21 January 2009

cina !

ada beberapa kisah yang pernah saya alami ketika bercerita tentang cina. seperti dalam postingan "melodrama mei 98" yang saya tulis dibulan mei tahun 2007 yang lalu. ada beberapa kisah yang pernah saya alami ketika bercerita tentang cina. dan entah kenapa ada banyak kesedihan yang tertanggal dalam ingatan ketika mendengar kata cina.

misalkan saja setelah kejadian melodrama mei 98 itu. entah kenapa saya selalu terobsesi dengan wanita cina. hingga akhirnya saya pernah mempunyai pacar seorang keturunan cina. dan bisa jadi itu adalah kala pertama kali saya merasakan pacaran. kala pertama kali saya merasakan jatuh cinta. kala pertama kali saya merasakan tidur ngga pernah nyenyak dan makanpun tak pernah enak. kala pertama kali saya merasakan bahagia setelah berkali kali saya selalu gagal jika berurusan dengan wanita, entah itu ditolak atau bertepuk sebelah tangan. kala pertama kali hidup ini serasa terberkati dengan datangnya malaikat hati. sungguh sangat susah sekali untuk dijabarkan dengan kata kata. caranya berjalan yang seakan akan melayang, bagai mambang keluar dari rerimbunan petang. terasa jari jarinya yang lentik dan bersih waktu meremasnya seakan berharap padanya bahwa cintanya tak akan pernah pudar walau cahaya fajar tak lagi mekar. tergerai rambutnya yang panjang hitam terawat berkilauan. terlihat wajahnya putih cantik sayu memandangku termangu dengan mata murung sendu. ada sesuatu yang membuat hati ini terenyuh, entah apa tapi terlihat seperti lambaian yang ragu.

ya, segalanya memang terasa indah waktu itu. tapi cinta memang tak selalu berakhir bahagia. jarak, waktu dan segala perbedaan yang ada kadang mengalahkan semua janji janji yang pernah terucap waktu itu. akan saling setia, saling mencintai, sehidup semati, dalam suka dan duka, bahkan kesurga atau keneraka akan selalu bersama. indah ? bisa saja. tapi saya melihatnya hanya sebuah gelora asmara masa muda. cinta tak selalu indah, cinta tak selalu barakhir bahagia. tapi setidaknya saya jadi mengerti bagaimana jatuh cinta itu. bagaimana menyamakan perbedaan yang ada. bagaimana melatih kesabaran. bagaimana cara kita mencintai dengan indah. dan bagaimana supaya kita bisa dicintai dengan tulus hati.

aduh maaf, lagi lagi saya ngelantur. bercerita ngawur tentang kisah cinta saya yang sudah terkubur.

saya jadi teringat sebuah cerita yang pernah diceritakan teman saya yang mati gara gara dia seorang cina. saya akan mencoba menceritakan ulang sesuai dengan apa yang diceritakan teman saya waktu itu. "aku" dalam cerita ini adalah temannya teman saya yang mengalami kisah ini beberapa tahun yang lalu.

aku seorang cina.

cina. kataku dalam hati. aku teringat semua teman disekolah memanggilku singkek. terlebih lagi mereka memanggilku dengan wajah dengki. aku murung mendengarnya. aku tak mengerti. kenapa mereka memanggilku dengan sebutan singkek. mereka memanggilku dengan sebutan cina yang pelit. sering kali aku menjadi bahan ejekan dan tertawaan teman teman. kadang mereka melempariku dengan batu. kadang mereka mengunciku dalam kamar mandi, mengambil paksa sepatuku dan menyembunyikannya, bahkan sering kali aku melihat teman teman mengerubungi sepedaku dan mengempesinya hingga akhirnya aku pulang berjalan sambil menuntun sepedaku ditengah terik matahari yang panas tepat diatas kepalaku. akhirnya aku hanya bisa mendatangi ibu sambil menangis tersedu. lalu ibu menghapus air mataku. sambil tersenyum ibu memelukku dan mengusap usap rambut dan wajahku.

entah apa salahku mereka semua membenciku. aku seperti dikucilkan. aku tak punya teman. apa salahku menjadi seorang cina. kadang aku ingin hidup normal. seperti mereka. mambaur satu sama lain. tanpa perbedaan. kadang aku menyesali kenapa aku terlahir seperti ini.

sampai pada suatu hari. dibulan agustus, waktu pesta kemerdekaan. aku bermain sendiri dihalaman rumah. kulihat merah putih berkibar dengan gagah dan berani. lalu ku memainkan bendera itu, menaik turunkan. aku tersenyum sendiri. tanpa sengaja bendera macet tak bisa kutarik keatas. kini posisinya berkibar setengah tiang. aku kesal. akhirnya kubiarkan saja bendera berkibar seperti itu. lalu pergi dan berlalu

orang orang terlihat marah waktu itu. ayah yang kena getahnya. orang orang memakinya. menunjuk nunjuknya. mengatakan ayah komunis. bahkan hampir ada yang memukulnya. untung saja ketua rt datang dan berhasil mencegah warga melakukan tindakan main hakim sendiri. dan meminta ayah untuk menjelaskan hal ini. terlihat air muka ayah membeku. aku takut. kudekap pinggang ayah. memeluknya. ayah pun membalas memelukku. tapi aku masih tak mengerti, apa salah ayahku dengan bendera itu. wajahnya pucat pasi, ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi tak sempurna. sementara ibu hanya menatap kami dari balik pintu, matanya takut seperti mataku. seperti melihat hantu.

lalu ayah mengajakku masuk kedalam rumah. kemudian menarik lenganku. mengangkatku dan memangku. ayah memberitahu sesuatu padaku. katanya pada hari kemerdekaan bendera tidak boleh dikibarkan setengah tiang. itu tanda berkabung dan memperingati kematian. kita sedang tidak berduka dan bersedih. kita sedang bergembira merayakan kemenangan negara ini. walau sebenarnya aku mengerti kalau kemerdekaan bangsa ini dibayar dengan mahal. ribuan nyawa hilang melayang. para pahlawan yang rela berkorban. lantas pikirku waktu itu, bukankah kemerdekaan kadang harus kita ingat sebagai sesuatu hari besar yang kita maknai dengan banyak pengorbanan. titik darah penghabisan. bukan hanya sebagai kemenangan yang kita rayakan dengan meriah.

lantas aku bertanya pada ayah. kenapa mereka membenci kita sampai sedemikan rupa ? mengapa mereka selalu menyebutku cina. singkek. dan sebutan lainnya yang menyakitkan hati. lantas ayah menjelaskan padaku semua itu.

"entahlah, kenapa mereka berkata seperti itu. mereka bilang orang cina itu tak mengenal agama, penyembah berhala, menolak dan melawan Tuhan, dicurigai sebagai komunis. mereka bilang kami pura pura jadi abdi negara, mereka bilang kami berlindung dibalik merah putih dan perlahan ingin menguasi bangsa ini, mereka bilang kami orang yang pelit, suka menimbun harta, dan segala tuduhan tentang kejelekan kami orang cina yang hidup disebagai kaum minoritas negara ini. tapi, siapapun kamu, menjadi apapun, jika tidak ada rasa mencitai, jika tidak ada rasa menyayangi, apa gunanya hidup ini. itu yang paling penting nak." begitulah kata ayah waktu itu.

malam itu aku semakin memahami kata kata ayah. aku tertidur dan bermimpi ayah membelikanku seekor anjing yang lucu. aku senang sekali. tetapi lagi lagi teman temanku melempari anjingku dengan batu dan memukulinya dengan kayu hingga mati. aku terbangun dan berteriak teriak. ayah ibuku memelukku. aku menangis. "apa salahku pada orang orang itu ?" lagi lagi ibu mengusap air mataku dan ayah berkata padaku, "karena matamu sipit dan kulitmu putih susu, sayang."

bulan mei 98 ketika kerusuhan itu membuat kami resah. kami hanya berdiam diri dirumah. kesenjangan benar benar terlihat. serasa semua orang dinegara ini berhasil melampiaskan amarahnya. seperti dulu ketika aku tak sengaja membuat bendera merah putih berkibar setengah tiang waktu hari kemerdekaan. mereka semua seperti serigala. mereka semua kerasukan setan. sampai akhirnya teriakan warga kampung terdengar. "INI RUMAH ORANG CINA." ayah dan ibu menutup puntu dan jendela rumah rapat rapat. menguncinya. kami ketakutan. kami hanya bisa berdoa. semoga Tuhan melindungi umatnya. batu batu dilempari. mereka mendobrak pintu rumah kami. mereka menjarah barang barang berharga. kami hanya bisa berdiam diri. ketakutan setengah mati. dan mungkin ini memang ajal kami. "BAKAR. BAKAR." terlihat ayah memohon mengiba iba untuk nyawa kami. tapi mereka semua tidak peduli. "BAKAR. BAKAR !!!" teriak mereka lagi. lantas mereka melempari kami dengan botol berisi bensin. aku lihat wajah ibu, aku lihat wajah ayah. kupanggil mereka. batu batu berhamburan diatas kepalaku, beberapa mengenai tubuhku. terasa sakit. terasa perih.

terasa panas, kini api menjilati tubuhku. kulit putihku mengelupas. begitu pula dengan ayah ibuku. aku tahu mata sipitku terpejam selamanya. tubuhku meleleh. berubah menjadi ungu sendu warna abu. terbang sampai nirwana bersama ayah ibu. berjumpa Tuhan yang menyapaku dengan hati. tidurlah, dalam indahnya mimpi. ---

begituah cerita yang disampaikan teman saya waktu itu. kemudian saya bertanya pada aurel. apakah kesenjangan ini masih ada ? apakah mereka masih menganggap kita orang orang pribumi asli tidak manusiawi ?

"semua sudah berakhir. aku yakin mereka tidak pernah berfikir begitu. mereka juga sama warga negara ini. sama seperti aku, sama seperti kamu, hanya warna kulit dan bentuk mata yang membedakan. tapi itu tidak berarti apa apa. sekarang segalanya akan menjadi lebih baik. lihat saja, sebentar lagi imlek akan datang, kembang api berhamburan, mereka membagikan kue keranjang, memberi kita ampao dan doa agar kesehatan, kelancaran rejeki dan keselamatan selalu menyertai kita." kata aurel padaku hari itu.


15:20 Posted in Cerita | Permalink | Comments (25) | Email this

09 January 2009

maria

didesa saya, ada seorang perempuan gila. namanya maria. memang sangat tidak wajar, kenapa dia bernama maria. orang bilang ini penghinaan. maria yang sebenarnya digambarkan sebagai sosok yang sangat keibuan, lemah lembut dan penuh rasa cinta. bukan seperti orang gila yang tidak jelas bagaimana nasibnya. siapa dia ? tidak ada yang mengetahuinya. bahkan kenapa dia gila ? hal tersebut juga tidak ada yang mengetahuinya.

maria memang sudah menjadi bagian dari desa kami. tapi, tidak ada satupun warga desa yang mempedulikannya. termasuk saya. kami terlalu sibuk dengan urusan dan segala pekerjaan yang ada. hingga sudah tidak ada tempat lagi untuk memikirkan perempuan gila yang bernama maria. setiap kami berjalan, setiap sudut desa, setiap ujung gang. sering saya melihat maria. sepertinya memang dia ada dimana mana. entah, tidak ada yang tahu apa yang dilakukannya. kadang berbicara sendiri, seperti memaki, seperti membenci. kadang menyanyi, tapi tidak jelas, seperti melantunkan sebuah penggalan nada nada mati yang susah untuk dimengerti. kadang menangis, berteriak teriak histeris, serasa menyesali, kenapa dia ada didunia ini.

begitulah apa yang dilakukan maria didesa kami. terkadang ada juga yang merasa kasihan padanya. sering kali simbok penjual soto memberikannya sebungkus nasi dengan lauk alakadarnya. sering kali juga beberapa warga membiarkannya tidur dihalaman teras depan rumah.

begitupula saya. beberapa waktu yang lalu. untuk pertama kalinya saya memberikan uang padanya. untuk pertama kalinya saya menjadi manusia yang memiliki rasa kasihan. untuk pertama kalinya juga saya melihat wajah maria dari dekat. terlihat muda. matanya yang nanar. rambutnya yang panjang hitam pekat melekat. kulitnya yang putih bersih. bibirnya yang mungkin merah sedikit pecah namun tetap basah. juga baju lengan panjang, rok motif garis garis warna ungu, dan syal biru yang ada dilehernya, serasa melindunginya dari angin malam yang dingin nenembus nadi dan tulang. saya iba padanya. pada maria. mungkin ini karena matahari yang sudah tertelan senja. hingga cahaya terlihat merah samar samar redup petang. dan untuk pertama kalinya, saya melihat maria tersenyum. seperti lambaian yang ragu.

sejak saat itu, saya selalu memperhatikan maria. ketika saya sering memberikan uang padanya. walau hanya cukup untuk sehari makan. apakah saya merasa kasihan padanya, atau apa ? saya sendiri tidak mengetahuinya. saya hanya suka ketika melihat maria dari dekat. terlebih saya sangat suka ketika dia tersenyum bahagia. rasanya seperti melihat ketika mula dunia tercipta, ketika Bumi masih rapuh, kabut bagaikan putih telur, saat bunga masih serupa kuntum yang ranum, dan begitulah wajah maria terlukiskan. bukan dalam lembaran canvas dengan cat dan kuas. melainkan dalam ingatan yang sampai kapanpun tak akan pernah terlupakan.

semakin lama, semakin saya ingin mengenal maria. saya ingin mengetahuinya lebih dalam lagi. kenapa dia ada disini ? kenapa dia sering berkata kata serapah, seperti menyumpah ? kenapa dia sering menyanyi dengan nada nada mati yang susah untuk dipahami ? kenapa dia sering menangis histeris seperti tadi malam ketika gerimis turun riwis riwis ? kenapa semua orang desa yang mungkin termasuk saya menganggap maria sudah gila yang keberadaannya dianggap tiada dengan sebelah mata ?

apakah ada yang bisa memandang perempuan gila itu dengan mata terbuka sedetik saja dan mengadakan dirinya selayaknya manusia.

hari itu, maria berbeda. terlihat sepertinya dia bahagia. dia berlari lari kesana kemari. dia bernyanyi "kupu kupu, datanglah kemari, temani aku yang sedang jatuh hati. kupu kupu, datanglah kesini, datanglah kesini..." dia terus bernyanyi dan menari. mengelilingi gang gang didesa kami. berputar putar ditaman desa yang kecil namun penuh bunga yang warna warni. bebas, lepas, seperti merpati yang terbang tinggi. bahagia, seperti pipit pipit yang berebutan remah roti. semua orang didesa kami mendadak terbuka matanya. maria serasa menghidupkan suasana desa yang sepi juga membosankan. sepertinya maria sedang jatuh cinta. tidak, bukan sepertinya, tapi memang maria sedang jatuh cinta. tidak lagi dia berkata menyumpah serapah. tidak lagi dia menyanyikan nada nada mati yang menyayat hati. juga tidak pernah lagi dia mengeluarkan tetes air mata tangis.

lalu seketika orang orang desa yang tadinya tidak peduli akan maria, semula yang tidak menghiraukan keberadaan maria, semula yang memandangnya dengan sebelah mata yang hina. kini, bertanya tanya. ada apakah dengan dirinya. dengan siapa dia jatuh cinta. sementara maria masih dengan hatinya yang penuh suka. tertawa dan menari bersama para kupu kupu yang mungkin dianggapnya seperti peri kecil yang turun bersama tetesan embun pagi hari, atau seperti bidadari yang datang dari balik pelangi. keceriaan maria itu membuat orang orang mengerti, betapa desa kami serasa terberkati. walau kadang masih tidak mengerti bagaimana hal itu tiba tiba bisa terjadi. kegembiraan yang membuat semua orang melihatnya iri. kegembiraan yang membuat kami dihantui pertanyaan, dengan siapa perempuan gila itu jatuh hati.

yang membuat saya heran, bagaimana seorang perempuan gila bisa membuat penasaran semua warga desa. terlebih lagi para istri didesa kami dibuatnya resah. jangan jangan suami mereka yang disukai perempuan gila itu. mereka lalu mulai memperhatikan kelakuan dan tingkah para suami. mengawasi. kadang bertengkar. kadang memaki. sepanjang hari.

"aku hanya merasa kasian padanya bu, aku juga manusia seperti dia, kenapa kamu malah cemburu seperti itu."
"alah pak, sejak kapan sampeyan peduli dengan perempuan gila itu ? sejak kapan ? sejak dia bahagia ? sejak dia jatuh cinta ? atau jangan jangan kamu menaruh hati padanya ?"
"kamu sudah gila ya bu ? sudahlah, aku tidak mau berdebat lagi denganmu."

kemudian setelah itu terdengar isak tangis, terdengar teriakan, juga pecahan pecahan piring, kadang umpatan umpatan kasar yang sebenarnya memang tidak beralasan. sementara perempuan gila itu masih tersenyum, masih menyanyi dan menari. sungguh ironi.

semakin lama, kelakuan maria semakin membuat warga didesa kami resah. setiap pagi, selalu maria yang menjadi bahan utama pembicaraan. para laki laki yang semakin hari semakin jatuh hati. anak anak yang tidak mengerti akan hal ini tetapi merasa suci ketika mereka bermain apa saja, tertawa, bercanda, melupakan segala keluh kesah bersama maria yang menemani sepanjang hari. tapi tidak untuk istri istri yang sudah dihantui hingga buta menghampiri karena marialah mereka cemburu mati.

"kenapa kamu bahagia, maria ?" kata kepala desa

maria terdiam, dia melihat kami. yang terlihat seperti mau menghakimi.

"aku hanya ingin bahagia. bersama buah cinta dalam rahimku ini." begitulah katanya sambil terbata bata.

terkejutlah semua warga desa mendengarnya. para pemuda yang sudah pupus harapan, para suami yang kecewa karenanya, para istri yang semakin dibuatnya resah, juga anak anak yang sudah tidak menganggapnya suci. lantas semuanya kasak kusuk dibelakang. bertanya tanya lagi, anak siapa yang dikandungnya. dengan siapa dia melakukannya. ada yang berteriak teriak dan menyumpah serapah, ada yang memaki, juga ada yang diam menatapnya dengan pandangan mata penuh benci. lagi lagi maria terdiam, kali ini dia ketakutan. wajahnya yang bingung, juga matanya yang penuh tanda tanya. tidak tahu maria harus menjawab apa. mulutnya masih membisu. lalu tiba tiba dia berteriak. "kupu kupu...lihat ada kupu kupu. ayo kita tangkap..." lalu dia berlari mengejar kupu kupu itu. meninggalkan jawaban yang kami tunggu.

merasa kepala desa tidak sanggup menyelesaikan masalah ini, maka para warga desa mengundang bupati dan walikota, ketua dewan perwakilan rakyat kotamadya, para mentri negara, ketua mahkamah agung, para ulama ternama, wakil presiden, bahkan yang terhormat presiden negara. untuk supaya bertanya kepada maria, anak siapa yang dikandungnya. tapi maria tetap membisu, maria tetap diam, dia hanya bahagia. lantas berita tentang kehamilan maria pun menghiasi berbagai media massa. surat kabar, radio, internet, blog, youtube, juga televisi. desa kami menjadi pusat perhatian karena adanya perempuan suci. desa kami menjadi terberkati. dan sekali lagi, maria hanya diam dengan ribuan jawaban yang kami tunggu.

celakalah perempuan gila itu, celakalah maria ketika ia mengandung seorang anak yang katanya hasil buah cintanya dengan malaikat, ketika perutnya semakin membesar, dan ketika perutnya mulai membengkak karena dosa. amarah warga desa pun tak tahan dibuatnya. dengan mengatasnamakan kesucian warga desa menganggap perempuan itu sumber malapetaka, sumber segala kerusuhan.

"dia itu aib"

"nista."

"haram."

"sucikan kembali desa ini."

"usir dia dari sini."

perempuan itu berjalan pergi, sepertinya maria tahu apa maksud semua ini. dia berjalan. bersama langit yang cerah, angin yang sejuk, bintang yang terang, bulan yang bersinar, dan malam yang memberkati. tapi tidak bersama warga desa yang memberinya dengan kata kata hina, makian dan cacian, sementara anak anak kecil ada pula yang melemparinya dengan kerikil kerikil tajam. maria terus berjalan, berjalan pergi meninggalkan desa, melewati rumah rumah, jembatan, dan gereja. seketika dia berhenti, kepalanya mendongak keatas, begitu sunyi, begitu sepi. nanar matanya melihat Tuhan disalib dengan kepala menunduduk yang seakan akan melihatnya. lalu maria berkata "eli eli Lama Sabachtani ?" dan maria menangis dibuatnya.

solo - desember 2008

1. hanya sebuah postingan narasi bulan desember yang sempat tertunda
2. semula tokoh perempuan saya namakan rhesya, tapi entah kenapa saya menggantinya dengan maria.

15:40 Posted in Narasi | Permalink | Comments (18) | Email this