30 June 2009
saya
setelah saya pikir pikir, untuk apa saya malu mengungkapkan semua ini. tapi yang pasti, saya tidak bisa menerima kenyataan yang menimpa dalam diri saya ini. kenyataan yang pahit, tapi harus saya telan mentah mentah. kenyataan yang saya sesali bukan karena saya menjadi anak tiri tapi kenyataan kenapa saya harus punya orang tua yang sesungguhnya. melahirkan saya. lantas mencampakkan saya begitu saja untuk diasuh orang lain yang sekarang selama ini saya anggap sebagai orang tua yang paling saya hormati. kenyataan yang saya sesali kalau saya ini adalah tiga bersaudara dan bukan seorang anak tunggal. kenyataan yang mau tidak mau harus saya terima.
ya, saya bukanlah seorang anak tunggal. kakak saya seorang perempuan, adek saya juga perempuan. jika dibilang terpisah, sebenarnya juga tidak. sebab diwaktu orang tua saya memberikan saya pada kakaknya, itu berarti saya memanggil ayah tiri saya harusnya dengan sebutan pakdhe. dan dikala saya berstatus sebagai anak tiri, maka saya memanggil ayah saya om. usia saya dan kedua saudara saya itu terpaut satu tahun. kakak saya lahir tahun 81, saya lahir tahun 82, sedang adik saya lahir tahun 83. ya, setidaknya saya tahu kalau orang tua saya memang hobbynya tukang bikin anak. tapi ironisnya, mereka tidak pernah mau memeliharanya. entah alasan apa saya sendiri juga tidak mengerti. hingga akhirnya setelah melahirkan adek saya, kedua orang tua saya bercerai. tapi beruntung, kedua saudara saya masih diasuh oleh orang tua saya.
saya tak pernah mengerti kenapa mereka bercerai. ada yang cerita, kalau ibu saya ngga tahan hidup menderita. hidup pas pasan. ada juga yang bilang ayah saya suka dengan wanita lain. entah mana yang benar saya tidak mau tahu menahu soal hal ini. lantas setelah bercerai, ayah saya menikah lagi dengan seorang wanita yang sampai sekarang dikaruniai dua anak laki laki. lalu ibu saya waktu itu ada yang bilang pergi dengan laki laki lantas menikah dan punya anak. dan bahkan katanya menikah berkali kali lalu punya anak, punya anak lagi, dan lagi, dan lagi. sekali lagi saya tak mau ambil pusing soal hal ini.
singkat cerita, saya mengetahui hal ini sebelum hari pernikahan saya dengan aurel. alm ayah memberitahukan kalau saya ini bukanlah anaknya. beliau memberitahukan kenapa ayah yang mengasuh saya. menceritakan siapa orang tua saya yang sebenarnya, keluarga saya yang sebenarnya, hingga saudara kandung saya. sementara waktu itu saya melihat ibu hanya menangis. seolah olah air matanya keluar dengan tak rela karena saya mengetahui siapa diri saya yang sebenar benarnya. menangis ? menyesal ? benci ? merasa dibohongi ? jujur saja, saya tidak pernah punya pikiran sempit seperti itu.
setelah saya tahu siapa saya yang sebenarnya akhirnya saya dipertemukan dengan semua keluarga besar saya. ayah saya, ibu saya, nenek saya, alm kakek saya yang sudah meninggal, tante tante saya, om om saya, ponakan ponakan saya, dan semua saudara saya yang lainnya. saya seperti burung yang hilang dan sekarang kembali ke sangkarnya. saya merasa menjadi orang asing diantara mereka. yang bisa saya lakukan hanyalah memberikan senyuman pada setiap orang yang mengajak saya bicara. mereka mengatakan saya mirip si ini dan berkata lagi kalau saya lebih mirip si itu. mereka menanyakan apa yang saya lakukan dan apa yang saya kerjakan. mereka menceritakan hari dimana saya lahir dalam kandungan selama delapan bulan. ya, setidaknya saya tahu kalau saya memang manusia yang ngga normal. mereka membuka album album foto saya kekita masih bayi, menunjukkan foto foto keluarga yang lainnya, memperkenalkan satu per satu. mereka menceritakan kembali kisah kisah yang menurut versi mereka mungkin adalah benar. kenapa orang tua saya tidak mengasuh saya sedari kecil dan kenapa saya dititipkan sama orang lain yang notebene alasannya semua itu untuk kebaikan saya. dan terima kasih, memang hidup saya jauh lebih baik selama 20 tahun terakhir ini.
ibu. akhirnya saya tahu siapa yang mengeluarkan saya lewat sela selangkangannya itu. wajahnya ? bukan wajah saya, sifatnya ? bukan sifat saya, kelakuannya ? juga bukan kelakuan saya. saya tidak mirip ibu. mungkin bisa jadi karena saya tidak mengenal ibu. ibu yang saya kenal selama ini adalah yang mengasuh saya sedari saya kecil. menggendong saya penuh kasih ketika saya nangis. megajari saya merangkak, berdiri dan berjalan. memarahi saya ketika saya bermain main dengan tanah. juga membersihkan pantat saya sehabis membuang hajat. ya, ibu tiri yang mengasuh saya bukanlah seperti yang pernah digambarkan. bukanlah seperti iblis, pembunuh si putri salju, penyiksa labella cinderella atau sibawang putih sayang. tapi, bagaikan bidadari yang turun dari surga, memberikan pertolongan, memberikan kasih sayang dikala saya menjadi anak buangan. ironis memang.
jutaan alasan keluat dari mulut ibu kandung saya, mengapa dia melakukan hal itu. melepaskan anaknya dengan menitipkan pada orang lain. beruntunglah saya tidak dibuang ditempat sampah bersama dengan anjing anjing kudisan. tapi tidak ada satu kata maaf keluar dari mulut ibu. yang saya dengar hanya sebuah pembelaan karena sudah berbuat salah. benci ? marah ? dendam ? jujur saja, saya tidak pernah punya pikiran sempit seperti itu terhadap ibu kandung saya. sebatas mengakui kalau itu adalah ibu kandung saya ? ya, saya akui. sebatas mengakui kalau itu ayah kandung saya ? ya, saya akui. sebatas mengakui kalau mereka semua keluarga saya ? ya, saya akui.
tapi, yang menjadi pertanyaan saya dalam lubuk hati. setelah saya mengetahui siapa saya yang sebenarnya ? lantas apa arti semua ini bagi diri saya ? sama seperti ketika pertama kali mereka berkata inilah keluarga kamu, ibu kamu, ayah kamu dan saudara saudara kamu. jujur, saya merasa ngga ada meaning sama sekali. so what ?
karena orang tua bagi saya bukan sekedar mengandung saya, berusaha sekuat tenaga menekan saya keluar dari rahimnya lantas melahirkan saya kedunia. tapi yang mengasuh saya, memberikan saya perlindungan, memberikan kasih dan sayangnya, memberikan saya pendidikan, megajarkan saya tata krama, mengajarkan saya sopan santun, juga mengajarkan saya menjadi manusia yang seharusnya. tapi tak apalah, kalau kalian bilang saya ini anak durhaka.

12:59 Posted in Curhat | Permalink | Comments (34) | Email this
16 June 2009
kalau saya ngga ada di sini, cari saja di Facebook...

08:43 Posted in Note | Permalink | Comments (15) | Email this