11 December 2009

menjadi pengemis

hina.jpg

tiba tiba ada hasrat keinginan untuk menjadi seorang pengemis. coba sampeyan sampeyan semua bayangkan, kalau setiap orang paling tidak ngasih seratus rupiah kadang ada yang limaratus rupiah, coba sudah berapa rupiah yang terkumpul seandainya saya ngider ngalor ngidul dari rumah ke rumah, pangkalan bis, terminal sampai stasiun kereta ? coba bayangkan lagi jika hal itu dilakukan paling tidak delapan jam sehari ? coba banyangkan jika hal itu dilakukan setiap hari ? dan coba bayangkan kalau hal itu saya lakukan berdua bersama istri saya, bukankah penghasilannya dua kali lipatnya ?

"yuk hon, kita ngemis ?" ajak saya sambil bercanda.

"sing sing...!!! orang kok ngga tau terima kasih. wong ya hidup sudah serba kecukupan. lha kok mau ngemis." jawab istri saya.

"wes, ra kompak blas...katanya cinta ? seandainya nanti kita ditakdirkan jatuh miskin lantas jadi pengemis, kan sudah siap lahir batin." jawab saya.

"bukan masalah siap ngga siap. mbok sampeyan itu bersyukur. mbok ya kalau punya cita cita itu yang bener. katanya mau jadi orang yang bener, membangun bangsa, menjadi warga negara yang baik. kok malah jadi pengemis. mikir mas, mikir." jawab istri saya.

memang, saya ini manusia yang ngga bisa mikir. dan jujur, bukannya saya ini tidak tahu terima kasih atau apa. saya cuma miris ketika melihat rakyat indonesia banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan. sungguh sengsara bukan ? sudah miskin, masih dibawah garis miskin lagi. jangankan berfikir untuk mencari pekerjaan yang baik hingga hidupnya lebih sejahtera, mendapatkan recehan untuk sepiring nasi setiap harinya saja sudah bersyukur. mereka para pengemis itu rela bejalan kaki puluhan kilometer setiap hari untuk mendapatkan haknya agar bisa makan. belum lagi mereka yang terorganisir. lantas harus menyewa bayi, ngesot, dan sampai ada yang mencacatkan diri. semua itu mereka lakukan agar bisa dikasihani. supaya kita bisa memberi lebih. ironis bukan ?

"lha kalau sampeyan itu mau menjadi manusia yang lebih terhina (maksud teman saya, mungkin sekarang ini saya sudah menjadi manusia hina.) ya sana silahkan ngemis. apa sampeyan itu tidak tahu mas, kalau menjadi pengemis itu adalah pekerjaan yang hina ? wong ya masih punya tangan dan kaki untuk bekerja, lha kok malah ngemis. belum lagi bawa bawa anak kecil, bayi, trus pura pura cacat. bukankah itu sudah bentuk manipulasi kecil dalam berbohong supaya dikasihani lantas diatasnamakan mencari rejeki ?" komentar teman saya suatu hari.

setelah mendapatkan pencerahan dari teman saya diatas, saya kembali berfikir. mungkin ada benarnya juga. lantas, kalau mengemis itu adalah pekerjaan yang hina, berarti bukan hanya para pengemis saja yang menjadi orang hina. tapi juga orang orang penting pemerintahan, para pejabat, aparat, hingga wakil rakyat buanyak yang menjadi orang hina, karena tidak sedikit dari mereka suka ngemis. ironisnya, mereka itu tidak hanya mempunyai kedua kaki dan tangan untuk bekerja tapi mereka itu adalah orang orang pilihan. orang orang pinter, berpindidikan, juga gelar yang berjajar. tak hanya itu, mereka juga punya segalanya. gaji bulanan beserta tunjangan hidup yang komplit hingga total puluhan juta. hingga menjadi orang orang terhormat yang dipercaya rakyat untuk mengurus negara. tapi, apa yang sudah mereka lakukan ? memperjual belikan pasal pasal hukum. makelar kasus. kriminalisasi. hingga mengharuskan rakyat kecil menanggung denda ratusan juta karena menjadi tersangka pencemaran nama baik.

dan sungguh bukankah mereka telah menjadi pengemis hingga kita semua harus memberi recehan. tak peduli kita harus memecah celengan. dalam bentuk ratusan atau lima ratusan. bersama, kita akan berikan ketangan mereka.

"masih mau jadi pengemis mas ?" tanya teman saya lagi. tidakkkkkkkkk!!!

ic_m.gif

13:37 Posted in Cerita | Permalink | Comments (30) | Email this