<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<?xml-stylesheet title="XSL formatting" type="text/xsl" href="/atom.xsl" ?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
<title>mata | eternity</title>
<link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://mata.blogspirit.com/atom.xml"/>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://mata.blogspirit.com/" />
<subtitle>mata | eternity</subtitle>
<updated>2009-11-21T14:43:43+07:00</updated>
<rights>All Rights Reserved blogSpirit</rights>
<generator uri="http://www.blogspirit.com/admin/" version="6.0">blogspirit</generator>
<id>http://mata.blogspirit.com/</id>
<entry>
<author>
<name>mata</name>
<uri>http://mata.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>nasionalis</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://mata.blogspirit.com/archive/2009/11/21/nasionalis.html" />
<id>tag:mata.blogspirit.com,2009-11-21:1856117</id>
<updated>2009-11-21T14:43:43+07:00</updated>
<published>2009-11-21T14:33:00+07:00</published>
<category term="Opini" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<summary>     nasionalis    &quot;coba buktikan ?&quot;    begitulah kata teman saya suatu hari...</summary>
<content type="html" xml:base="http://mata.blogspirit.com/">
&lt;div style=&quot;text-align: center&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://img697.imageshack.us/img697/6117/62496398.jpg&quot; alt=&quot;62496398.jpg&quot; style=&quot;border-width: 0; margin: 0.7em 0;&quot; /&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;nasionalis&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;coba buktikan ?&quot;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; begitulah kata teman saya suatu hari ketika saya mengatakan 'nasionalis.' solah olah mereka tidak percaya kalau saya ini adalah seorang nasionalis. berteriak keras dengan lantang kalau saya bangga menjadi bagian dari negara yang disebut indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; saya akan sedikit memberikan pencerahan pada sampeyan semuanya ( itu termasuk juga teman saya diatas yang kepalanya sudah cenut cenut kalau berbicara soal negara indonesia ini.) kalau sebenarnya memang tidak ada alasan untuk kita tidak nasionalis. kita kesampingkan dulu masalah masalah yang ada. perekonomian yang kacau, sistem hukum yang tidak jelas, lembaga lembaga negara yang sudah tidak bisa dipercaya, hingga akhirnya berimbas kemasyarakat kita. mahalnya biaya hidup, tingginya krimalitas, tinggat kemiskinan yang semakin menurun (makin menurun keanak cucu maksud saya.) hingga akhirnya bisa menyebabkan hilangnya rasa nasionalis dalam diri kita untuk indonesia tercinta.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; jika hanya karena hal hal tersebut rasa nasionalis kita hilang, maka celakalah kita. kasihan kita. kasihan para pejuang yang sudah berjuang untuk bangsa kita ini. dari perjuangan yang bersifat kedaerahan, seperti diponegoro, pattimura, cut nya dien, kartini dan yang lainnya. sampai perjuangan yang bertujuan untuk satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air lewat sumpah pemuda. maksud saya, tidak sadarkah kita tentang apa yang sudah mereka semua perjuangkan ? nusantara yang luas ini. negara yang sangat kaya ini. tanah air yang subur ini. matahari ada setiap tahunnya dengan gratis, hujan turun tak pernah terlambat, penduduk yang jumlahnya lebih dari 230 juta jiwa, budaya beraneka ragam dari 300 suku daerah yang berbeda, hingga menjadikan kita negara terbesar didunia setelah china, india dan amerika. lantas alasan apalagi yang kita butuhkan untuk tidak nasionalis ? sumberdaya ? semuanya ada, syarat peradaban ? semuanya ada, tenaga ? semuanya ada. dan tidak ada pula alasan untuk tidak sejahtera. semua tinggal bagaimana diri kita sebagai manusia mulia (itu juga kalau kita masih menganggap diri kita sebagai makhluk mulia ciptaan Tuhan.) untuk memulainya. untuk memperjuangkannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; dan ketika para pemimpin bangsa, para pejabat tinggi negara, para wakil rakyat, juga para aparat aparat ambil bagian dalam pengurusan negara ini, untuk mempimpin 230 juta lebih penduduk dan bahkan sampeyan semua bisa membayangkan kalau penduduk kita 2 kali jumlah penduduk pada waktu zaman rasulullah menjadi pemimpin. jadi seandainya sampeyan memimpin negara ini, dan diberikan sebuah kepercayaan, tidakkah itu adalah tugas yang paling mulia ? begitupula jika sampeyan sampeyan ikut mengatur struktur organisasi terbesar yang bernama negara, entah itu menjadi pejabat tinggi, wakil rakyat hingga aparat untuk menjadikan negara ini makmur dan sejahtera, bukankah itu suatu ibadah yang sangat indah ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; tapi sungguh hal itu tidak semudah yang diucapkan atau yang saya tuliskan. zaman sudah berubah. dulu rasa cinta terhadap bangsa ini timbul karena memang ingin menjadi bangsa yang merdeka, sehingga perjuangan dilakukan dengan hati yang ikhlas. sedangkan sekarang rasa cinta terhadap bangsa timbul karena ini sebuah pekerjaan, bukan perjuangan. hingga akhirnya timbul istilah penguasa. hingga kesempatan kesempatan untuk melakukan tindak kejahatan negara akan selalu ada. hukum yang sudah dimanipulasi, budaya suap hingga korupsi, sistem undang undang yang carut marut, dan akhirnya warga negara ini yang menanggung rugi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; inikah nusantara kita yang katanya terbentuk dari kerajaan kerajaan yang mengagungkan adat ketimuran yang sopan, sementara sekarang tembok tebal tinggi menjulang tercipta sebuah kesenjangan. inikah warisan nenek moyang kita yang sudah mengajarkan kita unggah ungguh dan tata krama, sementara sekarang sudah tidak ada lagi untuk kita rasa hormat menghormati, inikah sumpah pemuda yang dulu pernah diciptakan pemuda bangsa untuk sebuah pembaharuan, sementara sekarang anak anak muda kita terjebak dalam narkotika dan obat obat terlarang hingga mati dan hilang harapan masa depan ini. inikah kemerdekaraan yang sudah dihasilkan para pahlawan dan pejuang kita lewat rasa cinta terhadap tanah air, sementara setelah itu kita dijajah oleh bangsa kita sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; dan masih ingatkah kalian semua ketika kita menyanyikan lagu 'indonesia raya' waktu upacara bendera ? dengan hormat tangan kita terangkat. menengadah kepala kita memandang bendera merah putih berkibar kibar. seakan terbang dalam luas angkasa. menyingkirkan gelap awan mendung warna hitam. juga memayungi kita dari hujan yang deras menghujam. dan sudahkan kita berkaca pada diri kita jika kita mengingat hal tersebut ? lupakah kita semua ? dan masihkah ada rasa cinta indonesia didada ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; semoga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;*vertical signature image by : doze&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src=&quot;http://mata.blogspirit.com/images/ic_m.gif&quot; alt=&quot;ic_m.gif&quot; style=&quot;border-width: 0; float: left; margin: 0.2em 1.4em 0.7em 0;&quot; /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>mata</name>
<uri>http://mata.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>mencari cinta</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://mata.blogspirit.com/archive/2009/11/17/mencari-cinta.html" />
<id>tag:mata.blogspirit.com,2009-11-17:1854148</id>
<updated>2009-11-17T11:40:25+07:00</updated>
<published>2009-11-17T11:40:25+07:00</published>
<category term="Cerita" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<summary> dan kepala saya menjadi cenut cenut ketika melihat ajang pencarian jodoh...</summary>
<content type="html" xml:base="http://mata.blogspirit.com/">
&lt;p&gt;dan kepala saya menjadi cenut cenut ketika melihat ajang pencarian jodoh yang ada ditelevisi yang hampir ditanyangkan setiap waktu itu. sungguh saya seperti melihat orang orang frustasi yang seolah olah sudah tidak sabar seakan besok hari datang kiamat, dan mungkin terbesit dalam benak mereka semua apa jadinya jika saya ini belum mendapatkan pasangan hidup ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; semua berkumpul jadi satu. berlomba lomba mencari cinta sejati, itu katanya. dari usia yang masih terlihat belia sampai yang sudah tua. dari yang masih perawan sampai yang sudah janda punya anak. dari yang perjaka sampai yang baru saja menjadi duda. dari yang berwajah tampan sampai muka pas pas'an. semuanya jadi satu tumplek blek dalam acara tersebut. dari wiraswasta, guru, marketing, pengacara, dokter gigi, pengusaha, seniman, musisi, pegawai negeri dan apapun bentuk profesinya, semuanya merasa punya potensi untuk mendapatkan sebuah cinta sejati yang akan dibawanya sampai mati, itu juga katanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; tapi ada beberapa yang sedikit jual mahal. alasan alasan seperti perbedaan agama, prinsip, fisik juga materi. seperti &quot;saya kurang suka sama rambutnya.&quot; atau &quot;aduh, masak pasangan saya lebih pendek dari saya ?&quot; atau &quot;menurut saya terlalu lebay deh.&quot; dan parahnya &quot;plis deh, dengan pekerjaan kamu seperti itu, situ bisa menggaji saya 20juta per bulan ?&quot; hal hal seperti itulah yang membuat saya menggeleng gelengkan kepala. tapi banyak juga yang maju terus pantang mundur. setidaknya dia tidak menuntut apa apa karena sadar diri mempunyai muka yang pas pas'an. mungkin dalam benaknya: kawin ! minggu depan aku kawin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;apa segitu susahnya ya orang mencari pasangan hidup ? mbok ya kalau susah mencari pasangan hidup ya cari pasangan mati saja. itu di njaratan kan banyak.&quot; kata saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;orang kok sukanya komentar. diambil segi positifnya saja. setidaknya dengan adanya acara acara seperti itu bisa memberikan dalan padang bagi mereka meraka yang ingin punya pasangan. bisa jadi mungkin itulah jalan yang diberikan gusti allah sama mereka untuk mencari cintanya. jawab istri saya dengan diplomatis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;bukan begitu, wong mau kawin saja kok susah. perasaan kita dulu ngga sampai segitunya deh ?&quot; kata saya lagi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;ngga sampai bagaimana ?&quot;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;ya pokoknya semuanya serba gampang dan ngga ribet. waktu pertama kali bertemu wajahmu, terus waktu pacaran lantas menikah sampai sekarang.&quot; jawab saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;yo kebetulan wae tak bikin gampang, kasihan nanti kalau tak bikin susah. ngga tega melihat tampang memelasmu itu mas.&quot; jawab aurel.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;dibikin gampang atau memang kamu juga cinta ? mbok ya ingat pas jaman pacaran dulu. setiap hari ketemu terus. ngga peduli angin ribut, hujan deras sampai hujan abu waktu gunung merapi mau meletus kamu minta ketemu. lupa ya ? kalau dulu pernah bilang ngga bisa tidur kalau belum dengar suaraku ?&quot; jawab saya sambil cengengesan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;mbuh...&quot;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; cinta. seolah dijaman sekarang ini, cinta terkondisikan bukan suatu hal yang utama. dulu katanya datang dari mata turun kehati. sekarang saya rasa ungkapan itu hanya untuk orang orang kuno macam saya. susah mencari cinta dijaman sekarang ini. tak hanya bermodal tampang dan baik hati saja, tapi harus bermateri. bukan hanya setia dan saling memiliki, tapi juga harus bisa memberi. hingga akhirnya banyak orang kurang beruntung seperti teman teman kita diacara televisi itu mencari sosok pasangan yang sempurna.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; dan pertanyaan selanjutnya. jika memang sudah mendapatkan pasangan, (yang mungkin saya melihatnya terlalu dipaksakan untuk mendapatkan pasangan.) seyakin apakah kalau itu adalah orang yang tepat pilihannya ? seinstan itukah mereka mengenal satu sama lain lantas menjalin sebuah komitmen untuk hidup berumah tangga ? atau ini memang hanya sebuah permainan cinta yang dikemas baru dalam sebuah program acara bernama reality show ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;saya rasa sampeyan memang kuno mas. dijaman sekarang ini memang ngga cukup modal cinta. mau dikasih makan apa kalau tak punya modal ? sementara kebutuhan hidup yang semakin membumbung tinggi, perekonomian negara yang makin semrawut, ditambah merajalelanya para kuruptor yang semakin menyengsarakan rakyat. bisa apa kita kalau ngga punya materi yang cukup ? apalagi menyangkut urusan cinta.&quot; komentar teman saya suatu hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; lantas dengan pikiran yang cekak ini saya bertanya tanya. apa hubungannya negara yang sedang rusuh (baca: rusuhnya peekonomian negara, rusuhnya lembaga lembaga pemerintahan, rusuhnya keadilan kita, rusuhnya para wakil rakyat, rusuhnya para pejabat negara, juga tak lupa para koruptor yang selalu ikut andil jika terjadi kerusuhan ini.) dengan urusan cinta yang diumbar dalam acara televisi seperti ajang pencarian pasangan hidup.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;ya harus dihubungkan, biar semuanya terbuka. mbok sampeyan ini mikir, bukankah kita ini para masyarakat yang suka buka buka'an. apalagi soal cinta, ya harus terbuka. bukannya situ juga manusia terbuka ?&quot;&amp;nbsp; kata teman saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;terbuka aibnya maksud saya.&quot; lanjut teman saya lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src=&quot;http://mata.blogspirit.com/images/ic_m.gif&quot; alt=&quot;ic_m.gif&quot; style=&quot;border-width: 0; float: left; margin: 0.2em 1.4em 0.7em 0;&quot; /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>mata</name>
<uri>http://mata.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>binatang</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://mata.blogspirit.com/archive/2009/11/10/binatang.html" />
<id>tag:mata.blogspirit.com,2009-11-10:1850691</id>
<updated>2009-11-10T13:26:40+07:00</updated>
<published>2009-11-10T13:26:40+07:00</published>
<category term="Cerita" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<summary> saat ini saya merasa kasihan pada para binatang binatang yang nama mereka...</summary>
<content type="html" xml:base="http://mata.blogspirit.com/">
&lt;p&gt;saat ini saya merasa kasihan pada para binatang binatang yang nama mereka dijadikan pelampiasan manusia untuk merendahkan manusia yang lain. saya jadi berfikir, apakah para binatang binatang itu menggunakan istilah manusia untuk membinatangkan binatang lainnya. entahlah, lha wong saya ini bukanlah binatang. tapi makhluk Tuhan paling mulia yang bernama manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; dosa apa para binatang itu hingga mereka menjadi sebuah tumbal untuk sebuah simbolisasi yang tersesan busuk, rendah, jorok, picik, dan entah kejelekan apa lagi yang ada dipikiran kita sebagai manusia untuk mengistilahkan binatang sebagai aib dalam kehidupan manusia. hingga nama binatang seperti anjing, monyet, babi, ular, kambing, bajing, tikus, hingga buaya. padahal tak ada hal yang mereka lakukan selain mencari makan, bertahan hidup, melindungi anak anaknya dan membuat sarang. juga tak pernah mereka mengenal kekuasaan dan mengenal yang namanya harta benda. lantas, salah apa binatang binatang itu hingga sedemikian kejinya kita menggunakan suara yang lantang, urat saraf yang tegang dan mata meradang. kita mengucapkan makhluk Tuhan yang namanya binatang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; bukannya saya tidak bersyukur menjadi manusia yang telah menerima segala nikmat Tuhan. merasakan keindahan dunia lewat mata, nikmatnya cinta lewat hati, merdunya suara lewat telinga, juga akal pikiran dan hawa nafsu yang harus kita kendalikan. tapi, sebagai manusia saya juga merasakan kekecewaan ketika melihat manusia lainnya saling caci, saling maki, saling benci. ketika melihat manusia saling menyakiti. ketika melihat manusia saling mengkhianati. penjahat yang melukai. aparat penegak hukum juga lembaga pemerintah yang entah apa bisa kita percayai. juga terlebih lagi koruptor yang membuat negara ini merugi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; jadi, layakkah kita menyebut binatang kepada manusia manusia ini ? yang sesungguhnya jika binatang binatang itu bisa mengerti apa yang sedang terjadi, mungkin mereka akan tertawa. itukah manusia ? yang bagaimanapun juga statusnya entah itu baik atau buruk tetap saja judulnya sebagai makhluk Tuhan paling mulia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;sudahlah, mbok ya sampeyan ini bersyukur sudah diciptakan sebagai manusia. punya cinta, sehat walafiat, juga bahagia. kecewa dengan mereka mereka itu ya boleh saja, tapi ngga harus kecewa karena sudah menjadi manusia tho ? apa sampeyan mau menjadi binatang ?&quot; tanya istri saya. belum sempat saya mengomentari istri saya ngomong lagi &quot;memangnya sampeyan mau jadi binatang apa mas ?&quot;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; spontan saya berkata &quot;burunggggg...&quot;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;lha wong punya burung saja ngga bisa memelihara dengan baik kok mau jadi burung.&quot; tanya istri saya. (sebelumnya mohon komentar istri saya ini jangan disalah artikan. karena saya memang punya peliharaan burung peninggalan ayah saya. dua perkutut, dua derkuku, satu kutilang, satu murai batu, dan satu cucak ijo.)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;loh jangan salah, burung itu adalah binatang yang paling dicintai manusia. selain itu burung juga tergolong hewan peliharaan yang punya nilai jual tinggi. kamu juga sudah tau kan kalau murai batu kita sudah ditawar satu juta. kalau saja itu bukan peninggalan bapak, wes tak jual. lagian apa kamu pernah dengar ada manusia menggunakan istilah burung ? BURUNG! atau DASAR BURUNG!!! atau TITITMU KUI!!! bukannya marah, malah membuat orang ketawa.&quot; kata saya. dan istri saya geleng geleng mendengarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; mungkin ada benarnya juga pertanyaan istri saya. nah, kalau disuruh milih kalian mau jadi binatang apa ? hahahaha&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;cicakkkkkk...&quot; jawab teman saya serentak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src=&quot;http://mata.blogspirit.com/images/ic_m.gif&quot; alt=&quot;ic_m.gif&quot; style=&quot;border-width: 0; float: left; margin: 0.2em 1.4em 0.7em 0;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>mata</name>
<uri>http://mata.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>kembali lagi</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://mata.blogspirit.com/archive/2009/11/09/kembali-lagi.html" />
<id>tag:mata.blogspirit.com,2009-11-09:1850234</id>
<updated>2009-11-09T15:42:47+07:00</updated>
<published>2009-11-09T15:42:47+07:00</published>
<category term="Cerita" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<summary> jujur saya bertanya tanya apakah sampeyan sampeyan itu bener bener...</summary>
<content type="html" xml:base="http://mata.blogspirit.com/">
&lt;p&gt;jujur saya bertanya tanya apakah sampeyan sampeyan itu bener bener merindukan tulisan saya ? heran ? sebenarnya apa bagusnya selain melihat kehidupan saya yang ngga sempurna, melihat cerita saya yang membosankan, membaca kisah cinta saya yang kelewat romantis, amburadulnya kelakuan temen temen saya, mulut saya yang seperti sampah karena terlalu mengumbar aib orang, hingga akhirnya saya terkesan menjadi manusia yang ngawur. coba pikir. semoga kalian bisa bantu saya mikir, sebab saya memang ngga bisa mikir. apa bagusnya tulisan saya ? &quot;blas ngga ada bagus bagusnya.&quot; begitulah sahut teman saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; lantas kembali saya bertanya. apa tujuannya ? dulu saya katakan kalau menulis adalah obat dari kegilaan hidup saya. semua hal yang mengganjal dalam hati dan tidak bisa keluar dari mulut saya tuangkan dalam tulisan. menulis bagi saya adalah motivasi hidup. tapi bukan berarti saya menjadi seorang motivator hidup. saya serba blak blak'an. sepertinya tidak ada rahasia dalam diri saya, tidak ada hal yang perlu disembunyikan. bahkan teman saya mengatakan kalau saya ini terlalu over, lebay, cap cus, dan terlalu berterus terang. bahkan hal yang saya utarakan itu hanya melihat dari kaca mata yang saya kenakan. apa menurut pandangan saya. hingga saya dicap sebagai manusia egois, terkesan sombong, dan ngawur. walau teman teman saya sebenarnya juga sudah memahami kalau saya ini juga tak luput dari salah dan dosa. sadar hanyalah manusia biasa. biasa ngawur maksudnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; nah, mungkin ada sebagian orang yang bisa menjadikan kisah yang saya tulis sebagai pembelajaraan hidup. ada juga yang memandang sisi positif dan mengambil hikmah dari tulisan yang saya sampaikan. dan tidak sedikit dari teman saya yang ikut mendukung dan mensuport saya untuk tetap semangat dalam hidup ini. rasa itulah yang membuat saya ingin terus menulis. saling berbagi dan melengkapi. tentang perihal baik dan buruk. suka dan duka. cinta dan derita. hidup dan mati. seperti dikatakan rho teman saya dikampoeng sebelah yang entah sekarang dimana dia berada, belgia, belanda atau masih di yogya ? kalau hidup itu semuanya serba kosok balen.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; setelah saya kembali mikir. rasanya kalau saya meninggalkan dunia maya, saya malah semakin menjadi manusia yang anti sosial. maksud saya begini. sudah dikehidupan nyata saya jarang bergaul eh lha kok dikehidupan dunia maya saya semakin menjauh. bukankah saya seharusnya malah bersyukur dan terima kasih karena saya sudah punya temen buanyak ? bukannya hal itu yang saya lakukan tapi saya malah meninggalkan teman teman yang sudah mengenal saya. saya mau hidup ini seimbang, tanpa harus ditimbang. semakin mengenal dunia nyata, hidup dikampoeng, penuh unggah ungguh, saling menyapa, wedangan, ronda, rapat rt, arisan, hadir dalam hajatan, mengusap air mata kalau ada layatan, juga hidup serasi, seiya, sekata, saling bantu dalam bertetangga. deso mowo coro negoro mowo toto. dan tak lepas dari itu semua, saya ingin tetap menjalin hubungan baik dengan teman teman saya yang jauh lewat dunia maya. hingga tali silaturahmi ini ngga putus. tidak akan pernah lupa. dan tak akan pernah hilang dari ingatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; saya cuma mau bilang. blog ini tak akan mati ! dan saya masih disini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src=&quot;http://mata.blogspirit.com/images/ic_m.gif&quot; alt=&quot;ic_m.gif&quot; style=&quot;border-width: 0; float: left; margin: 0.2em 1.4em 0.7em 0;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>mata</name>
<uri>http://mata.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>1430H</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://mata.blogspirit.com/archive/2009/09/17/1430h.html" />
<id>tag:mata.blogspirit.com,2009-09-14:1823614</id>
<updated>2009-09-14T10:00:34+07:00</updated>
<published>2009-09-14T09:48:00+07:00</published>
<category term="Special Moment" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<summary>  Saya Ucapakan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H, Mohon Maaf Lahir Dan...</summary>
<content type="html" xml:base="http://mata.blogspirit.com/">
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Saya Ucapakan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H, Mohon Maaf Lahir Dan Batin&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: left&quot;&gt; &lt;div style=&quot;text-align: left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;img src=&quot;http://img410.imageshack.us/img410/3292/1430h1.jpg&quot; alt=&quot;1430h1.jpg&quot; style=&quot;border-width: 0; margin: 0.7em 0;&quot; /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style=&quot;text-align: left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;img src=&quot;http://mata.blogspirit.com/images/ic_m.gif&quot; alt=&quot;ic_m.gif&quot; style=&quot;border-width: 0; margin: 0.7em 0;&quot; /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>mata</name>
<uri>http://mata.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>hiatus</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://mata.blogspirit.com/archive/2009/08/07/hiatus.html" />
<id>tag:mata.blogspirit.com,2009-08-07:1806150</id>
<updated>2009-08-07T10:24:21+07:00</updated>
<published>2009-08-07T10:24:21+07:00</published>
<category term="Note" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<summary> bingung   apa yang mesti saya tulis lagi dalam blog saya ini   mungkin ada...</summary>
<content type="html" xml:base="http://mata.blogspirit.com/">
&lt;p&gt;bingung&lt;/p&gt; &lt;p&gt;apa yang mesti saya tulis lagi dalam blog saya ini&lt;/p&gt; &lt;p&gt;mungkin ada baiknya saya hiatus dulu untuk sementara&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src=&quot;http://mata.blogspirit.com/images/ic_m.gif&quot; alt=&quot;ic_m.gif&quot; style=&quot;border-width: 0; float: left; margin: 0.2em 1.4em 0.7em 0;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>mata</name>
<uri>http://mata.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>sepeda</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://mata.blogspirit.com/archive/2009/07/25/sepeda.html" />
<id>tag:mata.blogspirit.com,2009-07-25:1800202</id>
<updated>2009-07-25T10:41:36+07:00</updated>
<published>2009-07-25T10:41:36+07:00</published>
<category term="Curhat" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<summary> itulah usaha yang saya tekuni sekarang ini. lebih tepatnya warisan dari ayah...</summary>
<content type="html" xml:base="http://mata.blogspirit.com/">
&lt;p&gt;itulah usaha yang saya tekuni sekarang ini. lebih tepatnya warisan dari ayah saya. kami menyebutnya bukan toko, shop, store, atau istilah keren lainnya yang digunakan orang orang sekarang ini. seperti orang jualan baju tapi mereka menyebutnya butik, orang jualan makanan tapi enggan disebut warung dan menamakannya resto. atau orang punya jasa pelayanan internet tapi malu disebut rental warnet dan menamakannya internet cafe. kami menyebutnya bengkel. bengkel sepeda. ayah memulai usaha ini sejak awal tahun 70an. tanpa modal sama sekali. hanya mengandalkan kedua tangan dan kakinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; ada kalanya saya harus ceritakan dulu, bagaimana keadaan kami waktu itu. menurut cerita ibu, hidup dijaman itu sangatlah susah. ibarat kata bisa mendapatkan sepiring nasi sehari, itu sudah cukup. dan beruntunglah orang yang bisa makan nasi. sebab biasanya mereka cuma bisa makan jagung dan ubi ubian yang dibakar. kota kami belum sebesar sekarang ini. jalanan depan rumah kami masih sempit. hanya dilewati sepeda, becak dan sesekali kereta roda pedati. belum juga tebal karena aspal. masih mengeras warna merah tanah yang memadat. pohon pohon masih berdiri dengan rindang. waru, ringin, jati juga asem melengkapi betapa kota kami terlihat tua. begitulah kondisi kota kami waktu itu. jika kamu bisa merasakannya dan menghayati lebih dalam, akan kamu rasakan kebisuan dan keremangan yang panjang. kupu kupu masih berkeliaran, ngengat dan kunang masih berdesingan, juga laron yang beterbangan dalam cahaya lampu jalan yang redup petang menyala dengan jarang. bangunan bangunan tua yang terawat dengan sejarah penjajah jaman walanda yang tergurat. hamparan sawah yang luas dengan orang orangan dan gubuk ditengah. sungai sungai yang masih jernih. juga hamparan padang tanah lapang yang luas tempat anak anak bermain main hingga petang datang menjelang. sedangkan rumah kami masih berdinding ayaman bambu, belum tembok batu bata dan berpondasi besi cor semen yang kuat. begitu pula lantai tanah yang masih berupa tanah, belum mengkilat warna putih porselen seperti saat ini. penerangan masih menggunakan petromak. hiburan hanya berupa suara rengeng rengeng radio. tidak ada sanyo karena harus menimba kalau mau mendapatkan air untuk mandi atau memasak. memang, waktu itu sungguh remang, tetapi terasa tenang...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; dalam kondisi seperti itulah ayah membuka usaha bengkel sepeda. service sepeda. bukan sepeda motor akan tetapi sepeda onthel. sepeda geos. sepeda kayuh. sepeda adalah kaki bagi mereka yang menggunakannya. bagi pak tani yang subuh subuh berangkat kesawah, bagi para pedagang sayur yang jualan dipasar, juga bagi guru yang mengajar murid muridnya disekolah. maka, dengan meminjam perkakas dari tetangga sebelah rumah seperti palu, obeng, tang, dan yang lainnya. karena kata ibu, dulu ayah belum punya peralatan kerja sepeti itu. maka dia meminjamnya dan mengembalikannya setelah selesai. ayah mulai menekuni usaha service sepeda ini. segala jenis sepeda dari sepeda jengki, sepeda mini, sepeda kebo, strimin, sepeda roda tiga, sepeda anak anak, sampai gerobak dan becak roda tiga ayah bisa mengerjakannya. ada yang minta ditambal bannya karena bocor, ada yang minta diganti gearnya, remnya, gotri, as, atau rantai yang mungkin sudah rusak. maka kalau sudah urusan ganti mengganti ayah berjalan kurang lebih 10 km untuk membeli onderdil atau sparepart yang dibutuhkan. karena sudah mengenal dengan baik bisa dibayar belakangan. dulu kata ibu, ongkos untuk tambal ban yang bocor saja cuma 10 rupiah. entah apa itu sepadan dengan tenaga dan keringat yang keluar. setelah mendapatkan ongkos biaya jasa, biasanya ayah menyisihkan sebagian uang tersebut. dimasukkan dalam celengan bambu penyangga atap dalam rumah yang dilubangi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; setelah bertahun tahun, akhirnya usaha ayah membuahkan hasil. ayah tidak hanya menerima service sepeda tapi kini ayah juga menyediakan beberapa sparepartnya. seperti ban luar, ban dalam, velg, ruji atau jari jari, bos, as, laker, porok, sadel, pedal, mur dan baut dan yang lainnya. tentu saja selain dari uang tabungannya ternyata ayah mendapatkan kepercayaan penuh dengan teman bisnisnya. seorang cina baik hati yang mempunyai usaha sepeda terbesar dikota kami yang memberikan barang konsi. apa yang dibutuhkan bisa bisa membayar belakangan. dengan kata lain titip jual. dan hal itu berjalan sampai sekarang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; kini perkembangan sepeda semakin maju. dari harga ratusan ribu sampai puluhan juta. jenisnya pun semakin banyak, dari BMX, city bike, road bike, mountain bike, sampai folding bike. sparepartnya pun juga banyak pilihan. juga bahannya makin beragam, dari besi, crMO, alloy, carbon sampai titanium. betapa bodohnya saya. kenapa dari dulu saya tidak mendalami lebih dalam dan membantu ayah dalam usaha sepedanya ini. hingga saya harus belajar dari awal lagi. dulu, saya malah asyik dengan dunia saya sendiri. dunia tehnologi yang membuat saya dan mungkin membuat semua orang seperti saya menjadi sosok yang anti sosial karena hanya bertemankan sebuah benda mati yang hidup kerena aliran listrik dan sinyal. hingga saya susah untuk meninggalkannya. hingga saya tidak mengenal dunia saya yang sebenarnya. dunia saya yang sesungguhnya. dunia seperti yang ayah tekuni. berhubungan dengan semua banyak orang. para pedagang sayur, tukang becak, makelar sepeda, orang orang pasar, petani, mendreng, juga bengkel bengkel sepeda dan tambal ban seperti yang dilakukan ayah saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; yang saya rasakan saat ini hanya bangga. bangga mendapatkan tanggung jawab dari ayah untuk meneruskan usahanya ini. menjadi seorang bakul sepeda, makelar sepeda, tukang service sepeda atau apapun itu sebutannya. tidak ada kata malu disini. hanya kata bangga yang bisa saya teriakkan. melihat usahanya sudah berhasil dan berjalan sampai sekarang. tanpa modal hanya dengan kedua kaki dan tangan. tanpa utang bank. tanpa utang lintah darat. tanpa pinjaman dari teman. hingga bisa menembok rumah dengan cor semen yang tebal. membuat atap rumah dengan lambaran ternit yang terlihat apik. membuat talang dan saluran buat jalan air mengalir. memporselen lantai dengan keramik warna putih. dan mengecat tembok dengan cat anti panas dan hujan. hingga bisa menyekolahkan anak tirinya yang nakal seperti saya, juga tak lupa memberinya uang saku setiap hari. karena ayah pernah berkata, bahkan seperti orang tua lainya juga pernah berkata kalau hidup itu bagaikan roda. jika kamu ada dibawah, ingatlah pada Yang Diatas. jika kamu ada diatas, jangan lupa yang dibawah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src=&quot;http://mata.blogspirit.com/images/ic_m.gif&quot; alt=&quot;ic_m.gif&quot; style=&quot;border-width: 0; float: left; margin: 0.2em 1.4em 0.7em 0;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
</content>
</entry>
</feed>