10 November 2009
binatang
saat ini saya merasa kasihan pada para binatang binatang yang nama mereka dijadikan pelampiasan manusia untuk merendahkan manusia yang lain. saya jadi berfikir, apakah para binatang binatang itu menggunakan istilah manusia untuk membinatangkan binatang lainnya. entahlah, lha wong saya ini bukanlah binatang. tapi makhluk Tuhan paling mulia yang bernama manusia.
dosa apa para binatang itu hingga mereka menjadi sebuah tumbal untuk sebuah simbolisasi yang tersesan busuk, rendah, jorok, picik, dan entah kejelekan apa lagi yang ada dipikiran kita sebagai manusia untuk mengistilahkan binatang sebagai aib dalam kehidupan manusia. hingga nama binatang seperti anjing, monyet, babi, ular, kambing, bajing, tikus, hingga buaya. padahal tak ada hal yang mereka lakukan selain mencari makan, bertahan hidup, melindungi anak anaknya dan membuat sarang. juga tak pernah mereka mengenal kekuasaan dan mengenal yang namanya harta benda. lantas, salah apa binatang binatang itu hingga sedemikian kejinya kita menggunakan suara yang lantang, urat saraf yang tegang dan mata meradang. kita mengucapkan makhluk Tuhan yang namanya binatang.
bukannya saya tidak bersyukur menjadi manusia yang telah menerima segala nikmat Tuhan. merasakan keindahan dunia lewat mata, nikmatnya cinta lewat hati, merdunya suara lewat telinga, juga akal pikiran dan hawa nafsu yang harus kita kendalikan. tapi, sebagai manusia saya juga merasakan kekecewaan ketika melihat manusia lainnya saling caci, saling maki, saling benci. ketika melihat manusia saling menyakiti. ketika melihat manusia saling mengkhianati. penjahat yang melukai. aparat penegak hukum juga lembaga pemerintah yang entah apa bisa kita percayai. juga terlebih lagi koruptor yang membuat negara ini merugi.
jadi, layakkah kita menyebut binatang kepada manusia manusia ini ? yang sesungguhnya jika binatang binatang itu bisa mengerti apa yang sedang terjadi, mungkin mereka akan tertawa. itukah manusia ? yang bagaimanapun juga statusnya entah itu baik atau buruk tetap saja judulnya sebagai makhluk Tuhan paling mulia.
"sudahlah, mbok ya sampeyan ini bersyukur sudah diciptakan sebagai manusia. punya cinta, sehat walafiat, juga bahagia. kecewa dengan mereka mereka itu ya boleh saja, tapi ngga harus kecewa karena sudah menjadi manusia tho ? apa sampeyan mau menjadi binatang ?" tanya istri saya. belum sempat saya mengomentari istri saya ngomong lagi "memangnya sampeyan mau jadi binatang apa mas ?"
spontan saya berkata "burunggggg..."
"lha wong punya burung saja ngga bisa memelihara dengan baik kok mau jadi burung." tanya istri saya. (sebelumnya mohon komentar istri saya ini jangan disalah artikan. karena saya memang punya peliharaan burung peninggalan ayah saya. dua perkutut, dua derkuku, satu kutilang, satu murai batu, dan satu cucak ijo.)
"loh jangan salah, burung itu adalah binatang yang paling dicintai manusia. selain itu burung juga tergolong hewan peliharaan yang punya nilai jual tinggi. kamu juga sudah tau kan kalau murai batu kita sudah ditawar satu juta. kalau saja itu bukan peninggalan bapak, wes tak jual. lagian apa kamu pernah dengar ada manusia menggunakan istilah burung ? BURUNG! atau DASAR BURUNG!!! atau TITITMU KUI!!! bukannya marah, malah membuat orang ketawa." kata saya. dan istri saya geleng geleng mendengarnya.
mungkin ada benarnya juga pertanyaan istri saya. nah, kalau disuruh milih kalian mau jadi binatang apa ? hahahaha
"cicakkkkkk..." jawab teman saya serentak.

13:26 Posted in Cerita | Permalink | Comments (12) | Email this
09 November 2009
kembali lagi
jujur saya bertanya tanya apakah sampeyan sampeyan itu bener bener merindukan tulisan saya ? heran ? sebenarnya apa bagusnya selain melihat kehidupan saya yang ngga sempurna, melihat cerita saya yang membosankan, membaca kisah cinta saya yang kelewat romantis, amburadulnya kelakuan temen temen saya, mulut saya yang seperti sampah karena terlalu mengumbar aib orang, hingga akhirnya saya terkesan menjadi manusia yang ngawur. coba pikir. semoga kalian bisa bantu saya mikir, sebab saya memang ngga bisa mikir. apa bagusnya tulisan saya ? "blas ngga ada bagus bagusnya." begitulah sahut teman saya.
lantas kembali saya bertanya. apa tujuannya ? dulu saya katakan kalau menulis adalah obat dari kegilaan hidup saya. semua hal yang mengganjal dalam hati dan tidak bisa keluar dari mulut saya tuangkan dalam tulisan. menulis bagi saya adalah motivasi hidup. tapi bukan berarti saya menjadi seorang motivator hidup. saya serba blak blak'an. sepertinya tidak ada rahasia dalam diri saya, tidak ada hal yang perlu disembunyikan. bahkan teman saya mengatakan kalau saya ini terlalu over, lebay, cap cus, dan terlalu berterus terang. bahkan hal yang saya utarakan itu hanya melihat dari kaca mata yang saya kenakan. apa menurut pandangan saya. hingga saya dicap sebagai manusia egois, terkesan sombong, dan ngawur. walau teman teman saya sebenarnya juga sudah memahami kalau saya ini juga tak luput dari salah dan dosa. sadar hanyalah manusia biasa. biasa ngawur maksudnya.
nah, mungkin ada sebagian orang yang bisa menjadikan kisah yang saya tulis sebagai pembelajaraan hidup. ada juga yang memandang sisi positif dan mengambil hikmah dari tulisan yang saya sampaikan. dan tidak sedikit dari teman saya yang ikut mendukung dan mensuport saya untuk tetap semangat dalam hidup ini. rasa itulah yang membuat saya ingin terus menulis. saling berbagi dan melengkapi. tentang perihal baik dan buruk. suka dan duka. cinta dan derita. hidup dan mati. seperti dikatakan rho teman saya dikampoeng sebelah yang entah sekarang dimana dia berada, belgia, belanda atau masih di yogya ? kalau hidup itu semuanya serba kosok balen.
setelah saya kembali mikir. rasanya kalau saya meninggalkan dunia maya, saya malah semakin menjadi manusia yang anti sosial. maksud saya begini. sudah dikehidupan nyata saya jarang bergaul eh lha kok dikehidupan dunia maya saya semakin menjauh. bukankah saya seharusnya malah bersyukur dan terima kasih karena saya sudah punya temen buanyak ? bukannya hal itu yang saya lakukan tapi saya malah meninggalkan teman teman yang sudah mengenal saya. saya mau hidup ini seimbang, tanpa harus ditimbang. semakin mengenal dunia nyata, hidup dikampoeng, penuh unggah ungguh, saling menyapa, wedangan, ronda, rapat rt, arisan, hadir dalam hajatan, mengusap air mata kalau ada layatan, juga hidup serasi, seiya, sekata, saling bantu dalam bertetangga. deso mowo coro negoro mowo toto. dan tak lepas dari itu semua, saya ingin tetap menjalin hubungan baik dengan teman teman saya yang jauh lewat dunia maya. hingga tali silaturahmi ini ngga putus. tidak akan pernah lupa. dan tak akan pernah hilang dari ingatan.
saya cuma mau bilang. blog ini tak akan mati ! dan saya masih disini.

15:42 Posted in Cerita | Permalink | Comments (3) | Email this