hehehe...
*ngluyur lagi, jalan2*
Posted by: esensi | 29 October 2008
main belakang itu artine opo ta???
Posted by: mei | 29 October 2008
@tuteh
berat berapa kg ?
@nita
weh ik...
ngermehke yo... hahahaha...
padahal saya ini lom tua tua amat lho jeung... :p
@esensi
sayangnya saya ngga punya padepokan jeung. tapi kalau sampeyan mau les private ya ayuk aja. HAUAHHAHA
Posted by: mata | 29 October 2008
Post a comment