21 November 2009

nasionalis

62496398.jpg

nasionalis

"coba buktikan ?"

begitulah kata teman saya suatu hari ketika saya mengatakan 'nasionalis.' solah olah mereka tidak percaya kalau saya ini adalah seorang nasionalis. berteriak keras dengan lantang kalau saya bangga menjadi bagian dari negara yang disebut indonesia.

saya akan sedikit memberikan pencerahan pada sampeyan semuanya ( itu termasuk juga teman saya diatas yang kepalanya sudah cenut cenut kalau berbicara soal negara indonesia ini.) kalau sebenarnya memang tidak ada alasan untuk kita tidak nasionalis. kita kesampingkan dulu masalah masalah yang ada. perekonomian yang kacau, sistem hukum yang tidak jelas, lembaga lembaga negara yang sudah tidak bisa dipercaya, hingga akhirnya berimbas kemasyarakat kita. mahalnya biaya hidup, tingginya krimalitas, tinggat kemiskinan yang semakin menurun (makin menurun keanak cucu maksud saya.) hingga akhirnya bisa menyebabkan hilangnya rasa nasionalis dalam diri kita untuk indonesia tercinta.

jika hanya karena hal hal tersebut rasa nasionalis kita hilang, maka celakalah kita. kasihan kita. kasihan para pejuang yang sudah berjuang untuk bangsa kita ini. dari perjuangan yang bersifat kedaerahan, seperti diponegoro, pattimura, cut nya dien, kartini dan yang lainnya. sampai perjuangan yang bertujuan untuk satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air lewat sumpah pemuda. maksud saya, tidak sadarkah kita tentang apa yang sudah mereka semua perjuangkan ? nusantara yang luas ini. negara yang sangat kaya ini. tanah air yang subur ini. matahari ada setiap tahunnya dengan gratis, hujan turun tak pernah terlambat, penduduk yang jumlahnya lebih dari 230 juta jiwa, budaya beraneka ragam dari 300 suku daerah yang berbeda, hingga menjadikan kita negara terbesar didunia setelah china, india dan amerika. lantas alasan apalagi yang kita butuhkan untuk tidak nasionalis ? sumberdaya ? semuanya ada, syarat peradaban ? semuanya ada, tenaga ? semuanya ada. dan tidak ada pula alasan untuk tidak sejahtera. semua tinggal bagaimana diri kita sebagai manusia mulia (itu juga kalau kita masih menganggap diri kita sebagai makhluk mulia ciptaan Tuhan.) untuk memulainya. untuk memperjuangkannya.

dan ketika para pemimpin bangsa, para pejabat tinggi negara, para wakil rakyat, juga para aparat aparat ambil bagian dalam pengurusan negara ini, untuk mempimpin 230 juta lebih penduduk dan bahkan sampeyan semua bisa membayangkan kalau penduduk kita 2 kali jumlah penduduk pada waktu zaman rasulullah menjadi pemimpin. jadi seandainya sampeyan memimpin negara ini, dan diberikan sebuah kepercayaan, tidakkah itu adalah tugas yang paling mulia ? begitupula jika sampeyan sampeyan ikut mengatur struktur organisasi terbesar yang bernama negara, entah itu menjadi pejabat tinggi, wakil rakyat hingga aparat untuk menjadikan negara ini makmur dan sejahtera, bukankah itu suatu ibadah yang sangat indah ?

tapi sungguh hal itu tidak semudah yang diucapkan atau yang saya tuliskan. zaman sudah berubah. dulu rasa cinta terhadap bangsa ini timbul karena memang ingin menjadi bangsa yang merdeka, sehingga perjuangan dilakukan dengan hati yang ikhlas. sedangkan sekarang rasa cinta terhadap bangsa timbul karena ini sebuah pekerjaan, bukan perjuangan. hingga akhirnya timbul istilah penguasa. hingga kesempatan kesempatan untuk melakukan tindak kejahatan negara akan selalu ada. hukum yang sudah dimanipulasi, budaya suap hingga korupsi, sistem undang undang yang carut marut, dan akhirnya warga negara ini yang menanggung rugi.

inikah nusantara kita yang katanya terbentuk dari kerajaan kerajaan yang mengagungkan adat ketimuran yang sopan, sementara sekarang tembok tebal tinggi menjulang tercipta sebuah kesenjangan. inikah warisan nenek moyang kita yang sudah mengajarkan kita unggah ungguh dan tata krama, sementara sekarang sudah tidak ada lagi untuk kita rasa hormat menghormati, inikah sumpah pemuda yang dulu pernah diciptakan pemuda bangsa untuk sebuah pembaharuan, sementara sekarang anak anak muda kita terjebak dalam narkotika dan obat obat terlarang hingga mati dan hilang harapan masa depan ini. inikah kemerdekaraan yang sudah dihasilkan para pahlawan dan pejuang kita lewat rasa cinta terhadap tanah air, sementara setelah itu kita dijajah oleh bangsa kita sendiri.

dan masih ingatkah kalian semua ketika kita menyanyikan lagu 'indonesia raya' waktu upacara bendera ? dengan hormat tangan kita terangkat. menengadah kepala kita memandang bendera merah putih berkibar kibar. seakan terbang dalam luas angkasa. menyingkirkan gelap awan mendung warna hitam. juga memayungi kita dari hujan yang deras menghujam. dan sudahkan kita berkaca pada diri kita jika kita mengingat hal tersebut ? lupakah kita semua ? dan masihkah ada rasa cinta indonesia didada ?

semoga.

*vertical signature image by : doze

ic_m.gif

 

 

14:33 Posted in Opini | Permalink | Comments (26) | Email this

17 November 2009

mencari cinta

dan kepala saya menjadi cenut cenut ketika melihat ajang pencarian jodoh yang ada ditelevisi yang hampir ditanyangkan setiap waktu itu. sungguh saya seperti melihat orang orang frustasi yang seolah olah sudah tidak sabar seakan besok hari datang kiamat, dan mungkin terbesit dalam benak mereka semua apa jadinya jika saya ini belum mendapatkan pasangan hidup ?

semua berkumpul jadi satu. berlomba lomba mencari cinta sejati, itu katanya. dari usia yang masih terlihat belia sampai yang sudah tua. dari yang masih perawan sampai yang sudah janda punya anak. dari yang perjaka sampai yang baru saja menjadi duda. dari yang berwajah tampan sampai muka pas pas'an. semuanya jadi satu tumplek blek dalam acara tersebut. dari wiraswasta, guru, marketing, pengacara, dokter gigi, pengusaha, seniman, musisi, pegawai negeri dan apapun bentuk profesinya, semuanya merasa punya potensi untuk mendapatkan sebuah cinta sejati yang akan dibawanya sampai mati, itu juga katanya.

tapi ada beberapa yang sedikit jual mahal. alasan alasan seperti perbedaan agama, prinsip, fisik juga materi. seperti "saya kurang suka sama rambutnya." atau "aduh, masak pasangan saya lebih pendek dari saya ?" atau "menurut saya terlalu lebay deh." dan parahnya "plis deh, dengan pekerjaan kamu seperti itu, situ bisa menggaji saya 20juta per bulan ?" hal hal seperti itulah yang membuat saya menggeleng gelengkan kepala. tapi banyak juga yang maju terus pantang mundur. setidaknya dia tidak menuntut apa apa karena sadar diri mempunyai muka yang pas pas'an. mungkin dalam benaknya: kawin ! minggu depan aku kawin.

"apa segitu susahnya ya orang mencari pasangan hidup ? mbok ya kalau susah mencari pasangan hidup ya cari pasangan mati saja. itu di njaratan kan banyak." kata saya.

"orang kok sukanya komentar. diambil segi positifnya saja. setidaknya dengan adanya acara acara seperti itu bisa memberikan dalan padang bagi mereka meraka yang ingin punya pasangan. bisa jadi mungkin itulah jalan yang diberikan gusti allah sama mereka untuk mencari cintanya. jawab istri saya dengan diplomatis.

"bukan begitu, wong mau kawin saja kok susah. perasaan kita dulu ngga sampai segitunya deh ?" kata saya lagi

"ngga sampai bagaimana ?"

"ya pokoknya semuanya serba gampang dan ngga ribet. waktu pertama kali bertemu wajahmu, terus waktu pacaran lantas menikah sampai sekarang." jawab saya.

"yo kebetulan wae tak bikin gampang, kasihan nanti kalau tak bikin susah. ngga tega melihat tampang memelasmu itu mas." jawab aurel.

"dibikin gampang atau memang kamu juga cinta ? mbok ya ingat pas jaman pacaran dulu. setiap hari ketemu terus. ngga peduli angin ribut, hujan deras sampai hujan abu waktu gunung merapi mau meletus kamu minta ketemu. lupa ya ? kalau dulu pernah bilang ngga bisa tidur kalau belum dengar suaraku ?" jawab saya sambil cengengesan.

"mbuh..."

cinta. seolah dijaman sekarang ini, cinta terkondisikan bukan suatu hal yang utama. dulu katanya datang dari mata turun kehati. sekarang saya rasa ungkapan itu hanya untuk orang orang kuno macam saya. susah mencari cinta dijaman sekarang ini. tak hanya bermodal tampang dan baik hati saja, tapi harus bermateri. bukan hanya setia dan saling memiliki, tapi juga harus bisa memberi. hingga akhirnya banyak orang kurang beruntung seperti teman teman kita diacara televisi itu mencari sosok pasangan yang sempurna.

dan pertanyaan selanjutnya. jika memang sudah mendapatkan pasangan, (yang mungkin saya melihatnya terlalu dipaksakan untuk mendapatkan pasangan.) seyakin apakah kalau itu adalah orang yang tepat pilihannya ? seinstan itukah mereka mengenal satu sama lain lantas menjalin sebuah komitmen untuk hidup berumah tangga ? atau ini memang hanya sebuah permainan cinta yang dikemas baru dalam sebuah program acara bernama reality show ?

"saya rasa sampeyan memang kuno mas. dijaman sekarang ini memang ngga cukup modal cinta. mau dikasih makan apa kalau tak punya modal ? sementara kebutuhan hidup yang semakin membumbung tinggi, perekonomian negara yang makin semrawut, ditambah merajalelanya para kuruptor yang semakin menyengsarakan rakyat. bisa apa kita kalau ngga punya materi yang cukup ? apalagi menyangkut urusan cinta." komentar teman saya suatu hari.

lantas dengan pikiran yang cekak ini saya bertanya tanya. apa hubungannya negara yang sedang rusuh (baca: rusuhnya peekonomian negara, rusuhnya lembaga lembaga pemerintahan, rusuhnya keadilan kita, rusuhnya para wakil rakyat, rusuhnya para pejabat negara, juga tak lupa para koruptor yang selalu ikut andil jika terjadi kerusuhan ini.) dengan urusan cinta yang diumbar dalam acara televisi seperti ajang pencarian pasangan hidup.

"ya harus dihubungkan, biar semuanya terbuka. mbok sampeyan ini mikir, bukankah kita ini para masyarakat yang suka buka buka'an. apalagi soal cinta, ya harus terbuka. bukannya situ juga manusia terbuka ?"  kata teman saya.

"terbuka aibnya maksud saya." lanjut teman saya lagi.

ic_m.gif

 

 

11:40 Posted in Cerita | Permalink | Comments (19) | Email this