14 May 2009
ndobos award
lantas terbesit dalam benak saya. kelak after saya modiar, alias meninggal dunia, wafat, gugur, mampus, koit, tewas, atau apapun sebutannya itu yang intinya habis masa kontrak untuk menghuni dunia ini. saya ini dikenang sebagai apa ? apakah saya dikenang sebagai orang pinter ? jelas ngga mungkin. apakah saya dikenang sebagai orang yang berjasa ? dalam hal apa dulu ? apa saya dikenang sebagai orang yang jujur ? apakah saya dikenang sebagai tukang kibul ? atau apa ?
ya, apa ? apa yang sudah saya lakukan didunia ini ketika saya ini masih hidup ?
saya kok rasanya menjadi seperti manusia yang tersingkir ketika teringat pertanyaan itu. seperti ada yang berbeda dari kebanyakan orang yang mungkin sudah buanyak sekali melakukan hal hal yang berguna dalam hidup ini. sedangkan saya ? nol besar.
tentu alangkah indahnya para pahlawan itu yang namanya diabadikan menjadi nama jalan. alangkah bangganya semua keluarga, sanak sedulur dan keturunan serta teman temannya melihat dan kembali mengenang sosok yang telah berjasa pada bangsa dan negara. hingga cerita demi cerita ngga akan pernah bosan bosannya untuk didengar ulang. menjadi sebuah contoh tauladan bagi generasi muda.
tentu alangkah bangganya mereka yang telah berjasa bagi orang lain. para guru yang sudah berhasil mendidik murid muridnya. para pemimpin bangsa yang hebat hebat. para wakil rakyat yang duduk dikursi empuk pemerintahan. para dokter yang menolong orang sakit. dan sungguh, merekalah orang orang yang berguna bagi bangsa dan negara.
tentu alangkah senangnya ketika para pekerja seni mendapatkan apa yang selama ini mereka impikan. para bintang film yang mendapatkan penghargaan berupa piala citra. para penyanyi mendapatkan predikat sebagai diva. atau para penulis yang mendapatkan award dengan tinta emas. yang semua itu tentu menjadikan diri mereka sebagai sosok penginspirasi banyak orang.
akan tetapi alangkah naasnya ketika para teroris, pembunuh, koruptor, preman, kecu dan sebangsanya akan dikenang sebagai orang orang yang celaka. dan mungkin itu memang resiko yang akan mereka terima dan mereka unduh karena semasa hidup tidak menjadi orang yang berguna.
karena saya tidak pernah mendapatkan sebuah penghargaan atau award yang kelak mungkin bisa menjadikan saya orang yang dikenang. lantas yang saya lakukan tidak lain tidaklah bukan yaitu membanggakan diri saya sendiri. alias narsis. berkaca dan ngomong sendiri seperti wong edian. misalnya, kalau saya ini ternyata ganteng, kalau saya ini imut imut, kalau saya ini lucu, dan masih banyak lagi. hingga kadang tidak sengaja hal itu terucap dengan sendirinya "ah, lha ya masih mendingan saya daripada dia." kalimat perbandingan seperti itulah yang membuat saya ngga ada harganya. menjadi manusia murahan.
saya sering menemukan postingan dari blog teman teman semuanya yang isinya memberikan sebuah award kepada blogger lain. blog paling bagus, blog paling imut, blog paling penginspirasi, blog paling lucu, blog paling memble, blog paling kece, blog paling ini dan paling itu. berhubung IQ saya jongkok, saya tidak pernah mengerti apa maksud dari sipembuat award tersebut ? dan yang paling membuat saya tidak mengerti lagi, kenapa hal tersebut dilakukan seperti halnya bisnis MLM. orang yang mendapatkan award diharuskan untuk memberikan award lagi kepada yang lainnya. begitu seterusnya hingga semuanya kebagian award.
"loh ngga ada salahnya kan ? karena semuanya kebagian award maka semua bisa dikenang. semua bisa terkenal. sampeyan aja yang terlalu sinis karena ngga pernah mendapatkan award." kata teman saya.
dengan semangat, teman saya pun masih melanjutkan kicau kicauannya. "itulah kenapa sampeyan ngga pernah terkenal mas, apalagi mendapatkan award, lha wong ngasih award ke orang lain saja ngga pernah kok."
nah, sempurna kan ? setelah saya menjadi manusia murahan yang selalu membanggakan diri karena tidak pernah mendapatkan penghargaan, sekarang saya merasa tambah murahan lagi karena tidak pernah memberikan penghargaan kepada orang lain.
"oalah,...jadi sampeyan itu pengen dikenang tho mas ceritanya ? pengen dikasih penghargaan ? ya sudah, begini saja. berhubung sampeyan suka ngomong ngalor ngidul sak enak udel'e dewe. maka tak kasih penghargaan ndobos award. piye ? cocok tho ?" kata teman saya lagi.
oalah nasib nasib...sambil geleng geleng kepala meratapi mau jadi apa saya nanti.

10:45 Posted in Cerita | Permalink | Comments (36) | Email this
12 May 2009
sok
hari minggu kemaren saya bersama istri menghadiri resepsi pernikahan seorang teman. resepsi tidak diadakan digedung tapi dirumah. dan terus terang undangan resepsi kemaren itu adalah salah satu resepsi yang membuat saya capek karena acaranya yang terlalu lama. begitu pula keluh istri saya dan para undangan yang duduk disekitar kita.
"saya ngga habis pikir, orang sekaya dia kok cuma kayak gini saja, padahal itu kan anak perempuan satu satunya." kata seseorang yang saya ngga kenal.
"ya lumrah, wong dekor, rias pengantin, sama campur sarinya saja cuma seharga 5 juta." sahut yang lainnya lagi.
"wes, sungguh sungguh mengecewakan. nek dadi aku ngga perlu repot repot. tinggal pesen gedung ama catering. beres" katanya lagi.
ya gitu dehhh, saya bersama istri saya hanya geleng geleng kepala saja. dari yang bilang soal dekorasi yang ngga karuan hancur, makanan yang adem, sop ayam yang hambar, teh hangat yang sudah ngga hangat lagi, sampai tata rias pengantin yang bedaknya luntur. dan masih banyak lagi komentator komentator lainnya yang berbicara soal hari bahagia teman saya itu.
dan akhirnya saya hanya mengucapkan selamat menempuh hidup baru, selamat berbulan madu, bahagia dimalam pertama dan semoga tahan lama.
lain cerita. kemaren saya duduk didepan kompie selama berjam jam sampai saya lupa makan. yang saya lakukan tidak lain hanyalah membaca postingan beserta komentar dari awal pertama saya ngeblog sampai postingan terakhir dibulan mei 2009 ini. kalau dijilidkan mungkin bisa menjadi sebuah buku tebalnya sebantal. tak lupa ketika saya melihat isi komentar dari seorang teman, saya selalu membuka link dari blognya tersebut. tujuannya, ya menyambung kembali tali silaturahmi. ada beberapa link yang sudah tidak bisa dibuka, ada yang pindah alamat, adapula yang sudah hiatus lama. tapi semuanya itu saya tetap meninggalkan jejak walau sekedar menyapa dalam tagboard.
nah, ketika membaca postingan postingan saya yang dulu. saya ini seperti menjadi penceramah, seperti menjadi guru, memberikan petuah petuah, ajakan, yang juntrungannya mungkin ngga jelas sama sekali. saya seperti mengajak semua pembaca lalu menuntut mereka untuk menuruti apa kata saya. entah itu dalam postingan cerita, opini, puisi, curhat, atau narasi yang diakhir cerita selalu saja saya bubuhkan sebuah pesan dan harapan. saya selalu terlihat tua, saya selalu terlihat lebih berpengalaman, saya selalu terlihat lebih tahu, dan saya selalu terlihat lebih pandai, cerdas dan pintar.
setelah saya sadar saya punya penyakit sok seperti itu, mata saya terbuka. saya yang mengaku pinter ternyata cuma punya otak pas pas'an, saya yang mengaku pandai ternyata cuma punya pikiran cekak, dan saya yang mengaku cerdas ternyata cuma ber-IQ jongkok. dan semua penyakit sok itu terkumpul dalam tulisan yang saya sebarkan dan dibaca oleh ribuan orang. sempurna sudah penderitaan saya.
itulah kenapa banyak yang bilang saya ini kurang waras. sehingga tidak sedikit teman teman saya mengeluarkan komentar dan bunyi bunyian pada saya soal hal ini. dan ini ngga ada bedanya ketika saya mendengar bunyi bunyian ketika hadir dipesta pernikahan teman saya kemaren.
"makanya mas, sampeyan itu ngga usah neko neko bikin tulisan yang aneh aneh. ya kalau yang tanggap itu orang yang ngerti sama tulisan yang sampeyan maksudkan, kalau disalah artikan ?" begitulah kata seorang teman saya.
"kalau emang dasarnya lemot ya lemot, ngga usah sok sok'an. mbok yao utek sampeyan diganti prosesornya atau ditambahin memorynya tetep aja ngehang." lanjut teman saya lagi.
perihhh...

11:38 Posted in Cerita | Permalink | Comments (34) | Email this