« sepeda | HomePage | hiatus »
25 July 2009
sepeda
itulah usaha yang saya tekuni sekarang ini. lebih tepatnya warisan dari ayah saya. kami menyebutnya bukan toko, shop, store, atau istilah keren lainnya yang digunakan orang orang sekarang ini. seperti orang jualan baju tapi mereka menyebutnya butik, orang jualan makanan tapi enggan disebut warung dan menamakannya resto. atau orang punya jasa pelayanan internet tapi malu disebut rental warnet dan menamakannya internet cafe. kami menyebutnya bengkel. bengkel sepeda. ayah memulai usaha ini sejak awal tahun 70an. tanpa modal sama sekali. hanya mengandalkan kedua tangan dan kakinya.
ada kalanya saya harus ceritakan dulu, bagaimana keadaan kami waktu itu. menurut cerita ibu, hidup dijaman itu sangatlah susah. ibarat kata bisa mendapatkan sepiring nasi sehari, itu sudah cukup. dan beruntunglah orang yang bisa makan nasi. sebab biasanya mereka cuma bisa makan jagung dan ubi ubian yang dibakar. kota kami belum sebesar sekarang ini. jalanan depan rumah kami masih sempit. hanya dilewati sepeda, becak dan sesekali kereta roda pedati. belum juga tebal karena aspal. masih mengeras warna merah tanah yang memadat. pohon pohon masih berdiri dengan rindang. waru, ringin, jati juga asem melengkapi betapa kota kami terlihat tua. begitulah kondisi kota kami waktu itu. jika kamu bisa merasakannya dan menghayati lebih dalam, akan kamu rasakan kebisuan dan keremangan yang panjang. kupu kupu masih berkeliaran, ngengat dan kunang masih berdesingan, juga laron yang beterbangan dalam cahaya lampu jalan yang redup petang menyala dengan jarang. bangunan bangunan tua yang terawat dengan sejarah penjajah jaman walanda yang tergurat. hamparan sawah yang luas dengan orang orangan dan gubuk ditengah. sungai sungai yang masih jernih. juga hamparan padang tanah lapang yang luas tempat anak anak bermain main hingga petang datang menjelang. sedangkan rumah kami masih berdinding ayaman bambu, belum tembok batu bata dan berpondasi besi cor semen yang kuat. begitu pula lantai tanah yang masih berupa tanah, belum mengkilat warna putih porselen seperti saat ini. penerangan masih menggunakan petromak. hiburan hanya berupa suara rengeng rengeng radio. tidak ada sanyo karena harus menimba kalau mau mendapatkan air untuk mandi atau memasak. memang, waktu itu sungguh remang, tetapi terasa tenang...
dalam kondisi seperti itulah ayah membuka usaha bengkel sepeda. service sepeda. bukan sepeda motor akan tetapi sepeda onthel. sepeda geos. sepeda kayuh. sepeda adalah kaki bagi mereka yang menggunakannya. bagi pak tani yang subuh subuh berangkat kesawah, bagi para pedagang sayur yang jualan dipasar, juga bagi guru yang mengajar murid muridnya disekolah. maka, dengan meminjam perkakas dari tetangga sebelah rumah seperti palu, obeng, tang, dan yang lainnya. karena kata ibu, dulu ayah belum punya peralatan kerja sepeti itu. maka dia meminjamnya dan mengembalikannya setelah selesai. ayah mulai menekuni usaha service sepeda ini. segala jenis sepeda dari sepeda jengki, sepeda mini, sepeda kebo, strimin, sepeda roda tiga, sepeda anak anak, sampai gerobak dan becak roda tiga ayah bisa mengerjakannya. ada yang minta ditambal bannya karena bocor, ada yang minta diganti gearnya, remnya, gotri, as, atau rantai yang mungkin sudah rusak. maka kalau sudah urusan ganti mengganti ayah berjalan kurang lebih 10 km untuk membeli onderdil atau sparepart yang dibutuhkan. karena sudah mengenal dengan baik bisa dibayar belakangan. dulu kata ibu, ongkos untuk tambal ban yang bocor saja cuma 10 rupiah. entah apa itu sepadan dengan tenaga dan keringat yang keluar. setelah mendapatkan ongkos biaya jasa, biasanya ayah menyisihkan sebagian uang tersebut. dimasukkan dalam celengan bambu penyangga atap dalam rumah yang dilubangi.
setelah bertahun tahun, akhirnya usaha ayah membuahkan hasil. ayah tidak hanya menerima service sepeda tapi kini ayah juga menyediakan beberapa sparepartnya. seperti ban luar, ban dalam, velg, ruji atau jari jari, bos, as, laker, porok, sadel, pedal, mur dan baut dan yang lainnya. tentu saja selain dari uang tabungannya ternyata ayah mendapatkan kepercayaan penuh dengan teman bisnisnya. seorang cina baik hati yang mempunyai usaha sepeda terbesar dikota kami yang memberikan barang konsi. apa yang dibutuhkan bisa bisa membayar belakangan. dengan kata lain titip jual. dan hal itu berjalan sampai sekarang.
kini perkembangan sepeda semakin maju. dari harga ratusan ribu sampai puluhan juta. jenisnya pun semakin banyak, dari BMX, city bike, road bike, mountain bike, sampai folding bike. sparepartnya pun juga banyak pilihan. juga bahannya makin beragam, dari besi, crMO, alloy, carbon sampai titanium. betapa bodohnya saya. kenapa dari dulu saya tidak mendalami lebih dalam dan membantu ayah dalam usaha sepedanya ini. hingga saya harus belajar dari awal lagi. dulu, saya malah asyik dengan dunia saya sendiri. dunia tehnologi yang membuat saya dan mungkin membuat semua orang seperti saya menjadi sosok yang anti sosial karena hanya bertemankan sebuah benda mati yang hidup kerena aliran listrik dan sinyal. hingga saya susah untuk meninggalkannya. hingga saya tidak mengenal dunia saya yang sebenarnya. dunia saya yang sesungguhnya. dunia seperti yang ayah tekuni. berhubungan dengan semua banyak orang. para pedagang sayur, tukang becak, makelar sepeda, orang orang pasar, petani, mendreng, juga bengkel bengkel sepeda dan tambal ban seperti yang dilakukan ayah saya.
yang saya rasakan saat ini hanya bangga. bangga mendapatkan tanggung jawab dari ayah untuk meneruskan usahanya ini. menjadi seorang bakul sepeda, makelar sepeda, tukang service sepeda atau apapun itu sebutannya. tidak ada kata malu disini. hanya kata bangga yang bisa saya teriakkan. melihat usahanya sudah berhasil dan berjalan sampai sekarang. tanpa modal hanya dengan kedua kaki dan tangan. tanpa utang bank. tanpa utang lintah darat. tanpa pinjaman dari teman. hingga bisa menembok rumah dengan cor semen yang tebal. membuat atap rumah dengan lambaran ternit yang terlihat apik. membuat talang dan saluran buat jalan air mengalir. memporselen lantai dengan keramik warna putih. dan mengecat tembok dengan cat anti panas dan hujan. hingga bisa menyekolahkan anak tirinya yang nakal seperti saya, juga tak lupa memberinya uang saku setiap hari. karena ayah pernah berkata, bahkan seperti orang tua lainya juga pernah berkata kalau hidup itu bagaikan roda. jika kamu ada dibawah, ingatlah pada Yang Diatas. jika kamu ada diatas, jangan lupa yang dibawah.

10:41 Posted in Curhat | Permalink | Comments (5) | Email this
Comments
Wow!!! Jadi Mas Mata punya kenangan dan kesan mendalam ama benda bernama sepeda itu yah? ck....ck...ck..... kereeeeen......
Posted by: fely | 27 July 2009
wow!!!! inspiring story.....
Posted by: fely | 27 July 2009
wah wah wah, yang dulu terasa sulit, sekarang kalau dikenang pun menjadi sweet memory yaaa...
hehehe..
*iri ama mas mata, tapi juga ikut bangga...^^
Posted by: anakayam | 28 July 2009
jadi ingat iklan rokok..sepeda..emang bikin bangga!!
kalau ingat perjuangan orang orang yang menyayangi kita, kita harus bersyukur ta..kita dibesarkan oleh orang orang yang seperti itu, sehingga kita bisa menjadi yang seperti sekarang ini =)
Posted by: mei | 31 July 2009
sepeda kumbang...
Posted by: mayssari | 06 August 2009
Post a comment