09 January 2009
maria
didesa saya, ada seorang perempuan gila. namanya maria. memang sangat tidak wajar, kenapa dia bernama maria. orang bilang ini penghinaan. maria yang sebenarnya digambarkan sebagai sosok yang sangat keibuan, lemah lembut dan penuh rasa cinta. bukan seperti orang gila yang tidak jelas bagaimana nasibnya. siapa dia ? tidak ada yang mengetahuinya. bahkan kenapa dia gila ? hal tersebut juga tidak ada yang mengetahuinya.
maria memang sudah menjadi bagian dari desa kami. tapi, tidak ada satupun warga desa yang mempedulikannya. termasuk saya. kami terlalu sibuk dengan urusan dan segala pekerjaan yang ada. hingga sudah tidak ada tempat lagi untuk memikirkan perempuan gila yang bernama maria. setiap kami berjalan, setiap sudut desa, setiap ujung gang. sering saya melihat maria. sepertinya memang dia ada dimana mana. entah, tidak ada yang tahu apa yang dilakukannya. kadang berbicara sendiri, seperti memaki, seperti membenci. kadang menyanyi, tapi tidak jelas, seperti melantunkan sebuah penggalan nada nada mati yang susah untuk dimengerti. kadang menangis, berteriak teriak histeris, serasa menyesali, kenapa dia ada didunia ini.
begitulah apa yang dilakukan maria didesa kami. terkadang ada juga yang merasa kasihan padanya. sering kali simbok penjual soto memberikannya sebungkus nasi dengan lauk alakadarnya. sering kali juga beberapa warga membiarkannya tidur dihalaman teras depan rumah.
begitupula saya. beberapa waktu yang lalu. untuk pertama kalinya saya memberikan uang padanya. untuk pertama kalinya saya menjadi manusia yang memiliki rasa kasihan. untuk pertama kalinya juga saya melihat wajah maria dari dekat. terlihat muda. matanya yang nanar. rambutnya yang panjang hitam pekat melekat. kulitnya yang putih bersih. bibirnya yang mungkin merah sedikit pecah namun tetap basah. juga baju lengan panjang, rok motif garis garis warna ungu, dan syal biru yang ada dilehernya, serasa melindunginya dari angin malam yang dingin nenembus nadi dan tulang. saya iba padanya. pada maria. mungkin ini karena matahari yang sudah tertelan senja. hingga cahaya terlihat merah samar samar redup petang. dan untuk pertama kalinya, saya melihat maria tersenyum. seperti lambaian yang ragu.
sejak saat itu, saya selalu memperhatikan maria. ketika saya sering memberikan uang padanya. walau hanya cukup untuk sehari makan. apakah saya merasa kasihan padanya, atau apa ? saya sendiri tidak mengetahuinya. saya hanya suka ketika melihat maria dari dekat. terlebih saya sangat suka ketika dia tersenyum bahagia. rasanya seperti melihat ketika mula dunia tercipta, ketika Bumi masih rapuh, kabut bagaikan putih telur, saat bunga masih serupa kuntum yang ranum, dan begitulah wajah maria terlukiskan. bukan dalam lembaran canvas dengan cat dan kuas. melainkan dalam ingatan yang sampai kapanpun tak akan pernah terlupakan.
semakin lama, semakin saya ingin mengenal maria. saya ingin mengetahuinya lebih dalam lagi. kenapa dia ada disini ? kenapa dia sering berkata kata serapah, seperti menyumpah ? kenapa dia sering menyanyi dengan nada nada mati yang susah untuk dipahami ? kenapa dia sering menangis histeris seperti tadi malam ketika gerimis turun riwis riwis ? kenapa semua orang desa yang mungkin termasuk saya menganggap maria sudah gila yang keberadaannya dianggap tiada dengan sebelah mata ?
apakah ada yang bisa memandang perempuan gila itu dengan mata terbuka sedetik saja dan mengadakan dirinya selayaknya manusia.
hari itu, maria berbeda. terlihat sepertinya dia bahagia. dia berlari lari kesana kemari. dia bernyanyi "kupu kupu, datanglah kemari, temani aku yang sedang jatuh hati. kupu kupu, datanglah kesini, datanglah kesini..." dia terus bernyanyi dan menari. mengelilingi gang gang didesa kami. berputar putar ditaman desa yang kecil namun penuh bunga yang warna warni. bebas, lepas, seperti merpati yang terbang tinggi. bahagia, seperti pipit pipit yang berebutan remah roti. semua orang didesa kami mendadak terbuka matanya. maria serasa menghidupkan suasana desa yang sepi juga membosankan. sepertinya maria sedang jatuh cinta. tidak, bukan sepertinya, tapi memang maria sedang jatuh cinta. tidak lagi dia berkata menyumpah serapah. tidak lagi dia menyanyikan nada nada mati yang menyayat hati. juga tidak pernah lagi dia mengeluarkan tetes air mata tangis.
lalu seketika orang orang desa yang tadinya tidak peduli akan maria, semula yang tidak menghiraukan keberadaan maria, semula yang memandangnya dengan sebelah mata yang hina. kini, bertanya tanya. ada apakah dengan dirinya. dengan siapa dia jatuh cinta. sementara maria masih dengan hatinya yang penuh suka. tertawa dan menari bersama para kupu kupu yang mungkin dianggapnya seperti peri kecil yang turun bersama tetesan embun pagi hari, atau seperti bidadari yang datang dari balik pelangi. keceriaan maria itu membuat orang orang mengerti, betapa desa kami serasa terberkati. walau kadang masih tidak mengerti bagaimana hal itu tiba tiba bisa terjadi. kegembiraan yang membuat semua orang melihatnya iri. kegembiraan yang membuat kami dihantui pertanyaan, dengan siapa perempuan gila itu jatuh hati.
yang membuat saya heran, bagaimana seorang perempuan gila bisa membuat penasaran semua warga desa. terlebih lagi para istri didesa kami dibuatnya resah. jangan jangan suami mereka yang disukai perempuan gila itu. mereka lalu mulai memperhatikan kelakuan dan tingkah para suami. mengawasi. kadang bertengkar. kadang memaki. sepanjang hari.
"aku hanya merasa kasian padanya bu, aku juga manusia seperti dia, kenapa kamu malah cemburu seperti itu."
"alah pak, sejak kapan sampeyan peduli dengan perempuan gila itu ? sejak kapan ? sejak dia bahagia ? sejak dia jatuh cinta ? atau jangan jangan kamu menaruh hati padanya ?"
"kamu sudah gila ya bu ? sudahlah, aku tidak mau berdebat lagi denganmu."
kemudian setelah itu terdengar isak tangis, terdengar teriakan, juga pecahan pecahan piring, kadang umpatan umpatan kasar yang sebenarnya memang tidak beralasan. sementara perempuan gila itu masih tersenyum, masih menyanyi dan menari. sungguh ironi.
semakin lama, kelakuan maria semakin membuat warga didesa kami resah. setiap pagi, selalu maria yang menjadi bahan utama pembicaraan. para laki laki yang semakin hari semakin jatuh hati. anak anak yang tidak mengerti akan hal ini tetapi merasa suci ketika mereka bermain apa saja, tertawa, bercanda, melupakan segala keluh kesah bersama maria yang menemani sepanjang hari. tapi tidak untuk istri istri yang sudah dihantui hingga buta menghampiri karena marialah mereka cemburu mati.
"kenapa kamu bahagia, maria ?" kata kepala desa
maria terdiam, dia melihat kami. yang terlihat seperti mau menghakimi.
"aku hanya ingin bahagia. bersama buah cinta dalam rahimku ini." begitulah katanya sambil terbata bata.
terkejutlah semua warga desa mendengarnya. para pemuda yang sudah pupus harapan, para suami yang kecewa karenanya, para istri yang semakin dibuatnya resah, juga anak anak yang sudah tidak menganggapnya suci. lantas semuanya kasak kusuk dibelakang. bertanya tanya lagi, anak siapa yang dikandungnya. dengan siapa dia melakukannya. ada yang berteriak teriak dan menyumpah serapah, ada yang memaki, juga ada yang diam menatapnya dengan pandangan mata penuh benci. lagi lagi maria terdiam, kali ini dia ketakutan. wajahnya yang bingung, juga matanya yang penuh tanda tanya. tidak tahu maria harus menjawab apa. mulutnya masih membisu. lalu tiba tiba dia berteriak. "kupu kupu...lihat ada kupu kupu. ayo kita tangkap..." lalu dia berlari mengejar kupu kupu itu. meninggalkan jawaban yang kami tunggu.
merasa kepala desa tidak sanggup menyelesaikan masalah ini, maka para warga desa mengundang bupati dan walikota, ketua dewan perwakilan rakyat kotamadya, para mentri negara, ketua mahkamah agung, para ulama ternama, wakil presiden, bahkan yang terhormat presiden negara. untuk supaya bertanya kepada maria, anak siapa yang dikandungnya. tapi maria tetap membisu, maria tetap diam, dia hanya bahagia. lantas berita tentang kehamilan maria pun menghiasi berbagai media massa. surat kabar, radio, internet, blog, youtube, juga televisi. desa kami menjadi pusat perhatian karena adanya perempuan suci. desa kami menjadi terberkati. dan sekali lagi, maria hanya diam dengan ribuan jawaban yang kami tunggu.
celakalah perempuan gila itu, celakalah maria ketika ia mengandung seorang anak yang katanya hasil buah cintanya dengan malaikat, ketika perutnya semakin membesar, dan ketika perutnya mulai membengkak karena dosa. amarah warga desa pun tak tahan dibuatnya. dengan mengatasnamakan kesucian warga desa menganggap perempuan itu sumber malapetaka, sumber segala kerusuhan.
"dia itu aib"
"nista."
"haram."
"sucikan kembali desa ini."
"usir dia dari sini."
perempuan itu berjalan pergi, sepertinya maria tahu apa maksud semua ini. dia berjalan. bersama langit yang cerah, angin yang sejuk, bintang yang terang, bulan yang bersinar, dan malam yang memberkati. tapi tidak bersama warga desa yang memberinya dengan kata kata hina, makian dan cacian, sementara anak anak kecil ada pula yang melemparinya dengan kerikil kerikil tajam. maria terus berjalan, berjalan pergi meninggalkan desa, melewati rumah rumah, jembatan, dan gereja. seketika dia berhenti, kepalanya mendongak keatas, begitu sunyi, begitu sepi. nanar matanya melihat Tuhan disalib dengan kepala menunduduk yang seakan akan melihatnya. lalu maria berkata "eli eli Lama Sabachtani ?" dan maria menangis dibuatnya.
solo - desember 2008
1. hanya sebuah postingan narasi bulan desember yang sempat tertunda
2. semula tokoh perempuan saya namakan rhesya, tapi entah kenapa saya menggantinya dengan maria.

15:40 Posted in Narasi | Permalink | Comments (18) | Email this

Comments
:)
bagus.
memang agak religius ya?
asik ;)
Posted by: RhoMayda | 11 January 2009
ternyata imaji kamu ok juga, ta....
apa kabar aurel? salam saya untuknya...
Posted by: mayssari | 12 January 2009
Halo halo... numpang mampir skalian mau ajak barter link dgn blognya Tabloid Internet yang barusan dpt PR4 dari Google. Kira-kira masih ada tempat gak ya?
Posted by: Tabloid Internet | 13 January 2009
numpang mampir n salam kenal
Posted by: mastal | 13 January 2009
baru kali pertama berkunjung salam kenal aja ya
Posted by: mastal | 13 January 2009
keren ta...
jadi bertanya-tanya..
ini real atau fiksi?
mudah-mudahan kehamilan maria bukan akibat akhlak manusia berhati bejat..
Posted by: bakhrian | 14 January 2009
kalender baru bikin mata jadi cerdas dan sensitif....:D
Posted by: kenny | 15 January 2009
udah mulai serius ta?...hehehhe
Posted by: Heny | 16 January 2009
pertama,
nama saya maria. dan apakah saya gila?? seperti apakah standart seseorang di nyatakan gila?? apakah anda tau??
kedua,
terimkasih. karena postingan anda kali ini membuat airmata saya menitik. dan saya tak tahu atas dasar sebab apa...
ketiga,
happy new year mata ^^
Posted by: mei | 16 January 2009
Hmm kisah para Nabi kah ?
Posted by: Setiaji | 16 January 2009
dasar mas mata t o p b g t..
dulunya aku mengira, maria yang edan jatuh cinta padamu mas.
terus liat endingnya... wow... ini keren.. ini personifikasi yang dahsyat
kadang kita butuh "gila" agar bisa menerima "kegilaan" yang lebih besar...
asik... asik tenan
Posted by: ika | 20 January 2009
Errr...
maap ya ndak nyambung sama isi postingannya, meskipun sedikit ngebuat saya bertanya² kenapa narasinya mirip dengan narasi kita umat kristiani (minus cerita kegilaan seorang Maria) plus peyebutan eli eli lama sabachtaninya itu,
tapi....
Kenapa yg tercetus dipikiran mata pertama kali adalah nama Rhesya?
Posted by: Reth | 20 January 2009
@RhoMayda
akhir2 ini memang saya sedang ingin bereligi rho...
@mayssari
makasih
aurel ? kabarnya baik baik saja. dan masih bahagia
@Tabloid Internet
tempat apaan ? masih banyak tempat disini untuk ditempati siapa saja kok :)
Posted by: mata | 20 January 2009
@mastal
salam kenal juga
@bakhrian
namanya narasi ya fiksi...
imaginasi saya aja kang
@kenny
masa sih ?
Posted by: mata | 20 January 2009
@Heny
memangnya saya sering bercandaya jeung ?
@mei
pertama : ya tanyakan pada dirimu sendiri apakan dikau gila. :) standart orang dikatakan gila kalau dah dinyatakan gila sama dokter gila kali ya
kedua : oleh sebab karena apa postingan saya ini membuat anda menangis ???
ketiga : selamat tahun baru juga ya jeung :)
@setiaji
bukan tuh... kisah biasa aja kok
Posted by: mata | 20 January 2009
@ika
saya bingung dengan pernyataan ini "kadang kita butuh "gila" agar bisa menerima "kegilaan" yang lebih besar..."
tokoh maria tidak ada sama sekali sangkut pautnya dengan diri saya. bahkan saya tidak pernah sekalipun jatuh cinta dengan wanita yang punya nama maria. tapi saya pernah sekali dijatuhi cinta dengan seorang wanita yang punya nama maria. tapi itu dulu sekali ketika saya duduk di kelas 2 smp. :)
@Reth
memangnya narasi umat kristiani mirip mirip seperti itu ya reth ?
kalau kamu nganggepnya begitu si ya ngga apa apa. sah sah saja. tapi sekali lagi itu cuma narasi. imaginasi yang ada dalam pikirn saya.
diawal penulisan paragraf pertama sebenarnya saya menulis "didesa saya, ada seorang perempuan gila. namanya rhesya." sampai terus cerita berlanjut dan saya pun bingung mau saya kemanakan cerita ini. akhirnya malah mengarah kenarasi religi seperti ini. dan penyebutan "eli eli lama sabachtaninya" itu, ya memang harus saya tulis seperti itu. sebab akan ganjil jika saya terjemahkan dalam bahasa indonesia. :)
iya. saya juga heran. kenapa yang terlintas pertama kok nama rhesya. kenapa bukan retha ?
Posted by: mata | 20 January 2009
ternyata mata bisa serius juga ya.. (manggut2 mode on)
Posted by: Meidy | 21 January 2009
Lhaaa...ndak setuju saya.
mending juga nama Rhesya dibanding nama Retha, dimana² lebi kedengeran bagusan Rhesya daripada Retha.
Rhesya.....ah layaknya malaikat dari surga
Retha.......ini setan dari neraka lapisan keberapa ya?
tuh kan. :P
Posted by: Reth | 21 January 2009
Post a comment