09 April 2008
dijatuhi cinta ?
dulu, setahun yang lalu saya pernah menulis postingan dengan judul selingkuh. banyak pula komentar yang berdatangan. bukan hanya dari teman teman blog yang saya kenal tapi juga dari banyak orang ngga jelas yang saya ngga kenal. banyak juga mengira postingan itu nyata adanya. dan banyak pula yang menanyakan pada saya lewat email atau offline message apakah saya benar benar melakukan hal tersebut. padahal yang saya tulis itu adalah narasi dan hanyalah perumpamaan semata.
beberapa bulan yang lalu, setiap jam 12 siang sampai jam 1 siang, atau bisa dikatakan pas waktu istirahat. ponsel saya yang deringnya seperti jangkrik ( itu juga kata teman saya ) pasti berbunyi. bukan dari client saya yang sukanya sering kali menanyakan bagaimana cari menghidupkan wifi atau bukan dari teman saya yang sukanya iseng mempertanyakan hal hal yang kurang penting. tapi telp itu dari teman sekantor saya yang sebenarnya memang kadang saya sendiri sampai bingung dibuatnya. entah itu hanya sekedar menanyakan saya lagi ngapain atau menanyakan apakah saya sudah makan siang atau belum. herannya lagi kenapa mesti telp lewat ponsel saya yang bunyinya seperti jangkrik tadi ? padahal kan bisa dilakukan dengan menggunakan interkom ( begitulah kami menyebutnya )
"mas ngga sadar ya kalau sedang dijatuhi cinta ?" kata teman saya suatu hari.
"iya, padahal kan orangnya galaknya setengah macan. judes. bisa jadi itu yang menyebabkan dia belum nikah sampai sekarang. padahal kan umurnya sudah 30 tahun lebih. ( entah lebihnya berapa saya tidak tahu. ) lanjut teman saya yang lain.
lalu saya tidak pernah ambil pusing soal pendapat teman teman saya tadi. selalu, setiap dia telp saya juga tanggapin dengan baik baik. tidak pernah kok saya merasa begini atau begitu. atau berfikir jangan jangan begini dan begitu. bahkan dengan pasrah saya tidak bisa menolak ajakan dia untuk makan siang bersama. sebab memang saya tidak pernah berfikiran macam macam. toh saya hanya menganggap dia teman yang menyenangkan. ( itu anggapan saya, entah anggapan teman teman disini lainnya. )
"sampeyan juga sih mas, suka ngasih lampu ijo gitu." kata teman saya lagi.
"lah memang salah. saya ini kan orangnya baik hati. ngga hanya sama dia saja, tapi sama semua orang juga kok." sambar saya.
"iya. baik hati. tapi baik hati ente itu srigala." sahut teman saya yang satunya lagi. sambil ketawa.
"hati hati lho mas, kalau dia bisa bisa jatuh cinta beneran, sampeyan yang bisa dibikin repot nantinya." kata teman saya lagi.
lalu saya setengah tidak percaya ( itu artinya setengah lagi saya percaya ) soal hal ini yang menurut saya memang agak sedikit dibesar besarkan oleh teman saya yang mulutnya memang sedikit ember. apakah kalau nanti dia jatuh cinta sama saya itu berarti suatu hal yang membahayakan atau bagaimana ? saya bingung.
lalu saya membayangkan lagi perihal saya dijatuhi cinta sama teman saya sekantor itu. bayangan saya tidak lain tidaklah bukan sang istri saya tercinta. masalahnya ya itu. saya tidak punya nyali untuk berani main api. bahkan teman saya dengan terang berkata. "sampeyan memang bukan laki laki sejati mas."
jangankan berfikiran untuk main api, lha wong melirik cewek saja ( maksudnya ingin melihat keindahan mahluk ciptaan Tuhan, wajar kan ? wong saya punya mata ) langsung saya dikomentarin. "puas mas ngelihatnya ?" kata aurel suatu hari. "ngga kok, itu cewek tadi sepertinya anaknya pak rt." jawab saya dengan gesit. "alasan, pak rt kan anaknya cowok semua." jawabnya ketus sambil mengeluarkan komentar yang lainnya.
itulah salah satu alasan kenapa saya mengurungkan niat untuk bermain api. walaupun berjuta kesempatan datang menghampiri saya. tapi sungguh saya benar benar tidak sampai hati. maksud saya begini, kalau saya sudah menemukan cinta, bahagia, hidup bersama. untuk apa lagi ?
hari ini saya chat dengan seorang teman. lalu dia berkata. "laki laki memang suka flirting gak jelas gitu, ngajak keluar makan, sms hanya untuk ngingetin makan."
"loh, itu kan hanya sekedar perhatian. punya mulut kan ?" kata saya. "ah, saya ini ngga butuh pergatian macem gitu, saya butuh dikawinin." jawab teman saya lagi. "memang jej berani kawin ? sakit lho..." kata saya. "yoooo, mentang2 situ udah pengalaman menyakiti." sahutnya lagi. "saya tidak pernah menyakiti kok. tapi saya yang selalu tersakiti. selalu tertekan." jawab saya lagi.
nah kalau sudah seperti itu. apa ya saya ini masih kurang ?
"iya kurang mas. kurang ajar maksudnya." sambar teman saya PUAS.

10:38 Posted in Cerita | Permalink | Comments (18) | Email this
05 March 2008
normal ?
Akhir akhir ini saya dipusingkan dengan masalah perbedaan. Dikepala saya terngiang ngiang pertanyaan, kenapa begitu pentingnya orang membeda bedakan, misalkan kemaren waktu saya disuruh lembur kerja dihari minggu. Dengan keras saya menolak, maksud saya begini, tidak masalah bagi saya untuk lembur dihari minggu, tapi begitu saya ada acara keluarga yang penting apakah saya tidak bisa ijin ?
Lalu saya berkata pada teman saya yang kerjanya disini mempunyai kedudukan yang lebih penting daripada saya. Perihal saya begini begitu, tapi dia hanya berkata “ya itu resiko kamu, kamu kan anak baru, aku kan anak lama.”
Kalimat tersebut yang sampai sekarang terngiang ngiang ditelinga saya. Apakah perihal karena saya baru lantas itu merupakan sebuah kelebihan dirinya ? saya kurang paham bagaimana bisa seperti ini. Apa yang membedakan antara anak baru dengan anak lama ? bahkan saya sampai beranggapan kalaupun soal kemampuan dalam bekerja saya yakin saya yang lebih bisa daripadanya.
Tapi sudahlah, saya tidak akan lagi membahas masalah kerjaan dalam tulisan ini. Sebab saya sudah terlalu dipusingkan dalam urusan kerja. Kalau saya punya kesempatan menulis seperti sekarang ini ya lebih baik saya menulis dengan apa yang ada dalam pikiran saya. Saya tidak mau berpusing pusing lagi dalam urusan tulis menulis apalagi bercerita masalah pekerjaan yang mungkin tidak akan pernah ada habisnya. Cukup dibilang saya sedang gila, itu sudah mewakili apa yang saya kerjakan saat ini.
Kembali kemasalah perbedaan.
Teman saya pernah berkata, menjadi orang normal itu lebih susah daripada menjadi orang ngga normal. Ternyata memang benar, untuk menjadi orang normal memang membutuhkan perjuangan keras. Seperti halnya menjadi orang baik lebih susah daripada menjadi orang jahat.
“syukur alhamdullilah ya mas, kita ini masuk orang orang yang normal.” Kembali saya bertanya dengan pertanyaan kenapa “kok bisa ?”
“loh,… mas ini gimana ? hidup serba kecukupan, kerjaan tetap, istri yang setia, dan teman yang selalu ada disaat senang ataupun susah.” Tambahnya lagi. Lalu saya berfikir dalam hati ( sebab otak saya sedang capek mikir. ) ternyata orang ngga normal itu bukan saja orang yang cacat mental, epilepsy, homoseks dan yang lainnya. Ternyata predikat ngga normal itu juga hidup serba ngga berkecukupan, ngutang sana ngutang sini, ngga punya pekerjaan, juga tidak punya istri yang setia atau punya teman yang tidak peduli dengan kita. Selain itu ngga normal itu,…”ya seperti sampeyan itu mas.” Jawab teman saya dengan cepat.
Saya berfikir lagi,sejauh mana penggolongan orang normal itu. Dan sejauh mana batasan orang tersebut dikatakan ngga normal. Jika dikatakan normal kalau saya ini sehat jasmani dan rohani punya panca indra yang sempurna, ya saya normal. Jika dikatakan normal kalau saya ini punya kerjaan yang mapan, istri yang setia, dan teman yang mau bebagi baik suka maupun duka, ya lagi lagi saya normal. Lantas apa yang membuat teman saya berkata kalau saya ini ngga normal ?
“ya mungkin tampang jej dah ngga normal kali mas,…” kicau teman saya satunya lagi.
Setelah saya dikatakan ngga normal, sekarang tampang saya yang dikatakan kurang normal. Dosa apa yang saya lakukan selama ini hingga saya dicap sebagai manusia yang ngga normal.
“loh mas, bukannya dari lahir saja jej sudah ngga normal ? delapan bulan dalam kandungan sudah keluar itu kan namanya sudah ngga normal. Jadi pas donk ik ngatain jej manusia ngga normal. Harus bisa menerima dengan lapang dada donk…” lanjutnya lagi.
Sejenak saya teringat, memang benar juga kata teman saya itu. Saya pernah menceritakan padanya kalau saya ini dulu lahir sebagai bayi prematur. Bisa jadi itulah sebabnya kenapa IQ saya ini jongkok. Tapi bukan salah saya kalau saya ini terlahir jadi manusia yang ngga normal. Juga bukan salah bunda yang mengandung saya selama depalan bulan.
Jadi, selama hayat masih dikandung badang. Saya mencoba untuk menjadi manusia yang normal. Tapi sungguh susahnya minta ampun. Bahkan sampai sampai saya berdoa pada Yang Maha Kuasa untuk menjadikan saya manusia yang normal, berfikiran positif, juga sabar dalam menghadapi semua cobaan hidup yang menurut saya memang susahnya setengah mati. “mas mas, kalau doa sampeyan belum juga dikabulkan, saya mau kok dengan suka rela mendoakan sampeyan untuk menjadi orang normal.” Sambar teman saya lagi.
Jadi setelah saya berkicau kalau saya ini sudah gila, saya ini kurang waras, dan saya ini butuh pengobatan yang sampai sekarang menurut saya ngga sembuh sembuh. Ternyata saya sadar kalau saya ini masih belum menjadi manusia yang normal.
Ya sudah, sampai disini saja. Lha wong saya menulis dengan awalan huruf besar saja itu juga sudah menunjukkan saya ini ngga normal kok. Mungkin begitu salah satu komentar teman teman dalam postingan saya kali ini.

15:59 Posted in Cerita | Permalink | Comments (18) | Email this
17 January 2008
jangan gila donkkk
gimana ngga gila, saya sudah terlanjur gila. terlanjur menjadi orang gila. jika saya menulis "jangan gila donk" sepertinya kok saya sendiri melawan dan menentang apa yang terjadi didalam hati nurani.
awalnya saya sangat menikmati hidup ini. untuk apa hidup ini kalau tidak dinikmati padahal kita hanya mati sekali. begitulah kira kira. tapi akhir akhir ini saya malah merasa tidak bisa menikmati hidup. lihat saja misalnya, saya jarang sekali buka messenger, saya jarang sekali menulis dimedia blog ( walau ngga pernah EYD ) dan saya jarang sekali berkomentar ( walau ngga pernah nyambung ). padahal hal hal seperti itulah yang dulu menurut saya adalah menikmati hidup. beda dengan teman saya yang hampir setiap bulan terbang menemani pak bos mengelilingi bumi yang katanya itu bulat. itu yang namanya menikmati hidup. beda lagi dengan teman saya yang satunya yang hampir sering menggesek gesek visa atau masternya sampai lecet untuk membeli barang barang bermerk tanpa mempedulikan besok dia bisa bayar cicilan apa tidak. itu juga yang namanya menikmati hidup.
"mas ini gimana sih, kalau saya punya kartu ya berarti saya mampu donk, sekalipun itu statusnya utang. yang penting kan bisa bayar. dan pikiran saya ngga cenut cenut." katanya.
"sampeyan punya kartu ngga mas ?" tanyanya lagi.
"punya sih, kartu tanda penduduk." jawab saya. kemudian dia tertawa terbahak bahak sambil berkata "jangan gila donkkkk."
kembali lagi kemasalah gila. ya, kenapa saya gila ? karena saya sering diperkosa sampai malam. karena hal itu, saya dibilang gila kerja. karena saya dibilang gila kerja, istri saya jadi gila tiap hari uring uringan. karena istri saya gila, saya jadi gila.
"ohhh, jadi cuma masalah kerjaan ya mas ?" tanya teman saya suatu hari.
sebenarnya bukan hanya itu. lha wong hidup ini urusannya ngga hanya bekerja kok. cukup, untuk masalah kerja sampai disini saja. sebab kalau saya tulis nanti ngga bakalan ada endingnya.
lalu kegilaan apa lagi yang ada dalam hidup saya ini ? saya melihat teman teman saya juga sudah gila, bahkan ada yang gilanya sampai melebihi saya. ada yang gila karena patah hati, juga ada yang tergila gila karena cinta. saya sendiri sampai bingung, ( saya sudah paham, kalau saya berkata bingung sampeyan sampeyan juga mau bilang kalau saya juga gila karena kebingungan kan ? ) kok bisa jatuh cinta bikin gila ? bukankah jatuh cinta itu berjuta rasanya ? "iya, rasa gila juga ada mas." celetuk teman saya.
lalu saya tersadar, sehubungan saya hidup didunia yang gila, maka saya jadi gila. coba kalau dunia ini ngga gila, maka saya ngga bakal gila dibuatnya. "sampeyan ini aneh, gila gila sendiri kok dunia dibawa bawa." kata teman saya lagi.
ya begitulah saya, saya suka mengkambing hitamkan suatu masalah. jangan jangan karena ini, atau jangan jangan karena itu. tapi kalau saya berkata dunia ini gila, apa saya salah ? katanya berketuhanan yang maha esa. katanya kemanusiaan yang adil dan beradab, dan katanya lagi keadilan sosial bagi seluruh rakyat. mana buktinya ? ngga ada yang berketuhanan, ngga ada yang berperikemanusiaan, juga ngga ada yang adil dan beradab. "itu namanya bukan dunia yang gila tapi negara yang gila mas." sahut teman saya yang lain.
saya sudah bingung lagi. bingung kuadrat pangkat empat. kok bisa ? lha wong dalam keadaan waras saja bingungan apalagi dalam keadaan gila seperti ini. saya sudah bingung mau menyalahkan siapa lagi ?
mungkin ada baiknya kalau saya cek kesehatan. seperti ayah saya yang tiap bulan pergi kedokter jantung, atau seperti ibu saya yang tiap minggu terapi. ada baiknya saya juga seperti mereka. cek kesehatan jiwa saya. apakah saya ini punya penyakit jiwa atau tidak ? mungkin ngga hanya saya yang harus cek kesehatan jiwa, istri saya, teman teman saya, saudara saya, para pengusaha, para pejabat, juga semua warga negara. hingga rumah sakit jiwa penuh sesak. jadi biarlah dokter jiwa yang memutuskan apakah saya positif gila atau tidak. sebab kenapa ? karena saya ini sudah berfikiran kalau dibandingkan dengan orang gila dipinggiran jalan, ternyata kadar gilanya masih parah saya. saya mau sembuh.

08:12 Posted in Cerita | Permalink | Comments (24) | Email this
06 December 2007
keluar dari mulut serigala, masuk mulut buaya
apa kabar ?
sudah hampir satu bulan saya tidak menjamah peradaban dunia maya. setelah saya katakan hiatus dipostingan terakhir, ternyata banyak yang bertanya kemana saya ? apa yang sedang saya lakukan dan kapan saya akan kembali menulis.
akhir akhir ini saya merasa sok sibuk dengan urusan kerjaan. itu dikarenakan saya sudah pindah kerjaan yang mengharuskan pekerjaan saya yang baru ini harus benar benar bekerja. tidak seperti dulu yang bisa santai santai pulang jam tiga sore lalu diperkosa seenaknya. nah, kalau ditempat saya kerja yang baru ini pulangnya jam lima sore. soal diperkosa saya rasa adat istiadat itu masih saja ada. misalnya beberapa minggu yang lalu, dengan mendadak saya disuruh pak bos untuk pergi kejogya menghadiri conference intel inside dihotel melia purosani sampai jam setengah dua belas malam. apa mau dikata, memang sepertinya nasib saya ini memang sudah diharuskan untuk selalu diperkosa.
seperti judul diatas. keluar dari mulut serigala, masuk mulut buaya. begitulah saya. ngga ada bedanya pekerjaan saya yang sekarang dengan yang dulu. apa yang saya kerjakan, apa yang saya lakukan, suasanya yang benar benar mirip seperti tempat kerja saya yang lama, sampai jeung jueng yang kali ini sukanya ngomong ba bo ba bo. cuma perbedaannya ya masalah gaji atau upah yang saya terima. tentunya lebih buanyak dari pekerjaan saya sebelumnya.
suatu hari teman kantor saya telp dan bertanya tentang bagaimana kerjaan saya yang baru. apa saya kerasan atau ngga ?
"sama saja, setelah keluar dari mulut serigala macem sampeyan sampeyan itu, lha kok saya malah masuk mulut buaya." jawab saya.
"loh, bukannya mulut Jej juga serigala." jawabnya.
"berbulu domba lagi." teriak teman saya ditelp yang ada disebelahnya.
sebenarnya saya bingung dengan istilah tersebut, kok ya ada serigala bulunya domba. dan lebih heran lagi saya yang jadi serigalanya. sebenarnya ngga ada masalah kalau saya dikatakan sesuai peribahasa tersebut. yang jadi masalah kalau dikatakan mulut saya berbulu. bulunya domba lagi. bagaimana itu ?
dikarenakan kesibukan saya tadi, saya jadi melupakan apa yang pernah saya janjikan pada teman teman saya. soal postingan patah hati untuk fely ( semoga saja hatinya kali ini sudah ngga lagi patah, sehingga saya terbebaskan dari postingan itu. atau masih patah hati fel ? ) soal battle post dengan rho, juga beberapa janji dengan teman teman saya yang lainnya.
itulah saya, salah satu sifat jelek saya. ( walau tidak bisa dipungkiri sebenarnya saya memang mempunyai buanyak sekali sifat jelek. ) menumpuk numpuk janji tapi susah sekali ditepati. "pantas deh, mulut situ seperti serigala, bisanya cuma melolong saja." begitulah kira kira yang akan dikatakan teman saya jika baca tulisan saya ini. tapi sungguh hati, saya tidak bermaksud mengingkarinya dan sungguh hati saya tidak bermaksud untuk melolong. ini hanya masalah waktu saja.
masih berhubungan soal hiatus. jujur saja saya tidak mengerti hiatus itu bahasa mana. lha wong saya ini juga ikut ikutan tren bahasa saja. banyak juga offline message yang ada di messenger saya yang bertanya kapan saya akan kembali online lagi. katanya kok bukan saya banget sampai sampai menghilang begitu cukup lama. tapi ada juga yang bilang, kok saya ini seperti orang penting saja, pakai acara rehat sejenak. memangnya nanti kalau saya kembali ada pesta penyambutan ? memangnya kehadiran saya bakal dinanti nantikan ? pikir saya dalam hati.
gara gara hiatus, saya jadi jarang membaca. gara gara hiatus, saya jadi jarang menulis. gara gara hiatus, saya jadi jarang blogwalking, gara gara hiatus juga saya jadi ketinggalan berita. apa kriwilnya si ken ken masih suka muntah muntah ? apa jeung endanggg masih setia sama jack baur ? apa si fitri sudah gemukan dikit ? apa anak anak WS masih gila ? apa si rho masih suka bolos kuliah ? apa retho masih jadi setan ? apa, apa, apa, apanya donk ? yang bikin saya menulis postingan ini disela kesibukan saya yang menggila. saya kangen, titik.
begitulah singkatnya apa yang saya kerjakan selama ini. selebihnya akan saya ceritakan lain waktu saja. saya lagi malas untuk cerita masalah kantor, jeung jueng disini dan masalah pekerjaan saya. mungkin dipostingan berikutnya akan saya ceritakan lebih dalam lagi. celana kaliii...
dan saya masih baik baik saja.

09:07 Posted in Cerita | Permalink | Comments (34) | Email this
09 November 2007
please judge the book by it's cover
kali ini saya dibilang sombong. lagi lagi saya yang bingungan ini ngga ngerti kenapa teman saya itu bilang saya ini sombong. bahkan sampai tulisan ini saya buat, saya masih bertanya tanya dalam hati, kenapa teman saya itu bilang saya sombong.
sebelumnya saya pernah ditanya, kok selalu cerita teman saya ini, teman saya itu, apakah teman saya ini beneran ada apa tidak ? ya terang saja saya jawab ada, memangnya saya sudah gila ngomong sendirian ?
lalu saya korfirmasi kedia, ingin tahu kenapa teman saya itu bilang saya ini sombong. maksud saya begini, saya mau minta penjelasan kenapa saya dikatakan sombong. nah kalau saya ini tahu penjelasannya, saya kan bisa merubah sifat saya yang sombong itu. dia sendiri pernah berkata "semua itu harus ada alasannya, sebab akibatnya." begitu saya tanya kenapa saya dibilang sombong dia malah menjawab "kamu kan pujangga, kamu kan pinter, kamu harusnya tahu kenapa saya bilang kamu sombong." sekarang saya makin bingung, sampai dibilang pujangga, sampai dibilang pinter. wong saya ini hanya merasa sok nyastra, kok dibilang pujangga. apalagi pinter ? sudah berkali kali pula kalau saya katakan IQ saya ini jongkok. saya ini sudah bingungan malah ditambah bingung lagi. pokoknya jawabannya itu muter muter yang intinya tidak memberikan alasan kenapa dia bilang saya sombong. tapi ya lagi lagi itu hak dia bilang kalau saya ini sombong. wong dikatakan mulut saya seperti sampah, dikatakan saya ini ngawuran, dikatakan saya ini ndobosan, ngga masalah kok, asalkan beralasan kenapa saya begitu ? nah kalau ngga ? apa kata dunia ?
teman saya juga berkata kalau saya ini terlalu blow up kehidupan pribadi didalam blog. "tulisan kamu kok sekarang ini beda yah dengan yang dulu, sekarang lebih blow up gitu. padahal kamu kan laki laki, geli aja ngelihatnya. tapi ya terserah kamu, wong itu blog kamu."
lagi lagi saya bingung dengan kata kata blow up. apa bedanya tulisan saya yang sekarang dengan yang dulu ? paling kalau saya perhatikan dulu saya menggunakan kata "mata" sekarang menggunakan kata "saya" selebihnya ngga ada bedanya sama sekali. mungkin karena pernyataannya itu saya dicap sombong. tapi bagian mana yang sombong saya masih belum mengerti.
sampai akhirnya saya melihat tulisan dalam blognya yang mengatakan kalau menjadi laki laki itu jangan cengeng. jangan banci. jadi ya segala sesuatunya harus dihadapi. sampai sampai dia bilang kalau menjadi orang itu harus bisa bersyukur. sebenarnya saya sendiri tidak mengerti tulisannya itu ditujukan kepada siapa. entah pada saya entah pada orang lain. sebab dia hanya menggunakan kata "kamu."
mungkin saya yang terlalu ke ge-er'an atau mungkin saya yang terlalu sensi. hingga seolah olah tulisan itu ditujukan pada saya. jujur saya sempat berkata dalam hati. memangnya siapa dia ? kenal saya juga dari dunia yang ngga nyata. kok bisa bisanya menulis seperti itu. dia menulis "sombong" lalu menulis "kurang bersyukur."
lucunya, saya jadi bertanya tanya, apakah saya orang seperti itu ? saya sadar, dalam menjadi manusia itu saya memang sering kali mengeluh. saya sering berkata kalau saya ini IQnya jongkok. mungkin saya banyak sekali dikelilingi orang orang yang lebih hebuat daripada saya. mereka banyak yang pandai, pintar, dan cerdas. hingga saya merasa saya ini jauh sekali dibawah mereka. dan saya sadar kalau saya berkata seperti itu.
"mas, sampeyan itu harusnya bersyukur pada Tuhan. kenapa sih selalu berkata IQ jongkok, padahal kan kita ngga boleh merendah seperti itu." kata teman saya suatu hari.
saya bukannya tidak bersyukur. malah sebaliknya, saya merasa bersyukur punya IQ jongkok. kenapa ? ya karena saya diciptakan Tuhan seperti ini. jadi saya ya terima apa adanya. sama seperti kamu kan, cuma bedanya kamu diberikan kepandaian yang banyak dan saya diberikan kepandaian yang kurang. begitulah jawaban saya.
sama seperti halnya saya bersyukur punya anggota badan yang lengkap, punya dua mata untuk melihat, punya dua tangan dan kaki, punya mulut yang bisa bicara, juga telinga yang bisa mendengar. bahkan saya sampai bertanya tanya, apakah ini karena banyak orang yang jauh tidak beruntung daripada saya. tidak bisa melihat, mendengar, bicara atau tidak bisa berjalan.
saya berfikir buat apa Tuhan menciptakan mereka didunia ini kalau mereka terlahir sengsara. apa untuk memberikan contoh kepada saya supaya saya bisa bersyukur ? supaya kita bisa prihatin ? supaya kita bisa saling berbagi ? supaya kita bisa kumpul kumpul menggalang dana, memberikan bantuan pada mereka, supaya kita mendapat pahala ? apakah begitu ? dan saya berfikir lagi, apakah Tuhan menciptakan saya yang ber IQ jongkok ini supaya teman teman saya bisa berkomentar "kasihan yah mata." "mata siapa ?" "itu yang IQnya jongkok." "ya setidaknya kita bisa bersyukur ngga seperti dia. "yuk kita bantu si mata supaya cerdas."
jujur saja saya pernah berfikiran seperti itu. "kasihan, untung ya saya ngga cacat seperti mereka." kata saya suatu hari pada seorang teman. "bukankah Jej juga cacat ? cacat mental maksudnya" sahut teman saya. "memangnya sampeyan punya mental mas ? kok bisa punya penyakit cacat mental." sahut teman saya satunya lagi.
lagi lagi saya bingung.

12:35 Posted in Cerita | Permalink | Comments (36) | Email this
23 October 2007
yuuk...
beberapa hari yang lalu saya diajak seorang teman pergi ke pusat penjualan ponsel untuk membeli ponsel bekas yang bagus dengan harga yang terjangkau. sebenarnya saya bingung, kok bisa bisanya teman saya mengajak saya. lha pasalnya saya ini tidak begitu mengerti soal urusan dunia ponsel. apalagi dimintai pendapat soal barang bekas itu, apakah masih bagus atau tidak. daripada tidak punya kerjaan, ya akhirnya saya mengiyakan saja ajakan itu. kalau toh pendapat saya mengenai ponsel bekas itu ternyata meleset, ya anggap saja tugas saya sukses. sukses mengerjai teman saya itu maksudnya.
setelah berkeliling kesana kemari, akhirnya teman saya tidak sengaja melihat ponsel yang sudah lama dia inginkan. dia pun menanyakan perihal ponsel tersebut kepada mbak penjaga counter.
"lihat yang ini donk mbak." kata teman saya. si mbak penjaga itu pun mengeluarkan barang yang diinginkan teman saya. "bisa dicoba ?" kata teman saya. "maaf mas, baterenya habis." jawabnya.
cukup lama kami amati ponsel tersebut ( karena memang kondisinya masih bagus, barangnya juga oke. ) dan sepertinya teman saya pun tergiur untuk membelinya.
"ya sudah, ngga usah dicoba deh mbak. saya ambil yang ini. berapa harganya ?" kata teman saya lagi.
"maaf mas, yang ini sudah didp orang, nanti sore mau diambil." jawab mbaknya.
saya lihat teman saya geleng geleng kepala sambil mengeluarkan kicau kicauan. "puas Jej ?" kata saya.
lalu kami berdua pergi meninggalkan counter tersebut, masih dengan perasaan yang ngga karuan. apalagi teman saya, disepanjang jalan terus menerus mengeluarkan bunyi bunyian. kok ya bisa bisanya memajang barang dagangan yang sudah laku dietalase, sudah didp orang lagi. terlebih lagi kok ya ngga bilang dari awal kalau itu barang sudah laku. buat apa coba ? "buathuk'mu..." kata saya cekakakan.
nah, akhirnya saya pun menyarankan padanya untuk membeli barang yang sejenis tapi yang baru saja. sebab harganya terpaut tidak seberapa. teman saya pun mengangguk. kami pun berhenti dicounter yang khusus menjual ponsel baru. lalu teman saya pun bertanya kepada mbak penjaga tentang seri ponsel yang diinginkannya itu.
"oh yang seri itu mas..." kata mbaknya. wajah teman saya pun terlihat cerah. bahagia. akhirnya ponsel yang diinginkannya itu berhasil juga dia dapatkan. terlihat si mbak sibuk mencari kesana kesini. lalu duduk didepan komputer kerjanya dengan serius.
"maaf mas, stok untuk ponsel tersebut sudah tidak ada."
saya pun tertawa ngakak. "yuuk pulang." kata teman saya.
saya jadi teringat ketika saya kebandung beberapa bulan yang lalu. bersama teman sekantor, kami pun menunggangi kereta api lodaya di gerbong VIP. sewaktu makan siang, mbak petugas yang cantik itu menawarkan kami pilihan menu makanan. mau nasi goreng atau nasi rames. saya pun berkata "kami mau nasi goreng saja mbak." tanpa berdosa si mbak menjawab "kalau nasi goreng sudah habis mas, tinggal nasi rames." jawabnya. "atur aja deh mbak." kata saya. tiba tiba teman saya nyeletuk lagi "yuuk loncat." dan si mbak yang cantik itupun berlalu sambil menawarkan kedua menu makanan tersebut kepenumpang yang lain.
lalu kemaren, sewaktu saya dan teman teman sedang makan siang. tiba tiba ada seorang laki laki muda yang menyapa salah seorang teman saya. mungkin seorang kenalan, saya sendiri juga tidak tahu.
"apa kabar mbak...? lama ngga ketemu ? gimana sudah nikah ?" kata laki laki tersebut.
"kabar baik, nikah ? belum nih. siapa juga yang mau sama saya." jawab teman saya. lalu obrolan pun berlangsung cukup seru, sampai sampai kita kita dijadikan kambing congek. akhirnya si laki laki itu pun pamit pergi meninggalkan kita.
"jeung, bukannya jej sudah ditaken orang ?" tanya saya keheranan.
"ah, sampeyan itu mas, ngga bisa lihat orang seneng sebentar. cincin kawin Ik lepas, jomblo deh." katanya.
"yuuk kawin." sahut teman saya yang satunya.
"yuuk posting." celetuknya ketika melihat saya menulis tulisan ini.

07:40 Posted in Cerita | Permalink | Comments (40) | Email this
18 October 2007
punya anak ?
terengar kabar kalau anak tetangga saya baru saja melahirkan. saya bingung. sudah, sampeyan jangan heran kalau saya ini sering sekali bingung. kalau urusan bingung, saya ini biangnya bingung. jangan ditanya kenapa, sampeyan kan pasti sudah tahu kenapa saya sering bingung. sebab hal tersebut sudah sering kali saya singgung disetiap postingan saya. lha pasalnya, anak tetangga saya itu baru berusia 15 tahun.
"itu namanya sok bingung mas, alias mbingungi. kayak gitu saja kok bingung. hal seperti itu kan sudah sering terjadi. hamil diluar nikah, melahirkan, lalu kawin muda." sahut teman saya.
nah, begitu saya dikatakan sok bingung saya jadi semakin bingung lagi. bingung saya yang pertama, saya kaget ketika mendengar berita tersebut. berita tentang anaknya tetangga saya yang melahirkan diumur 15 tahun. kok ya bisa ?
"mas, anaknya pak anu melahirkan lho, kita mau nyumbang berapa ?" katanya. bukannya menjawab berapa duit yang akan kita berikan, malah saya bertanya.
"ah, yang benar ? memangnya melahirkan apa ?" tanya saya.
"ya, bayi. piye tho ?" jawabnya.
"lha siapa tahu mengeluarkan telur, wong itu bocah baru 15 tahun. masak bocah melahirkan bocah." jawab saya.
itu kebingungan saya yang kedua. nah, kebingungan saya yang ketiga. itu bocah juga statusnya belum punya suami. nah bagaimana bisa, wong belum nikah kok sudah punya anak ? teman saya lagi lagi menyahut. "lha ya bisa saja. hamil diluar nikah itu kan sudah menjadi gaya hidup. sampeyan saja yang kurang gaul." lha, itu kebingungan saya yang terakhir, saya dikatakan kurang gaul.
mari kira sama sama ndobos perihal punya anak ini. mengingat sampai sekarang saya belum punya anak, pernah suatu hari saya dikatakan kurang jantan. gila ! dulu saya mengira kalau arti kejantanan itu bisa berkelahi atau hebat diranjang. ternyata arti kata jantan tambah satu lagi, yaitu harus bisa punya anak.
saya tertekan. selalu merasa tertekan. walaupun saya sebenarnya tahu kalau tertekan itu enaknya berjuta rasa. tapi kalau tertekan yang ini benar benar ngga enak. lha gimana ngga enak, setiap waktu saya pasti ditanya kapan punya anak. ditanya ada masalah apa ? kenapa kok susah punya anak. dan sebagainya. bahkan pertanyaan kapan punya anak tersebut sampai menghatui istri saya. hal hal yang menakutkan singgah dibenaknya. jangan jangan nanti saya jadi tidak cinta dengan dirinya. jangan jangan nanti dia tidak disuka sama ibu bapak saya. jangan jangan begini, jangan jangan begitu. tapi tekanan tekanan ngga enak itu tidak membuat saya pusing. saya katakan padanya kalau sampai kapanpun saya akan selalu mencintai dia. dan cinta saya padanya juga ngga pernah berubah. saya juga katakan padanya, soal kita punya anak atau tidak itu urusan Tuhan. kalau memang yang diatas sudah mempercayai kita untuk punya anak toh hal itu pasti akan terjadi. tapi kalau Tuhan menggariskan kita harus bahagia tanpa punya anak, menjalani hidup berdua sampai tua. ya kenapa tidak. toh manusia hanya bisa menerima. ikhlas.
"lha ya itu kan sampeyan. trus, apa anak tetangga sampeyan itu juga ikhlas ? apa orang tuanya juga ikhlas ? apa saudara saudaranya juga ikhlas ?" tanyanya.
"lha ya ikhlas, mau gimana lagi, wong nasi sudah menjadi bubur. buktinya saya malah diberi bingkisan yang didalamnya ada nasi kuning lengkap sambal goreng ati, krupuk udang sama iwak abon dengan selembar kertas bertuliskan telah lahir dengan selamat." jawab saya sambil cengengesan.

16:45 Posted in Cerita | Permalink | Comments (42) | Email this
08 October 2007
pengecap
"pengecap ?" kata teman saya.
"bahasa indonesianya ngga banget deh nek, ngga EYD" lanjut teman saya lagi.
"suka suka donk, wong Ik jadi orang indonesia juga barusan." jawab saya ketus.
mungkin saya termasuk dalam golongan manusia pengecap. setiap saya bertemu dengan orang baru, saya selalu berkata dalam hati. mungkin si ini orangnya begini, atau mungkin si itu orangnya begitu.
lihat ada laki laki berisi, saya langsung mengecap, jangan jangan homo. lihat perempuan cantik dengan dandanan sedikit menggoda, saya langsung mengecap, jangan jangan perempuan ndak bener, ndak benar jalannya, ndak benar pakaiannya, juga ndak benar wajahnya. melihat seseorang keluar dari mobil mewah, saya juga langsung memberi cap jangan jangan belinya kreditan pakai uang warisan.
suatu hari, saya berjalan jalan disebuah pusat perbelanjaan. hari itu saya mengenakan pakaian layaknya anak kost yang berstatus mahasiswa abadi. kumal. ngga karuan. sandal japit celana blue jins yang sudah tidak blue lagi dengan jaket yang entah sudah berapa minggu tidak saya cuci. langkah saya terhenti didepan counter hp untuk melihat lihat. ketika saya menanyakan harga hp 3G keluaran terbaru. sipenjual hanya acuh dan meniadakan saya. pikirnya pasti saya tidak punya uang untuk membelinya. padahal memang benar.
lalu kemaren, saya berbuka bersama diklaten. bersama keluarga besar aurel. setelah itu bersama pula kami berangkat taraweh kemasjid. sebelum berangkat bapak menyuruh saya untuk mengenakan baju. katanya tidak pantas pergi kemasjid mengenakan kaos. saya dicap tidak sopan. saya bingung, apa Tuhan menilai pakaian yang dikenakan saat saya menyembahnya ? tidak memperbolehkannya mengenakan kaos putih spalding corak garis merah melintang ?
lalu sepulang taraweh langsung kami pamit pulang. sesampai dirumah, istri saya langsung duduk dimeja kerja lalu menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. itu pun sambil mengeluh stres setengah mati karena merasa tertekan.
"akhirnya sempet juga megang kerjaan dirumah ?" katanya.
saya sadar kalau selama ini dia sibuk dengan urusan rumah, bahkan sampai sampai pekerjaan yang dibawanya pulang tidak pernah tersentuh sama sekali. lalu dia meminta saya membantunya dalam doa agar bisa kuat menghadapi tekanan yang besar itu. saya bingung, lha pasalnya waktu saya menekannya, dia tidak penah minta doa.
"tumben hon minta doa, biasanya kan ngga pernah sampai memerlukan doa." kata saya cengingisan. lalu dia hanya geleng geleng saja entah apa yang dipikirkannya. mungkin saya sudah kena cap lagi.
saya pun kembali mengoreksi diri. apa manusia memang dilahirkan sebagai pengecap. mengecap sesamanya, mengecap lingkungannya, bahkan mengecap tanah airnya.
saya ingat dasar negara kita yang pertama berbunyi ketuhanan yang maha esa. bahkan waktu upacara jaman sekolah dulu, mulut ini selalu melantunkannya. mengecapnya bahwa negara ini menomorsatukan Tuhan diatas segala galanya. tapi kenyataannya ? korupsi yang sampai sekarang ngga ada habisnya. juga terorisme yang mengatasnamakan agama kalau tindakan itu adalah jalan singkat menuju surga. kalau sudah seperti ini, pantaskah saya cap kalau negeri ini negeri omong kosong ? lagi lagi saya bingung.
"ngga usah bingung. Jej jadi orang indonesia kan baru saja." celetuk teman saya.

09:40 Posted in Cerita | Permalink | Comments (37) | Email this
02 October 2007
renungan hari ini
"apa Jej ngga sadar kalau hidup ini cuma sebentar. entah hari ini, entah besok, atau lusa kita ngga tahu kapan kita akan pulang." nasehat teman saya suatu hari.
saya juga heran. lha pasalnya teman saya yang selalu menghina dan menyindir saya setiap saat, kok tiba tiba berbicara religius seperti itu. setelah itu dia melanjutkan kata katanya. "makanya, selama hidup didunia ini, banyak banyak melayani, banyak banyak memberi, banyak banyak beramal. kirimin kita kita parsel lebaran misalnya." oalahhhh, lha wong mau minta parsel saja kok ngomongnya sampai hongkong.
saya jadi teringat ketika saya mendengarkan kultum sehabis sholat taraweh. pesan yang disampaikan penceramah banyak sekali yang mengena diri saya. bahkan tidak sedikit hal hal tersebut saya lalai menjalankannya. seperti yang dikatakan teman saya diatas yang menyuruh saya untuk banyak banyak beramal. saya akui, selama saya menjadi manusia, kok rasa rasanya hidup saya ini selalu saja menerima. jarang sekali memberi. tangan saya selalu dibawah. jadi, postingan dengan judul `sosial atau soksial` dan `lupa melayani` yang pernah saya buat beberapa waktu yang lalu belum sepenuhnya 100% saya lakukan. "10% saja juga belum." sahut teman saya.
suatu hari. ada seorang teman bercerita kalau dirinya berbuat amal dengan membagi bagikan nasi bungkus kepada para pengemis. salah seorang pengemis menolak bungkusan tersebut. lalu dia berkata kalau jatahnya itu dikasihkan kepengemis lain saja yang lebih membutuhkan, karena dia tidak lapar. lalu temannya teman saya itu bercerita pada temannya dan temannya itu bercerita kepada saya tentang pengemis itu yang hidupnya serba membutuhkan tapi masih mau peduli terhadap orang lain. lagi lagi saya kesetrum, teman saya juga kesetrum, temannya teman saya yang beramal itu juga kesetrum. wes pokoknya seperti `pe-er` berantai, sambung menyambung menjadi satu. sekarang giliran saya yang bercerita. ( maaf, saya tidak bermaksud untuk menyetrum anda. )
hidup ini cuma sebentar. cuma numpang lewat. sesaat. cepat. begitulah katanya. lalu pertanyaan berikutnya, apa yang sudah kita lakukan semasa kita ini hidup ? jujur saja, saya selalu takut jika berbicara jalan pulang. jalan pulang disini adalah jalan pulang menghadap sang pencipta. pertanyaan selanjutnya, pulang kemana ? surga atau neraka ?
sering kali saya menghadiri acara duka cita tersebut. saya melihat banyak sekali pelayat yang meneteskan air matanya. mengenang masa masa indah yang pernah dilalui bersama. seperti halnya waktu nenek saya meninggal dunia. peringatan tujuh hari sampai seperti jumat kemaren waktu dua tahun sepeninggalnya terus diperingati. lantunan doa dialunkan. taburan bunga beraneka macam warna dan rupa mengharumkannya. tak lupa acara makan makan yang meriah, membuat kita yakin kalau nenek dalam tidurnya yang panjang pasti tesenyum senang. bahkan tak lupa sebagai cucunya saya juga pernah menceritakan hal hal tentang nenek pada teman teman. saya menulisnya diblog, mengenangnya, membuatkan nenek sebait puisi, lalu membacanya berulang ulang.
lalu saya bayangkan jika hal itu terjadi pada diri saya. jujur saja saya takut membayangkan hal ini terjadi. tapi, manusia seperti saya ini apalah arti dimataNya. jika Dia bilang jadi maka terjadilah. ayah dan ibu menangis, saudara saudara saya meneteskan sembab air mata, entah berapa pelayat yang datang memberikan ucapan bela sugkawa. bunga bunga bertaburan, juga teman teman yang mengenang saya lewat tulisan seperti halnya saya menulis tentang nenek saya tercinta, dengan puisi, dan membicarakannya berulang ulang. tak lupa peringatan sampai seribu hari dengan lantunan doa yang indah.
lalu saya mulai mengharap lagi. mengingat saya ini manusia yang tidak sempurna dan serba kekurangan. semoga saja Tuhan juga menyediakan segala fasilitas yang indah, memperlakukan saya sedemikian rupa, dan memberikan saya service yang memuaskan layaknya dunia mengenang saya. kalau tidak ? "siap siap disiksa lagi deh Jej." sahut teman saya sambil tertawa.

21:00 Posted in Cerita | Permalink | Comments (25) | Email this
29 September 2007
no comment !!!
"kamu tuh ya Ta, kalau dikasih pe-er kok ngga pernah sekalipun dikerjakan." kata teman saya suatu hari.
terus terang saja, sifat males saya belum hilang. buanyak sekali teman teman membombardir saya dengan jutaan pertanyaan soal pe-er pe-er tersebut. saya disuruh menceritakan hal hal aneh yang saya punyai sampai saya disuruh menceritakan kebiasaan yang saya kerjakan.
saya rasa, jika para pembaca ( maksudnya teman teman, sebab kalau saya sebut sebagai pembaca nanti profesi saya jadi penulis. ya ogah, digaji saja ngga !!! ) sering membuka blog saya yang ala kadarnya ini, membacanya juga menghayatinya. maka semua jawaban dari pe-er pe-er tersebut pasti sudah ada. jadi apa lagi yang mesti saya sampaikan jika saya disuruh menceritakan keanehan saya padahal saya ini memang sudah aneh. dan menceritakan kebiasaan saya padahal saya ini manusia luar biasa. luar biasa hancur maksudnya.
nah, begitu saya membaca postingan teman teman yang menyuruh saya mengerjakan pe-er, saya minta maaf. mungkin karena saya diam saja. no comment. kata saya dalam hati.
ngomong ngomong soal no comment, kok rasa rasanya ngomong no comment itu gampang banget yah. tanpa beban, ngga berdosa. "Ta, gimana kerjaan ?" saya jawab no comment. "Ta, sudah punya momongan ?" saya jawab no comment. "Ta, gimana blog ?" langsung saya buka, sudah ada berapa comment yang masuk hari ini ? kata saya dalam hati.
dulu saya pernah bercerita soal mulut saya yang dikatakan seperti tempat sampah. sampai sampai hampir semua teman saya diblogger memaki maki saya. pasalnya saya mengatasnamakan mulut saya dengan tulisan sebagai uneg uneg yang saya rasakan. jadi ya daripada gabung sama jeung jeung dikantor, ngomong ba bo ba bo... ( padalal saya sudah ketularan mereka ngomong Jaj Jej Jaj Jej ) mendingan saya nulis. lalu saya ceritakan soal si anu yang begini si inu yang begitu. "ya sama saja itu mas, cuma bedanya mereka ngomong pakai mulut, sampeyan tidak." jelas teman saya.
setelah mulut saya dikatakan tempat sampah, teman saya berkata lagi "sampeyan memang pantas jadi blogger mas, bukankah mulut sampeyan itu juga suka mengomentari orang." nah, saya sudah kesetrum lagi untuk kedua kalinya. mengingat saya ini selalu berkomentar jika ada hal hal yang membuat mata saya perih melihatnya. parahnya, komentar saya selalu saja ngga masuk akal. akhirnya orang yang saya komentari malah berkata. "sok teu deh..." atau "suka suka Ik donk."
akhirnya teman saya bilang. "kamu tuh ya mas, mbok ya jangan suka mengomentari orang, IQ saja ngakunya jongkok kok jadi komentator, memangnya situ sudah merasa paling benar ?"
saya hanya ngangguk ngangguk saja. dan lagi lagi saya terdiam. lha saya mikir, apa teman teman blogger yang suka mengomentari postingan saya itu apa ya merasa paling benar ? apa ya merasa paling tahu ? padahal jujur saja dalam hati. saya menjadi blogger itu ya salah satunya pengen dikomentari. saya menjadi blogger itu ya pengen dibenerin. syukur syukur kalau saya sudah bener, nah kalau saya malah salah ? kan jadi tahu salah saya dimana.
"heran deh, jej itu memang orang aneh. hidup kok mau saja dikomentari, kalau Ik ? ya ogah. siapa elo ?" sambar teman saya lagi.

09:40 Posted in Cerita | Permalink | Comments (43) | Email this
20 September 2007
sebab rhesya ada diyogya
akhirnya rhesya benar benar menemukan mata. tidak memungutnya dijalan seperti waktu itu. tapi dia menjemput saya distasiun tugu yogyakarta. entah apa yang harus saya katakan. suprise suprise ? senang ? atau bahagia ? entah kata apa yang tepat untuk mengungkapkannya. pasalnya memang hari ini saya bertemu dengan salah satu inspirasi saya itu. seperti halnya agustinus wahyono bertemu oji, putu wijaya bertemu amat, atau seno bertemu sukab.
ini bukan narasi seperti waktu itu. tapi sungguh ini benar benar terjadi. dan gambaran rhesya dipikiran saya jauh berbeda dengan yang saya utarakan waktu itu. karena itu saya sampai kehabisan kata. tidak banyak bicara. saya hanya sanggup melihat kedua mata yang bening itu. mungkin memang benar adanya kalau kedua mata itu adalah mata yang dia temukan dipinggir jalan pada suatu hari.
ah, rhesya. terbuat dari apakah dia ?
tidak tidak. saya tidak mau bernarasi disini. maaf, bukan tidak mau tapi sedang tidak ingin. saya hanya sedang menikmati kebahagiaan ini. sebab hari ini saya memang bertemu seorang teman bernama rhesya.
"ta, dimana ?" sebuah sms datang.
"diyogya bersama malaikat." jawab saya singkat.
thanks ya rhe...
19:50 Posted in Cerita | Permalink | Comments (23) | Email this
17 September 2007
menjadi pelawak
saya baru sadar akhir akhir ini kalau hidup saya itu hanya sekedar bahan tertawaan. bagi saya itu tidak masalah. toh saya malah bersyukur. hidup yang hanya sebentar ini kalau dihabiskan dengan tertawa saya rasa sangat membahagiakan.
minggu lalu, sempat saya ceritakan kalau saya pergi kejogya dan bertemu dengan beberapa teman disana. salah seorang teman bekata kalau saya ini sudah tidak romantis lagi. yang mungkin maksudnya adalah tulisan tulisan dalam blog saya yang sudah tidak lagi seperti dulu. romantis, puitis, termehe mehe. wah. jujur saja, sebenarnya saya juga bingung jika saya ini dibilang romantis. lha gimana ndak bingung, wong keseharian saya itu jauh dari kata kata itu. saya tidak merokok, minum, makan, mandi juga tidak gratis. lha kok bisa bisanya saya dibilang romantis. itu satu.
nah yang kedua, ada yang mengira saya ini perempuan. ini benar benar guyon yang kelewatan. seharian saya bekerja, disuruh ini disuruh itu, diperkosa sampai malam, dipaksa menjual diri, sampai dasar seperti simbok simbok dipasar. lalu begitu ada waktu senggang saya lewatkan untuk membuka blog dan membaca komentar, malah saya dikejutkan dengan komentar. "loh, tunggu! tunggu!... ehk, jadi Mata itu ternyata Oom dan bukannya Tante, to?" nah, saking terkejutnya, saya malah pergi kekamar kecil untuk melihat isi dibalik celana saya, apakah saya ini laki laki atau perempuan. begitu saya yakin kalau saya ini laki laki, saya baru minta konfirmasi kedia "saya ini laki laki lho ya. jangan salah. !" tapi ya itu tidak menjadi masalah. mungkin karena Ik suka ngomong Jaj Jej Jaj Jej sama suka ngomong jang jeung jang jeung. jadi dia mengira saya ini tante tante. sekarang dah jelas kan boo siapa Ik ? nah kalau Jej belum jelas ya kesini biar bisa diperjelas lagi. ketemuan maksudnya...
sampai suatu hari ada seorang teman yang berkata kalau istri saya itu sangat polos. lucunya puolll. ( sebelumnya maaf, mungkin sampeyan sampeyan bosan kalau saya terlalu sering menulis tentang siapa istri saya itu. tapi ya bagaimana lagi. wong saya melawati hidup ini bersama dia. jadi ya mau ngga mau ya saya harus cerita siapa dia. ) lha saya katakan. wah cocok ngelawak kalau begitu. apa tak suruh jadi member WS saja kata saya. akhirnya teman saya satu itu malah bilang. "wah, ide yang bagus! setuju mata! beneran ya si aurel masuk ke WS. taktunggu di emailku kamu sekalian mat. kasitau aurel yaa." katanya. tapi yang lolos seleksi ngelawak itu cuma saya seorang. karena memang istri saya tidak tahu menahu soal ini.
saya pun akhirnya menjadi bagian dari kumpulan grup lawak itu. tertawa berjamaah kata bu guru. bercerita tentang keseharian saya dengan istri saya dirumah, bercerita tentang keseharian saya dengan teman teman kantor yang suka berkata Jaj Jej Jaj Jej, atau hal hal sepele yang kalau dipikir pikir bisa membuat kita tertawa. saya rasa hal ini sangat menyenangkan. dan saya rasa hidup saya jadi bertambah bahagia karenanya. gimana ? sampeyan mau ikutan apa ndak ?

15:17 Posted in Cerita | Permalink | Comments (38) | Email this
14 September 2007
puasa dulu dan sekarang
saya termasuk orang yang sangat bahagia jika bulan puasa datang. mungkin tidak perlu saya ceritakan lagi kenapa saya bahagia. sudah jelas, setiap melakukan ibadah, menjalankan perintahNya pasti pahalanya berlipat ganda. itu salah satunya.
apalagi dulu, waktu jamannya sekolah dulu. begitu datang bulan puasa, libur selama satu minggu. seneng tho ? lha gimana ngga seneng. senengnya cah sekolah itu kalau ngga libur ya pulang pagi. apalagi waktu puasa. bangun jam 3 pagi, sahur. makan nasi sama telur. kadang kalau kepepet ya bikin sarimi. terus pamit, subuhan ke masjid. selesai, dolanan mercon. wajar, lha kalau sudah ketemu sama konco konco, wes, pengennya itu main terus. tapi lucunya ya ngga ada rasa khawatir, gimana nanti kalau pulang dimarahi apa ngga. ngga ada rasa takut. kalau kira kira ibu mau marah, ya bilang, "puasa lho bu, kan ngga boleh marah marah." kan gampang, kata saya.
begitulah kalau libur puasa selama seminggu, kesempatan bermain itu lebih banyak. pamitnya tarawih ya dimasjid cuma sholat isya. memang dulu itu mikirnya,... gimana ya, kalau diingat ingat itu ya malu sendiri. asal dapat tanda tangan. waktu puasa itu pasti ada buku kegiatan bulan ramadhan. istilahnya ya buku tugas. maksudnya ya biar rajin ibadahnya. ceramah isinya apa, subuhan imamnya siapa. ditulis, lalu minta tanda tangan sama yang bersangkutan. tapi ada juga yang dikarang. diisi sendiri, ditandatangani sendiri. yang penting ikut ngumpulin.
begitu libur sudah selesai. masuk sekolah. lemes. tapi ya memang dulu waktu puasa itu, jam sekolah itu pelajarannya dikurangi. biasanya pulang jam satu, sekarang jam sebelas sudah pulang. tapi kalau saya sampai rumah ya jam lima. "kamu kok jam segini baru pulang. sekolah pulang jam sebelas kok jam lima baru pulang." kata ibu yang sebenarnya marah tapi ya dibikin sabar. "ngabuburit." jawab saya. yang sebenarnya ya keluyuran sama teman teman. besoknya lagi pulang jam lima, besoknya jam lima. pokoknya nyari alesan terus. lha kok ini jam lima lagi. "lha tadi ada pengajian disekolahan." kata saya. yahhhh, besok kalau kamu pulang sekolah sampai rumah jam lima lagi, awas, sehabis buka puasa ojo takon doso." meh nginep, lha takut. tapi ya akhirnya ngga jadi. saya pikir nanti kalau ngga pulang malah tambah perkara. akhirnya ya pulang sekolah terus pulang. bingung mau ngapain, tidur sampai sore. daripada lapar.
kalau dipikir pikir, dulu itu memang benar benar keterlaluan. sekarang, kok rasanya puasa itu ya lancar lancar saja. saya masih ngga percaya. ngga percayanya itu saya lewati bulan puasa ini sama istri saya tercinta. walaupun saya yang sering kali bangunin dia waktu sahur. kemaren saya bangunin aurel malah ditendang. padahal saya bangunin dia itu juga sudah pelan pelan. "kok malah nendang tho hon ?" kata saya. "lha tak kirain kucing." jawabnya. lha kok malah... wes, saya hanya bisa geleng geleng kepala. "opo ono kucing bangungin sahur ?" kata saya lagi. "sahur ya mas ? dah bikin teh hangat ?" jawabnya lagi. wes ditendang, suruh bikin teh hangat. yah, tak bikinin. nanti kalau lama kelamaan saya disuruh masak, lha remuk awak'ku.
tapi ya, walau begitu kok rasanya nikmat. menjalani ibadah dibulan puasa dengannya itu serasa indah. subuhan ya subuhan bareng. taraweh ya taraweh bareng. kalau ada acara pengajian ya pengajian bareng. jadi, waktu itu seperti berlalu begitu saja. tidak terasa. tiba tiba sudah buka puasa. tiba tiba lagi sudah lebaran. jadi ya kalau ibadah itu dilakukan dengan rasa suka, dinikmati, juga dijalani dengan senang hati. rasa rasanya kok ya adem adem saja. besok pengen ngulang lagi, terus menanti nanti, kapan ya bulan puasa datang lagi.
lha kok bicara saya sudah seperti ustad gini. ya sudah. selamat menjalankan ibadah puasa. semoga puasa hari ini, besok dan seterusnya akan berjalan lancar. dan segala amal ibadah kita bisa diterima oleh Allah SWT. amin.

14:40 Posted in Cerita | Permalink | Comments (38) | Email this
10 September 2007
aurel itu...
istri saya. sebenarnya saya bingung mulai dari mana saya cerita. sungguh, kalau sudah ngomongin istri saya yang satu itu, ( lha memangnya ada yang lain ? wong satu aja ngga habis habis. ) maksudnya kalau sudah ngomongin dia memang ngga pernah ada habisnya. selalu saja nanti larinya kemana mana. tapi ya ngga apa apa. saya paling suka ngomongin dia. rasa rasanya tuh memori yang dulu dulu pasti teringat lagi. tapi pernah juga kejadian, lha gara gara ngomongin dia, cerita soal dia ketemannya, saya malah didamprat habis habisan.
"wes puas sing ngerasani mas ?" katanya. lha saya juga bingung. kok tiba tiba dia bilang begitu. usut punya usut ternyata temannya yang saya ajak bicara itu cerita ke dia kalau kata saya dia itu begini begini.
"kamu tuh kalau pengen tahu rumus'e, yang namanya cinta itu ya begitu itu, ngomongke terus." jawab saya.
"lha sebenarnya kayak gitu itu maksud'e apa mas, wong sama istrinya sendiri kok sukanya ngerasani. ben opo ?"
"ngga ada maksud apa apa hon, sumpah. cuma seneng aja."
"seneng kok ngerasani. ngomong ngomong'ke, cerita keteman teman kalau aku ini begini begitu. kalau dah ngga suka mbok ngga usah aneh aneh. tinggal dianter pulang, wong aku yo masih punya rumah." jawabnya.
"lha kemaren mau tak anterin, bensinku entek je..." jawab saya sambil cengingisan.
"pinter alesan..."
"wes tho hon, aku dibikinin kopi dulu."
"mbok bikin sendiri..."
"ya beda, kalau yang bikinin kamu itu kan rasanya jadi nyes."
"halah,... aksimu, merajuk..."
"lha, itu dah tehnik tho ? kayak dulu jaman pacaran, masak ngga ingat ? mesra mesraan."
"lha dulu kan aku juga merasa kasian sama kamu mas, coba saja kalau ngga tak terima, kalau ngga tak kukup apa ya ada sing mau sama kamu."
"he eh, aku dulu kan gembel, tidur saja ditong sampah. LHA KOE RA WERUH PAS AKU KERAH...,nang ngetong kae."
"marah...terus keloro loro."
"masuk tong sampah, dulu duluan rebutan tulang je."
"rebutan tulang sama siapa ?"
"helly !!! wong ngomongmu ya kebangetan banget."
begitulah singkatnya kira kira keseharian saya kalau dirumah sama aurel. kalau ngga smash smash'an ya mesra mesra'an. tapi sepertinya banyak mesranya. kata teman, saya sama aurel itu adalah pasangan yang sangat harmonis. "sampeyan itu beruntung lho mas bisa dapat istri seperti mbak aurel. sudah orang cantik, rajin, baik. tapi..." "tapi dia yang musibah dapetin saya. mau ngomong gitu kan ?" lanjut saya. lha ya sudah saya tebak, batin saya. ngga dirumah, ngga dikantor kok saya jadi bahan celaan.
tapi ya jadi manusia itu memang serba membingungkan. makanya saya masih dicap setengah setengah. dulu waktu belum nikah ditanya kapan nikah, bingung. setelah nikah ditanya kapan punya anak, tambah bingung lagi. apalagi punya istri cantik. was was. takut dilirik orang. serba salah. tapi ya ngga apa apa. yang penting itu pengertian sama suami. pikir saya. ya seperti aurel itu. mau ini itu serba lapor. "kalau sudah ngga ngerokok ya jangan sampai ikut ikutan ngerokok lho mas, keselak, aku sing repot." yah,... memang pikirannya itu sehat. "mbok ya sekali kali makan buah tho mas, biar ada gizinya. makan kok daginggg terus, tua nanti kena darah tinggi, trus stroke. mau ?" yah... nurut. memang dia itu pengertian. kurang apa coba punya istri seperti itu. "hon, peci rajut yang kamu belikan kemaren itu ngga muat lho. sesak." kata saya. "lha ya sirah'e diongoti." jawabnya. "lha ya sakit tho hon. kayak potelot wae." "ya dikompres, kasih betadine, nanti ya lembut." wes, tak diemin terus. sabar. lha gimana ngga sabar, wong saya juga rada rada takut sama dia. salah siapa punya istri cantik.
nah, baru saja saya bicarakan, dia barusan telp saya. memang, kalau perasaan wanita itu tajam. nanyain saya sudah makan apa belum, nanyain sekarang saya pulang jam berapa, bilang kalau nanti pulang hati hati. lalu cerita kalau tadi dia makan pakai sayur asem, sama tempe, sama telor. katanya yang masak nyokap. lalu dia bilang kalau tadi habis nyuci baju banyak banget. setelah semua itu selesai dia telp saya. dan sekarang katanya dia mau menyelesaikan pekerjaannya. mungkin laporan harian yang tertunda. entahlah. duhhh, malam ini saya ingin pulang saja. kapan kapan saya lanjutkan lagi cerita cerita tentang dia. 
nb : oh, ya. tak lupa saya ucapkan terima kasih buat yuni, sama amma yang sudah menjamu saya sabtu siang kemaren dijogya. seneng banget deh ketemu sama kalian. soto sulungnya enak lho, kapan kapan saya kesana lagi ya jeung...jangan kapok lho... :)

20:05 Posted in Cerita | Permalink | Comments (48) | Email this
03 September 2007
lupa melayani
kemaren saya habiskan waktu bersama keluarga pergi kesebuah pemancingan yang ada dikota klaten. kami berlima, katakanlah saya bersama istri dan kakak saya bersama istri dan anaknya. setelah sampai ketempat pemancingan tersebut, kami sedikit terkejut tentang peraturan baru disana yang mengharuskan setiap memasuki tempat tersebut dikenakan biaya tiga ribu per kepala. itu artinya kami harus keluarkan uang lima belas ribu sebelum perut kami kenyang. padahal terakhir saya ketempat itu, saya hanya dikenakan biaya parkir seribu rupiah.
"sekarang bayar ya, mas ?" kata saya. "tiga ribu per kepala." jawabnya ketus karena memang sudah ada mobil dibelakang kami yang mengantri untuk masuk. "kalau saya punya saudara disini, apa juga harus bayar ?" kata saya lagi. "iya." tambah ketus, sambil merogoh saku untuk memberikan kembalian uang yang saya berikan. "kalau saya sama rombongan kantor satu bis mau ngelayat teman yang rumahnya disini, apa juga bayar per kepala." kata saya lagi. "iya.!!! yak... terus maju..." jawabnya lalu menghindar.
begitulah sepenggal kisah hari minggu yang saya lewati. begitulah hari itu saya dan keluarga merasa dilayani. walau sebenarnya masih setengah setengah. setengah galak, setengah baik, atau setengah senyum. tapi toh kami akhirnya puas dan kekenyangan.
teman saya kerja dibagian marketing ( dalam hal ini sebenarnya saya masih bingung apa yang disebut dengan marketing. ) sebab teman saya itu rela melakukan apa saja asalkan pruductnya terjual. entah jual diri, berkata kata manis, merayu, menjilat, atau entah apa yang dilakukannya saya juga kurang mengerti. "lho, ini yang namanya melayani pembeli ta, ini bagian dari pekerjaan. pembeli adalah raja." katanya. dan terbukti memang dia berhasil melakukannya. barang dagangannya laku keras. hingga dia berhasil mendapatkan berbagai bonus dan fasilitas dari perusahaannya.
saya jadi teringat dulu waktu saya kuliah. waktu itu jamannya usaha sampingan untuk mencari tambahan uang saku. waktu itu sedang musim musimya multi level marketing. bodohnya saya yang berhasil kena rayu sama teman saya yang mulutnya manis madu. soal bonus rumah mewah, mobil, atau tamasya keluar negeri. saya mencoba untuk cari pembeli. begitu saya mulai bicara, sepertinya mereka sudah tahu arah pembicaraan saya kemana. hingga sering kali mereka langsung menghindar dan menjawab tidak. "wah, otaknya ada prosesornya ya jeung, ngg..." kata teman saya. "ngga kayak otak Ik kan ? ngga ada isinya." lanjut saya dan teman saya pun lagi lagi tertawa sukses menghina. dan memang benar, dalam urusan melayani saya paling tidak bisa.
itu baru melayani pembeli, saya bayangkan suster rumah sakit yang setia melayani saya waktu itu. menyuruh saya makan, mengingatkan saya minum obat, mengganti sprei tempat tidur, sampai membuang air seni saya. walau sebenarnya saya sungguh tidak mengerti dimana letak seninya. kalau letak biangnya saya pasti tahu. nah, itu baru melayani pasien dirumah sakit. lha saya bayangkan lagi presiden yang bekerja melayani bangsa ini. melayani rakyat indonesia. pastilah sangat berat. mencarikan pekerjaan untuk pengangguran, memberikan bantuan untuk keluarga miskin juga biaya sekolah untuk anak anak kurang mampu, menyelesaikan masalah dalam negeri, para korban bencana alam, perekonomian yang tidak stabil, tinggat kriminalitas yang tinggi, dan berbagai masalah yang lainnya. sungguh berat. tapi syukurlah, hal tersebut berjalan baik baik saja. karena semua menteri dan pejabat pemerintah yang lainnya bekerja keras sekuat tenaga demi mencapai tujuan bersama. indonesia merdeka.
lucunya, saya yang jarang melayani ini malah terus terusan dilayani. orang tua yang sudah melayani saya dari kecil hingga dewasa seperti ini. istri saya yang melayani saya setiap hari, menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, membersihkan rumah yang semuanya dia lakukan karena rasa cinta. teman teman saya yang memberikan semangat, saran, atau bantuan ketika saya kesusahan. terlebih lagi Tuhan yang sudah menentukan semua ini, memberikan saya semua kenikmatan surga dunia yang membuat saya bahagia.
untuk itu. saya ingin mengubah kalimat `jarang melayani` menjadi `sering melayani.` kalau perlu saya akan memberikan service gratis dengan garansi seumur hidup. mulai sekarang. ya, mulai sekarang.

09:45 Posted in Cerita | Permalink | Comments (32) | Email this
29 August 2007
kenapa menabung ?
dulu saya pernah katakan kalau saya ini anti credit card. alasannya sepele. karena saya tidak mau utang saya nambah. terlebih lagi, mau ditaruh dimana muka saya kalau ada yang bilang "ih malu maluin deh Jej, makan siang aja ngutang." kan ?
tapi saya punya yang namanya debit card. ibarat pulsa namanya prabayar. atau bayar dulu baru makai. beda sama teman saya yang sukanya makai dulu baru bayar. "lha kan memang enaknya begitu mas, misal 300rb/jam kalau setengah jam dah selesai, ya harus kembalian." katanya. "otak loe kembalian, orang maksudnya pulsa pasca bayar, kok sampai kembalian." jawab saya.
karena saya sangat menyukai debit card, ( yang mungkin orang lain lebih ngenal dengan sebutan kartu ATM ) maka jangan heran kalau kartu ATM saya lecet lecet. kenapa ? ya karena terlalu sering saya keluar masukkan. ( tolong untuk kata lecet dan kata keluar masuk jangan dihubung hubungkan, walau saya sudah paham tentang apa yang anda pikirkan akan sama dengan apa yang saya pikirkan. ) kedalam mesin ATM maksudnya. hingga sering teman saya membodoh bodohkan saya. misalnya tadi pagi saya setor uang dibank bersama seorang teman karena teman saya itu juga kebetulan mau buka rekening baru. lalu setelah acara makan siang selesai, saya dengan teman saya yang sama mampir ke ATM untuk mengambil uang. "sampeyan itu bagaimana sih mas, tadi kan baru saja setor kok sekarang sudah diambil lagi ?" katanya. kemudian saya hanya cengar cengir saja.
celakanya, istri saya yang akhirnya selalu memaki maki saya. dibilang saya orangnya boros lah, tidak bisa ngatur duit lah, tidak bisa beginilah, begitulah, dan sebagainya yang kalau sudah marah ngga ada yang ngalahin. karena memang dia orangnya maunya menang sendiri, pendapatnya sendiri yang paling benar, keras kepala, apalagi masalah keuangan. saya selidiki waktu tidur tengkurep ternyata memang benar. lha unyeng unyengnya tiga. tapi ya ngga apa apa, toh dia kalau marah ada benarnya juga. berarti masih cinta sama saya. setelah saya pikir pikir apa saya ini termasuk ikatan suami yang takut istri ?
kembali kemasalah ATM itu tadi, sebab kalau ngomongin istri saya bakal ngga ada habisnya. mungkin lain waktu akan saya ceritakan siapa dia yang sebenar benarnya.
jadi inilah saya lagi, seorang yang boros dan mungkin tidak bisa menghargai uang. tapi saya sangat mencintai uang. kecintaan saya pada uang terlihat ketika saya lebih suka membeli barang ini barang itu daripada menghemat uang. atau saya lebih suka makan ini makan itu daripada menimbun uang. begitulah, sebab saya mikir, untuk apa uang ditimbun timbun toh nantinya dipergunakan lagi. untuk apa uang disimpan toh juga saya ngga bakal membawanya waktu mati. "lha kalau begitu Jej yang goblok, kenapa mesti nyimpan uang dibank ? kenapa ndak dibawah kasur saja ?" kata teman saya. "lha memang kasur bisa biat transfer uang dengan cepat, bisa buat bayar pajak ini juga pajak itu." jawab saya.
itulah sebabnya saya punya rekening dibank. bukan lantaran saya sangat suka menabung tapi karena saya sangat malas. malas untuk antri pajak listrik, malas untuk antri pajak telpon, dan dengan mesin ATM, hal tersebut saya lakukan hanya beberapa menit saja tanpa menunggu berjam jam. jadi begitulah kenapa kartu ATM saya lecet lecet.

20:00 Posted in Cerita | Permalink | Comments (36) | Email this
27 August 2007
jadi penjilat
"sok penting !!!" kata teman saya sambil membuang muka.
usut punya usut ternyata dia baru saja melihat blog saya yang masih terbuka. setelah beberapa saat kemudian saya tersadar kalau kata katanya itu dikarenakan adanya kolom aktivitas. apa yang sedang saya lakukan. apa yang sedang saya kerjakan. saya tinggal sms dari hp dan langsung terupdate. ini yang namanya micro-blogging.
saya sadar kalau saya ini bukanlah orang penting. bahkan saya juga ikhlas berkata kalau saya ini bukanlah siapa siapa. "nah, kalau sudah tau, kenapa mesti beritahukan kepada semua orang, tentang apa yang Jej lakukan. tambah ngga penting lagi kan ?" kata seorang teman yang saya tanggapi dengan telinga sebelah. biar saja saya menjadi orang yang sok penting. siapa tahu dengan begitu nanti cita cita saya menjadi orang sukses bakal tercapai.
"kalau mau sukses, bukan dengan main seleb seleb'an seperti ini, tapi sampeyan harus pinter menjilat." begitu kata teman saya yang lain.
saya yang sedang mengunyah roti bolu tiba tiba tesedak karena teori tersebut susah untuk saya telan. bagaimana caranya hanya dengan menjilat bisa membuat orang sukses. kalaupun bisa, saya pasti akan melakukannya. jangan tanya mengapa, lha kalau cuma urusan jilat menjilat saya ini ahlinya. apalagi kalau menjilat yang basah basah. ice cream maksudnya.
lalu dia bercerita soal temannya yang pintar sekali dalam urusan jilat menjilat. dia selalu kelihatan sibuk dan aktif dalam bekerja kalau ada sibos. dia juga selalu mencari muka didepan sibos. atau apapun akan dia lakukan untuk sibos. bahkan dia rela menjadi mata mata sibos. melaporkan segala kegiatan para pegawai yang lain. intinya orang tersebut harus bisa berkepribadian ganda. didepan sibos dia menyanjung, dan didepan teman kerjanya bersifat seperti tidak tahu apa apa. terlebih lagi kalau sudah berhasil menjadi penjilat, maka segala fasilitas akan mengalir bagai air. dapat jatah libur sesuka hati, gaji yang mungkin lebih. dan yang jelas akan menjadi orang yang peting.
"menurut Ik cocok banget deh, lihat saja postingan kemaren, kan serba complicated, serba ndak jelas, jadi cocok donk untuk orang berkepribadian ganda macem Jej." kata teman saya lagi yang memang sebenarnya sangat suka menghina saya. "kan Jej memang sudah terhina." lanjutnya sambil tertawa terbahak bahak.
lalu saya katakan. "TIDAK !!!" serumit rumitnya saya dan sesenang senangnya saya dalam urusan jilat menjilat, kalau sudah menjilat yang satu ini, saya rasa bukan diri saya. saya lebih suka diperkosa seharian penuh. disuruh ini disuruh itu yang bukan kerjaan saya tapi endingnya ada uang lembur daripada disuruh menjilat. saya lebih suka pekerjaan itu saya lakukan dengan suka hati daripada serba yes sir, yes mam, yang membuat saya seperti menjadi anjing yang patuh pada tuannya. dan yang pasti saya lebih suka apa adanya, jalankan kewajiban saya dan memperoleh hak yang semestinya.
lalu sebuah pesan singkat dari teman muncul di tagboard kemaren sore. "ta mata apa kabar? postingnya makin heboh euy...hehehehhehe... ga cuma seleb ajah yg bisa dikritik n digosipin. mata juga bisa!hwheheheheheheheh...."
ternyata untuk menjadi orang penting itu tidak harus menjadi penjilat ya jeung ? "iya,...penting untuk dicaci dan dimaki." sambar teman saya ngga mau ketinggalan.

15:25 Posted in Cerita | Permalink | Comments (45) | Email this
22 August 2007
status
sejenak kita lupakan masalah soal komentar itu.
hari ini saya membaca sebuah status salah seorang teman yang berbunyi `jadilah kamu yang sesungguh sungguhnya kamu.` belum sempat saya mencerna kalimat tersebut lalu ada lagi status yang berbunyi `..i just want u to know who i am...`
entahlah, mungkin itu kebiasaan saya membaca status orang. apakah dia itu masih perawan, sudah taken, atau menjanda
hal serupa ketika saya membongkar friendster. terpampang dengan jelas status status tersebut. bahkan ada yang berstatus it's complicated. lalu saya bertanya tanya dalam hati. bagaimana bisa rumit ? mbok ya kalau single bilang single, punya pacar bilang punya pacar atau kawin bilang kawin. kok ya ada yang setengah setengah gitu.
suatu hari teman saya berkata soal dirinya yang sangat susah untuk mencari pasangan hidup. "kalau mencari pasangan hidup itu susah, mbok yao mencari pasangan mati saja." kata saya.
soal pasangan hidup itu, katanya dia tidak percaya diri. wajahnya yang pas pas'an juga karena kurang bergaul sebab kesibukannya dikantor karena banyaknya pekerjaan. lihatlah saya. saya termasuk kedalam orang yang seperti itu. wajah pas pas'an dan kerja ngga kenal waktu. tapi buktinya saya bisa mencari pasangan hidup. saya bisa menikah. memberikan nafkah. baik lahir maupun batin.
saya sering ditanya kenapa saya ini menikah muda. lalu saya ditanya bagaimana rasanya. nah kalau soal kenapa ? saya menganggap ini memang sudah suratan dari Tuhan kepada saya untuk menikah diusia muda. ini jodoh saya. jadi kenapa harus dipusingkan dengan pertanyaan kenapa ? menikah ya menikahlah. ***tsaahh*** nah kalau soal bagaimana rasanya, tergantung rasa yang mana dulu. bagian atas atau bagian bawah ? depan atau belakang ? hahaha
kembali kemasalah status Y!messenger diatas. selama saya menjadi manusia, saya sadar siapa saya. apa yang saya lakukan dan apa yang saya kerjakan. dan selama menjadi manusia pula saya bersungguh sungguh menjadi diri saya. cuma ya harap maklum saja. kadang saya suka plin plan, suka ngalor ngidul. kadang suka begini, kadang begitu. tadi malam suka diatas, nanti malam suka dibawah. weekend jadi malaikat, senin pagi jadi setan. ya begitulah jika kamu ingin tahu siapa saya.
"nah itu yang namanya it's complicated, mas." sahut teman saya.
"kalau itu Ik sudah paham, soalnya Jej kan orangnya memang setengah setengah. sehat ngga, sakit juga ngga. waras ngga, gila juga ngga. hidup ngga, mati juga ngga." sambar teman saya yang mulutnya seperti sampah. PUASSS !!!

12:13 Posted in Cerita | Permalink | Comments (53) | Email this
18 August 2007
sudahkah anda membaca postingan saya hari ini ?
saya belum sudah !
begitulah kira kira komentar yang bakalan masuk pada postingan saya kali ini, karena mungkin hanya membaca judulnya saja.
waktu kemaren saya ditegur lagi secara keras. setelah tulisan saya yang tidak EYD atau tulisan saya yang kurang menggigit. kali ini saya ditegur karena komentar saya yang ngga pernah nyambung dengan tulisan. lha bagaimana mau nyambung, wong saya ndak paham dengan postingan yang ditulisnya. bukannya berkomentar malah saya bertanya lagi. lha pikir saya, daripada tidak berkomentar, nanti dikira sombong. wong saya juga pernah ditegur sebelum sebelumnya. "kamu tuh kira kira donk ta, wong saya selalu komentar panjang lebar dipostingan kamu, kok kamu ngga pernah komentar diblogku. ngga adil ahhh." ya begitulah. jadi, kalau saya ngga paham isi postingan itu ya saya komentar apa adanya. atau malah bertanya lagi apa maksudnya. endingnya saya dimaki maki. "makanya baca donk ta, baca !!!"
bodohnya saya. "sudah dari dulu Jej itu goblok, ta. ingat jaman sekolah ndak ? bahasa sastra saja dapat lima. kok ya baru sadar sekarang." cela teman saya.
suatu hari teman saya berkata kalau menjadi seorang blogger itu harus bisa membaca dan menulis. intinya kedua hal tersebut merupakan suatu keharusan. lalu saya berfikir, berarti saya tidak pantas disebut sebagai blogger, lha wong menulis saja tidak menggunakan EYD ditambah membaca postingan tidak pernah paham apa maksudnya. lalu hal itu saya sampaikan pada teman saya satunya lagi. "ya tentunya harus bisa berkomentar juga donk, ta." begitulah katanya. lalu sekarang saya berfikir lagi, apalagi berkomentar, lha ndak pernah nyambung sama sekali. sempurna sudah penderitaan selama satu tahun ketika saya terjun dalam media seleb seleb'an ini.
menulislah sesuka hati. begitulah katanya teman saya yang satunya lagi ketika dia tahu kalau saya tidak menggunakan EYD. saya berani taruhan ketika dia membaca postingan ini pasti dia akan berkata, 'membacalah sesuka hati.' ya, saya rasa itu jamak. lebih jamak lagi dia akan berkata 'berkomentarlah sesuka hati.' ya ngga bu guru ?
kalau dilihat lihat. buanyak sekali komentar komentar dalam postingan saya ini yang melenceng dari isi postingan. tapi saya tidak pernah mempersoalkannya. saya malah membalas komentar itu sesuai dengan apa yang dia sampaikan. sehingga malah terjadi komunikasi yang baik. saya juga tidak mempermasalahkan apakah postingan saya dibaca atau tidak. toh saya juga tidak mendapatkan hadiah dan ini juga bukan suatu perlombaan seperti tujuh belasan kemaren.
ya sudah... saya ndak mau berpanjang lebar, takutnya postingan saya nda dibaca. atau memang malah ngga dibaca ???
tapi tak jadi soal. dengan begini saya jadi tahu kalau ternyata saya ini begini. saya juga minta maaf jika komentar dalam postingan saudara saudara sekalian tidak berkenan, tidak sesuai dengan isi postingan atau tidak sesuai dengan yang diharapkan. peace ya jeung... 

11:00 Posted in Cerita | Permalink | Comments (49) | Email this
14 August 2007
detik detik
sebelumnya saya akan berkata
hiduplah indonesia raya...
nah, kalau dipikir pikir lebih dalam lagi. benar juga omongan teman saya. kok rasanya saya ini sok berjiwa nasionalis. sok berjiwa patriotisme. sok berjiwa pahlawan. padalal ? apa coba yang sudah saya lakukan bagi bangsa ini ? ngga ada satupun yang saya lakukan pada bangsa indonesia tercinta ini. saya ini sudah numpang hidup disini, sudah numpang lahir disini, titip nyawa ditanah ini. oalah mbokne,...mbokne...lha kok masih nuntut ingin ini ingin itu. coba bayangkan lagi saudara, waktu jamannya pemilihan presiden tahun kemaren. saya ini golput. saya tidak memilih siapa siapa ? karena dari semua calon memang menurut saya tidak ada yang cocok. sudah ngga ikutan milih presiden, sekarang sok sok'an ikut ikutan marah. bela belain yang lemah. soal jatah korban gempa yang kurang, soal nasib rakyat porong yang terkena lumpur, soal gaji buruh yang mepet, soal anggota DPR yang dapat fasilitas lebih, soal ini dan soal itu.
"lha itu sampeyan namanya ndak tau diri mas,... kalau sampean dulu ikut nyoblos milih presiden berarti sampeyan punya hak untuk nuntut ini nuntut itu. wong sampeyan adem ayem saja. kok ikut ikutan sok jadi pahlawan kesiangan, menegakkan keadilan membela kebenaran. eee lhadalah lae,...lae" kata teman saya bagai semar sedang memberi petuah.
"loh...kok Jej jadi marah marah gitu ? saya kan cuma menyampaikan aspirasi sebagai warga negara." jawab saya sedikit sewot.
"sabar... kok jadi debat kusir kaya gini ?" kata teman saya satunya lagi yang berusaha menenangkan masalah.
"sabar sabar,... aku nek nesu pasti teringat tanah airku." jawab saya dengan emosi tinggi. tapi malah tawa riuh serempak meredakan suasana waktu itu. kemudian obrolan hangat kembali tercipta.
lalu ceritanya beberapa hari yang lalu terdengar desas desus dikota solo kalau akan diadakan sweeping software dan instalasi komputer. semua tempat dari kost kost'an, perkantoran, warnet, hingga counter hp mungkin akan terkena dampaknya. lalu teman saya mapkos ( masyarakat pengguna komputer surakarta ) mengajak teman teman lain untuk melakukan aksi demo menolak sweeping software dan instalasi komputer ke DPRD surakarta pada tanggal 15 agustus 2007.
"ya sudah sepantaskan sampeyan sampeyan itu tertip hukum mas. kalau saya yang punya microsoft, saya juga ndak bakal rela kalau OS saya dibajak dan digunakan saenak udelnya sendiri dengan gratis." kata teman saya lagi yang mulai cari perkara.
saya sudah mulai diam. terserah dia mau bilang apa. saya cuma mencoba berfikir positif. kita pasti tahu yang namanya windows itu sudah memasyarakat. nah jika kita disuruh membelinya, semisal harga windows XP kurang lebih Rp 2.750.000, lalu belum lagi microsoft office yang harganya kurang lebih Rp 4.000.000 dan norton antivirus kurang lebih seharga Rp 375.000, dan belum termasuk harga komputer yang katakanlah Rp. 4.500.000, apakah wajar jika kita mengeluarkan uang sebanyak Rp 11.625.000,- harga tersebut belum lagi kalau kita ada program tambahan seperti corel, adobe photoshop, atau yang lainnya.
saya mendengar kabar kalau ada warnet yang sudah membeli ijin untuk menggunakan software tersebut tapi masih saja kena dampaknya. para aparat langsung mendatangi dan mengambil beberapa komputer untuk dijadikan barang bukti. ternyata indonesia memang benar benar IGOS. bukan go open source tapi go stupid.
setelah kabar bajak membajak itu. lucunya saya yang sok berjiwa nasionalis ini disuruh pidato pada waktu malam tirakatan untuk mewakili para pemuda kampoeng. mendengar hal tersebut teman saya semakin semangat untuk berkomentar. komentar yang menghina maksudnya. "hahaha,.. tau apa sampeyan soal jaman kemerdekaan ? lha wong tiap hari hobbynya nonton spongebob sama patrick, kok mau pidato dimalam tirakatan." begitulah katanya sambil tertawa ngakak.
lagi lagi saya capek menanggapi mulutnya yang seperti sampah itu. tapi saya memang sedang kebingungan. apa yang mesti saya sampaikan. soalnya saya tidak melihat langsung bagaimana para pahlawan itu mati matian membela bangsanya hingga titik darah penghabisan. saya hanya mendengar cerita dari nenek soal sumpah pemuda, saya hanya mendengar dari ayah soal indonesia merdeka, dan saya hanya mendengar dari ibu soal pemberontakan G30S/PKI. saya tidak pernah melihat bung karno pidato, saya tidak pernah melihat jendral soedirman berperang, saya juga tidak pernah melihat ahmad yani diculik dan dibunuh. saya tidak pernah melihat sejarah para pahlawan tersebut secara langsung. sebagai generasi baru, saya hanya menuai hasilnya saja. saya hanya bisa menceritakan kekuasaan orde baru, saya hanya bisa menceritakan perjuangan rakyat untuk melakukan reformasi. dengan pemerkosaan, dengan penjarahan juga dengan pembakaran. saya hanya bisa menceritakan para pahlawan sekarang ini yang bukan lagi berjuang membela tanah air tercinta tapi berjuang demi kesejahteraan hidupnya. apakah itu yang harus saya sampaikan. lihat ! saya sudah sok nasionalis lagi.
sudahlah, sepertinya detik detik ini terlalu dini untuk saya bicarakan.
merdeka !!!

08:33 Posted in Cerita | Permalink | Comments (39) | Email this
10 August 2007
sosial atau soksial ?
saya mau sedikit serius !!!
sering kali saya mendapatkan email, offline message, atau pesan difriendster yang isinya pemberitahuan tentang seseorang yang membutuhkan bantuan ini, penyakit itu atau hal hal sejenisnya yang intinya minta bantuan kepada kita dan akhirnya disuruh untuk menyebarkan berita sedih tersebut kepada yang lainnya.
begitupula dalam media blog. saya sering kali melihat postingan teman teman yang membicarakan tentang sekolah ini yang membutuhkan dana atau pembangunan masjid itu yang menyedihkan. hingga masih banyak lagi tulisan tulisan serupa yang intinya mengajak kita untuk ikut mengulurkan tangan kita untuk memberikan sumbangan. sungguh mulia.
sebenarnya saya merasa tertusuk ketika membaca postingan postingan itu. pasalnya, saya tidak pernah berperan aktif dalam kehidupan sosial seperti itu. mengunjungi panti asuhan, juga memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan. yang saya lakukan hanya berdoa setiap saya habis melakukan kegiatan sholat lima waktu. wajar saja manusia yang pasrah seperti saya hanya bisa berdoa dan mendoakan. sebab siapa tahu orang lain mendoakan saya. bayangkan saja jika seseorang mendoakan `semoga mata kaya raya, sehat jasmani dan rohani, cepat diberikan keturunan, menjadi seorang yang berguna, anak yang patuh, suami yang setia, selama hayat masih dikandung badan.` indah bukan ?
saya merasa tertusuk karena saya memang belum pernah berkunjung ketempat tempat seperti itu. terlebih lagi saya harus dihadapkan dengan tulisan tulisan seperti itu. untuk membacanya saja saya merasa tidak pantas apalagi menuliskan dan menyebarkannya. bantuan yang saya berikan hanya melalui kotak amal. saya tidak pernah bertemu langsung dengan orang orang seperti dalam acara jalinan kasih. saya juga belum pernah pergi kepanti asuhan, tempat dimana anak anak hidup tidak mengenal orang tua. atau malah sengaja dibuang ayah ibunya ketempat sampah hanya karena hubungan cinta yang terlarang yang tidak bisa mereka pertanggungjawabkan.
ingin rasanya saya mengunjungi tempat tempat yang penuh dengan luka batin tersebut. saya bayangkan betapa sedihnya mereka. ingin rasanya saya bisa bermain bersama anak anak tersebut, bisa memeluknya, bisa bercerita, bercanda dan tertawa. menyanyi dan menari. hingga membuat kesedihan mereka sedikit terobati. tapi lagi lagi saya hanya bisa membayangkan tentang mereka, saya hanya bisa membaca berita berita tentang mereka, dan saya menjadikannya sebagai bahan tulisan karena saya kehabisan cerita.
maka beginilah saya jadinya. punya kehidupan spiritual yang tersendat sendat. saya merasa hidup saya belum sempurna. saya hanya merasa menjadi makhluk yang soksial. hanya sering berkata dan berpesan tentang menyebarkan kebaikan. menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. lucunya, nanti ketika suatu saat saya ditanya malaikat. "mata mata, apa yang kamu lakukan sewaktu hidup didunia ?" maka saya menjawab "memberitahukan kepada semua orang untuk berbagi kasih, berbagi suka maupun duka, dan tak lupa menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya wahai malaikat." ahh, sepertinya kok saya merasa sedang bermain tebak tebakan.

08:06 Posted in Cerita | Permalink | Comments (30) | Email this
06 August 2007
menjadi setan
sabtu kemaren saya sempat menyapa teman yang mengatasnamakan dirinya sebagai setan. sebenarnya saya juga heran, kenapa manusia secantik dia ( sebab dia wanita, tidak mungkin saya katakan tampan ) disebut setan. sayapun menanyakan pada dirinya tentang hal tersebut.
"tauk ya Ta, sadar kali kalo kelakuanku emang kayak setan. aku nyadar kalo aku tuh bukan orang baik, aku tau banget kalo kelakuanku tuh sama sekali tidak bisa dikategorikan dalam kelakuan anak baik. lagian lagi aku kalo ngomong suka nyablak en ( mungkin ) bikin sakit ati orang laen. maklum Ta, aku ga bisa basa basi, kalo ngomong ya straight to the point, apa adanya ga ditutup2i. kalo aku ga suka, ya aku bakalan langsung bilang ga suka. skali bilang benci ya bakalan selamanya benci. makanya banyak bgt temen2ku dulu ( mantan temen2ku ) pada bilang kalo aku tuh ga jaoh beda sama setan yg sifatnya mo ngancurin manusia. gituh."
lewat jawaban itulah saya jadi bertanya dalam hati, apakah saya ini juga setan ? lha masalahnya semua sifat sifat setan itu melekat dalam diri saya. iri hati, egois, hingga kurang sabar dalam menghadapi sesuatu. mengingat karena orang sabar itu disayang Tuhan, jadi saya disayang setan. begitulah kira kira.
sampai saya teringat ketika saya berhasil dengan sukses dalam menjalani hidup, kadang saya lupa siapa yang memberikan nikmat tersebut. apakah itu nikmat dari Tuhan atau nikmat dari setan. karena sering sekali saya merasa kagum, bangga dan puas pada diri saya sendiri ketika sedang diatas. maksudnya diatas disini yaitu telah mampu menguasai yang di bawah, bukan seperti tadi malam, saat saya sedang berada diatas ranjang. diatas kasur, bantal, dan guling maksudnya.
nah, hal hal seperti disebut diatas yang mungkin membuat diri saya menjadi setan. "dan memang dasarnya muka Jej juga seperti setan, mas." sahut teman saya pada suatu hari. walau sebenarnya teman saya itu tidak pernah tahu apa mukanya setan mirip sama saya. "saya tahu kok mas, muka setan kan menyeramkan, lha sama seperti sampeyan tho." kata teman saya lagi.
kalau memang soal wajah yang menyeramkan saya memang mengakuinya. bisa jadi itu syarat utama untuk menjadi setan. tapi teman saya waktu itu yang menyebut dirinya setan, sepertinya memang jauh dari kata menyeramkan. mana ada setan berkulit putih mulus, rambut lurus sebahu dengan warna sedikit kecoklatan, berwajah cantik tanpa jerawat juga tanpa kerutan, tinggi berat badan ideal, rias wajah yang lembut, pakaian dalam sapuan warna pastel yang indah, mengenakan jam tangan cartier ( baca kar ti e bukan kartir.) dan tak lupa aroma wangi givenchy ( baca ghi fang syi. ) setidaknya itu gambaran saya tentang dia sebagai seorang wanita jakarta.
lalu sebagai manusia yang suka melarikan diri, saya malah merasa takut untuk mengakui saya ini setan. tidak seperti teman saya yang cantik itu, dengan lantang dia berani menyebutkan terang terangan kalau dirinya itu setan. saya malah melarikan diri, menyembunyikan, dan tidak mengakui kalau diri saya ini menang setan. terpampang dengan jelas kalau saya menyebut diri ini sebagai malaikat. walau saya juga sadar secara tidak langsung saya telah membohongi diri saya sendiri.

08:53 Posted in Cerita | Permalink | Comments (41) | Email this
27 July 2007
gengsi ?
ketika seorang teman melihat saya memakai jam tangan abacus fossil beberapa waktu yang lalu. kini dia membeli sebuah jam tangan baru casio pathfinder yang bisa GPS. "jadi pengen aja mas make jam digital kek punya sampeyan." katanya. lalu saya geleng geleng kepala. apa ini yang namanya gengsi ?
dalam urusan gadget gadget'an saya tidak begitu peduli. lha pasalnya memang saya bukan type type manusia seperti itu. apalagi urusan gengsi gengsi'an. wahhh jangan sampai deh. saya lebih suka perut kenyang daripada menghabiskan uang hanya untuk barang barang seperti itu yang sebenarnya memang membuat nangis bercucuran air mata. sementara teman saya memakai XDA, saya masih menggunakan nokia 6800. sementara teman saya sudah membawa sony viao core 2 duo yang tipisnya sekertas HVS, saya masih memakai toshiba pentium 4. itupun belum bisa membaca DVDR. "saya belum puas mas dengan yang ini. kemaren lihat ada yang pakai acer ferrari soalnya, jadi pengen ganti asus lamborghini" katanya dengan santai. "iyah, ntar bisa balapan ya nek..." jawab saya. sementara teman saya pencet pencet PSP, saya masih pencet pencet yang lain. NGAGE maksudnya, ngeres aja pikiran loe ye... itupun aja minjem dari pokanan. cuapekkk dehhh....
"kan Ik juga harus ikutin mode, lagipula juga harus ikutin lingkungan disekitar. mau kalau you dibilang ketinggalan jaman ? gengsi donk..." begitulah katanya lagi.
lalu saya berfikir dengan pikiran yang jernih. sebab tidak mungkin saya berfikir dengan pikiran yang kotor. jadi semua itu karena mode, gaya hidup dan penyesuaian lingkungan ya ? batin saya. lalu pertanyaan selanjutnya adalah, jika mereka berada dilingkungan yang tidak mengenal gadget, mode dan gaya hidup, apakah dia rela mengganti soft contact lens yang membuat matanya menjadi biru hingga orang bilang seperti bule dengan kacamata ? apakah rela dia mengganti tasnya yang berlabel hermes ( baca 'er' seperti menyebut huruf r dan 'mes' seperti penyanyi memes. ) dengan bodypack ? apakah rela dia tidak naik mobil berlogo biru putih lalu naik angkot ? apakah rela dia tidak makan spaghetti melainkan makan sarimi ?
saya kemudian berfikir lagi dengan akal yang sehat. sebab tidak mungkin menggunakan akal yang sakit. pentingkah menunjukkan kepada seseorang kalau dirinya itu mampu beli ini mampu beli itu ? benarkah jika dia mengatakan kalau dia berhak bangga dengan apa yang dia raih itu. berhak menikmati rejeki yang diberikan Tuhan. "uang ya uang saya sendiri, terserah donk jeung mau Ik beliin apa." dan alasan lainnya. tapi benarkah seperti itu ? atau sesungguhnya hanya ingin dihargai ? bangga bisa menyaingi ? mungkin karena hal tersebut sangat memuaskan batin. begitukah ?

11:55 Posted in Cerita | Permalink | Comments (42) | Email this
25 July 2007
sahabat itu...
hari itu saya menjadi seorang pendengar budiman ketika teman saya sedang mengeluarkan keluh kesahnya. sambil menyeruput teh poci diwarung dan duduk duduk ditrotoar yang berlokasi ditengah kota, yang membuat hati terasa nyaman setelah diperkosa seharian. keluhnya.
"hehh ? diperkosa ? otaknya dah ngga beres kali ya ? kok ya mau maunya merkosa Jej ?" kata saya. "coba bayangkan mas. setiap hari saya selalu ngalor ngudul gara gara ngurusin kerjaan yang bukan kerjaan saya. sementara kerjaan saya sendiri belum beres. belum lagi "yang maha kuasa" ( sibos ditempat dia kerja maksudnya ) menyuruh saya ini itu. memangnya saya jongos apa ?" jawabnya.
"lha kamu aja yang geblek. ngapain mau disuruh suruh kalau bukan kerjaan situ." kata saya. "lho. ini bentuk loyalitas dalam bekerja mas. biar lebih bisa dipercaya dll dll." jawabnya lagi ngga mau kalah. "loyalitas apaan kalau gaji sama aja." kata saya lagi ngga mau kalah. "kalau gaji saya sama saja, mana mungkin Ik bisa traktir situ seperti sekarang ini." jawabnya lagi juga ngga mau kalah. "berarti Jej seneng diperkosa donk ?" kata saya sambil tertawa terbahak bahak.
obrolan kami malam itu sampai merembet kemana mana. dari anaknya sibos sampai simpenan sibos yang tidak perlu saya ceritakan secara mendetail disini. ( bisa gulung tikar blog saya. ckckck... ) sampai akhirnya pada teori percaya dan tidak percaya.
"kenapa ya mas,... kalau yang namanya keluarga itu beda banget ama sahabat. lha buktinya saya meminjam uang pada keluarga, entah itu kakak atau saudara saya yang lain susyehnya minta ampun." katanya sambil melahap roti bakar.
"beda dengan yang namanya sahabat, padahal tuh ya, mereka itu kan bukan siapa siapa kita. hanya seorang yang mampir dalam hidup kita. entah itu lama atau sebentar. tapi kesannya ngga karuan. kita bisa leluasa pinjem duit, bisa berbagi cerita, ya, ngga malu malu gitu lah. coba kalau sama keluarga sendiri. banyak mindernya." lanjutnya lagi sambil menyeruput teh poci rasa melati yang dia pesan.
"ehmm ehmmm,... ngerti kok." sahut saya sambil menikmati pisang bakar keju yang empuk.
"kadang tuh orang lain kayak saudara, trus saudara tuh malah kayak orang lain. misalkan saja saya malah merasa nyaman cerita sama situ daripada cerita sama ibu. intinya kok sahabat itu lebih bisa dipercaya daripada keluarga sendiri. merasa lebih nyaman gitu." katanya lagi.
mata saya jadi terbuka ketika dia berkata seperti itu. saya lalu berfikir dalam hati. ( sebenarnya saya juga bingung, lha berfikir kok dalam hati bukannya dalam otak ? ) apakah saya ini sahabat yang baik ? jujur saja sampai sekarang saya tidak tahu sahabat itu seperti apa ? yang saya tahu sahabat itu ibarat kotak P3K. tempat pertolongan pertama pada kecelakaan. ketika saya tidak punya duit atau ketika saya butuh pendengar karena masalah masalah yang ada. meminta saran dan pendapat. tapi tak lupa ketika saya sedang senang juga harus berbagi bersamanya. begitulah sahabat bagi saya. tapi, begitu mereka yang memerlukan kotak P3K itu, apakah selama ini saya sudah siap sedia ? dan bodohnya saya karena selama ini tidak pernah menyadarinya.
dulu misalnya, teman saya pernah mengeluh kalau cowoknya sering begini sering begitu. bahkan setelah mereka pacaran lamaaaa sekali, dengan teganya sicowok mendua. lalu apa yang saya katakan. "cowok begitu ditinggal saja. ngga ada gunanya." saya berkata seperti itu hanya pakai logika dan tanpa peduli tentang apa yang sedang teman saya rasakan dalam hati. kenangan indah waktu pacaran, kata kata mesra waktu makan malam bersama, atau pergi belanja, juga waktu memilih baju berdua. sahabat yang baikkah saya ?
sahabat saya juga datang dan pergi begitu saja. ada yang datang tampak muka pergi tampak punggung, tapi parahnya ada juga datang tampak muka pergi tidak tampak punggungnya. entah itu karena saya yang salah atau karena apa. jika kita mengenal awal awalnya dengan baik, apa salahnya kita pisah juga dengan baik baik. katanya sahabat itu tidak pernah mati, dan katanya lagi juga didunia ini ngga ada yang abadi, semua pasti pergi. tapi setahu saya, kenangan masih tetap tersimpan dalam dihati. kan...

10:57 Posted in Cerita | Permalink | Comments (42) | Email this
21 July 2007
4 sehat 5 sempurna
sambil menunggu pesanan datang untuk mengisi perut kami yang keroncongan. entah kenapa kok namanya keroncongan, kok ngga kengepopan ? saya jadi bingung. nah ceritanya kami ngobrol ngalor ngidul, seperti biasa, ngomongin ini ngomongin itu. sampai juga akhirnya pada seorang teman yang kebetulan ada disitu karena kemaren dia habis keluar dari rumah sakit karena terkena DB. "loe tuh aneh ya, sakit kok demam berdarah, masak sama nyamuk saja kalah." kata teman saya. "lha mending saya kalah sama nyamuk, daripada Jej, sakit kok muntaber." balasnya. kemudian gelak tawa pun riuh serempak.
"masuk rumah sakit kok dibangga banggain. jangan sampai deh masuk rumah sakit lagi." kata saya. "kalau ngga mau sakit ya Jej harus hidup 4 sehat 5 sempurna." sahut teman saya.
selama ini saya sudah mengkonsumsi makanan pokok, lauk pauk, dan sayuran. apalagi yang namanya susu, wahhh saya sangat suka sekali. terutama susu murni yang langsung diperas dari sumbernya. dari susu sapi maksudnya. hehehehe... tapi, lain halnya untuk urusan buah ? wah, susah. saya kurang begitu suka sama yang namanya buah. kecuali buah .... ( kalau kalian paham dan jalan pikiran sealiran dengan saya pasti bisa mengisi titik titik tersebut. )
lalu untuk menyempurnakan kekurangan saya itu. saya berolah raga. karena dengan olah raga akan menyehatkan badan dan menguatkan jiwa. begitulah katanya. nah, setiap akhir pekan saya selalu sempatkan untuk melakukan kegiatan yang satu itu. saya sempatkan bertemu dengan teman teman kampoeng waktu badminton, saling bercanda juga saling cerita. kegiatan tersebut sudah lama saya lakukan. namun saya berhenti beberapa tahun dan mulai aktif lagi kira kira 3-4 tahun yang lalu. dan hasilnya lumayan. saya jadi jarang sakit sakitan. juga stres dalam pikiran hilang seketika.
dulu, saya sering sekali terkena penyakit tipes. hingga saya sering kali keluar masuk rumah sakit. waktu itu saya tidak menganut prinsip hidup 4 sehat 5 sempurna. makan saya tidak teratur, sering tidur malam hari, juga karena saya kurang berolah raga. ya, untuk urusan olah raga saya sangat malas sekali. jangankan badminton, lari pagi saja rasanya berat. niatnya mau olah raga. tapi begitu bangun kembali lagi meringkuk dalam selimut. akibatnya jadi seperti itu. sering sakit sakitan. mungkin dokter yang memeriksa saya sampai bosan. sekalipun fasilitas rumah sakit sedemikian mewahnya. ber AC, ber televisi, dan tak lupa karangan bunga dari kerabat atau teman. tapi tetap saja selalu merasa tidak nyaman. sekalipun suster suster cantik menemani saya setiap waktu. menyuruh saya minum obat lalu menyuapi saya waktu makan.
saya teringat waktu dulu ibu masuk rumah sakit kerena stroke yang dikarenakan konsumi makan yang berantakan. begitupula ayah yang sekarang sudah terkena penyakit jantung karena kegemukan. hal hal seperti itu yang membuka mata saya untuk sadar akan betapa pentingnya hidup sehat itu.
sungguh benar adanya kalau kesehatan itu mahal harganya. jika saya selalu punya waktu untuk makan makanan kotor, kenapa saya tidak punya waktu untuk makan makanan bersih. jika saya punya waktu untuk membuang sampah sembarangan, kenapa saya tidak punya waktu untuk menjaga kebersihan. dan jika saya selalu punya waktu untuk menggerakkan badan malam malam, kenapa tidak punya waktu untuk menggerakkan badan pagi pagi. "bentar masss, menggerakkan badan tengah malam itu juga olah raga lho. lha buktinya Ik sampai keringet



